The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 21: DUA PULUH SATU


__ADS_3

Pagi menjelang siang. Matahari sudah merangkak naik menjulang, awan tipis menyaput langit biru. Angin lembut menggetarkan dedaunan dan ranting. Menambah suasana syahdu. Raja Lan masih di obati dua pengawalnya. Cekatan. Dua pengawal itu ternyata bukan hanya prajurit biasa. Salah satu dari mereka yang kembali ke istana tadi malam sempat mengambil beberapa obat-obatan yang tersimpan. Luka lebam itu mulai memudar. 


Sementara di sisi lain. Aku, Deni, dan Sem berdiskusi perihal penyerangan. Salah seorang pengawal sudah bergabung dengan kami, satunya lagi masih melayani raja Lan. Pengawal itu menjelaskan situasi istana saat ini. Selok belok tak luput ia ceritakan. Siapa Has, seperti apa kekuatan Rem, kenapa begitu banyak prajurit yang tertarik bergabung dengannya, di tambah soal anak raja Lan yang sampai saat ini belum pulang ke istana.


“Kalau begitu, kita harus segera bersiap. Ingat, seperti apapun hebatnya Has dan Rem. Jika kita bersatu, kita akan mengalahkan para pecundang itu.” Sem mengepalkan tangan. Aku dan Deni mengangguk dalam-dalam. Bersemangat.


Sudah tidak ada ketakutan. Kami sudah pernah berhadapan dengan orang sekuat Was dan Hon, musuh di negara pasir. Mereka kuat, luar biasa. Tapi toh kami juga berhasil menang. Itu berkat Sem, racun pada mata panahnya. Racun? Hei, bukankah itu akan berguna? Aku menoleh kepada Sem.


“Sudah tidak ada, Jon. Aku sudah berusaha mencari sejak kalian pulang beberapa hari yang lalu. Tidak ada lagi yang menjual racun.” Sem tertunduk, membenarkan arrow rest yang terselempang di punggungnya.


“Aku sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan Has itu. Dia ahli pedang, kalau begitu dia adalah bagianku. Tapi Rem, kekuatannya misterius.” Deni juga terliha cemas, semangat yang baru saja menggebu, sedikit memudar.


“Kita akan punya cara untuk mengalahkan mereka.” Aku menepuk bahu Deni dan Sem, tersenyum.


Mereka berdua tesenyum. Selama kita bekerja sama, semua akan terasa mudah. Sesulit apapun masalahnya.


***


Sementara di kerajaan, situasi menegangkan terjadi. Rem dihadapkan dengan raja baru, Has. Dia di panggil secara paksa, padahal baru saja akan kembali berjalan-jalan ke hutan. Rutinitas kesukaannya.


“Kenapa kau tidak segera kembali saat kami melakukan pemberontakan, Rem?” Has betanya, wajahnya menatap dingin.


“Aku juga sedang menghadapi pemberontakan di tengah hutan.” Rem masih menjawab sopan.


“Ah, itu dia. Aku menyesal mengizinkanmu pergi keluar saat itu. Ada banyak kerugian di pihak kita, mereka sempat melawan. Itu hanya alasan bodohmu untuk mengelak dariku, kan?” Has duduk santai di atas kiani, sebagai raja baru. Tangannya memangku pipi, seperti menonjok pipi sendiri.


“Kenapa kau tidak langsung membunuh raja Lan?” Rem bertanya.

__ADS_1


“Untuk apa, Rem? Untuk apa? Untuk apa mengakhiri hidup seorang yang sudah tua seperti itu. Dibiarkan di hutan pun dia pasti akan mati. Dimakan binatang buas.” Has tertawa.


Rem menunduk, menatap tajam ke arah pualam. Tangannya mengepal.


“Kau sekarang harus membantuku, Rem. Kita akan membuat kerajaan ini semakin besar. Terkenal. Negara lain akan takut dengan kita. Tidak perlu ada bisnis ganja lagi. Kita cukup menarik pajak dari penduduk di negeri ini. Kau tidak perlu bekerja menjadi buruh bangunan atau apalah, Rem. Kau akan menjadi anak buah kepercayaanku. Tapi kau jangan salah sangka, jangan kira aku akan selalu berbaik hati kepadamu. Jika kau melanggar perintah, aku juga akan menghukummu. Tidak ada pembelaan.” Has melepaskan pangkuan tangannya.


