The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 7: TUJUH


__ADS_3

Rumah dengan bentuk tudung setengah lingkaran terlihat sejauh mata memandang, kota besar di padang pasir. Setiap rumah memiliki dua jendela dan satu pintu. Bentuk seluruh rumah sama, kecuali gedung pemerintahan, lebih tinggi dan besar.


Sebuah portal muncul tak jauh dari gerbang utama. Aku, Deni dan Sem melangkah keluar. Sejenak mereka menyapukan pandangan kesekitar. Tempat itu sebenarnya tak asing bagi Sem. Ia sudah pernah beberapa kali ke sana. Hanya saja, ia bukan dalam menjalankan misi seperti sekarang ini. Kunjungan dari scene ke scene game yang lain itu adalah hal yang biasa. Sem menggunakan portal khusus yang tidak bisa digunakan manusia, pun mengajak manusia bersamanya melintasi portal khusus itu. Ia pun tak bisa membuka portal khusus itu berulang kali.


“Ini adalah negara pasir.” Sem memulai percakapan. “Aku pernah kesini dua kali.”


“Dua kali? Untuk apa?” Deni bertanya.


“Aku hanya membeli beberapa barang.” Sem menjawab singkat.


“Seperti kebanyakan game, fasilitas shop di game ini sepertinya juga ada.” Aku sudah mengetahui tentang beli dan jual barang dalam game sejak lama.


“Kau benar, Jon. Bahkan ada toko tertentu yang menjual item langka, bisa digunakan untuk meng upgrade zirah kalian. Otomatis kemampuan kalin juga akan meningkat.” Sem melangkah lebih dahulu, menuju gerbang utama.


“Aku tidak ingin membahas soal kemapuan, Sem. Lihatlah, saat ini aku belum memegang benda apapun, apalagi pedang yang kau maksud itu.” Deni tertinggal di belakang.


“Sebaiknya kau cepat, Den. Apa kau mau menunggu disini? Di serang beberapa kawanan singa seperti tadi. Sedangkan kau belum tahu bagaimana cara menggunakan pedang itu.” Aku menoleh ke belakang, aku sudah mengikuti Sem berjalan dari tadi.


Deni mengikuti di belakang dengan lunglai, tidak bersemangat sama sekali. Pemandangan di depannya tidak memberi motivasi banyak. Gerbang utama itu sangat besar, tingginya tidak kurang dari 50 meter, lebarnya 10 meter, daun pintu terbuat dari kayu terbaik, gerbang itu seperti dinding yang mengelilingi seluruh negara pasir. Pintu pada gerbang itu dibuka, sehingga dari jauh rombongan kami bisa melihat pemandangan kota pasir dengan rumah-rumah berbentuk tudung setengah lingkaran.


Ada empat orang yang bertugas menjaga di dekat gerbang. Dua orang berjaga di pos bawah, dua orang yang lain berjaga di pos gerbang yang terlihat menempel di dinding setinggi 30 meter. Pakaian petugas ini terlihat aneh. Mereka menggunakan penutup wajah, bukan topeng, tapi seperti menyatu dengan wajah mereka, sepertinya itu wajah asli. Mereka juga menggunakan ikat kepala, aku bisa menebak mereka adalah tipe petarung yang handal. Pakaian mereka serba cokelat, kain biasa. Sem mengajakku dan Deni menemui salah satu petugas, dia adalah bagian pencatatan tamu yang datang dan pergi.


Apa mereka alien? Deni sempat menggerutu.


“Oh, kau. Siapa mereka? Sepertinya aku pertama kali melihatnya.” Petugas itu bertanya. Sem memanggilku dan Deni.


“Hei, kalian. Tunjukkan identitas kalian.” Sem memerintahkan keduanya.


“Identitas? Apa maksudmu, Sem?” Deni tidak mengerti.


“Ikuti saja petunjuk mereka, Den.” aku menjawabkan, aku pun sebenarnya tidak tahu apa yang dimaksud dengan identitas disini.


“Mereka orang baru.” Sem sekali lagi menjelaskan kepada petugas itu.


Petugas itu mengeluarkan sebuah alat sebesar telapak tangan.


“Letakkan telapak tangan kalian disini.” Petugas itu meminta mereka berdua mendekat, “tangan kanan.”


Aku dan Deni tanpa diminta dua kali melakukannya, meletakkan telapak tangan kanan mereka di atas alat itu. Dua detik, keduanya selesai melakukan proses identifikasi identitas. Petugas itu memperhatikan sejenak alat tersebut.


