
Lima belas menit berlalu lagi. Ini sudah lewat jam makan siang. Matahari sudah bersiap-siap untuk tumbang, menuruni cakrawala. Sinarnya juga sudah mulai meredup.
“Hei. Lihatlah!” Sem menunjuk ke depan.
Ada sebuah bangunan yang bentuknya berbeda dari bangunan lain. Lebih besar, lebih tinggi, dan lebih megah. Tidak salah lagi, itu adalah gedung pemerintahan. Tapi untuk saat ini, tujuan kami ada toko. Meskipun harus megambil jalan lain. Memutar.
Di sudut lain. Bersebarangan dengan gedung itu ada sebuh bangunan kecil dengan car warna biru mencolok. Di bagian atas pintu depan terpampang tulisan SEA SHOP. Inilah tempat yang kami cari. Ternyata tempatnya tidak jauh dengan tujuan yang hendak kami datangi.
“Bangunan ini terlihat kecil sekali. Pasti di dalamnya sempit dan pengap sama seperti goa tempat kita bersembunyi dari kawanan penunggang kuda laut.” Deni bergumam.
“Sudah. Lupakan itu. Apa kau tidak takut? Mungkin saja ada salah seorang pengunjung toko ini anggota prajurit kerajaan, kan? Lagi pula kita hanya ingin membeli makanan dan pedang, kan? Ayo masuk.” Aku membujuknya berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak.
Deni mengangguk. Sem dan Nin sudah masuk lebih dahulu. Hanya Deni yang terlalu sibuk menggerutu.
Dugaan Deni soal toko ini sempit dan pengap tidak terbukti. Ruangan yang ada ternyata memanjang ke bawah tanah. Ruangan paling atas itu hanya seperti beranda di dalam ruangan. Selanjutnya berjejer anak tangga menurun ke bawah menuju ruangan yang tiga kali lebih luas. Di belakang meja pelayanan, berdiri seorang kasir dengan senyumnya yang manis. Usianya mungkin di atas 40 tahun, tapi masih cekatan melayani pembeli. Wajahnya juga seperti kebanyakan penduduk negara ini, memiliki insang di bagian pipi dan rahang.
“Selamat datang.” Sapaannya ramah.
Berempat, kami mengangguk bersama.
“Silakan melihat-lihat. Jangan ragu untuk membeli. Kualitas barang di toko kami adalah yang terbaik.” Petugas itu terus menimpalkan senyum memikat. Berusaha menarik siapapun agar membeli barang dagangannya.
“Apa disini menjual pedang?” Deni bertanya.
Petugas itu diam sejenak. Mencoba mengingat-ingat. “Pedang ya? Emm.. Sepertinya ada. Sebentar.” Petugas itu menuju ke belakang, membuka pintu khusus petugas toko.
Kami menunggu beberapa saat. Petugas itu kembali dengan membawa benda berkilau. Tidak salah lagi. Itu jenis pedang besar yang melegenda. Goujian. Pedang yang berasal dari dinasti Yue itu ternyata ada di dalam game ini. Keren.
“Kami sebenarnya sudah lama tidak menjual benda-benda seperti ini. Pemerintah memproduksinya sendiri dan menjual ke negara lain melalui pasar online. Toko-toko seperti kami kalah bersaing.” Petugas itu meletakkan pedang yang masih tertidur dalam sarungnya di atas meja kasir.
Demi melihat pedang legenda itu. Deni menatap tak berkedip. “Berapa kami harus membayar?”
“Itu hanya pedang kuno yang sudah lama dilupakan. Kalian bisa mendapatkannya gratis.” Petugas itu melepas pedang legenda, menyerahkannya kepada Deni. Deni beranggapan lain, meski pedang itu sudah terlupakan, yang penting masih bisa menebas beberapa musuh.
Pedang yang disebut-sebut tak pernah berkarat itu seperti mengeluarkan cahaya. Menerima tuan barunya. Deni merasakan energi pedang itu masuk melalui celah pori-pori telapak tangannya, meresap. Terasa hangat. Semangat yang disampaikan pedang itu terasa membakar dada. Seolah pertempuran ini adalah ajang bangkitnya Goujian dari tidur panjang.
“Kalau begitu kami pesan makanan.” Sem memesankan beberapa makanan. Sementara aku, Deni dan Nin beranjak mencari tempat duduk.