Rem masih menunduk, matanya tajam menatap pualam mengkilap. Dia bisa bercermin di lantai itu.


“Sekarang tugas pertamamu adalah membumi hanguskan ladang ganja itu. Semuanya. Dimanapun kau temukan kau harus membakarnya, Rem. Itu akan mengangkat pamorku sebagai raja baru. Pencitraan harus kita bangun. Tapi jika masih aku temukan ada beberapa batang ganja di sudut-sudut hutan, pedangku akan membelah jantungmu. Kau paham!?” Has berseru, setengah membentak. Dia agak kesal dengan sikap Rem yang selalu menunduk. Bukan hanya itu, Has juga sebenarnya kesal karena Rem tidak membantunya saat kudeta.


“Apa kau mendengarku, hah? Hei, Rem!” Has berseru semakin lantang. Beberapa pengawal kerajaan bahkan masuk ke dalam memeriksa. Keributan apa?


Rem mengangguk pelan. Balik kanan, memutuskan keluar dari ruangan itu. Saat akan tiba di depan pintu. Tubuhnya menghilang.


Lengang sejenak. Menyisakan langkah-langkah kaki para prajurit kerajaan di luar ruangan.


Pedang itu mengunci pergerakan Has di atas singgasana. Sulit bergerak dengan pedang yang menancap dalam-dalam. Menghujam keras, menembus kulit, daging, bahkan tulang. Rem berjalan mengitari kiani. Matanya tajam menatap Has yang mengeluarkan darah di mulut dan bagian dada. Dua orang mantan kawan itu kini saling berhadap-hadapan. Rem terus menatap tajam, tangannya bersedekap. Wajahnya dingin, tanpa rasa bersalah.


“APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH!!?” Has berseru, suaranya parau. Darahnya terus mengalir. Membuat kiani itu basah, berlumur darah.


“Tadinya aku hanya ingin membuktikan siapa yang paling kuat di antara kita. Tapi setelah melihat lemahnya seorang raja dihadapanku, teramat lemah malah. Aku berubah pikiran. Aku memutuskan untuk mengambil alih kerajaan ini.” Rem menjawab santai, tangannya tetap bersedekap.


“Apa k-a-u lupa, hah? Apa kau lupa kalau aku ini adalah rajamu? Aku selama ini sudah membantumu. Memberikanmu tempat yang layak di dalam istana. Orang kepercayaan. Jadi ini balasanmu, Rem!?” Has kembali tercekat. Batuk-batuk. Bergerak sedikit, tubuhnya akan semakin sakit. Tangannya berusaha menggapai gagang pedang di balik singgasana itu. Ingin mencabutnya. Rem mendekat, membungkuk, mendekatkan wajah.


“Teruslah kesakitan seperti itu, sang raja.” Rem tersenyum, mungkin pertama kalinya ia tersenyum. Selama ini sifatnya selalu dingin.


Peluh dingin membasahi kening, mukanya memerah, giginya bergemelatukan, mendesis. Has sangat tidak terima. Meludah, menyasar wajah yang tersenyum menghinakan di hadapannya. Rem menghindar. Kecepatan air ludah itu masih kalah daripada kecepatan peluru seorang sniper.

__ADS_1


Sementara di ujung ruangan, di dekat pintu. Para prajurit kerajaan sudah berkumpul, menatap jeri raja baru mereka yang tak berdaya. Itu semakin membuat Has tidak terima, diperlakukan seperti binatang peliharaan itu, di depan para anak buah rendahan,  membuatnya mengerang keras.


“KURANG AJAR KAU, REM!!” Suara itu sebenarnya sudah hampir tak bertenaga. Gagal untuk meraih gagang pedang, Has berusaha meloloskan badannya dari depan. Hendak beranjak berdiri. Menahan sakit dari gesekan pedang. Rem tetap berdiri di depannya. Menatap lebih tajam. Benar-benar menghinakan, benar-benar mengucilkan, benar-benar menganggap raja seorang binatang rendahan. Has sebenarnya baru menyadari, dia selama ini menganggap kemunculan Rem secara tiba-tiba hanyalah sejenis permainan petak umpet yang di lakukan Rem. Has tidak pernah menyadari, kekuatan Rem jauh beberapa kali lipat lebih besar dari pada seni pedang miliknya.