“Aku rasa kau akan lebih lama dari biasanya di dalam negara ini, Sem.” Petugas itu berkata datar. Sem mengangguk, dia tahu maksud perkataan itu. Mereka akan terlibat pertarungan. “Baiklah, kalian boleh masuk.”


Sem melangkah lebih dahulu, diikuti aku dan Deni. Kami telah masuk ke dalam negara pasir.

__ADS_1


“Kota yang tidak terlalu besar seperti ini mereka sebut negara, Sem?” Deni mulai menyeletuk. Matanya terus menatap ke arah bangunan berbentuk tudung setangah lingkaran. Semangatnya sudah mulai kembali.


“Semua negara di dalam game memang seperti ini. Tidak terlalu besar. Ada lima negara yang akan kalian kunjungi, yang pertama adalah negara pasir ini.” Sem menjawab sambil terus berjalan.


“Apa negara selanjutnya?” Aku ikut bertanya.


“Setelah ini ada negara Sabana, setelah itu negara Hutan. Selebihnya aku tidak tahu, aku belum pernah menjelajah hingga kesana. Dua negara itu masih misterius bagiku.” Sem menoleh kepadaku, dia berkata jujur.


Aku mengangguk. Jangankan dua negara itu, negara pasir ini saja sudah misterius bagi kami berdua.


“Apa kita hanya akan jalan-jalan seperti ini, Sem?” Deni kembali bertanya, wajahnya sudah serius menatap Sem, sepertinya Deni sudah kembali bosan melihat pemandangan rumah yang itu-itu saja.


“Kita akan ke toko.” Sem menjawab singkat.


“Belanja? Kami tidak punya uang, Sem? Maksudku, uang dalam game ini.” Aku yang menaggapi jawaban Sem. Deni mengangguk setuju.


Sem yang mendengar perkataan itu tertawa. “Untuk sementara, kalian bisa memakai uangku. Setelah mengalahkan singa beberapa saat lalu, aku banyak sekali mendapat bonus. Aku ingin menggunakannya membeli sarung tangan yang sudah lama aku pesan.”


“Hei, apa kau juga bisa membelikanku pedang. Jangan-jangan, aku memang tidak memiliki pedang itu, sehingga harus membeli lebih dulu. Pantas saja aku tidak memunculkan pedang seperti kau memunculkan busur panah.” Deni terlihat bersemangat, wajah bosannya sudah hilang sempurna.


“Kau sudah memilikinya, Den. Tidak perlu membeli lagi. Kau mungkin bisa mengupgradenya di negara Sabana nanti.” Sem tersenyum.


“Mengupgrade? Bendanya saja aku tidak lihat, apanya yang di upgrade?” Deni kembali kesal (lagi).


“Mungkin kau akan tahu caranya setelah berhadapan dengan singa lagi, Den.” Aku menepuk bahu Deni, mencoba menghiburnya.


Aku menggeleng, tidak tahu.


“Kalian akan mengetahuinya nanti.” Sem berkata pelan, namun terdengar pasti.


Tanpa terasa kami telah tiba di depan sebuah toko, toko di dalam game. Toko ini adalah bangunan sederhana, berwarna cokelat tua. Ada tulisan “Old Shop” di bagian depan.


Treeng.. Pintu itu mengeluarkan bunti lonceng berdenting saat di dorong. Petugas di dalam toko menyambut mereka dengan senyuman. Seorang wanita tua, dia tidak menggunakan topeng seperti petugas di depan gerbang. Rambutnya juga sudah putih, kulitnya keriput. Tapi masih cekatan melayani pembeli.


“Sem!” petugas itu terlihat kaget. “Sudah lama kau tidak kesini.” Lantas beranjak mendekati Sem yang belum jauh dari pintu. “Kau membawa teman?”


“Ya, mereka anak baru.” Sem menjawab singkat.


Mendengar perkataan itu, Deni melotot. Apa maksudnya anak baru? Aku lantas menahannya, Deni tidak jadi berbicara.


“Selamat datang di toko ini, anak muda. Ini satu-satunya toko yang ada di negara ini.” Petugas itu tersenyum, sedikit membungkuk penuh penghormatan.


Toko kecil ini satu-satunya? Dalam sebuah negara? Bagaimana rakyat di sini berbelanja bahan  makanan lain? Atau, apakah mereka makan? Banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku dan Deni. Tapi kami urung menanyakannya, mungkin kapan-kapan saat Sem tidak keberatan menjawab. Atau kami memang tidak perlu menanyakannya. Deni sebenarnya ingin sekali menanyakan itu kepada petugas toko di hadapan mereka. Sementara aku berusaha lebih berpikir tenang, bagaimanapun ini hanya sebuah game. Jika ada satu dua hal yang terasa aneh, itu sebuah kewajaran.

