The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 8: DELAPAN


__ADS_3

Langit biru bersih tanpa awan, hamparan pasir dan hawa panas masih menjadi pemandangan. Tekhnologi yang ada pada baju zirah tidak membuatku dan Deni kepanasan. Di tengah siang, kami sebenarnya sangat mencolok dengan pakaian yang berbeda dari penduduk setempat. Namun tidak ada yang memperdulikannya. Penduduk terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Jalanan juga cukup lengang.


“Berapa jauh lagi kita berjalan?” Aku bertanya. Aku sudah mulai akrab dengan Sem.


“Aku rasa tidak jauh, Jon. Lihatlah gedung itu sudah kelihatan.” Deni yang menjawab.


“Sudah lama aku menantikan ini.” Sem mengepalkan tangan, bersemangat.


“Lama bagaimana, Sem? Kau kan hanya di program untuk memiliki ingatan itu. Padahal boleh jadi ingatan itu di tanamkan dalam memorimu beberapa minggu yang lalu.” Deni menyangkal, mereka tarus bercakap-cakap sepanjang jalan.


Sem jadi salah tingkah, menggaruk kepala. Apa yang dikatakan Deni memang benar, dia hanya hanya bagian dari game. Satu hal yang disayangkan, Sem tidak memiliki ingatan terhadap kedua negara misterius yang ia sebutkan.


Lengang, kami bertiga tiba di perempatan.


“Kalian terus ke depan, aku akan menyusul dalam lima menit. Jangan ikuti aku, jika kalian tidak ingin membuang waktu.” Belum habis Sem berucap, dia sudah belok ke arah kanan, berlari.


“Hei, ada apa dengan bocah itu?” Deni heran, mengangkat tangan ingin bertanya. Tapi Sem sudah meninggalkan mereka.


“Biarkan saja. Sem tahu banyak soal daerah ini.” Aku terus melangkah ke depan, menuju gedung pemerintahan.


Angin pasir kembali berhembus, kali ini lebih kencang. Seperti membawakan kabar akan kehadiran tiga orang yang baru saja datang dari dunia lain. Ataupun, itu adalah angin yang mengucapkan selamat datang.


“Kau kenal dengan Was itu, Jon? Maksudku, setidaknya kau pernah mendengarnya, kan? Kau biasanya tahu banyak hal.” Deni mensejajari langkahku.


Aku hanya menggeleng, dia tidak tahu. Ini game baru, bahkan mungkin hanya kami berdua yang memainkannya. Dari cover saat petugas menjelaskan di duni nyata, game ini memang terlihat tidak terlalu menarik. Hanya kami berdua yang memainkan game ini? Ya. Seperti penjelasan petugas yang menemani mereka saat masih di dunia nyata beberapa saat yang lalu. Sejak peluncuran VG.10 V.2, tidak ada yang memainkan game ini.


“Apa jadinya jika kita belum mengetahui skill yang kita miliki, Jon? Bagaimana kita akan memberantas korupsi? Di tambah lagi, bocah itu, Sem. Dia mengatakan ini adalah peperangan. Bagaimana mungkin kita berkelahi dalam perang hanya dengan tangan kosong?” Deni bercakap sepanjang jalan.


“Entahlah, Den. Jika kita tidak sanggup menghadapi mereka, kita kan bisa log out dari game ini.” Aku menjawab santai.


Kami terus berjalan, hingga akhirnya tiba di depan gerbang kecil gedung pemerintahan. Ada satu orang satpam menyapa di sana.


“Siapa kalian? Pergi dari sini!”


Mendengar perkataan itu, Aku dan Deni menghentikan langkah kaki, mendongak ke arah petugas gerbang, satpam. Ada apa?


***


Tidak jauh dari perempatan, ada pertigaan. Sem memilih belok kiri. Itu sebenarnya arah yang sama menuju gedung pemerintahan, karena dari perempatan Sem sudah memilih belok kanan. Hanya saja, di bagian jalan, ada lobang got menuju lorong bawah tanah.


“Tuan Was tidak akan menjual minyak kali ini. Ada penyusup dalam negeri ini.” Seorang lelaki bertubuh besar dan berambut lebat tak terurus bercakap-cakap dengan salah seorang yang berpakaian serba rapi. Pertemuan macam apa yang dilakukan di bawah tanah yang pengap ini? Sem menguping dari balik pintu.


Lorong bawah tanah itu luas. Lebarnya tiga meter, tingginya lima meter. Ada beberapa buah ruangan seperti kamar di bagian dinding. Salah satu ruangannya dengan lampu menyala, disitulah Sem menguping, di balik pintu.


“Bagaimana Was itu, kami sudah susah payah datang kesini. Melewati banyak penjagaan, berhati-hati. Tidakkah kau punya cara untuk menjualnya saat ini? Aku sangat membutuhkan minyak itu.” Seorang yang berpakaian rapi melakukan penawaran.