Para prajurit yang berada di depan pintu semakin sesak. Satu dua memanggil temannya yang lain, mengajak menonton. Rem tidak peduli soal itu. Malah itulah yang dia harapkan. Membiarkan sang raja baru terkapar tak berdaya hanya dengan sebuah pedang. Yang paling menyakitkan dari semua itu adalah dia ditusuk dengan pedangnya sendiri. Menjadi tontonan. Satu dua dari prajurit kerajaan yang masih setia kepada raja Lan mengepalkan tangan. Yes! Yang lain tetap menatap jeri. Tidak percaya dengan pemandangan di depan mereka. Merencakannya bertahun-tahun, mengambil hati para pengawal, pasukan, prajurit kerajaan dengan candu dari ganja, barang teralarang. Sekarang, tidak genap memimpin 24 jam. Semua lengser begitu saja. Benar-benar kasihan.


Rem mengangkat tangan. Sama seperti yang ia lakukan ke peluru si sniper di tengah hutan. Mengendalikan. Saat Has hendak beridiri patah-patah. Pedang itu menancap lebih dalam. Semakin kuat, membuat tekanan. Singgasana itu remuk, hancur berterbangan. Tekanan yang luar biasa. Hanya menyisakan pedang yang menancap di punggung Has, serta Has sendiri. Pedang itu semakin masuk ke dalam, seperti tertarik. Tidak. Rem bukan hanya menariknya dengan pengendalian, dia ingin membuat pedang itu menembus seluruh tubuh Has.


“AAAAAAAARRRGGHH..” Has mengerang kesakitan, berteriak. Pedang itu semakin masuk ke dalam, hingga gagangnya.


Sementara Rem menatap datar. Wajah tanpa rasa bersalah. Tangannya tetap terangkat. Mengendalikan. Pedang itu hampir keluar dari tubuh Has. Masuk dari belakang, keluar dari depan. Sungguh menyakitkan.


“REEEEMM!!” Teriakan yang sia-sia, teriakan terakhir. Pedang itu sempurna menembus batang tubuh raja baru. Rem mengambil pedang itu, membuangnya ke sembarang tempat. Para prajurit yang menonton sebangian lari. Takut menjadi korban selanjutnya. Sementara sebagian tetap bertahan, menyaksikan akhir-akhir dari ambisi yang tak pernah menjadi kenyataan.


Tubuh itu jatuh terkulai. Tersungkur, mungkin sudah tak bernyawa.


Rem membalikkan badan. Semua prajurit yang masih bertahan di tempat seketika membungkuk memberi penghormatan. Itulah Rem, pemimpin baru mereka. Rem berjalan meninggalkan ruangan itu dengan raut wajah dingin, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa belas kasihan. Singgasana itu baginya tidak penting. Ia lebih suka keluyuran. Di tengah hutan.


***


Di tepi sungai. Persiapan penyerangan balik itu telah matang. Tidak ada kabar tentang tewasnya Has. Rencana awalnya adalah aku dan Sem akan menghadapi Rem, sementara Deni dan raja Lan serta dua pengawalnya akan menghadapi Has. Di tambah dengan sokongan kekuatan yang enggan di janjikan raja Lan, seseorang yang ahli dalam senjata. Keluarkan itu dari rencana, anggap tidak termasuk dalam strategi. Tapi kedatangannya masih diharapkan. Soal prajurit kerajaan, semua akan turun tangan. Kerja sama. Karena kebiasaan, seorang yang paling kuat akan turun belakangan.


Matahari sudah berada di atas kepala. Tengah hari. Awan putih masih menyaput langit biru. Semilir angin membelai ujung rambut, menelisik sela-sela telinga, mendendangkan nuansa syahdu. Sebelum makan siang, penyerangan harus sudah dilaksanakan. Kami berenam sudah hendak beranjak. Memastikan tidak ada yang tertinggal. Lebam yang ada di tubuh raja Lan sudah hampir menghilang, obat yang diberikan pengawal itu bekerja dengan baik. Raja Lan sudah bisa berjalan dengan normal. Sakit di beberapa tulang akibat timpukan tonjokkan tangan para pengkhianat itu juga sudah lenyap. Sekarang, dia bahkan bisa berhadapan dengan satu dua prajurit dalam perkelahian.


Tujuan selanjutnya adalah kerajaan yang dipimpin oleh Has(Rem).


Serangan balik.

__ADS_1


__ADS_2