
“Apa sekarang kita akan masuk ke dalam? Aku bertanya, menatap Sem dan Deni, memastikan.
“Bagaimana denganmu, Den?” Sem menatap Deni. “Jika kalian ingin beristirahat, kalian bisa log out sekarang. Aku tidak keberatan. Kalian bisa melakukan save terlebih dahulu.”
“Kita akan masuk ke dalam. Aku ingin menyelesaikan urusan minyak ini dengan Was.” Sebagai jawaban. Aku sebenarnya khawatir Deni tidak ingin bermain game ini lagi. Dari tadi, wajahnya selalu terlihat kesal.
“Baik, sudah di putuskan.” Sem mengepalkan tangan.
Kami bertiga memutuskan memasuki gedung pemerintahan. Bisa disebut sebagai istana. Gedung yang sederhana, hanya dengan dua lantai. Setiap lantai mempunyai tinggi 30 meter, itu artinya gedung itu tingginya 60 meter.
“Gedung ini tingginya 100 meter, Jon.” Sem seakan mengerti apa yang aku pikirkan.
“100 meter?” Aku tidak mengerti, bagaimana mungkin? Bukankah setiap lantai menurut perhitunganku hanya 30 meter.
“Gedung ini sebenarnya ada tiga lantai. Lantai paling atas disembunyikan. Kau pasti pernah mendengar istilah hidden item, kan? Lantai tiga seperti itu. Mereka menyembunyikannya. Kalau perkiraanku benar, di lantai tiga itulah Was saat ini berada.” Kami terus masuk ke dalam, berlari. Menuju anak tangga untuk ke lantai dua. Sem sudah mencoba membuka lift, tapi gagal. Mereka sudah mengetahui kedatangan kami, maka lift itu dimatikan dari ruang kendali.
Lantai dasar ini sepertinya aman. Kami dengan mulus menuju anak tangga. Di saat seperti itulah, kami tidak menyadari. Para petarung pesuruh Wan sudah menyiapkan strategi untuk mengurung kami. Mereka bersembuyi di dua buah ruangan di dekat anak tangga, menunggu kami menaiki anak tangga itu. Sementara kelompok lain, bersiap menyerang kami dari atas. Mereka mengurung. Kami bertiga terpojok di anak tangga, di tengah perjalanan. Anak buah Was kali ini berbeda dengan para satpam yang ada di dekat gerbang kecil depan gedung pemerintahan. Mereka memang disiapkan untuk sebuah pertarungan.
Sem dengan sigap meraih anak panah di dalam arrow rest nya. Dia memunculkan busur perak di tangan. Membidik ke atas. Gerakannya tiba-tiba terhenti.
“Ada ada, Sem?” Aku sudah mulai panik.
“Tidak bisa, Jon. Ruangan ini membatasi gerakan anak panahku. Langit-langit itu terlalu sempit.” Sem menjawab cepat.
Benar, ratusan panah yang menghujani satpam di luar itu sepertinya butuh waktu untuk membelah diri. Satu panah akan membelah menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan, begitu seterusnya.Butuh waktu lebih dari lima detik agar anak panah itu sempurna menjadi seratus. Itulah kelemahan Sem, dia bukan petarung jarak dekat.
“Sekarang apa?” Deni juga mulai panik. “Kau, keluarkan pukulan itu, Jon.” Deni memintaku.
“Iya, tapi bagaimana?” Aku bingung.
“Pukul saja, Jon. Kita tidak punya waktu untuk berpikir. Aku akan coba tahan mereka yang datang dari atas.” Sem juga ikut mendesak.
Aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, kami sudah semakin terpojok. Bukankah aku sudah bisa membuat tameng? Berarti aku juga bisa membuat pukulan itu. Aku diam sejenak, merasakan aliran energi yang mengalir dalam tubuhku. Semakin lama semakin terasa. Aku mulai memejamkan mata. Aliran energi itu terasa seperti berdenyut, siap di lontarkan. Sem terus menahan mereka dengan melontarkan anak panah dari busur satu persatu. Deni masih tidak bisa apa-apa, dari wajahnya sebenarnya dia sangat berapi-api ingin merasakan pertempuran. Sesekali tangannya mengepal, berharap ada pedang yang muncul di sana.
