The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 29: DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Sarapan pagi bersama. Ikan laut goreng. Tidak ada nasi. Tidak ada makanan pembuka, tidak ada makanan penutup.


Bob dan Bey senang sekali bergurau. Bercerita banyak hal. Termasuk negara awan yang akan kami datangi. Bey mengatakan negara itu benar-benar mengambang di atas awan. Seperti kasur empuk yang melayang. Sensai berjalan disana seperti berjalan di atas kapas yang lembut. Aku menelan ludah. Bukankah itu indah sekali? Kita bisa menyaksikan pemandangan seluruh banua. Tapi mungkin itu tidak ada. Sama seperti saat kami di negara ini. Tak ada selintas pun pikiran untuk naik ke permukaan dan pergi melihat daratan. Mungkin daratannya pula yang memang tidak ada.


Sarapan penuh canda tawa itu selesai tiga puluh menit kemudian. Suapan-suapan sering terhenti, itu karena Bob sering sekali membuat seisi ruangan tertawa. Ayah dan suami yang hebat bagi anak dan isterinya. Nin membantu merapikan piring-piring kosong. Membawa ke belakang. Bey menolak, biar dia saja yang mencucinya. Nin tetap bersikeras membantu, sudah lama dia tidak mencuci piring.


Bob mengajak kami bersantai di ruang depan. Tidak ada basa-basi, langsung kepada inti pembicaraan.


“Dimana portal menuju negara awan?” Deni bertanya, antusias. Selain karena negeri yang diceritakan Bey itu indah. Negara itu pulalah yang menjadi tujuan terakhir kami. Boleh jadi di sana akan ada jalan pulang.


“Apakah tempatnya sama saat kami datang ke tempat ini?” Aku tak kalah antusias.


Nin akhirnya ikut bergabung, selesai membantu Bey membereskan dapur. Bey juga ikut menyusul, menggendong bayinya yang masih tertidur.


Bob menoleh, tersenyum. “Portal itu ada di tempat ini.”


Mataku membulat, sama dengan Deni. Di tempat ini? Apakah pendengaran kami agak terganggu setelah semalam terlalu mendengar bising peluru?


“Ya. Di tempat ini. Bey bisa membuka portalnya. Tapi kami tidak akan ikut. Boleh jadi di sana ada peperangan tak kalah hebat dari peperangan kemarin sore. Maaf soal itu. Aku hanya tidak ingin bayi itu kehilangan seorang ayah.” Bob menunduk. Aku tahu, sebenarnya ada alasan lain bagi Bob tidak ingin mengunjungi negara awan. Tapi itu tidak perlu ditanyakan. Itu urusan pribadi Bob dan Bey.


“Tidak apa. Terima kasih, Bob. Terima kasih, Bey.” Aku menatap suami isteri itu bergiliran. Melepas senyum, penuh penghargaan.


“Apa kalian sudah siap? Oh, tunggu. Aku membuatkan ini untuk kalian.” Bey menyerahkan sesuatu, sebuah kantong berisi bekal makanan untuk makan siang. Nin menerimannya, mengucapkan terima kasih.


“Negara awan adalah negara kerajaan. Raja disana dikenal arif dan bijaksana. Mereka menyukai perdamaian. Tapi beberapa tahun belakangan sering sekali aku dengar kekacauan.” Bob kembali menunduk. Prihatin.


“Kami akan membantu.” Deni tersenyum, mencoba membesarkan hati.


Bob mengangguk. Menoleh kepada isterinya, sudah saatnya. Bey beranjak berdiri. Menyerahkan bayinya kepada Bob. Bey Mengangkat tangan.


Hening sejenak.


Sebuah portal akhirnya terbuka. Kecil saja. Semakin lama semakin besar. Bercahaya. Menyilaukan. Membuat seluruh ruangan di rumah sederhana itu terang benderang sepagi ini. Yang unik dari portal ini adalah warnanya. Biru tua. Portal itu tebuka setinggi orang dewasa. Bey sudah mulai tersengal. Seperti sebelumnya, membuka portal memerlukan banyak energi.


