
Hening sejenak. Menyisakan Uhu burung hantu. Longlongan serigala yang merdu juga telah menghilang. Gemintang mengukir formasi menakjubkan di angkasa.
“Itu semua terjadi tadi siang. Peperangan. Kudeta. Prajurit terpecah belah. Semua terjadi begitu cepat. Hingga akhirnya kami bertiga di buang ke tempat ini.” Raja Lan menjelaskan. Raja Lan adalah raja yang terkenal arif, merakyat, disenangi, dan jelas berwibawa. Di balik semua orang yang menyenanginya, tentu ada pulan yang membenci, iri, bahkan dengki.
Raja Lan menunduk. Sendu. Wajahnya lelah, tapi hatinya jauh lebih lelah. Sesak. Kerajaan yang telah lama dipimpinya berpuluh tahun jatuh di tangan musuh dalam selimut. Seseorang yang sudah lama menginginkan kedudukan itu, seseorang yang sudah lama ingin mengambil alih semuanya, seseorang yang sudah merencakannya bertahun-tahun. Menunggu saat-saat yang tepat. Dan siang itu, semua berjalan mulus. Raja Lan telah kalah, raja Lan telah tunduk, raja Lan telah terusir.
“Aku sedih bukan hanya karena kehilangan kerajaan itu. Tapi aku juga khawatir tentang anakku. Entah dimana dia sekarang.” Raja Lan kembali tertunduk, menatap tanah.
“Siapa mereka, Yang Mulia?” Sem mendongak, menatap wajah yang berkabut itu.
Hening sejenak.
“Tidak perlu seformal itu, anak muda. Kau cukup panggil aku Lan. Aku sudah bukan seorang raja.” Raja Lan mencoba tersenyum.
Sem mengusap tengkuknya. Sementara Deni sibuk memperhatikan kedua orang yang berada yang di samping raja Lan. Matanya menyelidik. Aku menyikut bahunya. Hentikan itu, Den. Mereka mungkin punya pangkat tertinggi di kerajaan. Tentu bukan orang kecil yang bisa menemani raja hingga sampai di hutan.
“Namanya Has. Dia sebenarnya adalah seorang panglima pasukan. Dia mengepalai ratusan pasukan. Anak buahnya banyak. Dan aku selalu bisa mempercayainya dalam urusan yang sulit. Dia selalu bisa diandalkan. Tapi siang itu, aku sama sekali tidak menduga. Di balik kepatuhannya, tersimpan ambisi yang gelap, jahat. Dia mengendalikan hampir 90% pasukan kerajaan untuk mengkudeta. Kami kalah jumlah. Aku ditangkap, dibuang di ke tempat ini. Diasingkan.” Raja Lan diam sejenak, menarik nafas panjang.
“Belakangan aku mengetahuinya. Dia adalah satu-satunya antek kerajaan yang menjalankan bisnis dengan orang luar. Dia pelaku bisnis ganja. Semua ganja itu dijual dengan harga murah kepada para pasukan. Keuntungan yang dia dapatkan tidak sedikit. Tapi karena kolega bisnisnya tewas beberapa hari yang lalu. Dia menghentikan bisnis itu, lantas merealisasikan rencana kudeta lebih cepat dari jadwal. Lewat obat terlarang itulah, dia dengan mudah mengendalikan. Ganja itu sudah mengendalikan lebih dari separuh pasukan kerajaan. Mereka kecanduan. Tunduk kepada Has. Dengan mudah, Has menghasut semuanya.” Raja Lan kemudian terdiam. Mulutnya sudah kelu.
Senyap.
***
Siang itu. saat portal antar negara terbuka, saat rombongan Joni masuk ke dalam negara tanpa harus melewati kuis yang memusingkan. Sesuatu yang besar terjadi di kerajaan. Sesuatu yang akan tercatat dalam sejarah kerajaan di negara Hutan Hujan Tropis. Sesuatu yang mengubah segalanya.
Di ruang bawah tanah. Tempat berkumpulnya pasukan dan antek-antek kerajaan. Has menyusun strategi.
“Kalian semua! Berjanjilah untuk setia hanya kepada satu pemimpin! Dan itu adalah orang yang akan membuat kalian bisa hidup lebih baik, lebih layak, lebih sejahtera. Berikan bai’at kalian kepada tuan Has!” Seorang pengawal berseru lantang.
HIDUP TUAN HAS..!! HIDUP TUAN HAS..!!
“Apa Rem belum kembali?” Has bertanya.
Pengawal itu menggeleng sopan. Tidak tahu. Rem memang misterius di antara para pasukan. Sangat sedikit ada pasukan yang mengenalnya. Rem juga jarang berinteraksi. Dia hanya sering bercakap dengan Has. Bisnis ganja. Rem juga kecanduan.
“Aku menyesal mengizinkannya pergi ke hutan sekarang. Tapi tidak masalah. Jumlah kita sudah lebih dari cukup. Rem mungkin sekarang tidak diperlukan. Tapi dia akan berguna nanti.” Has terkekeh puas, yakin sekali dengan kemenangan di hadapan matanya.
