The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 4: EMPAT


__ADS_3

Pagi itu mendung, matahari diselimuti awan, tak kuasa melebarkan sinarnya. Semilir angin menghembus pelan. Aku sudah siap bertemu dengan Deni. Aku memakai kaos abu-abu lengan pendek dan celana gelap. Rambut lurusku sudah tersisir rapi, jam tangan cangging menempel di pergelangan. Seperti yang kami janjikan di sekolah. Hari ini adalah hari minggu, akhir pekan. Itu artinya liburan, bermain video game.


Di halaman depan rumahnya, Aku mendongak. Semoga tidak hujan.


Tepat pukul 08.00 pagi. Aku sudah tiba di depan rumah Deni. Halaman rumah itu luas. Halaman dengan batu kerikil putih. Di bagian samping, ada tanaman-tanaman hias yang langsung di tanam di tanah tanpa pot bunga. Sepuluh menit, Deni muncul.


“Kau berdandan, Den?” Aku tersenyum, menggodanya.


“Eis, aku hanya memastikan pakaian yang cocok.” Deni beralasan. Alasan yang masuk akal. Dia mengenakan pakaian yang hampir sama denganku. Hanya saja kaos yang dipakai Deni lebih gelap.


Aku tersenyum, sekali lagi mendongak ke arah langit.


“Ayo berangkat. Nanti kita kehujanan.” Aku mengajaknya, naik skuter.


Deni mengangguk.


Kami melintasi jalanan yang lengang. Para penduduk sedang menghabiskan liburan di pantai, berkemah di hutan, mendaki gunung, atau pergi ke pusat perbelanjaan. Aku bisa memacu skuternya lebih cepat. Meliuk cepat di tikungan seperti pembalap, menunduk di jalan lurus. Deni yang berada di balik punggungnya berpegangan erat-erat. 15 menit, kami telah sampai ke tempat tujuan. Aku memarkirkan skuter di tempat khusus, tentunya dengan sistem keamanan yang khusus pula.


“Itu tadi keren, kan?” Aku mengangkat bahu, meminta pendapat.


Deni hanya menggeleng, sebuah jawaban. Itu keterlaluan. Dia melepas nafas lega. Mentang-mentang jalanan lengang, Aku bisa seenaknya memacu kendaraan. Apa jadinya jika mereka berpapasan dengan mobil patroli polisi. Deni meyakini, aku pasti tidak punya SIM. Seharusnya dari awal, kami naik taksi saja kesini.


“Sudahlah, kita masuk sekarang. Nanti malah kena antrean di belakang.” Deni sudah melupakan ketegangannya, mengajakku segera masuk ke dalam.


Tempat yang kami kunjungi adalah sebuah perusahaan konsol game, itu hanya cabang di daerah. Jika di pusat, tentu lebih besar lagi. Kami memilih datang langsung ke perusahaan tempat pembuatan konsol game, karena penyedia jasa game online belum memiliki mesin konsol yang baru rilis beberapa hari yang lalu itu. Tapi tempat ini bukan hanya bagi pegawai perusahaan, masyarakat bisa mengunjunginya untuk menguji coba konsol game yang mereka buat. Komentar pengunjung sangat bermanfaat untuk edisi revisi konsol game versi selanjutnya.

__ADS_1


“Jujur saja, aku sangat panasaran dengan VG 10 V.2.” Deni bercakap sepanjang lorong di dalam gedung. Tempat untuk pengunjung ada di lantai paling dasar, tepatnya ruangan bawah tanah.


Gedung dua tingkat itu sebenarnya cukup luas, di bagian lantai dasar (di atas tanah) adalah pabrik perakit mesin konsol game. Komponen-komponennya disalurkan dari perusahaan di pusat. Di tempat ini, mereka hanya merakitnya. Untuk merakit satu buah konsol game, mereka membutuhkan waktu satu minggu. Bukan karena mesin konsol yang terlalu besar, tapi karena komponen mesin yang sangat rumit. Ukuran VG 10 itu hanya 30x20 cm. Sedangkan di lantai dua adalah tempat para karyawan bekerja.


Aku dan Deni sudah tiba di pintu menuju ruang bawah tanah. Awalnya, Deni menyangka ruangan itu gelap berdinding tanah dengan bayangan banyak cacing yang melintas di dinding-dinding ruangan. Ternyata dia salah besar. Ruangan itu tidak ada bedanya dengan ruangan depan yang mereka lalui. Bola lampu yang berjejer di langit-langit ruangan menyala dengan terang, menepis anggapan gelapnya ruang bawah tanah.


“Keren.” Deni berkomentar singkat, kepalanya sudah melengok kesana kemari. Ternyata sudah ada pengunjung lain di tempat itu, para remaja seumuran mereka. Beberapa yang lain adalah orang dewasa. Selebihnya adalah petugas pelayanan.


“Selamat datang. “ Seorang petugas menyapa dengan ramah, menyalami Joni dan Deni. “Kalian akan mencoba konsol game terbaru itu?”