“Selamat jalan, anak-anak.” Bob menyalami kami bertiga. Bey jatuh terduduk di lantai batu. Nin mencoba menolong, Bob mencegatnya. “Tidak apa, Nak. Dia hanya kelelalahan. Nanti akan pulih beberapa menit lagi.”


Bertiga, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Loncat ke dalam portal bergiliran. Melepas senyum perpisahan. ‘Selamat tinggal, Bob. Selamat tinggal, Bey. Selamat tinggal bayi kecil yang belum punya nama.” Bob mengangguk. Tersenyum tulus. Portal itu akhirnya menutup perlahan. Ruangan sederhana itu kembali remang.


***


Mengambang, awan putih bak kapas, langit biru, cerah, terang, sinar matahari tak pernah terhalang, desir air terjun terdengar dari kejauhan, berdebam menghempaskan airnya yang tumpah. Itulah yang pertama kali kami lihat saat mendarat. Seperti sebelum-sebelumnya, saat pertama kali menjejak negara lain, mata dan kepala tidak akan pernah diam. Melengok sana-sini, menunjuk-nunjuk. Pagi yang cerah.


Seeokor elang elang hitam terbang rendah di atas kepala, berputa-putar. Negara ini, walaupun sedang berada di dalam game, tapi lebih mirip negeri dongeng. Negeri awan adalah negara yang berada di tengah-tengah pulau mengambang yang diapit oleh gumpalan awan putih. Bentuk negara ini seperti piramid, walaupun jauh dari mirip. Pada puncaknya itulah terdapat istana kerajaan dan rumah penduduk setempat. Untuk menaikinya memerlukan anak tangga yang belum terhitung jumlahnya. Anak tangga itu mengitari badan seluruh pulau, berbentuk spiral. Putaran anak tangga itu megikuti arah jarum jam. Pada setiap 999 anak tangga, ada satu tempat peristirahatan, sebelum menaiki 999 anak tangga selanjutnya yang berkelok. Negara awan adalah negara yang unik. Semua bentuk negara ada disini. Di bagian dasar, lembah paling bawah, ada empat bagian nuansa alam. Tempat kami berpijak saat ini adalah pasir tandus, kurang lebih sama dengan negara pasir. Di bagian sisi lainnya, ada padang sabana, dua bagian sisi lainnya adalah hutan dan lautan. Ada pantainya juga. Cukup luas.


Deru angin di tempat ini lebih dari sekedar sepoi-sepoi. Membuat benda apapun yang lunglai akan berkibar.


“Bagaimana negara ini mendapatkan hujan? Bukankah mereka ada di atas awan?” Deni memulai percakapan.


“Mungkin saja mereka membuat hujan buatan, Den.” Aku menjawab asal. Nin tersenyum mendengarnya.


“Kalau begitu ayo kita ke puncak.” Deni berseru tak sabar. Pemandangan di sana mungkin lebih indah lagi. Semua sepakat. Mempersiapkan otot paha dan betis untuk menaiki anak tangga.


“Kau tahu anak tangga ini, Nin?” Deni mencoba bergurau. Kami sudah berada di depan anak tangga pertama.


Nin mengangkat bahu. Menggeleng. Dimana pula Nin hendak tahu, semuanya baru pertama kali ke tempat ini. Deru angin kembali membuat rambut bergoyang. Dedaunan kering pada pohon di hutan nan jauh berguguran. Pasir-pasir berterbangan. Rumput-rumput di padang sabana melambai. Elang hitam itu masih berputa-putar mengitari pulau yang mengambang.


Deni yang pertama kali menginjakkan kaki di anak tangga itu, memimpin di depan. Aku dan Nin mengikuti dari belakang. Kaki dan kepala kami sama sekali tidak serasi, kaki tetap melangkah, kepala melengok sana-sini. Deni yang di depan menunjuk sana-sini. Belum nampak benar kami menolehnya, Deni sudah menunjuk yang lain. Nin terlihat senang. Dunia luar yang sudah lama ingin dilihatnya ini benar-benar mengesankan. Selama ini dia hanya lebih sering diam di hutan.