Makanan di toko ini sederhana. Hanya daging ikan kecil yang di goreng biasa. Masing-masing mendapat satu porsi. Tidak ada nasi, tidak ada sayur, tidak ada hidangan pembuka dan penutup. Tapi ini cukup untuk mengganjal perut yang sudah terlewat dari jam makan siang.
“Ini adalah makanan pokok penduduk setempat. Harganya murah.” Sem tersenyum, ikut duduk bersama kami. Meja dengan empat kursi itu berbentuk lingkaran sempurna.
“Ikan? Makanan pokok? Bukankah seharusnya sesekali kita makan yang mewah-mewah, Sem?” Deni menyeleuk, matanya tetap memandangi pedang yang baru ia dapatkan itu.
“Kau seharusnya bersyukur, Den. Beruntung pedang hebat itu diberikan secara cuma-cuma. Kalau diminta membayar, apa kau sanggup? Yang aku tahu, harga pedang itu jauh lebih mahal daripada uang hasil memburu satu dua singa liar.” Nin berkomentar.
Deni mengangguk. Mulutnya menirukan cara berbicara Nin. Mengolok-olok.
“Kau bisa menghilangkannya, Den?” Aku bertanya.
“Tentu saja. Lihat!” Deni memegang erat pedang barunya, konsentrasi. Lantas pedangnya menghilang. Sama seperti busur Sem.
Tidak ada lagi yang protes soal makanan. Semua menerima. Karena makanan sederhana sudah kami nikmati sejak berada di negeri Sabana. Sem dan Nin juga sudah terbiasa, dunia ini adalah alam mereka berdua. Apalagi Nin, kehidupannya lebih banyak dihabiskan di tengah ganasnya hutan liar. Makanan seperti ini jauh di atas kata mewah.
“Sekarang apa rencana kita? Sem memulai percakapan.
“Setelah keluar dar tempat ini. Aku akan segera mengambil posisi. Sepanjang perjalanan, aku sudah menemukan tempat yang bagus.” Nin sudah hampir menghabiskan jatah makanannya.
“Itu bagus, Nin. Lalu apa rencanamu, Jon?” Sem menoleh kepadaku.
Aku mengangkat bahu. “Kita akan gunakan cara lama. Menerobos lewat pintu depan.”
Deni yang sibuk mengunyah makanannya spontan mengacungkan jempol. “Amazing, Jon.” Aku tertawa melihat tingkahnya itu.
“Kau masih punya rencana, Nin?” Aku menoleh, bertanya.
__ADS_1
Nin mengangkat bahu. “Sepertinya tidak ada. Hanya itu.”
“Oh, ayolah, Jon. Pasukan berkuda laut itu sebenarnya bukan musuh yang sebanding dengan kita. Kita hanya perlu menendang, memukul, dan menebasnya. Tidak perlu ada rencana khusus.” Deni sudah menghabiskan makanannya. Santai.
“Tapi bagaimana dengan pemimpinnya?” Nin bertanya.
“Nah, itu dia. Silakan kalian pikirkan.” Deni kembali memuculkan pedangnya, terpana beberapa saat. Tidak peduli lagi dengan rencana penyerangan gedung pemerintahan yang sudah berada hampir di depan mata itu.
Dasar Deni. Tidak pernah mau ambil pusing.
Makan siang itu akhirnya selesai. Sem yang membayar. Kami berempat beranjak keluar dari toko yang terlihat sempit dari luar namun luas dari dalam. Tenaga sudah terisi (untuk sesaat di dunia virtual ini). Saatnya penyerbuan.
Belum sempat Nin beranjak mengambil posisi terbaiknya untuk melancarkan aksi serangan jarak jauh, belum sempat ada percakapan setelah keluar dari toko. Jauh dari tempat kami berdiri di depan teras toko. Sebuah bunyi ledakan terdengar. Sebuah rudah meluncur ke atas menuju permukaan air laut yang bergelombang. Permukaan air laut itu membentuk portal menuju-, Astaga, jangan-jangan itu-. Mereka sudah menyerang negara lain. Kami terlambat.
Semua diam terkesiap. Negara mana yang mereka serang? Pasir? Sabana? Hutan Hujan Tropis? Atau negara yang belum pernah kami kunjungi? Tidak ada yang tahu. Portal itu bisa mengarah kemana saja. Atau bahkan dunia manusia.
