The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 6: ENAM


__ADS_3

Suasana padang pasir itu semakin panas, matahari berada di puncak, di atas kepala. Matahari buatan itu sama seperti aslinya. Hanya angin gurun yang sesekali mendinginkan suasana, itupun tidak bisa di sebut dingin untuk kategori angin. Berteduh di bawah pohon palem tidak akan memberikan rasa sejuk apapun.


“Ayolah, Sem. Bagaimana kami akan mengalahkan puluhan singa jika keadaannya begini. Aku tidak punya senjata, Joni tidak tahu bagaimana menggunakan tinju terbaiknya.” Deni menggerutu.


“Baik, baik. Akan aku tunjukkan.” Sem mengangkat tangan, menahan desakan Deni yang semakin panasaran. Cuaca sebenarnya sangat panas, tapi aku dan Deni tidak terlalu merasakan sengatan terik matahari, itu karena tekhnologi yang ada pada baju zirah kami.


Demi melihat hal unik yang akan dilakukan Sem, kami berdua menatap tanpa berkedip.


“Kalian perhatikan  busur ini.” Sem memperlihatkan busur berwarna peraknya, konsentrasi. Busur itu perlahan menghilang, seperti singa yang terkena anak panah beberapa saat yang lalu.


“Bagaimana kau melakukannya? Lalu apa hubungannya menghilangkan busur panah dengan kemampuan kami?” Deni masih panasaran.


Sem kembali tertawa. “Tidakkah kau memikirkan apa yang aku maksud, Den? Aku mampu menyembunyikan senjataku, aku tidak perlu repot membawanya kemana-mana. Lihat!” Sem kembali mengacungkan tangan, sedetik kemudian busur perak itu sudah kembali, muncul perlahan. “Kau sebenarnya membawa pedang itu, Den. Hanya saja, kau tidak memunculkannya seperti yang aku lakukan pada busur barusan. Dan untukmu Joni, ini kali pertama aku bertemu orang yang memakai baju zirah berwarna perak. Yang aku tahu mereka yang mengenakan itu memiliki kekuatan misterius. Dari ingatan di memoriku, warna zirah seperti itu adalah tipe petarung jarak dekat, tidak bersenjata.”


“Hei, kenapa ini tidak bekerja. Lihatlah, aku sudah berkonsentrasi penuh.” Deni memotong penjelasan. Tangan kirinya sudah memegangi tangan kanan, berusaha memunculkan pedang. Tidak berhasil.


“Kau hanya kurang terbiasa, Den. Sebaiknya kita lanjutkan misi ini.” Sem sementara ini bertindak sebagai pemimpin. Deni tidak memperdulikan arahan itu, dia terus memaksa mengeluarkan pedang. Wajahnya sudah memerah, mengejan-ngejan. Tidak juga berhasil.


“Dimana portal itu?” Aku bertanya, aku tidak ingin seperti Deni. Sejak penjelasan awal dari Sem tentang kekuatan tersembunyi, aku sudah merasakan aliran energi besar dalam tubuhku. Aku yakin sekali aku mampu mengeluarkannya saat diperlukan, tidak perlu mencobanya seperti yang Deni lakukan.

__ADS_1


Sem menatapku, lantas tersenyum lebar. “Tidak jauh, ada di depan kita.” Sem menunjuk ke arah pinggir danau yang lain.


Mendengar jawaban itu, Deni menghentikan kekonyolannya. Dia mendongak, menatap ke arah danau. “Tidak ada apapun di sana, Sem. Aku tidak melihat ada benda yang bisa kita masuki.”


“Tentu saja. Bukankah kalian sudah dijelaskan, kita tidak bisa membuka portal dan memasukinya jika kita tidak menyelesaikan kuisnya.” Sem mengangkat tangan, bersiap melakukan sesuatu.


Joni dan Deni menggeleng. Tidak ada penjelasan soal kuis dari petugas itu, dia mungkin saat ini sudah tiduran di ruang kontrol.


“Kami tidak tahu, Sem.” Aku menghentikan sesuatu yang akan dilakukan Sem. Menoleh bingung, Sem menurunkan tangannya.