Aku sendiri sebenarnya merenung. Memikirkan bagaimana kekhawatiran orang tua kami di rumah. Mereka mungkin sudah bertanya sana-sini kemana aku dan Deni. Atau mungkin sudah memasang poster anak hilang di pohon-pohon tepi jalan dan tiang listrik. Mungkin juga wajah kami beberapa hari ini menghiasi layar televisi. “Dicari, anak hilang!” Satu pertanyaan yang sudah ada sejak kami berada di negara Sabana adalah Apakah kami bisa pulang?

__ADS_1


Kami tiba di peristirahatan pertama. Melepas penat. Dari sini saja pemandangan di bawah sudah mengesankan. Benar-benar mengesankan. Langit biru dan laut biru(di sisi pulau) terlihat serasi. Hijaunya hutan dan rerumputan kontras dengan tandusnya padang pasir. Aku mengeluarkan air minum dari jam tangan canggih di pergelangan. Memberikannya kepada Nin. Dia wanita. Mungkin lebih kelelahan daripada kami. Nin tesenyum, mengucapkan terima kasih.


Beberapa menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan, menaiki anak tangga. Tanjakan seperti ini seperti ini cepat sekali menguras tenaga. Tidak ada lagi tunjuk-menunjuk, lengok sana lengok sini. Deni yang berada di depan lebih banyak diam. Terus berjalan menatap ke depan.


Matahari terasa cepat beranjak naik. Bayang-bayang kami mulai memendek. Suara debur ombak di pantai yang menghujam karang mulai menghilang. Kami semakin tinggi mendaki anak tangga satu persatu. Elang hitam itu mulai terbang menjauh. Terdengar suara debam yang lain. Air terjun. Kami tiba di peristirahatan yang kedua. Di tempat ini ada sebuah air terjun. Deni berlarian mengambil airnya, minum hanya dengan kedua telapak tangan. Nin juga ikut berlarian, mencipratkan air ke wajah Deni, tak mau kalah Deni membalasnya. Maka terjadilah perang kristal air. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan mereka. Mendongak ke atas. Benar-benar biru. Percikan air itu melukis pelangi sesaat. Indah. Semoga saja aku dan Deni bisa pulang.


“Aku rasa cukup bermainnya, anak-anak. Saatnya kita melanjutkan perjalanan.” Aku menangkupkan kedua tangan, memanggil mereka seperti kakak pembina pramuka. Nin cemberut, Deni menyeringai. Tapi mereka berhenti. Tatap naik mengikutiku yang sudah menjejak anak tangga.


Kami terus melangkah, menaiki anak tangga satu persatu. Deni bahkan jahil menaikinya sekaligus dua. Meloncat selebar-lebarnya. Nin tersenyum melihat tingkah konyol itu.


“Ayolah, kawan. Kalian tidak ingin aku yang menjadi orang pertama melihat keindahan itu, kan?” Wajah itu menyeringai menjengkelkan.


Tiba di peristirahatan selanjutnya, kami tidak singgah. Meneruskan perjalanan menaiki kelokan anak tangga selanjutnya. Karena setelah ini tidak ada lagi peristirahatan, melainkan istana kerajaan. 999 anak tangga lagi, kami akan sampai di puncak tertinggi negara awan. Deni sudah mengatakan banyak hal, berandai-andai. Pasti istananya begini, menaranya begitu, hiasan tamannya begini, jumlah pasukannya segini, rajanya begini, permaisurinya begitu, dan sebagainya, dan sebagainya. Andai-andai Deni itu berakhir saat kami menginjak anak tangga terakhir.


Senyap. Hening. Tak ada orang.


Memang benar. Deni orang pertama yang menyaksikan keindahan itu. Dia yang dari tadi berdiri di depan. Tapi bukan keindahan sebenarnya yang dilihat, melainkan kehancuran. Ya, negara awan telah hancur. Tidak ada istana megah, yang ada ada pualam-pualam berserakan. Tidak ada taman dengan hiasan bunganya, yang ada hanya tanah yang terselongkar. Tidak ada raja yang bijaksana, tidak permaisuri yang cantik jelita. Tidak ada. Tidak bisa dibayangkan jika Bey, isterinya Bob mengetahui seluruh kejadian ini. Keluarganya mungkin sudah ikut tewas bersamaan dengan hancurnya istana kerajaan.


