The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 13: TIGA BELAS


__ADS_3

Cuaca cerah, langit membiru sempurna. Sesekali hembusan angin membelai wajah, menggoda. Matahari sudah melewati titik tertingginya. Cahayanya masih menyengat, menusuk kulit. Hari itu, sepulang sekolah. Aku dan Deni kembali mengunjungi anak perusahaan pembuat konsol game. Perusahaan konsol yang merupakan cabang dari pusat. Mereka masih menyediakan layanan untuk para penggila game di lantai bawah tanah.


“Tempat ini sebenarnya kami buka 24 jam nonstop.” Petugas yang pernah membantu kami mengenalkan beberapa game saat kami pertama kali kesini kembali menjadi pemandu. Pakaian atasnya putih, cerah. Terlihat sangat rapi. Sepatunya mengkilap, selalu disemir. “Tapi karena khawatir mengganggu jadwal belajar para anak-anak atau remaja, kami hanya membatasi hingga pukul 18.00 sore.”


Kami tiba di ruangan penyedia konsol game tercanggih itu, ruangan bawah tanah. Ini bukan hari libur. Hanya ada tiga konsol game yang terpakai, selebihnya kosong, menganggur. Kami kembali memilih tempat yang sama.


“Oh, iya. Sekarang seperti yang aku janjikan. Kami sudah menambah beberapa game terbaru. Tapi aku rasa kalian tidak akan mencobanya.” Petugas itu tertawa bersahabat.


Benar, game yang menjadi pilihan sudah melebihi daripada tiga. Ada game balapan, gulat, basket, tennis, bahkan memancing. Tapi belum ada sepekbola.


“Untuk sepakbola kemungkinan kami akan menambahkannya minggu depan. Masih ada permasalahan pada sponsor.” Petugas itu terus dengan senang hati menjelaskan.


“Kami akan tetap bermain game itu, CGA.” Aku menunjuk game yang pernah kami mainkan hari minggu lalu.


Petugas itu mengangguk dua kali. “Tentu saja. Game yang jarang dimainkan, bahkan mungkin tidak pernah. Tapi aku yakin kalian punya keasyikan tersendiri.” Petugas itu kembali tersenyum, senyum khas bagian promosi. Walaupun itu mungkin bukan bagiannya.


“Kami sudah menyimpannya, melalukan saving, Om.” Deni kembali memanggil petugas itu dengan sebutan Om.


“Baiklah, aku akan menghubungkannya. Mungkin butuh waktu sekitar satu menit. Proses loading. Silakan tekan tombol pada jam tangan canggih kalian ketika sudah selesai.” Petugas itu memilihkankan game, menekan tombol main, kemudian tombol lanjutkan. Kemudian kami diminta menunggu.


“Kalian siapkan posisi. Keberangkatan segera akan dilakukan. Kencangkan sabuk pengaman.” Petugas itu mencoba bergurau.


Sebuah portal muncul, kecil seperti kepala Deni. Lantas beberapa detik membesar setinggi orang dewasa. Kami loncat masuk ke dalam. Beberapa detik sesudahnya, portal kembali menutup. Petugas itu kembali ke ruang kontrol. Petualangan baru kembali dimulai.


***


Kami mendarat sempurna di sela-sela pohon dengan bunga berwarna kuning. Deni sudah tidak terjatuh lagi. Dia sudah tahu posisi portal saat muncul di dunia virtual ini kembali akan menggelantung.


“Wow.. Akasia!” Deni berseru, menunjuk-nunjuk. Seperti anak kecil yang diajak ayah dan ibunya ke tempat baru yang tidak pernah dilihat.


Sesuai dengan namanya. Ini adalah negara Sabana. Padang rumput yang luas, diselingi oleh beberapa jenis pohon palem dan akasia. Suhu udara di tempat ini tidak panas, tidak juga dingin. Hangat. Di tempat ini, suhu udara hampir sama sepanjang tahun. Pemandangan yang paling sempurna adalah saat kami membalikkan badan. Hamparan padang rumput sejauh mata memandang, dari kejauhan pohon-pohon akasia itu seperti payung tempat berteduh. Jauh di ujung sana lagi, nampak jelas pegunungan membentang di perut entahlah ini planet atau apa. Awan tebal membungkus langit, bukan mendung. Awan itu sama sekali tak membawa amunisi air. Hanya sebagai hiasan birunya atap dunia. Aku melihat beberapa jerapah berteduh di bawah pohon-pohon yang dianggap paling rindang di tempat ini. Mereka sepertinya satu keluarga. Di tempat lain juga ada beberapa kerbau. Ukurannya sama dengan yang ada di dunia nyata.