Hening. Aku yakin seluruh penduduk menyaksikan dari jendela-jendela rumah mereka rudal yang meluncur itu. Rudal yang besarnya sepuluh kali lipat rudal nuklir di dunia kami.
“Kita sudah tidak punya waktu lagi.” Aku panik.
“Aku akan menuju sumber rudal itu. Jaraknya mungkin tidak terlalu jauh dari gedung pemerintahan. Nin, kau ambil posisi. Dan kalian berdua masuk kedalam gedung itu. Serang dan habisi mereka semua.” Belum habis Sem mengucapkan rencananya, dia sudah beranjak menuju sumber peluncuran rudal.
Nin melangkah menjauh, mencari tempat untuk melepas peluru. Aku dan Deni beranjak masuk ke dalam gedung pemerintahan. Tidak ada penjagaan berarti di bagian depan. Kemana semua prajurit yang menyerang kami dengan kuda lautnya?
Saat melangkah ke dalam gedung. Suasana dingin membungkus langit-langitnya. Seperti serasa di kutub utara. Hanya saja, tidak ada penguin yang sedang berenang disini. Lantai pualam itu terlihat berpendar, memantulkan cahaya bohlam yang menerangi setiap lorong. Membuat kesan cahaya lebih terang.
Saat kami berdua mulai melangkah lebih dalam, saat itulah prajurit berkuda laut bermunculan entah dari mana. Lorong gedung pemerintahan ini mulai terasa sesak. Pengap. Deni menghunus pedang barunya. Aku bersiap meninju.
***
Di tempat lain, Sem justru sudah berhadapan dengan pasukan penembak rudal. Pertarungan sudah terjadi sebelum aku dan Deni berhadapan dengan para penunggang kuda laut di dalam gedung pemerintahan. Sem bersembunyi di tumpukan karang yang menggunung. Sesekali melontarkan anak panah yang membelah cepat menjadi ribuan. Tidak. Hanya sempat ratusan. Jarak Sem terlalu dekat. Tapi serangan Sem selalu gagal. Ada penghalang yang dibuat supaya serangan dari luar tak bisa menerabas ke dalam. Serangan dari dalam itulah yang menyulitkan Sem. Jika Sem harus berpindah tempat, dia harus mencari tempat persembunyian lagi. Petarung jarak jauh memang selalu kesulitan jika tempat persembunyiannya sudah ketahuan.
Sistem peluncuran rudal itu terkesan sederhana. Hanya seperti alat peluncur rudal biasa. Tapi yang membuat daya jelajahnya sangat jauh adalah dengan bantuan portal. Bisa menggapai negara lain hanya dalam hitungan detik. Bangunan raksasa yang dikunjungi Sem ini hanya berjarak setengah kilo dari gedung pemerintahan. Tapi penjagaan disini super ketat. Di bagian kontrol, ada dua orang yang nampak seperti komandan pasukan. Pakaian mereka berbeda. Satu orang bertugas memberikan aba-aba peluncuran, satunya lagi bertuga membuka portal. Yang bisa membuka portal tentunya bukan orang sembarangan.
“Isi lagi mutiaranya! Kita akan menembakkan rudal yang kedua!” Sayup-sayup suara itu terdengar dari kejauhan. Suara dari orang yang memberi komando, sepertinya dialah yang memimpin pasukan di tempat ini.
Anak panah kembali melesat dari busurnya. Kali ini menuju langit-langit lautan. Membelah menjadi ribuan. Menukik tajam menuju sasaran. Terlihat seperti kawanan tenggiri berebut makanan. Menghujam keras dinding tak terlihat yang menghalangi bangunan pelontar rudal itu. Retak. Tapi sama sekali tidak menghancurkan dinding tak terlihat itu.
Sem diam sejenak.
Sebuah peluru meluncur di atas kepala. Peluru beserta peledak. Mengincar retakan yang sudah Sem buat. Berhasil retakan itu membesar. Meruntuhkan dinding tak terlihat.
“Terima kasih, Nin.” Sem tahu bantuan itu dari Nin, entah dimana dia. Tapi Nin mampu memantau tiga orang rekannya dengan leluasa.
Sem memutuskan mendekat. Bertarung jarak pendek. Dia berhasil masuk menyusup ke dalam. Pasukan penunggang kuda laut sudah menghadang. Dengan terpaksa tangannya bekerja lebih cepat. Melontarkan anak panah, membuat penunggang kuda laut itu jatuh terjerembab. Sem kemudian memukulnya secara manual.
