
Kami kembali melewati hamparan padang rumput dengan hiasan pohon akasia bak payung tempat berteduh di tengah terik. Deni kembali menggerutu sepanjang perjalanan. Panas, haus, bertanya ini, bertanya itu, bahkan sekarang dia melewatkan beberapa pemandangan mengesankan padang sabana.
“Jalan kita sudah benar. Kita lurus ke depan.” Sem memperhatikan pergelangannya. Titik koordinat portal yang diberikan Nax sangat membantu. Sejak meninggalkan gedung pemerintahan itu, aku menukarkan jam tangan canggih dengan milik Sem. Aku rasa Sem lebih tahu soal arah di tempat ini.
Aku mengkuti Sem di belakang. Dia memang lebih ahli soal arah dan petunjuk. Sementara Deni berkali-kali tertinggal di belakang.
“Apa kau betah disini, Den? Kau masih ingin berpelukan denga papamu itu? Papa Nuw?” Aku menoleh, menggoda.
Deni yang mendengar soal papa itu langsung mendongak. “Hei, Jon. Kau tahu? Sepertinya kau tidak bisa menilai pohon hanya dengan melihat dari buahnya. Papaku di dunia nyata jauh lebih tampan daripada Nuw. Kau lihat aku sekarang. Ini adalah produk unggulan dari induk yang menawan, Jon.” Deni mengangkat kedua tangan. Lihatkan betapa menawannya diriku, begitu maksudnya.
Aku tersenyum jeri. Melambaikan tangan, lantas beranjak meninggalkan Deni yang sekarang mulai sok-keren. Deni lantas berjalan cepat menyusul Sem.
“Sem, kau adalah makhluk asli disini. Penilaianmu mungkin akan berguna suatu saat jika aku kembali ke dunia nyata. Aku keren, kan?” Deni bertanya. Sem hanya diam, terus berjalan.
“Oke, oke.. Aku anggap diammu itu sebagai jawaban “iya”, Sem.” Deni sedikit kecewa. Dia kembali ingin meminta penilaian.
Sem tiba-tiba mengangkat tangan, “Kita sudah sampai, kawan-kawan.”
“Sampai? Apa disini portal itu?” Aku bertanya.
“Bukan, Jon. Sampai ke toko di negeri ini. Kita akan berbelanja sebentar. Bukankah kalian mempunyai uang saat berburu singa?”
“Kau benar, Sem. Aku hampir saja lupa.” Deni akhirnya melupakan soal penilaian.
Di depan kami sudah ada toko yang diberi nama “Shop” dalam dunia game. Itu mungkin sama denga toko yang ada di negeri pasir. Satu-satunya.
“Kau akan membeli apa, Jon?” Deni bertanya.
“Entahlah, Den. Mungkin sesuatu yang menarik seperti sayap di punggung agar aku bisa terbang.” Aku menjawab asal.
Sem tertawa, “Yang seperti itu tidak dijual di toko, Jon.”
Kami bertiga memasuki toko itu. Bentuk desain ruangan tidak jauh berbeda dengan toko yang ada di negeri pasir. Hampir sama. Kali ini penjaganya bukan seorang wanita tua, melainkan seorang lelaki paruh baya. Wajahnya sama dengan manusia kebanyakan.
“Selamat datang.” Lelaki itu menyapa ramah, tersenyum memikat.
“Apa kau punya busur yang bagus?” Tidak ada basa-basi, Sem langsung bertanya, semenjak perjalanan menuju tempat ini, Sem sudah menyiapkan daftar benda yang akan dibelinya.
__ADS_1
“Ah, kebetulan sekali.” Lelaki itu mengacungkan tangan, meminta menunggu beberapa kejap. Dia mencari sesuatu dalam tumpukan kardus di belakangnya.
Sementara Sem sibuk dengan barang pesanannya, aku dan Deni berjalan melihat-lihat. Toko dengan ukuran 6x8 meter itu banyak menjual pedang, tameng besi, dan baju zirah. Tapi jelas, baju zirah kami jauh lebih keren. Lagipula, kami mendapatkannya secara gratis. Barang-barang jualan disusun rapi dalam rak lemari terbuka. Berjejer.
“Sepertinya pedang ini bagus, Jon. Kau belum memiliki senjata, aku rasa tidak ada salahnya kalau kau menggunakan ini.” Deni mengangkat sebuah pedang, menimang, mengetahui seberapa berat.
Aku menggeleng, “Aku bukan tipe petarung dengan senjata, Den.”
“Baik, kalau begitu aku yang akan membelinya.” Deni beranjak, menuju lelaki penjaga toko. Aku mengambil sembarang barang, setidaknya ada yang aku beli. Lupakan soal perlengkapan perang, aku tidak membutuhkan benda seperti itu.
“Kau membeli apa, Den?” Sem bertanya, dia sudah selesai membeli busur baru berwarna putih. Sebuah busur dengan gagang lebih besar dan senarnya lebih panjang. Lantas menghilangkannya dari genggaman.
Deni mengangkat pedang.
“Oo.. Kau membeli itu. Itu pilihan yang bagus, anak muda. Kau akan semakin terlihat gagah.” Penjaga toko memuji dari belakang meja kasirnya.