Aku mengangkat tangan. Bersiap. Tidak peduli dengan gayanya. Aku langsung memukulkan kepalan tanganku ke arah gerombolan petarung yang menyergap dari bawah anah tangga. Diluar dugaanku, itu bekerja dengan sempurna. Mereka seperti terdorong oleh kekuatan angin. Akupun tidak melihatnya, tekhnik ini sepertinya menggunakan tekanan angin. Bukan pukulan yang mengeluarkan cahaya memancar, lantas menyapu semuanya. Ini adalah teknik pukulan angin. Separuh dari petarung itu terbaring kaku. Tubuh mereka perlahan menghilang seperti piksel gambar yang rusak. Masih ada separuh lagi. Aku bersiap menyerangnya.
“Mereka yang datang dari atas semakin dekat, Jon.” Deni berseru tertahan. Sem sudah kewalahan menghadapinya, anak panah itu tinggal beberapa. Dia tidak ingin kehabisan sebelum mencapai lantai tertinggi.
Aku sigap memutar badan, melepaskan pukulan tanpa kuda-kuda. Terdengar suara berdebam. Mereka yang berada di anak tangga atas itu terpental jauh. Sebagian dari mereka terbang terpental mengenai yang lain. Bahkan ada beberapa yang menghantam dinding gedung, membekas, meninggalkan retak. Aku sekali lagi melihat kepalan tangan kananku. Itu pukulan yang dahsyat. Aku kagum. Aku rasa, aku bisa menyelesaikan lantai ini sendiri.
Sisa petarung yang ada di anak tangga di bawah kami kembali merangsek naik ke atas. Mereka sama sekali tidak jera dengan pukulanku yang pertama tadi. aku kembali memukul angin, membuat tekanan, berbunyi berdentum, mereka terlontar. Jauh sekali, meretakkan dinding, memecahkan kaca. Sem menghabisi sisa beberapa petarung yang datang dari atas. Ada sedikit ruang, anak panahnya mampu membelah menjadi dua, bahkan tiga. Semua petarung yang menyergap kami di anak tangga itu telah habis. Tubuh-tubuh mereka menghilang, lenyap tanpa bekas.
Deni menghela nafas panjang. Satu situasi yang mendebarkan sudah terlewatkan. Walaupun ini berada di dalam game, tetap saja perasaan di dalamnya seperti berada dalam kenyataan.
“Ini baru permulaan. Was masih memiliki beberapa bidak yang lebih kuat daripada ini.” Sem juga tersengal. “Entah sekarang mereka ada di lantai berapa. Kita harus tetap maju.”
Kami berdua mengangguk. Mungkin saja, kami akan melewati batas waktu bermain game kebiasaan. Untuk game seperti ini, biasanya aku dan Deni hanya memainkannya dua jam. Tapi mungkin kali ini akan lebih daripada itu. Aku sependapat tidak akan log out sekarang, aku masih panasaran dengan pukulan angin tadi. Deni pun sepertinya berpikiran sama. Dia tidak akan log out sekarang, senjatanya masih belum bisa digunakan. Aku yakin, Deni lebih panasaran daripada aku.
“Aku rasa kita harus bergegas. Itu mungkin akan membuat Was dan anak buahnya tidak sempat membuat jebakan atau semacamnya.” Aku menoleh ke arah Sem dan Deni.
Kami bertiga terus melanjutkan menaiki anak tangga menuju lantai kedua.
Untuk sebuah gedung pemerintahan, itu situasi yang cukup sepi. Tidak ada suara keributan apapun. Mungkin, memang hanya Was dan anak buahnya yang mendiami gedung ini, menjalankan bisnis dengan mafia minyak internasional itu. Tidak ada rakyat sipil yang ikut bekerja disini.
__ADS_1
Dua menit, kami telah tiba di pintu yang menghubungkan dengan lantai dua. Sem mendorong pintu perlahan, waspada. Kami menaiki lantai ini bukan dengan lift, sehingga harus tiba di sisi gedung sebelah kanan. Kami bertiga celengokan. Suasana tetap terasa lengang. Tidak ada tanda-tanda sebuah pergerakan, langkah kaki, suara bisik-bisik mengatur strategi, semua senyap. Mereka mungkin bersembunyi sama seperti di lantai dasar tadi.