Aku dan Deni mengangguk.


“Bagus. Ikuti aku.” Petugas itu mengangkat tangan, mengajakku dan Deni mengikutinya. Deni tetap saja asyik menatap sekitar. Sesekali aku menyikutnya, dia kadang terlalu berlebihan pada situasi yang kurang pas.


Mesin konsol di tempat itu terhitung ada sembilan buah. Depalan di antaranya sudah ada yang menggunakan.


Deni menoleh ke arah petugas. Hanya ini?


“Untuk  saat ini, kami hanya punya tiga game. Tapi beberapa minggu ke depan pilihannya akan bertambah banyak. Kalian akan bisa bermain bola bersama dalam satu game. Tidak perlu lapangan di stadion lagi.” Petugas itu menjelaskan, sekaligus promosi.


“Kita akan pilih yang mana, Jon?” Deni terlihat bingung.


Aku diam sejenak, memerhatikan layar di depannya.


“Pengunjung lain kebanyakan memilih game yang nomor 1, walaupun ada diantaranya memilih nomor 2.” Tanpa ditanya, petugas itu kembali menjelaskan.

__ADS_1


“Bisa kami mendapat sedikit penjelasan tentang tiga game ini.” Aku akhirnya angkat bicara.


“Nah, itulah yang aku tunggu dari kalian. Ini sudah menjadi tugasku. Baik, akan aku jelaskan.” Petugas itu berdehem beberapa kali sebekum memulai penjelasan.


“Tidak perlu panjang lebar, Pak. Kami ingin segera bermain.” Deni memotong, hampir saja petugas itu mengucap kata pertamanya.


“Oke..oke.. Aku tahu semangat kalian itu. Game yang pertama itu adalah tentang perang lima buah kerajaan, kalian bisa memilih kerajaan yang akan kalian bela. Setiap kerajaan memiliki kehebatan masing-masing. Baiklah, aku rasa itu cukup untuk menjelaskan game pertama. Aku yakin, kalian sudah lebih dari paham. Sebenarnya game itu sangat sederhana. Tidak ada level professional dalam game itu, hanya ada beginner dan medium. Game yang kedua, ini adalah game tentang petualangan mengumpulkan berlian. Setiap kelompok ada dua orang. Mereka  bisa menggunakan cara apapun di dalam game itu untuk mendapatkan berlian dengan jumlah lebih banyak. Pemenang akan mendapat bonus spesial dari kami. Itu masih kami rahasiakan, karena sampai saat ini belum ada yang menang. Terakhir, game ketiga adalah game tentang korupsi. Kalian sebenarnya bisa memainkan game ini dengan jumlah orang lebih banyak. Dalam game ini, kalian bertugas memberantas korupsi di beberapa negara. Negara yang kalian tuju hanya bisa dimasuki dengan menyelesaikan kuis bertema tentang angka, penjumlahan dan pengurangan yang harus kalian selesaikan. Aku heran, kenapa tidak ada yang memilih game ini. Ini sebenarnya sangat menarik.” Petugas itu mengakhiri penjelasan singkatnya.


“Apa nama game yang ketiga?” Aku tertarik dengan game ketiga, dari dahulu aku memang membenci korupsi.


“CGA” Petugas itu menjawab singkat.


“CGA? Apa itu?” Wajah Deni berkerut.


“Corruption Graft Adventure. Misi utamanya memang memberantas korupsi.” Petugas itu kini menjawab lebih panjang.


“Baiklah. Sudah aku putuskan. Kita akan memilih game yang ketiga.” Aku sangat bersemangat.


“Kau yakin, Jon?” Deni memastikan.


Aku mengangguk mantap.


“Nah, kau sudah sependapat, kan?” petugas itu menoleh ke arah Deni. “Untuk awal-awal, kami akan memandu kalian dari ruang control. Selebihnya kalian bisa lakukan sendiri. Ingat! Jangan ragu-ragu untuk log out jika kalian mengalami kesulitan, keselamatan harus diutamakan.”


Aku dan Deni mengangguk. Kami berdua menghembuskan nafas pelan, mencoba setenang mungkin.

__ADS_1


“Aku akan tekan tombolnya. Kalian bersiap-siap. Selamat bersenang-senang.” Petugas itu tersenyum. Satu detik setelah itu, petugas menekan sebuah tombol yang ada di mesin konsol. Sebuah portal dengan pinggirnya berwarna putih berputar-putar muncul di depanku dan Deni. Awalnya kecil, kian lama kian membesar. Tingginya seukuran orang dewasa. Petugas itu menjulurkan tangan, menyilakan. Aku dan Deni masuk. Setelah kami masuk, petugas itu kembali menekan tombol. Portal kembali tertutup perlahan. Petugas itu kemudian beranjak pergi ke ruang kontrol, memandu aktifitas pertamaku dan Deni di dalam game. Petualangan baru telah dimulai.


__ADS_2