“Tidak  bisa, Tuan. Aku tidak ingin dipecat hanya karena menjual tanpa izin.” Lelaki bertubuh besar itu menolak.

__ADS_1


“Sebenarnya siapa penyusup itu? Berapa jumlah mereka? Kalau hanya satu dua, serahkan pada kami. Anak buahku bisa bekerja sama dengan tentara kerajaan ini untuk menyerang dan menghabisi mereka.” Lelaki berpakaian rapi menyalakan rokoknya, dia pecandu rokok, meski sebenarnya itu sangat berbahaya. Rokok dan minyak bumi, adalah hal yang sangat kontras.


“Menurut penjaga gerbang utama negara. Mereka ada tiga orang, dua orang terlihat sangat asing, pakaian mereka aneh.” Lelaki bertubuh besar menjelaskan.


“Apa hubungannya dengan pakaian mereka? Kita bisa menghabisi pengganggu seperti itu.” Lekaki berpakaian rapi melepas rokoknya, membuangnya dekat kaki, menginjaknya dengan sepatu hitam bersemir.


Lengang sejenak. Lelaki bertubuh kekar itu masih berpikir. Sementara lelaki berpakaian rapi mondar-mandir. Sem bisa menebak pergerakan mereka dari langkah kaki. Beberapa menit, satu alat komunikasi yang menempel di dinding kamar bawah tanah berbunyi, seperti telepon umum.


“Gen, kau mendengarku? Tuan Was memintamu segera ke istana. Kondisi darurat.” Terdengar suara di ujung sambungan.


“Orang ini tidak mau jika aku tidak menjualnya. Dia adalah mitra bisnis besar kita, tidak mungkin aku meninggalkannya dalam keadaan kecewa. Dia bisa memutus rantai bisnis kita.” Gen, lelaki bertubuh kekar menjawab panggilan komunikasi itu.


“Ini jaun lebih berbahaya daripada memutuskan bisnis dengannya, Gen. kau harus segera kesini. Bila kau terlambat, Tuan Was akan menghukummu.” Suara sambuangan sudah terhenti. Komunikasi diputus.


Gen menghembuskan nafas cemas. Bagaimana ini? Satu orang berpakaian rapi ini sangat sulit jika dia sudah ada maunya.


“Maaf, Sew. Aku tidak bisa menjual minyak itu. Aku harus pergi.” Gen akan beranjak. Sem yang mendengar langkah kaki itu berusaha menjauh, namun belum sempat langkah kakinya terlalu jauh meninggalkan tempat itu, terdengar suara tembakan.


Door! Tepat sasaran. Peluru itu menembus jantung Gen. Aku muak berbisnis dengan orang yang terlalu bertele-tele, Gen.


“Apa yang kau..” belum sempat Gen bertanya, tubuhnya sudah akan menghilang seperti piksel yang rusak.


“Peluru itu aku dapatkan dari toko yang ada di kota Laut. Levelnya sangat tinggi. Aku tahu peluru biasa tidak akan  bisa menghabisimu dengan sekali tembak. Kau sudah habis, Gen.” Sem tertawa, terbahak-bahak. “Itulah akibat tidak mematuhi cara bisnisku.”


Sem segera menjauh. Itu terlalu berbahaya. Dia tidak akan sanggup menghadapi Sew seorang diri. Sem segera meninggalkan lorong, menyusul Joni dan Deni. Lorong itu sangat pengap, minim penerangan, minim oksigen. Ditambah baunya yang tidak mengenakkan.


***


“Kami sudah tahu siapa kalian. Sebaiknya kalian pergi, sebelum kami mengusir secara paksa.” Seorang dari satpam itu menghardik.


“Pergi apanya? Ini game, Om. Kami juga tahu, kalian sudah di program seperti itu. Maka kami tidak akan pergi.” Deni memberanikan diri.


Sementara aku, sejak bertemu dengan Sem, sudah merasakan ada aliran tenaga besar yang mengalir dalam tubuhku. Aku tidak tahu, tidak mengerti. Aku harus apa dengan kekuatan itu? Deni benar, ini memang game. Kami harus menyelesaikan misi, sudah pasti misi itu tidak akan mudah. Satpam ini hanyalah salah satu penghalang misi itu. kami harus tetap masuk. Di dalam gedung itu, entah di lantai berapa. Pasti ada Was, pimpinan negera ini. Dia pelaku korup yang bekerja sama dengan Sew, mafia minyak bumi.