Aksi Nin masih belum selesai. Sebuah peluru masuk menerabas ke dalam. Melalui celah-celah dinding. Melintas di atas langit-langit lorong bangunan. Nin sangat jeli membidik ruang sempit seperti itu. Hingga akhirnya peluru itu menimpa dinding terakhir, meledak. Bangunan itu bergoncang.
Semua keributan itu sudah disadari pimpinan mereka.
“Isi terus mutiaranya! Jangan pedulikan kejadian di luar! Itu hanya ulah kepiting nakal.” Pemimpin yang bertugas mengomando itu memerintah. Sementara petugas lain sibuk mengisi mutiara ke dalam sebuah corong yang dihubungkan dengan selang-selang tertentu. Mesin yang hanya ada di dunia ini. Mengubah mutiara dari kerang menjadi energi.
“Energi masih 60%.” Petugas yang bertugas menekan tombol peluncuran melaporkan.
“Cih, kepiting nakal itu benar-benar mengganggu. Kau ikut denganku, kita habisi dia.” Pimpinan itu mengajak rekannya yang bertugas membuka portal ikut membantu.
“Kalian tetap bekerja. Isi penuh energinya. Laporkan padaku jika sudah penuh.” Komandan itu itu beranjak bersama dengan seorang lagi yang bisa membuka portal.
Sementara Sem terus merangsek masuk, dibantu oleh Nin yang terus menembaki bangunan itu dari jauh. Dari dalam, bangunan itu sudah seperti digoyang gempa. Bergetar keras.
Di ruangan tengah. Sem akhirnya berhadapan langsung dengan dua orang yang menjadi mandor proyek ini. Dua orang yang berpakaian berbeda dengan pasukan lainnya. Berjubah serba hijau lumut.
“Ternyata dia hanya seorang diri. Berani sekali kau mengacau kepiting nakal.” Pimpinan itu menatap tajam.
“Aku yang akan maju lebih dahulu, Law.” Orang yang bisa membuka portal itu melangkah maju, melesat menyerang Sem. Dia akan melepas pukulan.
__ADS_1
Sem hanya diam. Menyerahkan yang satu ini kepada Nin. Semenjak Sem masuk ke dalam ruangan ini. Nin juga membuat jalur untuk pelurunya. Celah-celah kecil dan sempit untuk dapat menyerang ke dalam ruangan.
Peluru itu berdenging, melesat. Menimbulkan buih di tengah-tengah lautan. Masuk ke dalam ruangan, menyusup melalui celah-celah kecil, lincah. Bukan hanya panah Sem yang sudah seperti panah kendali. Tapi juga peluru Nin. Melesat, melenting, menikung, semua bisa dilakukan peluru itu. Tepat sebelum pria berjubah yang bisa membuka portal itu melepaskan pukulan ke arah wajah Sem. Peluru itu menghujam keras mengenai jantungnya. Seketika roboh tanpa sempat kepalan tangannya mengenai Sem. Tubuhnya langsung menghilang. Menyisakan bunyi desis panjang.
Law menatap heran. Begitu mudahnya salah satu anak buah kepercayaannya itu tumbang. Lagi, peluru itu mendenting, berkelok-kelok, menyusup melalui celah-celah dinding. Law menghindar, loncat satu langkah ke belakang. Peluru itu menyasar dinding, membekas, retak. Mendesis perlahan, mengeluarkan asap. Jika dari jarak yang ideal, peluru Nin memang mengerikan. Law menyapukan mata ke sekitar, darimana arah serangan itu. Giliran Sem, dia membidikkan busur panah. Melepas langsung dua anak panah dalam satu kali lontaran. Dua anak panah itu awalnya melesat beriringan, tapi kemudian berpisah meniti tepi-tepi dinding ruangan, berkelok, menyerang dari arah samping, serempak. Law kembali berhasil menghindar. Saat meloncat menghindar ke belakang, Law meraih sesuatu dari punggungnya. Senjata.
“Tenyata dia pengguna pistol.” Sem bergumam pelan.
