
Matahari sudah hampir berada di atas kepala, awan putih menyisir garis horizon. Suasana di belakang gedung pemerintahan itu riuh rendah. Penonton bertepuk tangan, bersorak-sorai saat kami keluar menuju panggung penyerahan trofi. Itu adalah tribun VIP tempat Nuw duduk saat pertandingn kemarin, sekarang sudah disulap menjadi tempat penyerahan hadiah. Letaknya sedikit menjuntai ke arah penonton. Disana sudah diapkan podium dengan tulisan angka 2, 1, dan 3.
“Silakan, Jon.” Nax memintaku naik ke atas podium 1. Penonton bersorak, bersuit. Aku melambaikan tangan, sok-kenal, sok-akrab. Tersenyum lebar, menyeringai.
Sem diberikan tempat kedua, sementara Deni tempat ketiga.
“Ini pertama kalinya perlombaan dimenangkan oleh orang asing. Berikan sambutan yang meriah kepada mereka bertiga.” Nax berseru ke arah penonton.
Aku melirik pada layar lebar yang menjadi tontonan saat pertandingan berlangsung, sangat besar. Tiga wajah kami terpampang jelas karena di zoom. Deni terlihat grogi, malu-malu.
“Tadinya kami ingin menyerahkan trofi. Tapi aku rasa, itu tidak akan pas untuk kalian yang bukan berasal dari dunia ini. Aku sudah mengganti hadiahnya.” Nuw berkata datar, wajahnya terlihat berkabut. Tapi senyumnya tetap menggurat.
“Mengganti?” Bahkan Nax pun memasang raut terlipat. Heran.
“Ya, aku sudah menggantinya dengan hadiah yang lebih berguna. Tiga buah zirah terbaru dari negeri Sabana.” Nuw menatap ke arah pakaian kami. “Zirah ini lebih hebat daripada yang kalian pakai saat ini.” Dia menjentikkan jari, meminta salah seorang pesuruh mengambil hadiah untuk kami.
Hening sejenak. Penonton juga diam. Panasaran.
Tak lama, tiga buah zirah baru datang. Terlihat gemerlap. Berkilau, memantulkan cahaya redup matahari.
Yes! Deni di sampingku mengepalkan tangan, senang. Satu pertanyaan, bagaimana kami memakai zirah itu? Apakah disini harus melepas baju? Di hadapan penonton?
“Itu tidak perlu, Jon. Kau perhatikan sekarang.” Nax tersenyum, lagi-lagi seolah dia bisa membaca pikiranku. Nax mengambil salah satu zirah. Dimulai dari urutan juara terendah. Deni adalah yang pertama.
Nax mendekatkan zirah itu di depan Deni. Aku dan Sem menatap tak berkedip, apa yang akan terjadi pada Deni? Itu pertanyaan kami. Sebuah cahaya muncul, menyelimuti zirah baru itu. Zirah milik Deni juga merespon, mengeluarkan cahaya serupa. Semakin lama, semakin terang. Putih. Menyilaukan. Deni yang berada di depannya bahkan memicingkan mata sebelah. Zirah itu telah berpindah dalam bentuk cahaya, saling silih dalam cahaya. Lantas kemudian cahaya itu meredup, menyisakan zirah baru yang menempel di tubuh Deni. Terlihat gagah. Warnanya tetap hijau, hanya saja ada hiasan garis-garis hitam. Hal serupa juga terjadi pada Sem, warna zirahnya tidak berubah, tetap hitam. Hanya ada tambahan garis-garis putih di bagian pundak. Serta dua garis melingkari bagian leher. Sementara perubahan paling kontras, terjadi pada zirah milikku. Warnanya berubah menjadi ungu. Juga ada garis-garis serupa menghiasi. Terlihat mengkilap. Bercahaya.
“Itu zirah dengan bahan terbaik yang pernah ada. Hanya petarung pilihan yang bisa memakainya.” Nuw menatapku, tersenyum.
Ini memang terasa berbeda. Tubuhku terasa lebih ringan. Ada suntikan energi besar saat zirah ini berganti. Aku yakin, Deni dan Sem juga merasakan hal yang serupa.
“Sekali lagi, berikan penghormatan kepada sang juara.” Nax kembali berseru ke arah penonton. Suara riuh rendah penonton semakin terdengar menggema. Tepuk tangan, siulan, yel-yel, terdengar berirama.
