The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 5: LIMA


__ADS_3

Sebuah portal di dunia virtual terlihat mengambang di atas sebuah bukit berpasir. Setinggi satu meter di atas tanah. Awalnya hanya sekepalan tangan, hingga kemudian membesar seukuran orang dewasa. Aku dan Deni keluar dari portal itu. Deni terlihat kaget, dia terjatuh, tidak siap untuk mendarat. Berbeda denganku, Aku bisa mendarat perlahan, seolah tubuhku melayang, kehilangan gravitasi sesaat.


“Wow..!” Deni berseru takjub. Bukan karena melihatku yang mantap mendarat, tapi karena hal lain. Dia melihat hamparan luas pasir gurun. Inikah dunia virtual di dalam game.


Semilir angin menghembuskan pasir ke wajah Deni. Dia mengibas-ngibas dengan tangan. “Apa yang kau lakukan, Jon?”


Aku menjongkok, mengambil segenggam pasir, memeriksa. “Ini benar-benar seperti asli, Den. Lihatlah.” Aku mengangkat tangan, memperlihatkan pasir di tangan, sebagian di terpa angin, sebagian jatuh mengalir ke bawah dengan sendirinya.


“Ini benar-benar keren. Mereka benar-benar akurat membuat setting. Ini seperti asli. Lihatlah kaktus itu, benar-benar berduri.” Deni menunjuk kaktus yang tidak jauh dari mereka berdiri.


Aku dan Deni menatap sekitar. Lantas apa misinya? Kami hanya melihat hamparan pasir seperti kain kumal yang siap disetrika. Di ujung sana, hanya bebatuan gurun. Kami memutuskan berjalan.


“Hei, apa kau menyadari sesuatu, Den?” Aku tiba-tiba berhenti. Deni menoleh, tidak mengerti.


“Kau lihat ini. Astaga! Aku baru saja menyadarinya.” Aku mengangkat kedua tangan. “Kau lihat pakaian ini?”


Belum selesai Deni memperhatikan kerennya pakaian yang aku kenakan, dia sudah tenggelam dalam kekaguman pada pakaiannya sendiri. “Huhh..” nafas keren. “Ini memang keren, Jon. Aku harus mengakui, kau memang tidak salah pilih game. Tapi aku sedikit kecewa karena sebenarnya baju yang aku inginkan adalah seperti Iron Man.” Deni menepuk bahuku, lantas tertawa.


Aku menggunakan baju berwarna perak, baju zirah. Itu tidak terlihat seperti besi, hanya aluminium biasa. Untuk celananya, aku mengenakan celana sejenis karet yang seperti menempel pada kulit, terlihat ketat. Sepatunya, aku mengenakan sepatu bot yang hampir menggapai lutut tingginya. Warna sepatu itu seirama dengan baju zirah, terbuat dari bahan yang sama. Hanya saja, mereka tidak merasa terpanggang saat mengenakan bahan yang terbuat dari aluminium. Meskipun berada di tengah gurun yang panas. Baju zirah itu bukan seragam perang  biasa, tekhnologi telah mempercanggihnya. Pemakai tidak akan merasa panas jika memang panas, tidak akan merasa dingin jika memang dingin. Deni juga mengenakan pakaian yang sama, hanya saja baju zirahnya berwarna hijau muda.


“Hei, kalian. Apa kalian bisa mendengarku?” terdengar suara dari alat komunikasi yang ada di lengan mereka berdua. Kami berdua menekan tombol yang ada pada alat itu. Sebuah hologram keluar. Terlihat seseorang yang tidak asing bagiku dan Deni.


“Kalian baik-baik saja?” itu petugas yang menjelaskan kepada mereka tentang tiga game.


“Sejauh ini baik-baik saja, Om.” Deni tersenyum, dia melambai-lambaikan tangan.


Petugas itu terkekeh. “Sejak kapan kau memanggilku “Om”? Sekarang apa kalian perlu bantuanku?”


“Tentu saja. Apa yang harus kami lakukan sekarang. Ini seperti gurun sahara. Apa ini di Bumi atau ini adalah planet lain seperti Mars? Atau ini adalah planet Kepler 452 B? Aku yang menjawab, sekaligus bertanya.


