The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 16: ENAM BELAS


__ADS_3

Anak panah Sem dengan anak panah si sok keren  itu saling berbenturan. Ini pertarungan dengan konsentrasi tinggal tinggi. Bayangkan saja, anak panah yang sedang melesat, mampu mereka belah dengan anak panah. Akurasi yang luar biasa. Meski jaraknya berjauhan. Sem mampu mengimbangi serangan-serangan anak panah. Posisi Sem dengan peserta sok-keren itu diagonal. Sem lebih ke belakang. Kami lebih di belakang lagi.


“Kalian bisa meninggalkanku lebih dahulu. Kejar peserta lainnya.” Sem memerintah.


“Tidak bisa, Sem. Kita lebih baik tidak terpisah. Lagi pula, tujuan kita bukan untuk juara.” Aku menjawab suara itu dari kejauhan.


“Kalau begitu suruh Deni mengejar peserta lain. Mereka tidak boleh menang, Jon. Tidak elok jika membiarkan orang-orang seperti ini mengangkat trofi juara.” Sem ada benarnya. Tidak elok, sama sekali tidak elok. Tidak sepantasnya orang yang berlaku curang mendapat sanjungan dan pujian. Aku menoleh ke arah Deni. Saling megangguk. Deni berusaha lebih cepat, meraih kecepatan maksimal. Perlahan jet ski miliknya meninggalkan kami bertiga.


Sementara itu di depan Deni dua orang peserta lain juga saling serang. Salah satu peserta itu bernama Cun. Dia berhasil memukul jatuh peserta lain yang mengikutinya. Peserta yang terjatuh itu terlempar dari jet ski, terguling-guling jungkir balik di rerumputan. Dan yang paling parah, peserta itu bergelimang darah. Dia tewas. Cun memimpin sendirian di depan. Deni masih jauh dari lokasi Cun memimpin, dia tidak melihat kejadian itu, jangkauan tebasan pedangnya pun mungkin tidak akan akurat. Deni terus mengejar Cun.


Di tempat kami. Sem dan si sok keren masih saling beradu anak panah. Ini memang wilayah pertempuran Sem. Aku tidak bisa berbuat banyak. Mereka sama-sama tipe petarung jarak jauh. Sama-sama memiliki mata yang tajam. Satu anak panah meluncur menyasar Sem. Cekatan, Sem mampu membidik ujung runcing dari anak panah itu. Anak panah dari lawan terbelah dua, jatuh ke rumput yang tersibak, bergoyang. Tapi ada satu yang tidak disadari Sem, satu anak panah lagi. Satu anak panah itu bukan mengincar tubuh, tapi sesuatu yang ada di balik punggung Sem, arrow rest. Tak pelak, arrow rest itu terlepas. Jatuh. Anak panah Sem berhamburan di tengah rerumputan. Tidak ada waktu untuk kembali memungut. Sem harus terus melaju ke depan. Aku bersiap menggantikan perannya. Si sok-keren kembali membidikkan panahnya, aku mendekati Sem, menyilangkan tangan. Bersiap membuat tameng. Tapi kejadian tak terduga kembali muncul di depan kami. Jet ski milik si sok-keren bertabrakan dengan salah satu jet ski lain. Itu adalah peserta pertama yang jatuh saat di lap pertama. Dia membalas perbuatan si sok-keren dengan menunggu di tengah jalan. Lantas menabrakkan diri besertaan dengan jet ski nya. Dua buah jet ski dengan kecepatan penuh itu meledak, menimbulkan asap membumbung tinggi. Seperti ledakan sebuah bom. Aku dan Sem menarik nafas panjang. Setidaknya, gangguan dari si sok-keren sudah berakhir.


Aku dan Sem bergegas menyusul Deni di depan. Mungkin dia sudah terlibat pertarungan.


Di depan, Deni hampir mendekati Cun. Tapi tak sempat bersenggolan, mereka sudah tiba di garis star  awal.


Di tempat lain, penonton bersorak sorai saat dua peserta jet ski itu memutari garis start. Sebelumnya, mereka menatap jeri saat satu peserta terjungkal dari jet ski nya. Berlumur darah. Tapi itu sudah jadi pemandangan biasa saat perlombaan ini pertama kali digelar. Mereka begitu menikmati tontonan seperti ini.


Tempat memutar Aku dan Sem dengan Deni ternyata sedikit berbeda. Kami tida berpapasan saat Deni sudah memutar lebih dahulu. Tapi aku bisa melihatnya di samping kanan saat akan memutar di garis star awal dari kejauhan.


“Kita harus mendekati Deni, Sem.” Aku sudah banting stir ke samping kiri. Sem mengikuti. Aku tahu betul, yang di depan itu adalah Cun, dia lelaki yang mendapat peringatan di awal perlombaan oleh Nuw.