“Hei, Den. Bukankah kau mengatakan akan berburu singa.” Aku memotong pandangan Deni yang tak putus-putus menyapu sekitar, terpesona.


“Berteduhlah sejenak untuk menikmati bentang alam ini, Jon.” Deni tidak terlalu memperdulikan perkataanku.


Aku sebenarnya sependapat. Ini sungguh terlalu indah untuk dilewatkan.


“Dimana Sem?” Aku bertanya.


“Entahlah, Jon. Mungkin dia masih di negara pasir itu. Mencari sisa-sisa reruntuhan. Bukankah toko itu juga ikut hancur saat Was terlihat perkasa? Barangkali ada benda berharga yang masih bisa ia dapatkan, secara gratis.” Deni kembali menyeringai.


Semilir angin mencuil batang hidung kami. Tempat ini jauh lebih sejuk daripada padang pasir.


“Den. Apa ini kebetulan?” Aku tiba-tiba menyadari sesuatu.


“Apa?” Deni menoleh.


“Sepertinya waktu di dalam game ini sama dengan waktu kita di dunia nyata. Kau ingat hari minggu lalu? Padang pasir itu sebenarnya juga pagi. Hanya saja, ya begitulah suhu disana. Selalu terasa terik, menyengat. Lihatlah matahari disini. Aku tahu betul ketika melihat bayang-banyang itu. Waktunya pas dengan waktu yang ada di jam tangan ini.” Aku mengangkat tangan, memperlihatkannya kepada Deni.


Deni mengangguk.


“Ya, aku rasa tidak terlalu aneh, Jon. Bukankah sudah banyak game yang seperti itu. Waktunya di desain sama dengan dunia nyata.” Deni berhenti menyapukan pandangannya ke sekitar. Aku mengajaknya berteduh di bawah pohon akasia. Kami duduk bersandarkan batang pohon yang sudah terlihat tua itu. Menatap biota sabana. Berburu? Kami urungkan sesaat.


Senyap. Benar-benar sejuk.


Jam tangan canggih kami berbunyi. Seseorang menghubungi.


“Hei, Bung. Aku rasa waktu tamasya sudah habis. Saatnya kembali ke misi kalian.” Alat canggih di pergelangan itu memancarkan hologram. Petugas yang membimbing kami sebelum masuk ke portal terlihat mengenakan headphone. Wajahnya santai, bersahabat.


“Hei, Om. Sebaiknya kau juga berada disini. Lihatlah ini pemandangan yang membersihkan mata.” Deni membalas, bercanda.


Petugas itu tertawa.


“Apa kami bisa makan di tempat ini?” Aku tiba-tiba bertanya, sebuah pertanyaan yang juga sudah lama aku simpan.


Petugas itu tertawa. “Coba saja.” Dia menjawab singkat. “Aku rasa kalian bukan hanya ingin makan, kan? Portal itu tidak jauh dari kalian. Tapi aku tidak tahu persis dimana.” Petugas itu tersenyum.


“Apa kau serius soal makan itu, Om?” Deni bertanya.


“Yang jelas kalian datang kesitu bukan untuk makan, kan? Baiklah, mungkin waktu kita terbatas. Selamat bersenang-senang.” Petugas itu memutus hubungan.


Deni mengangkat tangan, “Itu aneh bukan?”

__ADS_1


Aku mengangguk. Seperti ada yang mereka sembunyikan.


Di saat kami tertegun. Kepala ditumpahi banyak pertanyaan. Deni berkali-kali menggerutu. Sebuah benda jatuh menimpa kepalanya. Buah.


“Ini apel, kan?” Deni meraihnya, mencegahnya bergulir menjauh.


Aku mendongak ke atas. “Sem!”