__ADS_1


“Apa disini menjual hamburger? Pizza? Atau semacamnya?” Deni melonjak riang. Sem yang melihatnya menggaruk-garuk kepala, tersenyum kecil.


“Tentu saja tidak ada, Den. Ini bukan restoran.” Aku sudah meruntuhkan semangat anak muda yang baru saja terlihat bersemangat, dalam sekejap.


“Kami menjual beberapa aksesoris, potion, penawar racun, sarung tangan.” Petugas itu dengan ramah menjelaskan.


Deni yang mendengarnya mengangkat tangan. Hanya itu?


Aku melotot kepada Deni, itu benar-benar tidak sopan, Den. Begitu maksud tatapanku.


“Kalian berdua silakan lihat-lihat, jika tertarik katakan padaku. Asal cocok dengan kantongku, akan aku belikan.” Sem sepertinya ingin berbicara lebih lanjut dengan petugas toko. Aku dan Deni mengangguk.


“Ini sarung tangan yang kau pesan. Terbuat dari kain khusus, tidak akan mudah sobek walau terkena sayatan pedang.” Petugas itu menyerahkan satu pasang sarung tangan berwarna cokelat, warna khas negara pasir.


“Apa aku dapat potongan harga?” Sem tersenyum.


Petugas toko yang mendengar pertanyaan itu tertawa. “Tentu saja tidak, Sem. Itu sudah harga jual yang paling murah. Kalau kau membelinya di negara Sabana, harganya mungkin dua kali lipat lebih mahal.”


Sem mengangguk, lantas menekan beberapa tombol pada alat yang ada pada pergelangan tangannya, melakukan pembayaran.


“Hei, kalian. Apa sudah menemukan barang yang cocok?” Sem sudah mengenakan sarung tangannya.


Sebagai jawaban, Aku menggeleng, Deni mengangkat bahu.


Sem terkekeh, “Nanti kalian akan terbiasa dengan keadaan toko yang seperti ini. Ayo kita keluar, aku sudah selesai. Setidaknya kalian telah menghemat uangku.” Sekali lagi Sem tersenyum. Aku dan Deni mengkuti di belakang.


Kami terus berjalan ke arah pusat kota, menuju ke kantor pemerintahan, lebih tepatnya kerajaan di sebuah negara. Tapi disini, mereka tetap menyebutnya presiden.


Jalanan di kota negara pasir itu sebenarnya cukup lengang, hanya ada sesekali penduduk yang melintas. Aktifitas mereka lebih banyak di dalam rumah. Padahal itu adalah pagi menjelang siang waktu setempat. Jika dikotaku di dunia nyata, itulah puncak kemacetan. Sesekali semilir angin membawa pasir kecil berterbangan.


“Bagaimana kau melakukan pembayaran?” Aku bertanya, aku tertarik setelah melihat Sem membayar hanya dengan menekan beberapa tombol pada alat yang ada di pergelangannya.


“Aku melakukannya melalui alat ini.” Sem menunjukkan jam tangan miliknya. “Kalian juga memilikinya, fungsinya sama. Sejak kalian masuk ke dalam dunia ini, jam tangan kalian itu sudah terhubung dengan game. Selain melakukan pembayaran, kita juga bisa saling terhubung melalui alat ini.”


“Sejujurnya aku masih heran dengan game ini. Lihatlah, ini lebih mirip dengan tamasya ke luar kota. Tidak ada perkelahian, tidak ada pertempuran, tidak ada konflik, dan yang teraneh, tidak ada pedang. Apalagi wusshh keluar cahaya dari tangan yang mampu meledakkan beberapa bangunan.” Deni kembali menggerutu.


“Soal meledakkan bangunan, kau nanti akan melihatnya, Den.” Sem meyakinkan Deni.


Deni tidak peduli. Dia terus saja berjalan toleh kiri toleh kanan, mencari sesuatu yang menarik.


“Kemana kita sekarang?” Aku bertanya, lebih serius.


“Game ini tentang korupsi, Jon. Tentu, kita akan melawan para mafia korup itu. Aku sudah mengetahui tentang mereka. Saat diciptakan, di dalam memoriku sudah di tanamkan ingatan bahwa aku mengetahui siapa yang harus kita lawan pada scene pertama ini.” Sem juga tak kalah serius.

__ADS_1


“Siapa pimpinan komplotan itu? Dan dimana mereka?” Deni mulai tertarik.


“Namanya Was, dia pimpinan negeri ini. Bisa kalian katakan dia raja, bisa pula presiden. Mereka semua ada di gedung pemerintahan.” Sem menatap ke depan, sudah tahu tujuannya.


__ADS_2