Minyak bumi di negara ini adalah sumber utama keuangan negara. Tidak ada usaha lain. Jauh di didasar, di bawah gurun. Cadangan minyak bumi terlalu melimpah. Incaran para mafia dari negara lain. Mereka membelinya dari Was. Kemudian menjualnya di negara sendiri dengan harga dua kali lipat. Keuntungan dari penjualan minyak itu hanya untuk kepentingan Was sendiri, juga para antek-anteknya. Sementara penduduknya, tidak pernah menikmati hasil dari penjualan minyak itu. Was sendiri juga tidak pernah peduli dengan keadaan penduduk. Dia terlalu sibuk dengan urusan bisnis minyak. Penduduk sendiri juga sudah tidak peduli dengan Was, mereka punya usaha sendiri. Bisnis online internasional. Itulah sebab, para penduduk lebih memilih banyak yang berdiam, mengurung diri di dalam rumah. Mereka menjalankan bisnis dengan hanya duduk di depan meja, menghadap layar tablet. Sesekali mereka hanya keluar mencari suasana berbeda. Tidak ada yang tahu apakah mereka makan, tidur, kawin, bahkan berinteraksi dengan yang lainnya di negara ini. Sebuah kewajaran, ini hanya sistem yang sudah di program. Apa pedulinya program komputer dengan makanan?


“Kau memanggilku apa tadi? Jangan bercanda.” Satpam itu semakin marah.


Aku menyikut lengan Deni. Berhenti memanggil orang asing dengan kata Om, Den. Begitu maksudku.


Deni tidak peduli. Dia terlihat bersemangat. Suasana inilah yang ia tunggu-tunggu dari tadi. Sebuah peperangan yang dikatakan Sem. Mungkin inilah awalnya.


“Apa Was ada di dalam?” Aku bertanya.


“Berani sekali kau menyebut Tuan Was seperti itu. Tidak sopan!” Satpam itu semakin marah, wajahnya merah padam, matanya terbelalak. Itulah yang aku tunggu. Hei, sepertinya aku sudah mengikuti Deni, memancing kemarahan penjaga gedung pemerintahan ini.


“Tidak perlu sopan santun dengan pencuri seperti itu.” Deni menjawab santai.

__ADS_1


“Bedebah! Kalian sudah keterlaluan. Menyebut tuan Was pencuri. Kalian itulah pencuri. Mencuri kesenangan kami, mengusik ketenangan kami.” Satpam itu mulai berteriak, satpam lain yang melihat itu ikut mendekat.


“Kami hanya ingin masuk. Apa susahnya memberikan kami jalan.” Deni semakin menjadi-jadi. Dia sudah berkacak pinggang, semakin memancing kemarahan satpam itu.


“Kita sudah diizinkan.” Satpam yang lain berbisik. Mendengar bisikan itu, satpam yang marah-marah merubah raut wajahnya menjadi semringah.


“Panggil semuanya satpam yang ada di lantai bawah ini! Kita akan buat dua orang sok jantan ini jera.” Satpam itu memerintahkan kawannya sendiri. Dengan cepat satpam-satpam lain berkumpul. Kali ini lengkap dengan senjata. Belum diketahui, apakah itu pistol atau pedang. Bentuknya samar-samar.


Pintu gerbang kecil itu akhirnya dibuka. Bagian pagar yang lain menghilang, lebih tepatnya dihilangkan. Sempurna sudah menjadi arena pertarungan. Dengan cepat para satpam penjaga menyerbu kami berdua. Tumpah ruah, seperti kerumunan lebah yang marah. Mereka mengurung kami, membentuk lingkaran. Aku dan Deni saling membelakangi. Kami sudah saling mengerti, saling menoleh. Tidak perlu yang ada di cemaskan, ini hanya game. Jika kami kalah disini, kami masih bisa menggunakan fasilitas continue. Begitu maskud tatapan itu.


Dugaan kami salah, awalnya aku dan Deni menyangka benda yang mereka bawa adalah pedang. Nyatanya itu adalah pistol. Semua satpam mengacungkan senjata itu, menodongkan moncong ke arah kami. Ini seperti eksekusi mati, eksekusi rame-rame. Tanpa aba-aba, mereka memulai menembak. Tanpa bisa dihitung, rentetan senjata sudah terdengar dari segala penjuru. Walaupun kami berdua terlihat tenang, bukan berarti kami harus menyerah hanya dengan bidak bawah seperti ini. Masih ada kuda dan raja di belakang sana.


Aku refleks menyilangkan kedua tangan, membentuk tameng melingkar menutup tubuh kami dari segala arah. Peluru-peluru itu berjatuhan tepat di depan kami, tak kuasa menembus tameng yang kubuat. Mereka terus menembaki, seolah tak ada habisnya. Mungkinkah itu peluru unlimited? Sedangkan kami tidak bisa berlama-lama dalam game ini. Jika seperti itu, aku harus mencari cara lain. Bukankah tameng ini aku yang menciptakan? Itu artinya aku sudah bisa menggunakan kekuatan.