“Yo.” Sem ternyata sudah berada di atas pohon itu. Entah sejak kapan. Dia turun. Kami telah lengkap, bertiga.


“Kau pasti tahu dimana portal itu, Sem.” Deni berdiri, terlihat yakin.


Sem mengangguk, sebuah jawaban, “Bukankah kau ingin berburu singa, Den?” Sem bertanya.


“Ya. Tapi aku tidak ingin membeli beberapa peralatan seperti yang kau lakukan. Aku ingin membeli makanan di kota ini.” Deni menggigit apel yang menimpa kepalanya, “Astaga! Apa ini apel yang kau curi dari dunia kami, Sem?”


“Bukan. Itu apel dari negara sesudah negara ini. Seseorang memberikan itu kepadaku.” Sem menjawab santai, merapikan arrow rest miliknya.


“Negara setelah ini?” Aku bertanya.


Sem mengangguk. “Negara setelah ini adalah hutan hujan tropis. Dan kabar gembira lagi, aku juga sudah mengetahui negara ke empat.”


“Negara ke empat?” Aku mengusap wajah, memasang wajah antusias.


“Ya, aku berhasil mendengarkan percakapan Sew dengan salah satu anak buah Was saat berpisah dengan kalian di perempatan menuju gedung pemerintahan negara pasir. Peluru yang dia gunakan. Peluru itu berasal dari negara ke empat. Negara Laut.”


“Laut? Apa itu berarti negara itu benar-benar berada di dalam air. Kami tidak punya insang, Sem.” Deni menepuk dahi, lantas memegang lehernya.


“Entahlah, Den. Aku juga tidak pernah ke sana.” Sem mengangkat bahu.


Lengang sejenak. Suara biota sabana sayup-sayup terdengar dari kejauhan.


“Joni, kau pasti tidak akan percaya ini. Aku bisa merasakan apel ini menggeliat di dalam perutku. Ini benar-benar nyata. Kita bisa makan di tempat ini, Jon.” Deni melonjak senang. Terkadang perilaku anak kecilnya belum hilang.


Aku menatap ragu. Sungguh?


“Itu benar, Jon. Kalian bisa makan disini. Tapi hanya akan “kenyang” di dalam game ini. Jika kalian keluar, kalian akan kembali lapar.” Sem yang menjawabkan keraguanku.


“Tapi_” kata-kataku terpotong.


“Sekarang apa rencananya, Sem?” aku kembali bertanya.


“Kita akan bersenang-senang sebentar.” Sem tersenyum, beranjak menuju luasnya padang rumput.


“Apa yang_?” Aku tidak sempat bertanya.


“Ikuti aku!” Sem berseru dari kejauhan.


“Ayo, Jon. Anak itu pasti punya sesuatu yang akan memacu adrenalin lagi.” Deni mengikutinya. Aku menyusul.


Matahari semakin miring. Satu jam sebelum tumbang di langit barat. Cahayanya mulai meredup.


“Kita kemana?” Aku mensejajari langkah Sem. Dia berjalan cepat.


“Seperti yang direncanakan Deni.” Sem manjawab.


“Berburu, Jon. Benarkan, Sem?” Deni memasang wajah antusias, “Kita akan kaya, Jon.” Deni tertawa.


Sem mengangguk. Tersenyum.


Perjalanan lima belas menit. Aku sudah tidak melihat ada kawanan jerapah dan kerbau lagi. Pohon akasia semakin lebat. Rindang. Sejuk. Gunung yang membentang dari kejauhan merendah, tapi masih terlihat.


Sem berhenti, menatap sekitar. Aku juga melihat ada beberapa kawanan singa. “Kita cukup merobohkan tiga singa, masing-masing satu. Cari singa yang terpisah dari kawanan. Singa yang sendiri. Singa yang tidak berkeluarga. Itu tidak akan membuat pasangannya sakit hati.” Sem bergurau.


Aku dan Deni mengangguk. Kami berpisah, sepuluh menit ke depan semua harus berkumpul di tempat ini lagi.