“Kalian harus menemukan sebuah portal. Itu akan membawa kalian ke perkampungan. Lebih tepatnya, negara di tempat itu.”


“Negara? Di tengah gurun?” Wajah Deni terlipat.


“Ini game. Tentu saja itu bisa terjadi. Kami sudah menyiapkan dunia virtual ini berpuluh-puluh tahun agar terlihat seperti nyata. Sekarang carilah portal itu.” petugas itu terlihat menatap Deni yang dari tadi tidak yakin. Melihat gurun itu saja, mana ada di sekitar mereka kehidupan. Hanya pasir dan bebatuan.


“Oke, satu lagi yang perlu aku jelaskan. Kita hanya bisa melakukan satu kali komunikasi di setiap scene yang kalian kunjungi. Saat ini fitur itu masih terbatas. Kalian harus berusaha sendiri, hubungi aku saat kalian tiba di scene berikutnya.” Petugas itu sudah akan memutuskan komunikasi.


“Tunggu, bagaimana cara kami ke scene selanjutnya?” Aku bertanya, sedikit cemas.


“Kalian harus menyelesaikan misi di gurun itu. Harus tuntas. Jika kalian tidak yakin, kalian masih punya pilihan log out. Kalian mengerti, kan?” belum lagi ada jawaban dari keduanya, petugas itu sudah memutuskan sambungan, hologram terlihat kosong dan kembali masuk ke dalam alat yang ada di pergelanganku dan Deni, sebut saja itu jam tangan tercanggih yang pernah ada.


“Sekarang apa?” Deni yang bertanya.

__ADS_1


“Kita harus menemukan portal itu, Den. Aku rasa kita hanya perlu bermain disini selama dua jam. Jika kita sudah menyelesaikan misi pertama ini, musuh utama sudah tumbang, kita log out, kita bisa meyambungnya minggu depan.” Aku menjelaskan. Dari  raut wajahku sebenarnya aku terlihat tidak yakin akan menemukan portal yang dimaksud.


Gurun itu terlihat tenang, hamparan pasir berbukit-bukit terlihat sejauh mata memandang. Kami berjalan sejajar. Deni tidak banyak berbicara lagi. Dia asyik menatap sekitar. Kami menuju satu bukit bebatuan di depan. Deni terperangah saat mereka tiba di puncak bukit, matanya membesar. Banyak sekali kerangka hewan yang tersebar di berbagai sudut gurun.


“Itu hanya fosil, Den. Keringnya wilayah gurun membuat benda-benda itu lebih awet. Ditambah lagi air tanahnya juga asin.” Aku menjawab pertanyaan Deni yang belum ia ucapkan.


“Airnya asin?” Deni semakin panasaran.


“Ya, air tanah di gurun cenderung asin karena larutan garam dalam tanah tidak cenderung berpindah baik karena pencucian oleh air maupun drainase.” Aku terlihat seolah ahli sekali dalam hal itu.


“Ya.. Ya.. Baik.. Baik.. Aku tahu, kau tahu banyak soal itu.” Deni bergurau.


Dua puluh menit kami berjalan, tidak menemukan apapun. Pemandangan selalu saja terlihat sama. Gurun, batu, fosil, kaktus, sesekali mereka menemukan hewan gurun. Deni sudah mengeluh.


“Kenapa Om itu tidak mengirimkan kepada kita titik koordinat dimana portal itu berada? Itu kan lebih gampang, kita tinggal mengunci titik koordinatnya, lalu menggunakan radar yang ada di alat ini untuk mencari.” Deni mengangkat tangannya.


“Mungkin fitur itu tidak ada.” Aku menjawab singkat, aku menatap ke depan.


“Tidak ada? Dalam game secanggih ini? Ini konsol game tercanggih di dunia saat ini. Yang benar saja.” Deni kecewa.


“Atau barangkali ada. Tapi kita sengaja tidak diberitahu. Atau mungkin saja merekanya yang tidak tahu. Atau semuanya memang tidak tahu.” Aku mengarang jawaban.


Puuh.. Deni kecewa. Wajahnya menunduk lesu.


“Den!” Aku menyikut lengannya.