__ADS_1
“Siapkan semua senjata kalian!!” Untuk kesekian kalinya, Has kembali berseru.
Saat raja Lan baru saja pulang dari peninjauan lokasi hutan yang terkena pembakaran untuk membuka lahan, penyerangan terjadi. Has dan pasukannya menyerang pasukan lain yang masih setia kepada raja Lan. Has unggul dalam jumlah. Raja Lan kalah dalam kuantitas. Mereka terpojok, namun tetap melawan. Pertarungan sengit terjadi. Raja Lan sendiri dengan gagah perkasa melakukan perlawanan. Dia berhasil menjatuhkan beberapa pasukan kerajaan yang berkhianat. Sementara pasukan yang masih setia membelanya satu demi satu berjatuhan, di tangan Has dan koleganya. Bahkan tidak ada Rem saat seperti itu. Rem juga sedang terlibat pertarungan, dia di cecar puluhan peluru di tengah hutan.
Has dan pengikutnya berhasil menguasai kerajaan tiga puluh menit kemudian. Sebagian pasukan yang mengaku setia dengan raja Lan berpindah haluan, sebagian lagi tewas di tangan Has sendiri karena mencoba melawan. Has sendiri adalah kesatria berpedang yang tangguh. Kemahirannya memainkan pedang sudah dimiliki sejak usia tujuh tahun. Has pernah menaklukkan tiga orang petarung kerajaan pada usia sebelia itu.
Kerajaan itu hancur, porak poranda. Kiani raja terjungkal, lantai pualam tergores, karpet mulus sobek, dinding-dinding penuh dengan bercak darah, kaca-kaca pecah, lampu gantung dan hias berguguran. Lebih parah daripada gempa tektonik.
“Bersihkan mereka semua! Kuburkan mayat-mayatnya! Bila masih kalian temukan mereka yang mencoba melawan, potong lehernya! Hadapkan raja Lan kepadaku sekarang juga!” Has berseru, pedangnya sudah tertidur rapi di dalam sarung.
Dua orang menyeret raja Lan kehadapan Has. Satu lagi mengikuti di belakang. Tubuh tua itu sudah lebam terkena pukulan.
“Kau pasti sudah mencium semua rencanaku ini, kan? Tapi kau terlalu lemah, kau terlalu mempercayaiku. Menganggap semuanya akan baik-baik saja. Kau membiarkanku mengambil banyak para pasukanmu. Seolah aku adalah pengikutmu paling setia. Kau lihat sekarang? Apa yang dapatkan dari sifat lembekmu itu, Lan!?” Has menjongkok, menatap raja Lan yang sudah terkulai.
“Aku sama sekali tidak berniat membalasmu, Has. Kau akan dapatkan balasan itu sendiri.” Raja Lan menjawab datar.
“Cih! Hari ini, semua ini adalah milikku, Lan. Kau sudah bukan apa-apa, hanya orang tua yang tidak berguna. Kau bahkan kehilangan anakmu satu-satunya.” Has ternyum, menghina. Wajahnya menyeringai, penuh kemenangan.
“Dialah orang yang akan membalas perlakuanmu kepadaku, Has.” Raja Lan masih menanggapi datar. Tubuhnya sulit digerakkan, dua orang pengawal itu mencengkram kuat ujung-ujung pakaiannya.
“Membalas? Membalas, Lan? Selama aku berada di kerajaan ini. Aku hanya pernah sekali melihat anakmu. Itupun saat dia lahir. Ibunya tewas karena pendarahan. Entah apa yang terjadi setelah itu. Dia lebih memilih kehidupan di alam liar, berteman dengan hewan penunggu hutan. Akupun tidak tahu, mungkin dia sudah lama menjadi sarapan harimau buas.” Has tertawa.
“Buang dia ke hutan. Mungkin disana dia akan menemui anak yang dia banggakan itu.” Has memerintahkan dua orang pengawal itu kembali menyeret raja Lan, membuangnya ke hutan.
Kejadian itu begitu cepat. Saat itulah, raja Lan di asingkan ke hutan. Beruntung, ada dua orang pengawal setianya berhasil lolos dari kerajaan. Mencarinya ke tengah rimbunnya pepohonan. Mereka berdua berhasil menemukannya. Saat itu, raja Lan hanya terdiam kaku, duduk bersandarkan pohon kayu yang sudah tua, sama seperti usianya. Dua pengawal itu, dengan persetujuan dari raja Lan. Satu dari mereka mengajak raja Lan mencari tempat yang aman, satunya lagi kembali ke kerajaan, menyelinap, mengawasi. Di tengah malam, raja Lan dan satu pengawalnya berjalan tanpa henti. Membawa luka, membawa hati yang pilu. Pengawal itu benar-benar setia. Bahkan mereka berdua menerabas lebatnya hujan di tengah malam.
Saat itulah, Raja Lan dan satu orang pengawal setianya menemukan tiga orang yang camping di hutan.
***
“Kalau begitu, kami akan membantu.” Deni sudah tidak mengantuk, tidak ngawur.
“Mereka semua petarung yang hebat. Kita pasti akan kalah jumlah.” Salah seorang pengawal yang setia itu angkat bicara.