“Kau bisa gunakan pedangmu itu, Den?” Aku menoleh ke arah Deni.


“Bagaimana caranya? Aku sudah mencari-cari letaknya dari tadi.” Deni menjawab dengan suara berteriak, suara bising rentetan peluru itu menutup percakapan kami di dalam tameng. Benar, Deni sudah berusaha meraba-raba seluruh bagian dari tubuhnya, dia tidak menemukan dimana pedang itu berada. Apanya yang salah?


“Kau hanya perlu memunculkannya Den. Tidak perlu mencarinya. Aku tidak bisa menahan peluru-peluru ini lebih lama. Tenagaku akan terkuras.” Aku berteriak sekali lagi.


Deni mengangguk. Dia berkonsentrasi. Tetap sia-sia. Mungkin konsentrasinya pecah karena peluru itu terus menghujam tanpa henti. Aku tidak punya pilihan. Sepertinya aku harus melepaskan tameng ini, membiarkan beberapa peluru menembus zirah kami. Lalu menyerang mereka dengan tangan kosong. Tidak ada cara lain. Saat aku akan menurunkan kedua tangan, ratusan anak panah menghujam satpam-satpam yang ada di depan kami. Barisan terdepan mereka roboh, menyisakan barisan satpam kedua, barisan terakhir. Sontak, rentetan peluru-peluru yang berusaha menembus tameng yang aku ciptakan itu terhenti.


“Sem!” Aku berseru.


“Kalian baik-baik saja?” Sem bertanya.


Aku mengangguk, tapi tidak dengan Deni. Dia terlihat kecewa. Pedang yang ia inginkan belum muncul.


Barisan bundaran satpam yang kedua bersiap kembali menghujani kami dengan peluru. Sem bergabung, berdiri dengan gagap menatap ke depan. Satu anak panah kembali ia keluarkan dari arrow rest, membidik ke arah atas. Atas? Itu konyol.


“Sem, perhatikan sasaranmu! Apa yang kau lakukan? Aku beteriak. Sem hanya menanggapinya dengan senyuman. Lantas, dia sudah melontarkan anah panah itu ke atas, jauh melambung tinggi. Habis sudah kami, satpam itu masih unggul jumlah. Mereka juga punya senjata yang bisa membunuh dari jarak jauh. Sem yang memiliki senjata seperti mereka terlihat seolah main-main. Bagaimana di saat seperti ini dia malah melontarkan anak panah itu ke atas, arah langit-langit.


Deni sejak tadi tidak peduli, dia terus berusaha memunculkan pedang. Dia ingin bertarung, menebas para koruptor itu. Senyuman Sem ternyata tidak meleset. Anak panah yang ia lontarkan kembali turun. Tidak sendiri, tapi ratusan seperti ratusan anak panah yang menghabisi barisan pertama para satpam korup. Ratusan anak panah itu kembali menghujan barisan kedua satpam, habis tanpa tersisa. Tubuh-tubuh itu menghilang seperti piksel yang rusak.


“Kau lihat, itu salah satu kemampuanku.” Sem tersenyum puas, dia berhasil. Entah sejak kapan dia memiliki kemampuan itu. Saat menghabisi singa dulu, dia hanya menggunakan satu anak panah. Kali ini, satu anak panah itu bisa membelah menjadi ratusan.


Aku menghela nafas lega. Deni juga sudah menyerah. Dia tidak berhasil memunculkan pedang.


“Kenapa kau, Den? Sem bertanya. Deni terlihat sangat kesal.


Deni tidak menjawab. Dia seolah ingin berhenti bermain game ini. Senjatanya tidak mau keluar.


“Sepertinya kemampuanmu itu harus dipaksa, Den. Lihatlah, Joni sudah mampu membuat tameng. Itu salah satu kemampuannya. Sebentar lagi, dia akan mampu mengeluarkan pukulan andalannya. Ini hanya masalah situasi, sebab-akibat, dan tujuan dalam hatimu, Den.” Sem menepuk pundak Deni.


Lengang sejenak. Halaman gedung pemerintahan yang juga bisa disebut istana itu mulai terasa sepi tiba-tiba, usai perarungan. Di balik semua itu, Was sudah menyiapkan segala sesuatunya di lantai paling atas, juga di setiap lantai.


“Dipaksa?” Aku terkejut.

__ADS_1


“Ya, kadangkala kemampuan itu harus ada sebab sebagai faktor kemunculannya.” Sem menjawab datar. Dia benar, saat membentuk tameng dengan menyilangkan tangan, aku bukan hanya ingin membela diri, tapi juga ingin melindungi Deni. Itu mungkin salah satu faktornya, ingin melindungi.


__ADS_2