Deni menemukan satu singa yang dimaksud. Memunculkan pedang. Dia mengejar. Singa itu diam. Di dunia manapun, jelas singa tidak pernah takut dengan manusia. Malah singa itu berbalik mengejarnya. Deni menghentikan langkah. Perasaan cemas melanda tiba-tiba. Dia belum pernah berhadapan dengan singa di dunia nyata. Sementara sang singa terus berlari menyongsongnya. Bersiap menerkam. Kuku-kuku yang tajam keluar bagai pisau lipat yang terbuka. Mulutnya membuka lebar, taringnya yang tajam berkilat. Deni sempat mengelak, singa itu menerkam angin. Tapi jarak mereka tidak lebih dari satu meter. Singa itu bisa saja membalikkan badan. Mencengkram tiba-tiba.


Matahari semakin loyo, hampir jatuh di langit barat. Burung-burung sudah melintas di atas kepala, pertanda sore.


Tidak ada waktu untuk berpikir. Deni mengokohkan kepalan, pedang perak muncul dalam genggamannya. Singa itu mencengkram. Menerjang. Tubuh Deni terdorong. Jatuh. Dua kaki depan singa menindih perutnya, tidak berasa karena terhalang baju zirah yang kokoh. Singa itu bersiap menggigit leher. Deni sudah pucat. Keringat dingin keluar dari tengkuknya.


Hening senejak.

__ADS_1


Singa itu akhirnya menghilang. Sebelum singa menerjang, Deni sempat membuat pedangnya menancap di bagian perut si raja hutan. Deni menghembuskan nafas panjang. Dia melirik ke arah jam tangan canggih di pergelangan. Ada angka yang bergerak cepat, jumlahnya bertambah. Mungkin itu cash yang didapat setelah merobohkan satu singa. Bisa dipakai untuk berbelanja.


Deni ikut bergabung di tempat semula.


“Kau terlambat dua menit, Den.” Aku mengangkat tangan.


“Sedikit ada gangguan teknis, Jon.” Deni membantah tanpa ekspresi.


“Mudah saja merobohkan satu singa. Aku hanya melepas satu pukulan.” Aku mengangkat tangan. Menunjukkan kepada Deni, mengejeknya yang terlambat. Deni memasang wajah tidak peduli. Itu karena dia yang paling antusias soal berburu. Nyatanya, dia yang paling buncit soal mendapatkan satu ekor singa.


“Sekarang kita akan menuju portal itu.” Sem mengalihkan topik percakapan.


Deni buru-buru mengangguk. Dia sudah terlepas dari tindasan hampir kalah dari seekor singa.


“Portal itu adalah portal terakhir yang aku ketahui letak pastinya. Untuk scene selanjutnya, kita harus mencarinya secara manual.” Sem sudah memimpin berjalan di depan. Kami berdua mengikuti dari belakang.


Melewati padang perdu, semak belukar, pohon palem, bahkan kawanan zebra. Kami tidak banyak berbicara sepanjang perjalanan. Lebih memilih menikmati setiap jengkal pemandangan sabana. Deni yang biasanya menggerutu, hanya diam.


“Ini seperti sabana di Afrika Timur.” Aku memecah kelengangan.


“Bukan. Ini lebih seperti di Tanzania.” Deni menyahut. Berebut soal tempat yang paling mirip dengan tempat yang kami lalui sekarang.


“Kita sudah sampai.” Sem mengakhiri dua perbantahan.


Di depan sebuah pohon akasia tertua di tempat itu, kami berhenti. Pohon terbesar yang aku lihat sejak kami menginjakkan kaki di tempat ini.


Deni mengangkat tangan, “Di tempat ini?”


Sem mengangguk, mengangkat tangannya. Sama seperti saat dia memunculkan portal di daerah Oase.


Sebuah portal putih benar-benar muncul. Mirip dengan portal pertama di dunia virtual ini. Warnanya putih, berpilin, bergerak memutar. Awalnya kecil, semakin lama semakin membesar. Sem menyentuhnya. Portal itu mengeluarkan layar besar, berisi beberapa kalimat disana. Sebuah pertanyaan. Sebuah kuis untuk membuka kunci portal. Aku dan Deni tidak mengerti. Itu kalimat yang ditulis dengan bahasa pemograman.


“Apa pertanyaannya, Sem? Aku mendongak, tidak sabar.


Sem diam sejenak. Berpikir.