“Tetap waspada.” Sem mengingatkan. Busurnya dari tadi tidak pernah lagi di sembunyikan.
Kami berdua mengangguk. Terus melangkah berjalan perlahan.
“Apa kita akan menuju tangga selanjutnya?” Deni bertanya, berbisik.
“Tentu saja, Den. Jika mereka tidak menyerang seperti tadi.” Aku menelan ludah. Entah kenapa, bagiku ini lebih menegangkan dibandingkan langsung menghadapi musuh yang nampak dan menghadang secara langsung. Kenapa mereka harus bersembunyi? Di sisi lain, aku kagum dengan pembuatan grafis game ini. Suasana tegang memang benar-benar terasa.
Di tengah perjalanan, menuju tangga ke lantai tiga. Seperti dugaanku, kami kembali dihadang. Kali ini bukan hanya prajurit tipe petarung seperti tadi, ada tiga orang dengan seragam serba merah yang ikut berdiri di barisan depan. Wajah mereka mirip dengan penjaga gerbang perbatasan negara di awal kami memasuki negara ini. Wajah dengan topeng menyatu, atau mungkin wajah asli. Ikat kepala terpasang, enggan berkibar, juga berwarna merah. Sepatu bot mereka lebih merah dari seragamnya. Mereka bertiga terlihat lebih kekar daripada petarung lain. Satu berada di belakang kami, berdiri di depan ratusan petarung. Dua yang lain berada di depan kami, berdiri sejajar di hadapan ratusan petarung lain. Ini kembali sebuah pengeroyokan besar-besaran.
“Ini bisa disebut sebagai pemaksaan untuk memancing kekuatanmu, Den.” Sem menoleh kepada Deni. “Kau harus hadapi mereka.”
Deni mengangguk. Sem benar, inilah saatnya dia unjuk gigi setelah tadi hanya menjadi penonton pertarunganku dan Sem.
Dua petarung yang memakai seragam merah yang berada di depan kami mengangkat tangan, memberi komando untuk menyerang. Satu petarung berseragam merah di belakang kami juga melakukan hal yang sama. Tidak sempat satu detik, petarung yang berjejer di belakang mereka berlari ke arah kami, menyerang. Kami bertiga harus berdiri saling membelakangi, saling mengawasi. Aku dan Deni kembali saling toleh, tersenyum. Ini hanya game. Jika gagal disini, kami masih bisa mencobanya di lain kesempatan. Kami berdua mengangguk, saling memahami.
Lantai dua itu sontak riuh oleh teriakan para petarung yang menyergap kami dari seluruh penjuru. Suasana senyap yang tadi kami rasakan, kini berubah menjadi suara bising seperti kumpulan lebah yang bermigrasi.
Taktik tak terduga kembali mereka perlihatkan. Di saat kami siap menerima serangan, tiga meter jarak dari kami bertiga berdiri. Mereka semua berhenti, berhenti pula teriakan itu.
Aku terpaksa harus berseru di tengah senyap. “Sem, Den, lebih mendekat! Mereka akan menyerang dengan senjata seperti saat di gerbang.” Aku bersiap mengeluarkan tameng.
Dugaanku kembali benar. Mereka mengeluarkan senjata sama persis seperti saat di depan gerbang. Hujan peluru kembali menghujam kami. Peluru-peluru itu berjatuhan di depan tameng, tak mampu menembus barang satu butir pun. Semakin lama semakin menumpuk. Di saat itulah, aku tidak menyadari keberadaan tiga petarung berseragam merah. Mereka telah berkumpul bersama, melancarkan satu pukulan ke arah tameng. Pukulan yang lebih deras dari sebuah peluru, tamengku pecah, retak, tak sanggup menahan kerasnya dentuman tiga pukulan itu. kami bertiga terpental sejauh sepuluh meter. Ini lebih kuat dari pukulan yang aku miliki. Anehnya, aku dan Deni tidak merasakan rasa sakit. Kami hanya merasa energi kami berkurang.