__ADS_1
Kami bertiga melambaikan tangan, sok-akrab. Begini rasanya menjadi idola baru di suatu tempat yang sama sekali tidak kami kenal. Lima belas menit, penonton sudah beranjak pulang. Suasana sepi kembali menyaput.
Matahari tepat di puncak, di atas kepala. Acara perlombaan tahun ini telah selesai.
Penglihatanku sepertinya agak keliru. Awalnya aku mengira, penonton di tempat ini hanya ratusan. Setelah aku menyapukan pandangan sejenak, jumlah mereka mungkin menggapai ribuan. Sambutan yang luar biasa.
***
Acara itu telah selesai. Nuw dan Nax mengadakan jamuan makan siang untuk para juara. Lagi-lagi, aku dan Deni harus memakan makanan piksel. Kami berdua tidak sempat memikirkan apa jadinya jika kami berhasil keluar dari game ini beberapa hari ke depan. Perut kami otomatis akan kosong, tidak makan berhari-hari. Aroma hidangan itu sungguh memikat. Ada sop yang mengepulkan asap menggoda, panggangan daging kijang dengan saos yang membuat gigi bergemelatukan, sop daging kijang juga ada. Nasi putih terlihat tak berbeda dengan di dunia kami. Aku menelan ludah. Makanan sempurna yang mirip, setidaknya ini bisa mengganjal perut dan menjernihkan pikiran yang kusut.
“Kalian mungkin tidak jadi aku ajak ke tempat makan itu. Ini lebih mewah.” Sem berbisik kepadaku. Aku melotot, jangan-jangan Nax tahu yang apa yang Sem ucapkan.
Kami bertiga duduk bersebarangan dengan Nuw dan Nax. Di hadapan masing-masing, aneka makanan menggoda siap untuk tidak terlewatkan.
“Silakan dinikmati sesuka hati. Jangan sungkan jika kalian ingin tambah.” Nuw menjulurkan tangan. Tersenyum. Nax yang berada di sampingnya juga mengangguk. Kami sudah boleh makan.
“Kita bisa berbincang-bincang saat makan.” Nuw sudah meraih garpu dan pisau. Di depannya ada stek daging kijang. Mengiris. Lantas meletakkannya di piring. Mengambil nasi, memulai makan. Menu yang diraciknya terkesan simpel. Berbeda dengan Nax, dia jauh lebih simpel. Nax tidak mengambil nasi, dia hanya asyik menghabiskan beberapa tusuk sate.
Kami bertiga juga memulai makan. Menu racikan masing-masing. Terasa sedikit canggung karena yang di depan bukanlah orang biasa. Dia kepala pemerintahan di tempat ini. Bayangkan saja, makan bersama dalam satu meja dengan pimpinan negara. Itu menjadi impian banyak orang.
Deni mengangguk-angguk. Mulutnya penuh dengan makanan. Bahkan jempolnya mengacung. Benar, bagus, betul, itulah peraturan perlombaan jet ski darat yang seharusnya. Aku dan Sem saling tatap, tersenyum kecil.
“Kalau boleh saya tahu, dimana Sew sekarang?” Sem bertanya.
“Ah, soal itu. Aku juga berencana memutus hubungan bisnis minyak dengannya. Aku berjanji, tidak akan membeli dari Sew lagi, barang apapun. Soal dimana dia, aku minta maaf. Aku sungguh tidak tahu. Sew sangat pandai berpindah-pindah tempat antar negara.” Nuw menjawab, menjelaskan.
Sem mengangguk. Paham.
Makan siang terus berlanjut, sudah berganti berkali topik pembicaraan. Soal lomba jet ski, soal binatang-binatang sabana, soal gedung pemerintahan yang jauh dari pemukiman penduduk, stasiun kereta kapsul bawah tanah, bahkan sempat berbicara soal dunia kami.
“Di tempat ini. Penduduk hidup dengan sejahtera. Usahan mereka kebanyakan beternak. Adapula sebagian menjadi petani. Itu semua cukup untuk menghidupi keluarga mereka. Kami tidak pernah memberlakukan wajib pajak di negara ini. Kami hanya menjalankan tugas sebagai pimpinan negara, kami memiliki petugas khusus untuk memastikan seluruh pelosok kota mendapatkan haknya yang sama sebagai warga negara. Masyarakat selalu mendukung kebijakan pemeritah. Mereka merasa selalu diperhatikan tapi bukan dimanjakan. Tuntutan-tuntutan mereka, saran-saran mereka, selalu kami tamping dan direalisasikan jika itu memang membuat efek kesejahteraan bersama. Tidak ada janji dalam pemerintahan kami. Yang ada, kami hanya melayani.” Nax menjelaskan panjang lebar, piring makanan di depannya sudah kosong. Kami semua sudah selesai bersantap makan siang.