“Kita tetap akan mencoba mengambil kerajaan itu. Kerajaan adalah milik raja Lan. Tidak sepantasnya seseorang yang menjalankan bisnis terlarang menjadi pemimpin. Tidak etis. Benar-benar tidak masuk akal. Mau jadi apa negara ini.” Deni sudah mulai bersemangat, lupa kalau dia pernah mengatakan ingin tidur hingga cahaya matahari sendiri yang akan membangunkan.
“Aku hargai itu, anak muda. Tapi ini semua tidak mudah. Kita harus mengumpulkan kekuatan.” Raja Lan menetap Deni, penuh penghargaa. Deni tersipu.
__ADS_1
“Kudeta akan dibalas dengan kudeta. Jika bicara soal kekuatan, kami bertiga sudah cukup untuk itu, tuan Lan.” Sem mengangkat tangan.
Demi mendengat antusias itu, raja Lan terkekeh. Dia mengangguk-angguk percaya. Semangat anak muda memang selalu membara. Tapi raja Lan masih tidak yakin akan kembali bisa merebut kerajaan itu dari tangan Has. Karena di belakang Has, ada seseorang dengan kekuatan yang lebih hebat lagi. Seseorang yang mampu menahan dan membuat peluru seorang sniper kembali kepada tuannya.
Waktu berjalan cepat, seperti peluru sniper. Semburat merah sudah muncul di ufuk timur. Cakrawala bersinar. Bintang-gemintang kalah oleh cahaya itu, mereka meredup. Pagi akan segera menyingsing. Perencanaan kudeta balik itu akan dilakukan hari ini. Setelah sarapan pagi. Dua orang pengawal itu bersedia mencarikan sarapan, buah-buahan hutan yang bisa dimakan. Serta air sungai yang jernih. Mereka tidak memerlukan identifikasi cepat melalui jam tangan canggih seperti kami untuk mengetahui buah itu beracun atau tidak. Mereka sudah terlatih.
Setengah jam, sarapan itu berlangsung akrab. Diselingi dengan senda gurau. Sesekali tertawa bersama. Itu bagus. Raja Lan bisa melupakan sejenak soal kerajaannya yang jatuh ke tangan orang yang tak sepantasnya mengungkung kerajaan, sementara aku dan Deni bisa melupakan sejenak dunia tempat kami berasal. Sementara Sem? Entahlah. Dia sepertinya yang tidak punya masalah disini.
Matahari beranjak naik, barangkali sejengkal. Cahayanya menembus sela-sela dedaunan. Lingkarannya tak terlihat, terdinding tebalnya pepohonan. Kicauan burung pagi menggema memenuhi langit-langit hutan. Aktifitas pagi para hewan sudah dimulai. Pagi itu cerah.
Kami berenam duduk santai di tepian sungai. Airnya jernih, ikan-ikan berenang mendekat. Pembicaraan santai.
“Sekarang apa rencananya?” Sem bertanya, sangat antusias. Sarapan itu sudah berakhir beberapa kejap yang lalu.
“Kita mungkin masih punya beberapa pasukan yang disetia di kerajaan saat ini. Mereka hanya terpaksa mengikuti kemauan Has. Saat kita kembali kesana, kita mungkin bisa membujuknya.” Salah seorang pengawal raja Lan menjawab.
“Jumlah komplotan Has saat ini mungkin ratusan. Ditambah lagi, ada seseorang yang setara dengan ratusan itu di belakangnya.” Pengawal yang lain menambahkan.
“Setara? Ratusan?” Aku mendongak, menoleh kepada pengawal itu.
“Benar. Ada seseorang yang sebenarnya lebih kuat daripada Has. Sudah lama aku mengetahuinya, dia punya kemampuan yang unik. Bisa muncul di suatu tempat secara tiba-tiba. Entah apa nama kemampuannya itu.” Raja yang menjawabkan, menoleh, lantas menarik nafas berat.
“Itu akan sebanding denganmu, Jon.” Sem menatapku, tersenyum.
Aku mengangkat bahu. Entahlah. Kita belum tahu seperti apa kekuatan Rem itu. Mungkin saja saat ini dia sedang mendengarkan pembicaraan ini. Bukankah dia bisa berpindah tempat dengan cepat. Kalau raja Lan sendiri yang mengatakan itu, berarti musuh utama saat ini bukan hanya Has. Tapi juga Rem.
Hening sejenak.
“Tapi aku rasa kita masih punya satu tambahan kekuatan.” Raja Lan diam sejenak, merasa kurang yakin dengan apa yang dikatakannya.
Kami bertiga menoleh.
“Dia seorang yang hebat. Ahli senjata.” Raja Lan memutuskan tidak membicarakannya terlalu banyak. “Mungkin dia bisa membantu. Tapi Entahlah.” Raja Lan mengangkat bahu. Tidak terlalu berharap.
“Mungkinkah_?” Sem tercekat.
“Ada apa, Sem?” Aku bertanya.
__ADS_1
“Tidak. Tidak ada.”
Aku terdiam, menatap aliran sungai yang tenang. Senyap.