The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 30: TIGA PULUH (END)


__ADS_3

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Remang.


Senyap.


Perlahan semuanya nampak terang. Ruangan ini terlihat serba putih. Dinding putih, langit-langit putih, lantai putih, tirai putih, kasur dan seprai putih. Bahkan bohlam lampu pun terlihat semakin putih.


“Kau sudah siuman?” Seseorang yang juga berpakaian putih menyapa. Tersenyum.


Aku menoleh. “I-n-i d-i-m-a-n-a?”


“Kau di rumah sakit. Temanmu ada di sebelah.” Dokter itu menunjuk ke ranjang d sebelah. Aku dan Deni satu ruangan.


Rumah sakit? Itu artinya portal itu benar-benar mengantar kami pulang. Aku mengusap wajah. Kami berdua beruntung. Aku pikir sudah tidak ada jalan lagi, kami akan terjebak di dalam game itu selamanya. Sekali lagi aku menoleh, Deni baik-baik saja. dia hanya tertidur. Lengannya diinfus, sama sepertiku.


“Orang tua kalian akan sudah dihubungi. Mereka akan segera datang.” Dokter itu kembali tersenyum.


Aku menatap dokter itu lamat-lamat. Meminta penjelasan lebih detail bagaimana kami bisa tiba di rumah sakit.


Tersenyum. “Aku tidak begitu mengerti tentang game. Tapi kenapa kalian bisa di tempat ini, bisa kujelaskan.” Dokter itu membenarkan kerah baju, memperbaiki posisi duduknya yang berdekatan dengan tempatku berbaring. Deni di sebelah masih tertidur.


Aku menelan ludah. Bagaimana dengan cabang perusahaan game itu? Apa yang terjadi? Bagaimana petugasnya? Bagaimana dengan player game yang lain? Banyak sekali pertanyaa membuncah dalam pikiranku.


“Aku hanya bisa menjelaskan tentang kalian. Selebihnya soal game, perusahaan, orang-orangnya, aku tidak tahu. Kalian ditemukan petugas pemadam kebakaran terkapar di tengah-tengah reruntuhan. Mengenaskan, kalian seperti tidak makan beberapa hari. Tubuh kalian sangat lemah, tidak sadarkan diri. Mereka langsung membawa kalian berdua dengan ambulans ke tempat ini. Soal bangunan itu, mereka mengatakan roboh terkena ledakan. Semuanya hancur. Aku sendiri sebenarnya heran. Tubuh kalian sama sekali tidak terkena luka bakar atau semacamnya, padahal kalian tepat berada di tengah-tengah lokasi ledakan.” Dokter itu mengambil nafas sejenak.


Tentu saja. Kami mungkin diantar portal itu beberapa menit sesudah ledakan. Atau mungkin beberapa jam sesudahnya.


“Sebaiknya kalian istirahat. Jangan terlalu banyak bergerak. Tubuh kalian masih lemah. Aku sudah periksa lambung kalian, tidak ada masalah soal mag. Semuanya aman. Terkendali.” Dokter itu menangkupkan kedua tangan, pamit hendak keluar. Mengurus pasien lain.


Aku sekali lagi menyapukan pandangan ke sekitar. Senyap. Pendingin ruangan berdesah pelan. Entah ini ada di lantai berapa dan rumah sakit mana. Sejak kecil, aku memang jarang sakit yang mengharuskanku dibawa ke rumah sakit. Karenanya, aku tidak tahu selok belok rumah sakit manapun di kotaku. Terlepas dari semua itu, hatiku sebenarnya terbagi menjadi dua rasa. Senang, karena kami berdua bisa pulang dengan selamat. Tidak ada laki berkelahi dengan pukulan tekanan angin, tidak ada lagi tebasan pedang Deni yang bercahaya, tidak ada lagi bising suara peluru. Sedih, karena kami harus berpisah dengan Nin, berpisah dengan Sem. Mereka seperti nyata. Walaupun aku tahu, itu hanya program yang dibuat untuk membantu kami menyelesaikan misi dalam permainan.


Di ranjang sebelah. Deni terlihat mengeliat, dia tidak mengerjap-ngerjap sepertiku. Deni langsung terkejut, hampir meloncat.


“Tenang, Den. Kita ada di rumah sakit. Kita sudah pulang.” Aku mengangkat tangan, mencoba menenangkan. Sebenarnya itu lucu, baru saja dia bangun tidur, sudah harus tersengal.