“Sepertinya aku harus menjelaskan lagi. Kalian beruntung, aku tidak di desain untuk menjadi guru yang galak.” Sem terlihat kesal dengan pembuat game. Lihatlah, mereka yang ada di dunia ini pun memiliki perasaan. Sebuah pertanyaan besar, benarkah itu di dalam game?


“Aku bisa membuat portal itu muncul jika posisinya memang pas. Hanya saja, kita tidak akan bisa memasukinya, portal itu terkunci. Jawaban kuis itulah cara untuk membukanya.” Sem kembali mengangkat tangan. Kali ini dia benar-benar konsentrasi. Sebuah cahaya putih muncul seukuran bola sepak di pinggir danau, semakin lama semakin membesar, hingga ukurannya setinggi orang dewasa. “Dugaanku tepat, pinggir danau ini memang tempatnya. Tapi kita belum bisa memasukinya.”


“Kita hanya tinggal menjawab kuis itu, kan? Kita jawab saja sampai dapat.” Aku berkata datar, wajahku tetap menatap ke arah cahaya putih yang berputar-putar di depan kami.


“Kau keliru, Jon. Kita hanya bisa menjawab itu satu kali. Jika salah, sistem akan langsung merespon dan mengembalikanmu ke tempat semula. Baru bisa bermain setelah menekan tombol start. Itulah gunanya fasilitas continue. Kalau di awal seperti ini mungkin memang tidak apa-apa. Tapi bagaimana kalau di tengah permainan? Di tambah lagi, saat portal muncul seperti ini. Fitur log out tidak akan berfungsi. Dan ingat, kuis ini selalu berhubungan dengan angka.” Sem kemudian berjalan mendekati portal, diikuti Joni dan Deni di belakang.


“Bagaimana membuat kuisnya muncul?” Aku bertanya.

__ADS_1


“Kita tinggal sentuh portal itu.” Sem menjawab singkat. Mereka telah tiba di depan portal, bersiap menyentuhnya. Sejauh ini di dalam game aman, tidak ada masalah. Yang menjadi masalah utama adalah terbatasnya waktuku dan Deni bermain. Kami harus log out kurang lebih satu jam lagi. Kami tidak bisa menyelesaikan game itu hanya dalam waktu satu atau dua jam, butuh waktu berhari-hari. Itupun kalau perjalanan mulus.


“Kalian, siapkan jawaban.” Sem meminta rekannya agar mulai berpikir jika kuis sudah muncul, sekali mereka menjawab salah. Maka akan kembali ke titik semula. Tentunya akan bertemu singa itu lagi.


Sem akhirnya menyentuh portal putih yang mengambang di tepian danau. Portal itu mengeluarkan sinar lebih terang. Aku dan Deni sudah bersiap akan berpikir, pertanyaan soal angka jelas akan menguras pikiran. Cahaya pada portal menyilaukan wajah, beberapa pasir yang ada di bawah sedikit ikut terangkat. Bagian tengah portal beralih fungsi menjadi layar besar, ada satu pertanyaan tertulis disana.


“Kami punya Joni disini, pertanyaan apapun tentu tidak akan sulit.” Deni menganggap enteng.


“Apa pertanyaannya? Aku sama sekali tidak bisa membaca, itu bahasa pemograman.” Aku mengeluh setelah memperhatikan layar besar di depannya. Itu sama sekali bukan tulisan latin.


“Itulah fungsi aku disini. Akan aku terjemahkan.” Sem memperhatikan lebih serius. “SIAPA PENEMU ANGKA NOL?”, Sem lantas tersenyum. “Ini pertanyaan pembuka, tidak terlalu sulit. Kau pasti tahu jawabannya, Jon.” Sem seakan sudah tahu jika aku mengetahui jawaban itu sejak dia mengucap angka nol.”


“Kau mengetahuinya, kawan?” Deni menatapku, penuh harap.


“Ya, aku tidak menyangka pertanyaan pertama semudah itu. Orang itu adalah Al-Khawarizmi, lebih lengkapnya Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi.” Aku selesai menjawab pertanyaan, Sem menterjemahkannya. Lantas layar besar di depan mereka kembali seperti sebelum pertanyaan itu muncul. Sem kembali menyentuhnya.


“Ini sudah terbuka, kita bisa masuk sekarang.” Sem melepaskan sentuhannya.


Aku dan Deni mengangguk. Baiklah, ayo masuk!

__ADS_1


__ADS_2