“Apa yang--? Deni tercekat. Ini semua di luar dugaan.


Semua diam. Menyaksikan puing-puing reruntuhan itu terasa menyayat hati. Belum habis kesedihan kami setelah kehilangan Sem, beberapa kejap kemudian kami sudah menyaksikan negara yang hanya tinggal nama. Elang hitam itu kembali, berputar-putar terbang di langit-langit istana yang sudah menjadi puing-puing. Hilang sudah kegembiraan akan menyaksikan keindahan dari puncak tertinggi negara awan. Empat pemandangan berbeda yang bisa disaksikan dari ketinggian ini terasa hampa. Kosong. Hamparan pasir di sisi timur, rerumputan sabana di sisi utara, hutan dengan aneka satwanya di sisi sebelah barat, dan lautan yang membiru, jernih dan ombak yang begulung-gulung di bagian selatan, semua tidak ada indahnya. Kesedihan yang mengungkung di langit-langit pulau yang mengapung di atas awan ini menghabisi seluruh keindahan itu.


“Mereka telah merenggut semuanya.” Seseorang tiba-tiba mendekati kami. Penduduk setempat, sudah tua. Wajahnya pucat, matanya memerah. Kesedihan itu menggantung di wajahnya yang keriput.


Semua menoleh. Memerhatikan lamat-lamat orang itu.


“Apa yang—apa yang terjadi?” Deni tercekat, lidahnya seperi terlilit.


“Sebuah rudal menghabisi semua kegembiraan itu.” Orang itu menatap kosong kehancurannya di depan mata.


Aku menelan ludah. Rudal? Itu berarti negara ini yang menjadi sasaran pertama Sew dengan rudal antar dimensinya. Menyedihkan. Satu rudal mampu menghabisi seluruh negara. Benar-benar tidak manusiawi.


“Setiap hari aku mencari kayu, turun ke bawah. Semua penduduk juga melakukannya. Aku tidak pernah membayangkan akan seperti ini akhir dari negeri kami.” Tak kuasa menahan kesedihan, sebuah kristal air membasahi ujung kaki.


Kami bertiga hanya menatap prihatin. Terlambat? Mau bagaimana lagi. Rudal itu memang tidak bisa dicegah. Kalaupun tahu negara ini yang akan diserang, bagaimana kami hendak kesini. Sebelum Bob menjelaskan hanya isterinya yang bisa membuka portal negara awan, tidak ada yang tahu jalan menuju negara ini. Tidak ada kerajaan, itu artinya tidak ada lagi peperangan. Game ini seharusnya sudah selesai. Tapi bagaimana caranya aku dan Deni pulang? Itu masih menjadi masalah besar bagi kami berdua.


“Sudah tidak ada yang bisa kita lakukan di negara ini.” Nin ikut menunduk.


“Apa artinya ini perpisahan?” Deni mengangkat tangan.


“Entahlah, Jon. Kita juga belum tahu jalan pulang.” Aku menepuk pundaknya.


“Apa kalian player?” Orang itu kemudian mendongak, menatap wajah kami bertiga. Berusaha menghapus kesedihan yang menggantung di wajah.


“Hanya kami berdua.” Deni menunjukku. “Tuan puteri ini dari negara Hutan Hujan Tropis.” Nin melotot disebut tuan puteri lagi.


“Apa kalian ingin pulang?” Orang itu bertanya lagi.


Bertiga, serempak mengangguk.


“Kalau begitu aku tahu cara mengantar tuan puteri ini ke negara Hutan. Aku bisa membuka portal kesana. Tapi aku belum tahu cara mengantar kalian berdua.” Diam sejenak. “Oh. Perkenalkan namaku Lod.” Bersalaman.


Nin tidak melotot disebut tuan puteri. Takut tidak jadi diantarkan pulang. Aku senang Nin bisa pulang. Tapi sedih dengan nasib kami berdua.