“Rumah sakit mana? Apa negara awan punya rumah sakit? Atau ini rumah Nin?” Deni belum menyadari.


“Ini rumah sakit di kota kita. Atau rumah sakit di—entahlah. Yang jelas kita sudah pulang.” Aku tersenyum, mencoba menjelaskan. Deni sudah mulai tenang. Mengelus-elus dadanya sendiri. Sekejap kemudian dia menunduk.


“Ada apa, Den?” Aku bertanya lagi.


“Bagaimana dengan Nin?” Suara itu pelan, teramat pelan.


Aku diam sejenak. “Dia mungkin sudah pulang. Diantar Lod.” Deni mengangguk. Kembali merebahkan badan di kasur dengan seprai putih.


“Apa yang akan dikatakan orangtua kita, Jon?” Deni bertanya, matanya menatap langit-langit ruangan.


Aku mengangkat bahu. Entahlah. Marah? Khawatir? Sedih? Rindu? Semuanya mungkin ada.

__ADS_1


“Apapun boleh. Asalkan jangan marah.” Deni menyeringai. Aku tertawa mendengarnya.


“Ini bukan salah kita, kan? Ini murni kesalahan konsol game. Kalau saja portal itu tidak rusak, sore itu kita sudah pulang ke rumah.”


“Ya. Dan ada kemungkinan kita akan kembali ke perusahaan itu lagi esoknya. Tetap saja kita akan terjebak, kan?” Deni tertawa. Aku menanggapinya dengan tersenyum.


Hening sejenak.


“Hei, Den. Kau bisa ambil remote Tv itu.” Aku menunjuk remote tv yang diletakkan di dekat kapala di atas ranjang Deni. Dari tadi aku hanya melihat layar LCD TV berwarna hitam menggantung di dinding ruangan ini. Mungkin ada berita soal ledakan itu.


Deni menghidupkan layar. Acara musik.


“Ganti, Den. Mungkin ada berita tentang kita dan perusahaan itu.” Aku meminta Deni mengganti channel. Deni menekan-nekan tombol di remote itu. Channelnya berganti-ganti. Kartun, drama, sinetron, talk show, dan berita. Nah, berita. “Berhenti, Den.” Deni memberhentikan gerakan jemari tangannya. Meletakkan remote itu ke samping.


Inilah berita yang aku inginkan. Penjelasan semua kejadian sejak kami terjebak di dalam game. Nampak seorang reporter sedang melakukan siaran langsung, tepat di depan perusahaan pembuat game yang hancur. Tempat kami bermain beberapa hari sebelumnya. Nampak sekali, di belakang reporter itu berdiri, bangunan itu rata dengan tanah. Hanya menyisakan reruntuhan dan puing-puing. Di beberapa bagian, masih mengepulkan asap. Terlihat juga petugas pemadam kebarakan sibuk bekerja.


“Kami melaporkan langsung dari lokasi kejadian. Kebakaran dari ledakan tiga hari lalu hari ini berhasil dijinakkan. Pemirsa, seperti yang kami beritakan sebelumnya, ledakan ini bukan hanya menghancurkan anak perusahaan pembuat game, tapi menjalar beberapa rumah di sekitarnya. Menurut catatan kami, ada dua belas unit rumah yang ikut terkena dampak ledakan. Sementara untuk perusahaan di belakang kami ini tim medis mengatakan tidak ada satu orangpun karyawannya yang selamat, termasuk petugas keamanan. Kecuali dua orang remaja yang bermain game di tempat ini. Tadi siang, mereka sudah dibawa ke rumah sakit. Tim medis mengatakan mereka selamat. Para korban ledakan yang tewas itu sudah di bawa ke rumah sakit dan sebagian sudah dikuburkan oleh keluarganya.”


“Itu berarti, Om petugas yang menjelaskan game saat kita hendak bermain, memilih game yang akan dimainkan, dia juga tidak selamat.” Deni menunduk, menatap seprai berwarna putih.


Aku mengangguk. Di sisi lain yang tidak kami ketahui, petugas itulah sebenarnya yang berusaha menyelamatkan kami. Dia berusaha membuat portal di ujung scene. Portal berwarna merah yang membawa kami pulang yang dilihat Lod adalah portal yang ia ciptakan di ruang kontrol, beberapa saat setelah dia mengatakan kepada kami pada saat di negara Sabana bahwa sistem log out sudah tidak berfungsi. Petugas itu bergegas mencari jalan keluar, berusaha menyelamatkan kami. Hanya membuat portal itu yang mampu ia lakukan. Tapi itu semua harus dibayar mahal. Sistem kelebihan beban. Ledakan itu tak bisa ditahan. Semua hancur. Meledak. Tepat setelah petugas itu berhasil mengunci portal yang ia tempatkan di negara awan. Walaupun portal itu sering muncul tenggelam karena belum sempurna, tapi faktanya portal itulah yang membawa kami pulang.