“Kau harus bangun, Den. Lihat di depan.” Aku senang sekali, aku menggoyang-goyangkan tubuh Deni yang terlihat tidak bersemangat.


“Aku tidak sedang tidur, Jon.” Deni mendongakkan wajahnya ke depan. Matanya yang setengah dipicingkan dari tadi kini membuka lebar.


“Itu Oasis, Den.” Aku menunjuk ke arah depan.


“Apa ini seperti Huacachina? Oasis yang ada di Peru. Aku pernah membacanya di ensiklopedia. Ada perkampungan penduduk di sekitarnya. Kita bisa mencicipi makanan di sana. Ayo, Jon.” Deni sudah setengah berlari meninggalkanku, padahal tadi dia yang paling tidak bersemangat. Aku mengikuti Deni, namun langkahnya terhenti. Perkampungan? Makanan? Mencicipi? Apa bisa makan di dalam game?


Setibanya di dekat oasis itu, Deni terlihat menendang-nendang tulang. Aku baru tiba beberapa detik kemudian. Ada banyak pohon palem berjejer. Danau itu terlihat biru, jernih.


“Hei, ada apa, Den?” Aku heran dengan sikapnya.


“Ini hanya danau biasa, Jon. Lihat, jangankan ada perumahan, satu rumah pun tidak.” Kesal dan kecewa terlihat di wajah Deni.


Aku tertawa. “Ini hanya game, Den. Tidak perlu membawa perasaan seperti itu.”


“Kenapa aku menyetujuimu memilih game ini? Jika saja kita memilih game yang pertama, saat ini kita sudah ada dalam peperangan besar kerajaan.” Deni mengambil sebongkah batu kecil, melemparkannya ke tangah danau.

__ADS_1


Belum sempat batu itu menyentuh dasar danau, belum sempat Joni berkomentar. Terdengar suara auman keras di belakang kami. Spontan, Aku dan Deni menoleh. Ada seekor singa dengan ukuran dua kali lipat singa di dunia nyata, matanya bengis, taringnya tajam, rambut di wajahnya tebal. Singa itu menggeleng, mengibaskan rambut di wajahnya. Sekali lagi, singa itu mengaum. Lantas berlari menuju ke arah kami berdua.


Aku dan Deni saling tatap. Bagaimana ini? Kami berdua gemetar. Ini pertama kalinya kami berhadapan dengan singa. Di dunia nyata saja kami tidak pernah bersentuhan dengan singa, di dunia ini kami malah akan diserang singa dengan ukuran dua kali lipat.


Singa itu semakin mendekat, bersiap menerjang. Mulutnya sudah menganga, taringnya berkilat tajam, kuku-kukunya sudah terhunus ke depan, runcing sekali. Aku dan Deni sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kaki kami, keduanya berat untuk digerakkan. Di saat itulah, saat kami sudah mati langkah. Seseorang datang menjadi penolong, seseorang yang akan membuka jalan bagi kami untuk menyelesaikan permainan hingga akhir, seseorang yang menjadi tokoh penting dalam game.


Wussh.. Sebuah anak panah melesat tepat sebelum singa itu menerkam kami berdua. Anak panah itu tepat mengenai kepala singa. Bersamaan dengan auman kerasnya, singa itu menghilang seperti piksel gambar yang rusak, buram. Lantas menghilang tanpa bekas apapun.


“Kalian tidak apa-apa? Seseorang itu bertanya.


Deni tidak menjawab. Dia langsung duduk di atas pasir yang panas. Baju zirah itu melindunginya dari panasnya pasir yang bisa membuat kulit melepuh.


“Kami baik-baik saja. Terima kasih.” Aku yang menjawab.


“Aku rasa aku tahu kalian, kalian pasti pemain utama dalam game ini, kan? Namaku Sem.” Lelaki itu menjulurkan tangan, mengajak berkenalan.


Aku sebenarnya masih ragu menerima uluran tangan itu.


“Kenapa? Kau takut? Ayolah, ini hanya game. Setiap benda mati atau hidup disini mengenal siapa kalian. Kecuali mereka yang deprogram tidak mengenali kalian. Kalian player. Atau kalian bingung dengan namaku yang terlalu simpel? Setiap orang disini memang hanya memiliki nama yang terdiri dari tiga huruf dengan huruf vokal pada bagian tengah. Karena itulah namaku Sem.” Sekali lagi Sem menjulurkan tangannya, kali ini lebih dekat. Aku akhirnya menerima uluran tangan itu, bergiliran dengan Deni yang dari tadi gemetar lututnya belum sembuh. Kami memperkenalkan diri.