“Aku tidak yakin. Tapi mungkin ada sesuatu yang patut kalian coba. Di bawah, di dekat air terjun, saat aku sering naik turun tangga negeri ini. Aku sering menyaksikan portal aneh yang muncul hanya beberapa detik. Warnanya merah. Entah kemana tujuan portal itu mengarah. Tapi bagi kalian yang kehabisan jalan, tidak ada salahnya untuk mencoba, kan?” Lod mengangkat tangan.


Aku dan Deni saling tatap. Mengangguk serempak. Air terjun itu sudah pernah kami singgahi. Tapi tidak pernah ada portal yang nampak. Mungkin kami berselisih waktu.


“Kalau begitu siapa yang pertama?” Lod bertanya.

__ADS_1


“Aku ingin mengantarkan mereka.” Nin menjawab. Meminta Lod untuk mengantarkan kami pulang lebih dahulu. Urusan pulang dirinya sendiri, nanti bisa dipikirkan lagi.


“Baik. Sudah diputuskan. Kita akan menuju air terjun itu.” Lod sudah beranjak melangkah menuruni anak tangga. Kami bertiga mengikuti dari belakang.


Antara turun tangga dan naik tangga, memang lebih mudah menuruninya. Tapi tetap saja, memberikan tekanan pada otot kaki. Membuat penat. Kami juga tidak singgah di satu peristrirahatan, memutuskan untuk langsung menuju ke lokasi air terjun. Tidak banyak pembicaraan sepanjang perjalanan. Memang tidak ada yang perlu dibicarakan selain jalan pulang. Berbicara soal kehancuran itu hanya akan menambah kesedihan. Apalagi soal satu teman kami yang sudah pergi.


Matahari berada di puncak tertinggi, tepat saat kami tiba di depan air terjun. Airnya bergemuruh, berdebam saat menghujam bebatuan. Belum ada portal aneh yang diceritakan Lod terlihat. Tapi kami sepakat menunggu.


Berempat, kami duduk di lantai tempat peristirahatan. Memandang air terjun. Berusaha menangkap kemunculan portal yang Lod katakan hanya beberapa detik.


Lengang. Tidak ada pembicaraan. Kesedihan masih menyelimuti hati masing-masing. Ditambah dengan kesedihan tentang perpisahan yang akan terjadi jika portal itu benar-benar muncul dan benar-benar mengantarkan kami pulang. Nin terlihat muram, menunduk. Deni sibuk mengelus-elus pedangnya. Jika ia pulang, Deni tidak akan bisa lagi memegang pedang itu. Aku mengangkat kedua tangan. Jika saja, kami bisa kesini kapan saja. Petualangan ini akan lebih menyenangkan. Tapi fasilitas log out itu sedang rusak. Entah apa yang terjadi di luar sana.


“Apa nama tempat kalian tinggal itu?” Nin bertanya, memecah sepi.


“Eh.” Aku menoleh, kaget.


“Bumi. Sebuah planet paling indah di galaksi Bima Sakti.” Deni melanjutkan menjawab.


“Planet?” Nin tidak akan paham soal itu. Tidak ada informasi tentang tata surya dalam memori otaknya. Mereka hanya mengenal negara, portal, dan dimensi lain.


“Ya. Itu sebuah tempat yang sangat jauh dari sini.” Aku berusaha menjelaskan sesederhana mungkin. Ini adalah penghujung kisah, tidak ada salahnya Nin mengetahui.


Tempat yang jauh. Tapi sebenarnya sangat dekat. Kami hanya dipisahkan oleh sekat antar dimensi.


Nin menunduk, mencoba mencerna kalimat itu. Deni masih mengusap-usap pedangnya. Lod tajam menatap air terjun, dia tidak ingin dianggap berbohong soal portal yang sering muncul secara aneh itu. Aku hanya mendongak, menatap ribuan liter air yang jatuh berdebam.


Tiga puluh menit menunggu. Matahari mulai menuruni puncak tertingginya. Bayangan tubuh mulai memanjang. Portal itu belum juga muncul.


“Maaf jika aku membohongi kalian.” Lod tertunduk, terlihat menyesal.


“Tidak. Kami percaya, Lod.” Aku berusaha membesarkan hatinya. Mungkin hanya ini satu-satunya cara kami untuk pulang. Tidak ada pilihan lain kecuali menunggu.