Di layar TV, terlihat reporter itu membenarkan alat komunikasi yang di ada di telinga. Sepertinya ada panggilan masuk. Mengangguk-angguk. Bersiap menyampaikannya kepada pemirsa.


“Baik, pemirsa. Kami baru saja mendapatkan informasi bahwa badan antariksa dunia, National Aeronautics and Space Administration(NASA) mengadakan konfrensi pers di markas pusat mereka di Washington D.C. Mereka menanggapi ledakan yang terjadi beberapa hari kemarin. Dan menurut informasi mereka juga menemukan fakta baru tentang game yang saat ini paling diminati di dunia khususnya di Asia. Untuk infromasi lebih jelasnya kami akan tayangkah gambar yang kami terima beberapa saat yang lalu.”


“Kami dari pihak NASA mengaku sangat prihatin, melihat kondisi korban ledakan akibat kelalaian itu. Itu jelas sebuah kelalaian, kelalaian yang mengakibatkan nyawa orang lain melayang. Dari awal, dunia sudah menentang kehadiran game yang menggunakan tubuh sendiri sebagai player. Dalam hal ini, kami sangat mengapresiasi langkah Jepang yang sangat memperjuangkan menolak mentah-mentah kehadiran game tersebut. Dalam kesempatan ini juga, kami ingin menyampaikan sebuah berita yang akan membuat anda gemetar beberapa saat. Berita ini adalah fakta. Kami sudah mengumpulkan beberapa bukti kuat dari berbagai agen kami yang terjun langsung ke lapangan. Tentu kami tidak ingin menyebutkan siapa mereka. Mereka sudah melakukan penelitian sejak game berbasis portal itu pertama kali diluncurkan. Dan hari ini, mereka sudah mendapatkan satu kesimpulan.”


Satu kesimpulan? Fakta? Aku dan Deni diam, menatap tak berkedip layar tv di dinding ruang rumah sakit. Deni bahkan beberapa kali mengusap wajah.


“Seperti yang diketahui belakangan. Kami memang sedang gencar menemukan planet baru yang bisa dihuni manusia. Kami juga sedang giat-giatnya melakukan penelitian terhadap ratusan planet yang mirip Bumi dengan persentasi tertinggi kemungkinan manusia bisa bertahan hidup di sana. Untuk saat ini, kami lebih mengarahkan penelitian kepada planet Kepler 452b, salah satu planet yang mirip dengan Bumi. Disinilah faktanya. Kami memang tidak menyukai game itu menyertakan portal saat bermain, membawa tubuh sendiri masuk ke dalam game, itu terlalu berbahaya. Tapi kami bermaksud membuat portal itu sebagai alat transportasi antar planet. Planet Kepler 452b itu tidaklah sedekat jarak Bumi dengan bulan, atau Bumi dengan Neptunus, jarak antara Bumi dengan Kepler 452b adalah 1.400 tahun cahaya. Ukuran planet itu dua kali lipat lebih besar daripada Bumi dengan masa orbit 385 hari. Jika menggunakan portal, kita bisa tiba di sana hanya dalam beberapa detik. Dan itu sudah dilakukan oleh beberapa anak-anak penyuka game.”


Aku mengusap dahi. Sudah dilakukan? Apa maksudnya? Deni disebelahku juga terdiam, bertanya-tanya. Dan aku yakin, hal serupa juga terjadi di luar rumah sakit ini. Bukan hanya penyuka game, tapi semua orang. Mereka akan terkejut mendengar pernyataan itu.


“Mereka yang bermain dengan konsol VG.10 V.2 itu sebenarnya tidaklah memasuki dunia virtual yang diciptakan. Tapi mereka bermain langsung di planet Kepler 452b, walaupun ada sebagian tempat yang dimodifikasi menggunakan program tambahan untuk menimbulkan kesan bahwa itu benar-benar berada di dunia virtual. Mereka memanfaatkan portal itu untuk berpindah langsung antar planet. Kita tahu, planet itu memang mirip dengan Bumi. Gurun, hutan, padang sabana, lautan, semuanya memang mirip. Semua itu akan dijelaskan nanti oleh yang penemu konsol game berbahaya tersebut dari Asia Tenggara. Karena itu bukan bagian kami, walaupun kami sudah tahu fakta itu. Kami senang, dia siap mengakui segalanya.”