Cun menoleh ke belakang. Menatap tajam Deni yang hampir mendekatinya. Tersenyum. Itu tatapan sekaligus senyuman penuh makna. Keserakahan, kebencian, kesombongan, ambisi, semua ada dalam satu ekspresi. Tiba-tiba Cun megacungkan tangan.


“Awas, Den! Itu pistol.” Sem berseru, dia sudah tidak bisa apa-apa tanpa anak panah. Arrow rest nya sudah terlepas, terjatuh di tengah arena. Sem hanya berusaha mendekati jet ski milik Cun dari arah samping. Sementara Cun memperlambat jet ski nya, mengambil jarak tembak terdekat membidik Deni.


“Kau pikir aku peserta dari penduduk kampung biasa, hah?” Deni menebaskan pedangnya. Goresan pedang itu bergerak cepat, melesat ke arah jet ski Cun.

__ADS_1


Cun yang tengah membidikkan pistol sedikit terperanjat. Dia tidak tahu jika Deni bukan orang biasa. Lantas Cun membanting stir ke kanan, mencoba menghindar. Goresan pedang berpilin berwarna putih bersinar itu hanya melintas biasa dia atas angin. Tidak mengenai apa-apa. Tapi saat Cun ke kanan, sudah ada Sem disana. Sem membenturkan jet ski nya. Di balas oleh Cun. Saling berbenturan besi terbang. Terlihat percikan api di sela-sela dua tunggangan itu. Penonton di belakang layar berseru-seru. Yel-yel dadakan menggema. Meneriakkan nama jagoan mereka.


Matahari terus naik memanjat. Sinarnya mulai menyengat. padang rumput luas itu mulai terasa menyilaukan.


Deni ikut membantu Sem dari sebelah kiri. Ikut membentur-benturkan jet ski nya. Cun yang kesal kembali menodongkan pistol, ke arah Deni. Bersiap menembak. Sem tidak tinggal diam. Satu benturan, percikan api terlihat lebih menyala. Membuat Cun tak jadi melepas peluru. Benturan ke dua, Sem gagal. Cun memperlambat kecepatan, Sem malah membentur jet ski milik Deni. Dibentur tanpa perlawanan, Deni sedikit kehilangan kendali. Jika situasinya lebih baik, kondisi Deni itu sebenarnya lucu. Tapi tidak ada tempat untuk tertawa.


“Awas, Den, Sem!” Aku berseru dari belakang. Cun kembali menodongkan senjata, kali ini bukan hanya satu. Tapi dua. Dua senjata yang sama.


Selongsong peluru terlepas, dua peluru melesat cepat. Aku tidak bisa membuat tameng, jarak terlalu jauh, serta di halang oleh Cun. Dua kawanku itu sepertinya sudah belajar banyak dari gagal benturan beberapa saat. Sem dan Deni memperlambat lajunya, peluru itu menembak ruang kosong, angin.


Empat buah jet ski itu terus melesat cepat. Tempat untuk putar balik sudah terlihat. Sem dan Deni lebih dahulu memutar, diikuti Cun. Aku memutar paling akhir. Penonton di belakang layar kembali bersorak. Terdengar riuh. Mereka mengangkat-angkat tangan. Ini adalah lap terakhir. Lap yang menentukan tiga juara.


Cun menggebah jet ski nya lebih cepat, menembus batas kecepatan maksimum. Sem dan Deni bahkan tertinggal.


“Kita harus lebih cepat.” Aku masuk di sela-sela jet ski Sem dan Deni.


Sem dan Deni mengangguk. Kami berusaha lebih cepat, mengejar Cun. Satu buah jet ski di depan, tiga buah jet ski di belakang, saling beriringan. Melesat cepat. Rerumputan di belakang knalpot tersibak, membuat jalur bekas lintasan.


“Berhenti menghalangiku, anak baru!” Cun sudah mulai kesal. Berseru ketus. Dia sebenarnya sedikit menyesal menghabisi lebih awal satu peserta lain. Tidak ada yang menjadi tumbal untuk menghalangi pergerakan kami. Langkahnya menggapai garis finish lebih dahulu sedikit terhalang.


Oleh karena kecepat masing-masing jet ski sudah sama-sama pada titik maksimum, tidak ada yang bisa untuk saling mendahului. Sem bahkan kesulitan mendekati Cun.


“Menyingkir, Sem. Biarkan aku menjalankan peran.” Deni menebaskan pedangnya. Jet ski milik Cun terkena. Bergoyang, meliuk-liuk. Tapi hanya lecet sedikit.


“Sepertinya jet ski ini terbuat dari bahan yang tidak bisa kau tebas, Den.” Sem menatap panel depan jet ski miliknya, menyelidik.