Suara rentetan senjata itu terhenti, lantai dua berubah senyap. Kami bertiga terkapar, mencoba berdiri. Tubuhku terasa sedikit kaku, sulit digerakkan.
“Sem, boleh aku bertanya sesuatu?” Aku menoleh ke arah Sem, dia sudah berdiri sempurna.
“Apa ukuran seseorang yang sudah hampir mati dalam game ini? Setiap yang bernyawa disini tidak mempunyai indikator darah. Juga ukuran kekuatan mereka.” Aku menatap ke depan, tiga orang berseragam merah itu berjalan mendekat.
“Indikator darah dan kekuatan tidak diperlukan disini, Jon. Jika darah memang sudah habis, kalian akan kembali ke awal. Maka muncullah tulisan Continue?” Sem menjelaskan. Kami tidak bisa bercakap lebih, tiga orang yang kuat sudah mendekat.
Aku mengerti. Itulah sebab kenapa aku dan Deni merasakan energi kami berkurang. Tidak ada darah disini, indikatornya hanya energi yang dirasakan. Jika habis, maka habislah keberadaan kami di scene ini, kembali ke awal, bertemu dengan singa itu lagi. Aku tidak menginginkan itu lagi, pun juga Deni.
“Bersiaplah!” Sem mengingatkan.
“Aku punya ide lebih bagus, Sem.” Deni menyeringai, sebuah ide terlintas di kepalanya.
Aku dan Sem menoleh ke arahnya. Ide apa? Bukankah selama ini hanya Deni yang belum mampu mengeluarkan kemampuannya.
“Kita akan menghadapi tiga orang sok-tangguh itu satu lawan satu.” Deni tersenyum, sangat yakin.
“Kau yakin, Den? Bukankah kau belum memiliki pedang itu?” Aku bertanya, khawatir.
“Justru itu, Jon. Bukankah Sem sudah mengatakan jika aku harus dipaksa. Satu lawan satu itu ide yang bagus untuk memaksa. Dan ingat selama keningku masih bergerak, kalian tidak boleh menolongku.” Deni terdengar sangat serius.
Aku menelan ludah. Seberapa yakin Deni dengan ide itu? Bisa saja satu pukulan terkena, dia sudah game over.
Tiga orang berseragam merah sudah berada di depan kami. Sem menyerang lebih dahulu, dia melesat ke salah seorang petarung berseragam merah itu. Pertarungan satu lawan satu Sem sudah terjadi. Aku mengikuti cara Sem, menyerang salah seorang petarung berseragam merah yang lain. Mereka seolah mengetahui ide Deni, seorang lagi tidak membantu dua orang kawannya yang kami serang. Dia tetap berjalan menuju Deni yang sudah siap bersiaga.
Lorong di lantai dua itu kembali bising dengan suara pertarungan. Petarung lain yang jumlahnya masih ratusan serta memiliki senjata masih menonton, mereka sepertinya tidak ingin melukai kawannya. Jangan asal tembak, mungkin itulah kode yang mereka jalankan saat ini. Suara dentuman keras terdengar, Sem terpental jauh ke arah tembok. Terlihat jelas, tembok di belakangnya merekah, pecah. Bertarung dengan pukulan dan tendangan seperti itu memang bukan keahlian Sem.
__ADS_1
Lanngit-langit lorong di lantai dua lengang sejenak. Apa yang terjadi dengan Deni? Aku menoleh. Mereka masih saling berhadapan, tidak saling menyerang. Deni tetap kokoh pada posisinya. Sejauh ini aku bisa bernafas lega, dia tidak apa-apa. Petarung berseragam merah di depanku kembali menyerang. Aku bersiap. Dua pukulan sejenis saling membentur, menimbulkan gelombang bunyi yang membisingkan telinga. Senjata berjatuhan dari petarung lain, mereka menutup kuping. Sebagian lain tak tahan, menghilang, musnah dari pertarungan. Sem tersadar, dia masih tersandar di tembok yang pecah. Sementara pukulan kami terus saling beradu, bunyi bising berpilin terus beralun. Kaca-kaca di ruang lantai dua itu satu dua mulai pecah. Setidaknya, aku masih bisa megimbangi kecepatan pukulan salah satu petarung sok-tangguh ini.