__ADS_1
“Sekarang apa tujuan kalian?” Nuw bertanya.
“Kami akan ke negara Hutan Hujan Tropis.” Sem yang menjawab.
“Oo.. Aku kenal baik dengan pimpinan negara itu. Namanya Tim, dia pemimpin yang bijaksana.” Nuw berseru riang.
“Sungguh?” Deni kaget, dia heran. Kami tahu, ini adalah game tentang korupsi. Misi kami adalah memberantas para pelaku tindak pidana korupsi. Jika mendengar pemimpin negara itu adalah orang yang bijaksana, kami merasa itu sedikit canggung.
“Sungguh? Kenapa?” Nuw terkekeh, jenggotnya bergoyang. “ Hutan Hujan Tropis adalah satu-satunya negara yang masih menganut sistem hukuman pancung. Jika terbukti bersalah, sekalipun itu adalah antek-antek negara, tetap akan berakhir di alat pancung. Aku rasa satu-satunya yang dihadapi negara itu saat ini hanyalah soal pembakaran hutan.”
Aku mengangguk. Benar. Itu pernah terjadi di negaraku berpuluh tahun silam. Kebakaran hutan. Asapnya bahkan menjamah negara tetangga. Jika seperti itu situasinya. Artinya, musuh kami adalah pemilik perusahaan-perusahaan pembakar lahan. Belum ada yang mengetahui, jika masalah paling serius dari negara Hutan Hujan Tropis bukan hanya pembakaran hutan, tapi juga narkoba.
Kali ini kami berlima berada di beranda depan lantai satu gedung pemerintahan. Nuw dan Nax bersiap melepas kepergian kami.
“Terima kasih zirah kerennya.” Deni tersenyum, mendongak menatap Nax yang lebih tinggi daripada dirinya.
“Itu sudah jadi milik kalian.” Nax sedikit menundukkan pandangan, menatap Deni yang lebih rendah.
“Sekarang yang kalian butuhkan adalah portal.” Nuw menatap keindaan hamparan Sabana sejauh mata memandang. Halaman depan itu juga di tumbuhi beberapa pohon akasia.
“Itu benar. Tapi aku sudah tidak tahu letak portal itu. aku hanya mengetahui letak portal dua negara. Negara pasir dan negara ini.” Sem terlihat menyesal. Dia tidak tahu lagi, informasi yang ditanamkan dalam memorinya soal portal antar negara terabatas.
“Itu tidak masalah. Aku bisa membantu kalian.” Nax menawarkan bantuan. “Kemarikan alat yang ada di pergelangan tanganmu itu, Jon.”
Aku melepas jam tangan canggih itu, memberikannya kepada Nax. Lantas, Nax masuk ke dalam gedung beberapa menit. Kami menunggu di luar bersama Nuw, bercakap-cakap sebentar. Bergurau. Nuw ternyata orang yang cukup humoris pada usianya. Dia masih bisa bergurau dengan remaja tanggung seperti kami. Beberapa kejapan kemudian, Nax akhirnya kembali.
“Aku sudah memasukkan informasi dua negara pada memorinya. Negara Hutan Hujan Tropis dan negara Lautan. Kalian pasti akan mudah menemukannya. Titik koordinat portal itu mudah diakses kapanpun. Tapi aku minta maaf. Kami tidak tahu apapun soal negara kelima. Sungguh, kami benar-benar tidak tahu.” Nax menyerahkan jam tangan canggih milikku.
Aku mengangguk, berterima kasih. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami.
Kami berlima saling bersalaman. Saling mengucapkan terima kasih. Nuw bahkan memeluk Deni, menepuk-nepuk pundaknya, memberi semangat. Seperti ayah yang ingin melepas anaknya pergi merantau jauh ke negeri seberang.
__ADS_1
Matahari sudah melengser dari puncak di atas kepala. Semilir angin mengiringi kepergian kami, membelai lembut wajah-wajah petualang. Saatnya menuju neraga baru, Hutan Hujan Tropis.
Negara tempat seorang sniper handal memuntahkan peluru jarak jauhnya.