Deni membalikkan badan ke arahku, mengangkat kedua tangan. Pamer. Kau dengar apa yang dikatakan penjaga toko? Aku memang pemuda tanggung yang gagah, lahir dari ayah yang gagah pula.
“Itu pedang yang luar biasa, anak muda. Beberapa orang yang pernah datang kesini bermaksud membelinya. Bahkan mengangkatnya pun mereka tidak bisa. Berat. Tapi sekarang lihatlah. Kau bahkan menenteng pedang itu seperti sapu tangan. Ringan. Pedang itu mungkin telah memilihmu.” Penjaga toko kembali menjelaskan.
“Dan kau? Apa yang kau beli, Jon?” Sem bertanya kepadaku.
“Hei, kau yakin dengan benda itu?” Penjaga toko tiba-tiba berseru. Wajahnya setengah kaget, setengah lagi berlonjak senang.
Aku mendongak, tidak mengerti. Seberapa hebat benda ini? Hanya terlihat seperti sepotong kain.
“Ini sarung tangan, Jon.” Sem memeriksa.
“Benar, sarung tangan. Tapi bukan sarung tangan biasa. Harganya juga lebih mahal daripada pedang yang dibawa kawanmu itu.” Penjaga toko menunjuk pedang yang ada dalam genggaman Deni.
“Lebih mahal? Apa istemewanya?” Aku semakin panasaran.
“Belum ada yang tahu, anak muda. Tapi harga yang aku beli sudah seperti itu. Aku disini hanya menjualnya. Penjual awal sarung tangan itu juga mengatakan hal yang sama. Sarung tangan itu memiliki kekuatan yang besar.” Penjaga toko menjelaskan.
Aku semakin panasaran. Saat menatap benda itu, aku tiba-tiba langsung merasakan sesuatu yang aneh. Sarung tangan itu seperti memanggilku. Dia memilihku sebagai penggunanya. Hanya aku yang dapat merasakan perasaan aneh itu. Aku terdiam sejenak.
Tepukan di pundakku memotong dalam lamunan, “Kau ingin membeli itu, Jon?” Sem bertanya.
__ADS_1
Aku mengangguk. “Tapi aku rasa tidak, Sem. Aku tidak punya uang yang cukup.”
“Kau akan mendapatkannya, kawan.” Deni memotong, dia meletakkan pedang itu di atas meja kasir. “Aku tidak jadi membeli pedang itu, kau bisa gunakan uangku.” Deni tersenyum.
Aku mendongak, menatap Deni. “Kau yakin?”
“Tentu saja. Lagi pula, aku sudah memiliki senjata. Hanya kau yang tidak memiliki peralatan apapun. Kau bisa memiliki itu sekarang.” Deni sudah menekan tombol di pergelangan tangannya, membayar separuh harga. Aku dengan ragu-ragu menekan tombol yang sama, membayar separuh harganya.
“Terima kasih, Den.”
“Tidak masalah, kawan. Selama kau tetap mengakui kalau kawanmu ini memang keren.” Deni menepuk bahuku, tertawa lebar.
Aku dan Sem juga ikut tertawa.
Saat mengenakan sarung tangan itu, suara panggilan dari sarung tangan itu menjelma menjadi sebuah titik hangat dalam genggamannku. Benar-benar terasa hangat, berenergi. Sarung tangan berwarna hitam itu mengeluarkan cahaya sepersekian detik. Lagi-lagi, mungkin hanya aku yang melihatnya.
Berbelanja sudah selesai. Saatnya menuju portal.
Kami keluar dari toko itu. Penjaga toko melepas dengan senyuman. Jangan sungkan untuk datang lagi. Begitu kira-kira maksud senyumannya.
“Dimana portal itu, Sem?” Deni bertanya dalam perjalanan. Kami kembali menempuh padang rumput setinggi mata kaki.
“Sebentar lagi. Ada di depan.” Sem kembali melirik jam tangan canggih yang ada di pergelangannya.
Aku menyapukan pandangan ke arah sekitar. Hanya padang rumput luas dengan pohon akasia sejauh mata memandang. Tak bertepi. Langit biru semakin menyamarkan arah. Tidak bisa dibedakan mana utara dan mana selatan. Semua terlihat sama.
“Ini adalah tempatnya.” Sem memperhatikan lamat-lamat jam tangan canggih itu. Nampak pada layar berkedip-kedip warna merah.
“Sekarang dimana portalnya?”
Sem mengangkat tangan, seperti mencari-cari sesuatu dalam gelap. Itu juga adalah salah satu keahliannya. Hanya dia yang bisa menunculkan portal itu. Sesuatu kemudian memberikan efek kejut, seperti dinding yang bisa menyetrum. Itulah portalnya. Sem menyentuhnya, lantas portal itu muncul, berpilin, berputar-putar, mengeluarkan cahaya terang. Silau. Besarnya setinggi orang dewasa. Dasarnya mengambang, tidak menyentuh tanah. Sem sekali lagi menyentuh portal itu. Kami bersiap dengan kuisnya.
Hening sejenak. Sem terdiam.
“Ada apa, Sem? Apa kuisnya tidak mau muncul?” Deni bertanya, mengangkat tangan.
Sem menggeleng, “Tidak ada kuis, Den. Portal ini tidak terkunci.”
__ADS_1
Aku dan Deni memasang wajah terlipat.