“Tapi kenapa dua jet ski itu meledak?” Aku bertanya, menambah kebingungan Sem.

__ADS_1


Sem hanya mengangkat bahu. Tidak tahu. Tapi pasti ada sesuatu yang membuat dua jet ski itu meledak.


“Kalian berdua, awas!” Deni tiba-tiba berteriak. Jet ski nya menyenggol jet ski milikku. Sebuah peluru mengenai jet ski Deni. Dia terpental jauh, berguling-guling jungkir balik. Deni sudah menyelamatkanku. Jet ski nya melaju ke samping tanpa arah.


“Kau jangan berhenti, Jon. Terus kejar dia. Aku akan membantu Deni.” Sem menghentikan jet ski nya. Aku mengangguk. Memang tidak ada waktu untuk berhenti. Deni pasti baik-baik saja. Sem tahu cara terbaik menghadapi situasi darurat.


Jauh di arah depan. Garis start yang sudah beralih fungsi menjadi garis finish mulai terlihat dari bendera-bendera yang berkibar dan bangunan kecil di dekatnya. Penonton di belakang layar sudah pasti berteriak histeris. Cun senyum menyeringai. Dia akan menang. Jarak jet ski milikku dengan jet ski nya masih terpaut 10 meter. Kecepatan kami sama, maksimum. Tidak mungkin saling mendahului.


Satu cara terakhir yang bisa aku lakukan hanyalah menghantamkan sebuah pukulan. Cun menoleh ke belakang. Lagi, wajahnya tersenyum menyeringai, penuh aroma kemenangan. Tangan Cun menodongkan senjata. Melepas sebuah peluru. Aku sudah tidak bisa banyak berpikir, otakku sudah terlanjur mengirim informasi ke anggota badan untuk melakukan pukulan. Sontak, sebuah pukulan bertenaga dari atas jet ski aku hantamkan. Arah angin kali ini memihakku, berhembus ke arah garis finish. Pukulan tekanan angin itu akan lebih kuat. Peluru yang dilepaskan Cun berbenturan dengan pukulanku. Pecah. Peluru itu pecah, remuk, menjadi debu. Pukulan itu terus mengepung jet ski Cun. Telak. Cun akhirnya benar-benar terlempar. Bukan hanya Cun yang terguling-guling, jet ski yang terkena pukulan juga mengalami hal serupa. Gerakan terjungkal mereka mirip, guling-guling mereka mirip, bahkan berhenti dari guling-guling juga mirip. Jet ski Cun mengeluarkan asap pekat. Rusak. Cun tersungkur.


Aku berhasil menggapai garis finish pertama. Di sambut suara riuh oleh pengawas pertandingan. Juga tepukan tangan Nax dan Nuw. Tapi aku belum bisa merayakan kemenangan itu. Aku masih menuggu. Menuggu Sem dan Deni.


Hening sejenak. Bahkan Nuw dan Nax juga ikut menunggu.


Beberapa menit, akhirnya muncul satu buah jet ski bergerak mendekat dengan kecepatan normal. Hanya ada satu buah. Itu milik Sem. Dia menggotong Deni dalam satu jet ski. Deni tidak apa-apa, dia hanya pingsan sesaat. Kaget. Hantaman peluru seperti itu memang tidak berpengaruh pada fisik kami, hanya berpengaruh pada energi. Tubuh terasa lemah, tak berdaya.


“Dia baik-baik saja.” Sem turun dari jet ski nya. “Hanya pingsan.”


Aku mengelus dada. Syukurlah.


“Kita segera naik kapsul.” Nax mengaja kami kembali ke stasiun kapsul bawah tanah.


“Sekarang? Bagaimana dengan mereka?” Aku bertanya.


“Tidak ada ampun bagi yang kalah, Jon. Lagipula, aku sudah tahu kelakuan mereka saat perlombaan berlangsung. Mereka curang.” Nuw yang menjawab. “Kami sengaja memilih kalian, karena kami tahu. Hanya kalian yang bisa mengalahkan mereka dalam perlombaan. Sejak perlombaan ini di gelar, selalu saja Cun yang menjadi pemenang. Kami tahu dia melakukan cara curang. Tapi penonton selalu menuntut kami agar dia ikut. Dan hari ini, pria payah itu sudah tumbang. Untuk ke depannya, kami juga akan merubah peraturan.”


Aku mengangguk. Memang seharusnya begitu.

__ADS_1


Kami menuju stasiun bawah tanah. Menuju kapsul. Deni sudah siuman. Aku bersama dengannya, Sem dan Nax, sementara Nuw tetap sendiri dalam kapsul di depan. Kapsul meluncur melewati jalur bawah tanah secara otomatis. Menuju gedung pemerintahan.


Saatnya penyerahan trofi.


__ADS_2