“Kau sebagai apa disini?” Aku memberanikan diri bertanya, kami masih berhadapan.


“Aku akan membantu kalian. Itu tugasku.” Sem menjawab singkat. Dia tersenyum.


Deni yang mendengar perkataan itu langsung berdiri. Wajar saja jika orang ini menyelamatkan mereka dari serangan singa. Dia sudah di desain sebagai pembantu mereka berdua.


“Lalu apa setelah ini? Bagaimana dengan singa itu?” Deni akhirnya bertanya, dia mulai tertarik. Rasa kesalnya pada game ini mulai luntur.


Sem tersenyum. “Singa itu telah mati, dia tidak akan hidup lagi, hanya saja kalian tidak akan menemukan bangkainya. Karena itu hanya program saja, tidak ada darah dan nyawa. Padahal, biasanya jika beruntung, kalian akan menemukan potion jika mengalahkan hewan-hewan buas seperti itu. Aku yakin kalian sudah tahu apa itu potion. Soal apa setelah ini, misi kalian adalah menemukan portal, kan? Aku tahu tempatnya. Scene ini sebenarnya bagian paling mudah dalam game.”


Deni mengangguk senang. Lelaki ini jauh lebih  bisa diandalkan dari pada petugas yang membantu mereka ketika akan memasuki dunia ini. Begitu juga aku, dari tadi aku terlihat bersemangat sekali.


“Kenapa pakaianmu berbeda dengan kami?” Aku bertanya lagi.


“Tentu saja, aku bukan tipe petarung jarak dekat seperti kalian. Hei, sepertinya kalian belum mengetahui apa kehebatan kalian masing-masing. Sepertinya aku harus menjelaskan bagian itu.” Sem mulai mempersiapkan penjelasannya. Dia menarik nafas dalam. Pakaian Sem memang berbeda denganku dan Deni. Dia hanya ,mengenakan pakaian kain  biasa berwarna hitam, celana hitam ketat serupa denganku dan Deni, sepatu bot, busur di tangannya, dan anak panah di dalam Arrow rest di balik punggungnya. Dia sepertinya seorang Archer dalam game ini.


“Kau Archer, kan? Deni akhirnya menyadari.


Sem mengangkat bahu. Kau benar, itulah maksudnya.


“Begini, kalian berdua itu sebenarnya lebih hebat daripada aku. Kalian bisa melawan singa seperti tadi hanya seorang diri. Seperti kau Deni, kau sebenarnya memiliki pedang untuk bertarung. Aku tahu itu dari warna baju zirahmu. Hanya saja kau tidak mengetahui cara menggunakannya, lebih tepatnya memunculkannya. Sedangkan Joni, dia adalah petarung bebas. Joni tipe fighter, dia bertarung tidak mengenakan senjata, hanya dengan tangan kosong. Tapi, pukulannya mematikan. Satu pukulan sebenarnya bisa menumbangkan sepuluh ekor singa sekaligus. Dan asal kalian tahu, levelku sangat jauh dibawah kalian.” Sem menjelaskan. Dia terlihat sangat mahir bercakap-cakap. Deni saja tertegun mendengarnya.


Aku yang mendengar penjelasan itu langsung mengangkat kedua tangan, memeriksa jemari tangan. Apa kekuatan hebatku? Sementara Deni mencari-cari dimana pedangnya,  tangannya mengambil kebelakang, kosong. Tidak ada apa-apa.

__ADS_1


“Aku mempercayaimu, dan kau tidak mungkin bercanda. Tapi aku tidak menemukan dimanapun pedangku.” Deni sekali lagi mencari-cari, bahkan dia mengacungkan tangan ke atas tinggi-tinggi seperti meraih seseatu. Tetap saja dia tidak menamukan apapun.


Sem yang melihat kelakuan aneh kami berdua hanya menanggapi dengan tertawa ringan.


__ADS_2