Tiga puluh menit berlalu lagi.


Lod akhirnya berdiri. “Maaf, sepertinya portal itu tidak akan muncul.” Semua tertunduk. Harapan itu mulai mengecil.


Di saat kami semua hendak beranjak. Melangkahkan kaki menjejak anak tangga. Harapan itu kembali membesar. Selarik cahaya tipis mengeluarkan bunyi seperti percikan listrik muncul di depan air terjun. Kecil. Sontak, semua membalikkan badan. Portal yang dijanjikan Lod itu benar-benar muncul. Aku buru-buru menyentuhnya, takut menghilang beberapa detik lagi. Portal itu membesar. Berpilin. Menyilaukan setiap mata yang memandang. Lod sempat terkejut melihatnya, sebelum-sebelumnya dia hanya melihat portal itu seukuran roda sepeda. Tapi sekarang setinggi orang dewasa.


“Kau yakin, Jon?” Deni menyimpan pedangnya.


Aku mengangguk. Tidak ada cara lain lagi. Kita harus mencobanya. Deni setuju. Sejajar mengikutiku berdiri di depan portal itu. Tapi sebelum itu, ada seremoni perpisahan. Nin, tuan puteri itu menyeka ujung mata. Aku dan Deni membalikkan badan.


“Ini ujung dari kebersamaan kita, Nin.” Aku mencoba tersenyum.


“Kami tidak akan melupakanmu. Kau sebaiknya pulang. Ayahmu mungkin khawatir. Bukankah kau belum sempat menghabiskan hari-hari hebat bersamanya?” Deni juga ikut tersenyum. Dia sepertinya lebih sedih berpisah dengan pedang itu daripada Nin dan Sem. Dan seluruh orang di dalam game ini.


Sekali lagi Nin menyeka ujung matanya. Dunia luar yang ingin sekali dilihatnya ini serasa sudah cukup. Nin akan pulang dengan bantuan Lod ke negeri Hutan Hujan Tropis. Bertemu dengan ayahnya. Menghabiskan waktu di sana.


“Terima kasih, Lod. Terima kasih, Nin. Selamat tinggal.” Sebelum berpisah aku menitipkan kedua sarung tanganku kepada Nin. Deni pun sama, dia menitipkan pedangnya. Nin berjanji akan menjaganya. Aku melambaikan tangan. Ini sebenarnya menyesakkan. Tapi faktanya, seorang lelaki akan selalu berusaha menahan air mata di hadapan wanita. Mencoba terlihat tegar.


Deni ikut melambaikan tangan. Dibalas senyum oleh Nin. Lod mengucapkan selamat jalan. Nin mengucapkan selamat tinggal. Aku menghela nafas panjang. Portal ini sebenarnya belum pasti. Kemana tujuannya? Jenis portal apa? Boleh jadi ini seperti portal yang dibukan Rem. Bukankah itu sangat berbahaya. Jika itu terjadi, kami tidak akan pernah bisa pulang ke rumah lagi.


Aku dan Deni membalikkan badan.


“Kau siap, Den?”


Deni mendongak. Menoleh. Tanpa jawaban. Itu berarti siap tidak siap, Deni akan mengikutiku. Aku meloncat lebih dahulu ke dalam portal. Deni mengikutiku di belakang. Portal itu akhirnya menutup perlahan. Menutup sempurna bersamaan dengan jatuhnya air mata Nin. Perpisahan yang sebenarnya sama sekali tidak diinginkannya. Nin baru saja memulai petualangan hebat. Kini dia sudah harus pulang.


Lengang. Gemuruh air terjun berdebam menghantam bebatuan di bawahnya. Angin di atas pulau mengambang itu berderu kian kencang. Membuat semuanya berkibar. Awan putih menghias langit biru. Elang hitam itu kini terbang berpasangan. Berputar, mengitari seluruh pulau besar. Tempat satu negara yang pernah berdiri, negara awan. Negara yang menggambarkan empat negara lainnya. Negara yang kini hanya tinggal kenangan. Kenangan yang hanya ada dalam cerita. Cerita yang hanya ada di dalam video game.

__ADS_1


__ADS_2