Sem melepas anak panah dari busurnya, melenting jauh dari tempatnya tersungkur. Anak panah itu sempat terbagi menjadi dua. Satu menuju lawan yang dia hadapi saat ini, satu lagi menyasar ke arah lawan yang aku hadapi. Lawan yang dia hadapi menangkis anak panah itu, lenyap. Sementara lawan yang aku hadapi tak sempat berkelit, mengenai bagian punggungnya. Kecepatan dan kekuatan anak panah itu sudah berkurang, tidak menancap terlalu dalam. Petarung dengan seragam merah yang aku hadapi dengan mudah mencabutnya tanpa rasa sakit apa-apa. Tanpa membuang waktu, aku menyerangnya. Bermaksud memukul bagian dada, dia sempat menangkisnya. Refleknya terlalu bagus. Aku gagal mengenainya, petarung dengan seragam merah yang menjadi lawanku itu hanya beringsut mundur beberapa langkah.
Kembali lengang sejenak.
Sementara petarung dengan seragam merah yang menjadi lawan Sem bersiap kembali menyerang, dia berlari kencang ke arah Sem yang masih tersungkur bersandarkan tembok yang retak. Sem mencoba berdiri, bermaksud menghindar. Gagal, pukulan yang mengenainya terlalu cepat. Sem kembali terpental, menembus tembok lantai dua, membuat lubang dua kali lipat tubuhnya. Tubuhnya terjatuh ke bawah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Lawan bagianku selalu menghalangi pergerakan yang aku lakukan.
“Sem!!” Deni berseru. Dia bermaksud mengejar. Terlambat tubuh itu sudah keluar dari lantai dua. Di tambah lagi, petarung sok-tangguh di hadapannya menghalangi.
Salah satu petarung memberikan aba-aba menyerang. Sontak moncong-moncong senjata kembali teracung. Sial, aku terlalu jauh dari Deni. Jika aku membuat tameng, itu tidak akan melindungi Deni, jangkauan tamengku terbatas. Di saat itulah, di saat aku tak bisa menyelamatkan siapapun. Deni tertunduk takzim. Gerahamnya bergelatuk kencang, rahangnya membesar, kepalan tangannya mengeras. Itu paksaan yang sempurna. Sebuah pedang akhirnya muncul dalam genggamannya. Energi dari pedang itu sangat besar. Di saat kemunculannya, menebarkan cahaya yang menyilaukan. Pedang berwarna perak telah muncul, berkilat.
Deni menyerang lawan yang menjadi bagiannya. Hanya dua tebasan, sepersekian detik, cepat sekali. Petarung berseragam merah yang ada di hadapannya sudah lenyap, kalah. Dua petarung dengan seragam sama terperangah. Mereka memberikan aba-aba tembak tanpa ampun.
Aku menyilangkan tangan, membentuk tameng. Seperti sebelumnya, peluru itu tidak bisa menembus tamengku. Jatuh berantakan di lantai. Bagaimana dengan Deni? Dia mampu menangkis peluru itu dengan pedang, peluru terbelah menjadi dua. Akurasi pedangnya luar biasa. Mata pedangnya bisa mengmbangi kecepatan peluru, membelahnya menjadi dua. Peluru itu jatuh lebih banyak.
Aku menoleh ke arah Deni. Luar biasa, Den.
Deni tersenyum, dia berhasil. Berhasil memunculkan pedang itu. tapi misi kami belum selesai. Aku berusaha berjalan sambil berlindung di dalam tameng, mendekati asal peluru-peluru itu terlontar. Salah satu tanganku melepaskan pukulan, lebih kuat. Sontak, peluru yang menghujam dari arah depanku berhenti. Semua petarung yang ada di depanku terpental, menghilang. Aku tidak tahu, apakah pukulan itu lebih kuat dari pada saat aku di lantai dasar atau sama saja.