Aku dan Deni saling toleh. Benarkah apa yang dikatakan petinggi NASA itu? benarkan kami sudah menginjakkan kaki di planet Kepler 452b? Tunggu. Ini belum pasti. Masih ada penjelasan dari penemu dan pembuat game itu langsung. Kalaupun itu benar-benar planet Kepler 452b, bagaimana mereka menjelaskan soal Sem dan Nin? Bagaimana soal pedang dan anak panah itu? Soal peluru? Dan hal-hal lainnya.


“Bukankah itu keren, Jon? Kita mungkin dua orang anak yang menjadi orang pertama menginjakkan kaki di planet itu” Deni terkekeh. Seprainya bergoyang.


Aku mengangguk. Itu benar. Di satu sisi, kami memang beruntung. Bisa menikmati keindahan planet itu berdua. Tidak banyak orang yang seberuntung seperti kami. Tapi di sisi lain, itu akan membuat negara di Asia Tenggara akan diboikot oleh negara luar. Mereka akan menganggap itu sebagai penyalahgunaan portal. Karena hanya NASA yang diberi wewenang mengangkut manusia ke planet lain dengan menggunakan portal. Negara-negara Asia Tenggara akan mendapat kecaman keras dari dunia luar.


Beberapa menit kemudian, gambar di layar berganti. Reporter awal yang menyampaikan berita itu kembali berbicara.


“Pemirsa, beberapa saat lagi kita akan menyaksikan secara langsung konfrensi pers ataupun penjelasan langsung dari sang penemu sekaligus pemilik perusahaan konsol game terbesar di Asia Tenggara terkait fakta yang dikatakan oleh pihak NASA beberapa saat yang lalu. Dan ini tentunya benar-benar akan ditunggu oleh pencinta game di seluruh Asia, bahkan dunia.”


Beberapa kejap kemudian gambar di layar Tv kembali berganti, namun masih tetap dengan suara reporter itu memberikan sedikit penjelasan. Pemilik konsol game hebat itu bersiap melakukan wawancara dengan beberapa wartawan.

__ADS_1


“Selamat sore. Kami dari pihak pemilik konsol game VG.10 V.2 akan menjelaskan detail game yang kami buat, sekaligus kami juga akan menanggapi tuduhan NASA beberapa saat yang lalu. Yang pertama, masalah bahaya. Kami tidak sepakat jika game ini berbahaya. Itu tergantung player sendiri. Fasilitas log out kami sediakan ditambah dengan banyaknya menu continue. Hanya saja, beberapa hari lalu kami kurang beruntung. Portal itu rusak dan itu bukan human error. Itu murni kesalahan sistem. Kedua, soal fakta dunia virtual. Kami mengakui, tidak ada dunia virtual yang kami buat. Arena game itu memang planet Kepler 452b yang di beberapa scene kami modifikasi. Termasuk soal orang-oramg yang ada di dalamnya, bangunan-bangunan, senjata, dan segalanya. Itu sebagai pelengkap game. Tidaklah sulit melakukan itu semua dengan tekhnologi sekarang. Kami rasa itu cukup sebagai penjelasan.”


Pemilik sekaligus penemu konsol game itu beranjak. Menolak diminta wartawan untuk meneruskan wawancara. Konfrensi pers selesai dengan singkat.


Ruangan itu terasa pengap. Aku dan Deni terkesiap. Kami memang benar-benar berada di planet Kepler 452b. Diam sejenak. Deni menoleh.


“Aku rasa itu tetap keren, Jon.” Suara itu terdengar lemah. Tidak yakin.


Aku tersenyum. “Tentu saja. Game itu keren karena aku memiliki pukulan yang mampu merobohkan seratus singa sekaligus.”


“Hei, bukankah itu karena tebasan pedangku yang mampu memotong apa saja. Ditambah lagi, aku mungkin salah satu karakter tertampan.” Deni menyeringai sok-keren.


Aku berusaha menimpuk Deni, melemparkan bantal, tapi tak sampai. Deni tertawa. Dari layar televisi, reporter itu menutup siaran langsungnya dan berjanji akan terus memperbaharui informasi soal VG.10 V.2. Ditambah dengan informasi baru yang menarik perhatian mereka, transportasi antar planet menggunakan portal. Berita itu akan menarik banyak perhatian penduduk Bumi. Siapa yang tidak ingin melihat kembaran Bumi dengan bentang alam yang masih asri. Tapi tidak bagi kami, aku dan Deni sudah pernah ke sana.