“Ini soal penjumlahan, Jon. Itu petunjuk pertamanya. Tahun disini tidaklah berbeda dengan tahun disana. Ini bukan pertanyaan, ini pernyataan. Pernyataan yang memerlukan jawaban. Tapi yang jelas kita harus menjawabnya dengan angka, bukan dengan kata.” Sem membacakan tulisan itu.


Kami bertiga terdiam. Ini lebih sulit daripada pertanyaan pertama.


“Nol! Aku yakin sekali, Sem.” Deni menjawab asal.


“Kau yakin?” Sem memastikan.


Deni mengangguk yakin. Bukankah nol ditambah dengan nol sama saja. Tidak ada bendanya.


“Bagaimana dengan kata “tahun” nya?” Aku bertanya, menipiskan keyakinan Deni.


“Tahun itu kan dimulai dari nol, Jon. Apapun kalau itu angka selalu dimulai dari nol. Tidak berbeda, memang tidak ada bedanya. Entah itu tahun, atau apalah. Yang jelas selalu dimmulai dari nol.” Deni menguatkan pendapatnya.


Sem mengangguk, mempercayainya. “Kalau begitu. Kita sudah putuskan. Jawabannya adalah nol.” Sem menulis angka nol pada satu kotak jawaban.


Aku masih tidak terlalu yakin. Menatap lamat-lamat layar di depan. Satu kotak jawaban, tahun, penjumlahan? Hei, Deni melupakan hubungan ketiga petunjuk itu.


“Berhenti, Sem!” Aku berseru, menahan gerakan tangan Sem yang hampir saja menuliskan jawaban.


Sem menoleh kepadaku, menghentikan gerakan tangannya. Apa? Deni juga menoleh, wajahnya kusut, terlipat, tidak mengerti.


“Tujuh, Sem. Tujuh. Bukan Nol, tapi tujuh.” Aku berkata dengan intonasi yakin sekali.


Kali ini Sem yang menatapku dengan wajah terlipat. Penuh pertanyaan. Dari angka nol ke angka tujuh itu jauh sekali.


“Tahun disini tidaklah berbeda dengan tahun disana.”


“Kalian ingat, ini tahun berapa? 2050. Tahun di tempat ini tidak berbeda dengan tahun yang ada di dunia nyata. Den, kita sudah membuktikannya saat aku melihat waktu di pergelangan tangan. Ini sore hari, dan di dunia kita juga sama. Saat kita masuk kedalam game ini hari minggu lalu, saat itu pagi hari, di dunia ini juga pagi, kan? Lihat kotak isian itu, hanya ada satu. Itu artinya jawabannya tidak lebih dari satu angka. Petunjuk awalnya adalah penjumlahan. Ini ternyata mudah. Kita hanya perlu menjumlahkan setiap angka pada tahun yang tidak berbeda di dua dunia, 2050. Dua+nol+lima+nol \= tujuh. Aku yakin sekali jawabannya adalah tujuh, Sem.” Aku mengangkat kedua tapak tangan, melipat tiga jemari, meyakinkan kalau itu benar-benar tujuh.


“Itu masuk akal.” Sem akhirnya mempercayaiku penjelasanku. Deni juga sepakat, mengangguk.


“Maaf, kawan. Aku rasa jawabanku memang asal-asalan, tidak masuk akal.” Deni menepuk bahuku.


“Baik. Jawabannya adalah tujuh.” Sem menulis angka tujuh pada kotak isian. Menunggu sebentar.


Portal itu bergerak. Menyimpan kembali layar lebar yang tersingkap. Bergerak berputar searah jarum jam, semakin cepat. Cahaya portal semakin terang. Menyilaukan. Deni bahkan memicingkan matanya. Kami masih menunggu. Sem yang paling tahu urusan portal itu. Cahaya itu kembali meredup, seperti semula.

__ADS_1


“Jawaban itu benar. Kunci portal ini telah terbuka.” Sem tersenyum ke arahku. “Kita masuk sekarang.”


Aku, Deni, dan Sem melompat masuk. Tubuh kami tersedot. Scene baru, negara baru, pertualangan baru, dan yang jelas, musuh yang baru.


__ADS_2