Sementara Deni, dia melakukan cara yang sama denganku. Berjalan mendekat ke arah asal peluru, tangannya gesit memainkan pedang, cepat sekali. Aku bahkan tak menyangka, Deni bisa cekatan seperti dalam sebuah game. Saat para petarung yang menembaki itu berada dalam wilayah jangkauannya, Deni bergerak cepat, tubuhnya bagai tak terlihat. Dia menyasar ujung barisan petarung hingga ujung barisan lainnya. Kurang dari satu detik, peluru yang menghujam itu terhenti. Seketika keluar sebuah cahaya memanjang, efek tebasan Deni. Semua petarung itu lenyap tak berbekas.
Belum selesai. Masih ada dua petarung sok-tanggung lagi. Mereka telah bersiap menyerang.
Aku berkumpul dengan Deni.
“Itu keren, Den.” Aku langsung memujinya. Yang dipuji hanya mengangkat bahunya. Ide siapa dulu ini? Begitu maksudnya. Tersenyum puas.
Pertarungan satu lawan satu kembali terjadi. Deni tangkas memainkan pedang, sementara aku saling beradu pukulan. Deni kembali memamerkan kemampuannya. Tebasan keras keluar dari ayunan pedangnya, padahal jaraknya dengan lawan terpaut lima meter. Petarung dengan seragam merah itu tiba-tiba terpental, jatuh terkena tebasan. Tubuhnya menghilang, lenyap. Aku kaget melihanya. Bagaimana mungkin? Tapi aku tidak punya waktu memikirkan itu, lawanku di depan sudah melesat menyerang. Dua pukulan dengan dentuman keras kembali terjadi. Membuat suara nging yang memekikkan telinga. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Harus aku selesaikan.
Konsentrasi, aku harus lebih konsetrasi. Mengumpulkan energi lebih banyak, memfokuskannya pada satu pukulan. Petarung sok-tangguh di depanku sudah kembali menyerang. Melepaskan sebuah pukulan. Aku menyambutnya dengan pukulan yang sama. Tapi keunggulan berpihak kepadaku. Entah, aku tidak tahu. Pukulanku terlihat lebih keras dari sebelumnya. Dua pukulan yang saling beradu itu kembali membuat bising, kepalan tangan petarung berseragam merah itu tak kuasa menahan pukulanku. Tangannya hancur, terus merembas hingga pergelangan, hingga seluruh tubuhnya ikut hancur tak tersisa. Semua yang menghalangi di lantai ini akhirnya berhasil disingkirkan.
Aku berjalan mendekati Deni.
“Bagaimana kau melakukan itu? Menebas ratusan orang sekaligus?” Aku heran dengan Deni, kemampuannya luar biasa.
“Sepertinya pedangku ini meniru cara kerja pukulanmu itu, Jon. Memanfaatkan tekanan angin.” Deni menjawab mantap.
“Hei, bagaimana dengan Sem?” Astaga, kenapa aku baru mengingatnya.
Aku dan Deni berlari ke arah lubang yang terpampang di tembok lantai dua, berusaha melihat Deni dari atas. Mungkinkah tubuh itu selamat? Dengan lantai setinggi ini? Ditambah lagi pukulan yang diterimanya sangat keras.
Beruntung, Sem tidak apa-apa. Tubuhnya menggelantung di balik tembok. Busurnya menyelematkannya. Tali busur itu tersangkut di salah satu kawat besi yang menyembul akibat pukulan keras petarung berseragam merah tadi. Aku dan Deni menarik tubuh itu.
“Kau tidak apa-apa, Sem?” Aku bertanya.
Sem mengangguk. Tidak menjawab.
“Sepertinya rencanamu berjalan sukses, Den.” Sem menatap Deni, tersenyum.
“Aku rasa itu bukan rencana yang baik, Sem. Gara-gara rencanaku kau hampir lenyap dari game ini. Aku minta maaf soal itu.” Deni terlihat menyesal.
Sem mengangkat tangan. “Tidak masalah, Den. Itu sudah tugasku.” Sem bangkit, berdiri. “Baiklah, tinggal satu lantai.”
__ADS_1
Kami berdua mengangguk. Bersiap menuju lantai terakhir.