Saat kami berusaha bertengkar lebih jauh soal aksi siapa yang paling keren di dalam game itu, pintu ruangan diketuk dari luar. Orangtuaku dan Deni datang. Kami berdua sontak tersenyum kecut serempak. Dokter tidak menemani masuk ke dalam. Tidak ingin tahu sikap orangtua kepada anaknya yang beberapa hari menghilang. Lebih tepatnya tidak ingin terlibat.


Satu hari setelah konfrensi pers dua kubu itu. Dunia, melalui PBB memutuskan melarang negara Asia Tenggara melanjutkan proyek game berbasis portal. Semua hal yang berkaitan dengan konsol game pabrikan Asia Tenggara ditarik dari pasaran. Hasilnya, konsol game produksi Jepang akan kembali merajai pasar. Terlepas dari dunia game, Asia Tenggara tidak kalah bersaing dengan negara lain soal tekhnologi. Kecanggihan-kecanggihan itu tetap menyelimuti setiap jengkal kehidupan. Rumah, sekolah, pusat perbelanjaan, rumah sakit, kantor-kantor, semuanya tidak terlepas dari satu kata, tekhnologi.


Sore itu, menjelang matahari tenggelam, dua hari setelah kami berhasil selamat dari game. Dokter rumah sakit mengizinkan kami berdua pulang. Peralatan infus sudah dilepas. Ayah Deni mengurus semua keperluan administrasi rumah sakit. Besok pagi, kami akan menjalani hari normal seperti biasanya. Sekolah. Tidak ada lagi tidur dengan menatap gemintang di langit malam, tidak ada lagi daging kijang panggang, dan tidak ada lagi desing peluru berdebam yang memekakkan telingan.


Di lorong rumah sakit, kami berjalan bersisian. Deni sempat berceloteh.


“Jon, apa kau tidak menemukan kejanggalan pada game VGA itu?” Deni menatapku. Tersenyum semringah.


Aku menoleh. “Kejanggalan apa?”


“Dari awal sejak memilih game itu, kita dijelaskan jika game itu bercerita tentang korupsi. Nah, sekarang apakah selama bermain game kau menemukan ada indikasi korupsi?” Deni tertawa. Itu sebenarnya pertanyaan yang masuk akal.


Aku diam sejenak, mengusap tengkuk. Mengingat-ingat. Kami terus berjalan, Deni menunggu tanggapan.


“Mafia itu bisa digolongkan korupsi, kan?” Aku tertawa. Tidak tahu di bagian scene mana kami menemukan korupsi. Penjualan minyak murah kepada mafia? Penggunaan kerang mutiara untuk kepentingan pribadi, menguasai dunia? Entahlah. Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.


“Mungkin lain kali, mereka harus menyematkan judul yang pas pada game itu.” Deni memangku dagu.


Aku terus berjalan. Meninggalkan Deni yang merenung sendirian di pelataran depan rumah sakit.


“Hei, Jon. Aku sudah dapat judul yang bagus. Mungkin juga keren.” Deni berlari-lari kecil, menyusul. Wajahnya semringah ingin menyebut judul itu.


“Kalau itu berhubungan dengan dirimu yang selalu sok-keren, maka itu tidak akan keren, Den.” Aku terus berjalan. Orang tua kami sudah menunggu di parkiran mobil. Ayah Deni yang memutuskan menjemput kami berdua dengan mobil. Skuter yang aku bawa saat ke perusahaan itu sudah ikut menjadi arang.


“Kali ini tidak ada sok-keren, Jon. Dengar, bagaimana jika judul game itu THE AMAZING JONI?” Tanpa perlu menunggu jawaban, Deni berlari meninggalkanku, memasuki mobil.


Aku menghentikan langkah, terdiam sejenak.


Separuh lingkar matahari tenggelam di ufuk barat. Lenguh burung layang-layang bergerombol pulang. Langit barat yang dibungkus awan itu berwarna jingga. Aku merenung sesaat. Apa tadi yang dikatakan Deni? The Amazing Joni. Aku tersenyum. Judul game itu sungguh keren.


Aku berlari-lari kecil menyusul Joni.

__ADS_1


Cakrawala di tepi barat itu mulai gelap.


__ADS_2