Saat melayang di udara, Law menembaki Sem dengan brutal. Sem menghindar, bersembunyi di balik dinding, di persimpangan lorong. Buih dan riak air membekas dari pergerakannya. Kalau begini jadinya, pertarungan akan benar-benar menjadi duel jarak jauh. Sem melontarkan anak panah ke sembarang arah. Anak panah yang menikung melewati lorong itu gesit melesat mengincar sasaran, seakan mengerti keinginan tuannya. Law menembaknya, anak panah itu jatuh terbelah menjadi dua sempat membelah sendiri. Serangan Sem sementara ini berhasil di patahkan.
“Semoga Nin mengerti.” Sem kembali bergumam pelan. Membidikkan anak panahnya lagi. Kali ini dia tidak bersembunyi, menampakkan badan sejajar dengan Law. Dua anak panah langsung stand by melekat di tali busur. Law menatapnya tajam, pistolnya mengacung ke depan. Bersiap menarik pelatuknya. Rencananya adalah Nin harus membantu menyingkirkan peluru yang terlontar dari pistol Law itu. Lantas Sem yang menyerangnya akan nyaris tanpa hambatan. Menembak peluru yang sedang melesat itu bukanlah hal yang sulit bagi Nin.
Hening sejenak. Menyisakan dua tatapan mata yang saling beradu, mencari cara merobohkan lawan. Sem berkonsentrasi. Dia tidak bisa berlama-lama disini. Amat tidak bisa. Sem harus menghentikan mesin pelontar rudal itu segera sebelum rudal yang kedua kembali diluncurkan.
Seorang prajurit yang biasanya menunggang kuda laut datang menghampiri Law, memberikan laporan. Mengatakan jika energi sudah terisi 99%.
“Tembakkan rudalnya segera! Sasaran kedua adalah negara Hutan Hujan Tropis! Lakukan!” Law berteriak parau.
“Tapi tidak ada yang bisa membuka portal.” Seorang prajurit itu berkata pelan. Takut-takut.
“Aku yang akan membukannya.” Law beranjak dari hadapan Sem. Diikuti anak buahnya yang lari terhuyung. Mengangguk-angguk saat berlari.
Demi mendengar perintah itu. Sem semakin cemas, hatinya gelisah, detak jantngnya dua kali lebih cepat. Sasaran kedua? Negara Hutan-? Itu negara Nin. Pengisian energinya sudah 99%. Itu artinya Sem hanya punya kesempatan 1%, atau mungkin kurang dari itu. Tubuh Law sudah menghilang di telan tikungan lorong. Rencana Sem dan Nin sementara urung dilakukan.
Sem berlari keluar ruangan. Hanya bisa menyaksikan detik-detik peluncuran rudal kedua. Peluncuran rudal itu dari ruang tengah bangunan yang ada di hadapannya. Sem belum sempat menjangkau ruangan itu. Kenapa tidak kesana? Menyusul Law? Tidak. Itu kesalahan besar. Sem yakin sekarang energi itu sudah terisi penuh 100%. Jika dia kesana, Sem tidak akan punya kesempatan menghentikan rudal yang sudah mengudara. Petugas penekan tombol hanya akan menggerakkan satu jarinya, maka selesailah sudah. Sekalipun Sem membunuhnya, itu tidak akan bisa menghentikan rudal yang akan meluncur memasuki portal. Yang peling tragis, sasarannya sekarang adalah negara Nin. Hutan Hujan Tropis. Hanya Sem yang tahu itu. Nin hanya sibuk meneropong dari kejauhan. Tidak sadar negaranya menjadi incaran.
Kembali lengang. Gelembung-gelembung air naik ke permukaan. Riak air terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Terumbu karang dengan rumput-rumputnya melambai, tak mengerti situasi sekarang. Ikan-ikan kecil juga berlarian, kejar-kejaran.
Tidak ada cara lain selain menghentikan rudal yang tengah meluncur secara manual. Sem menoleh sesaat ke belakang. Berharap Nin mengerti. “Bantu aku, Nin.” Dari kejauhan Nin mengangguk di belakang senjata laras panjangnya.
Portal dipermukaan air laut itu muncul, Law ternyata juga memiliki kemampuan itu. Membuka portal. Rudal antar dimensi itu akhirnya meluncur untuk kali kedua, menuju permukaan, membidik portal. Sem menghunuskan busurnya. Bukan dengan hanya satu anak panah, bukan pula dua. Tapi tiga. Tiga anak panah sekaligus akan dilontarkan. Dua buah peluru sudah melesat di atas kepala, menyasar ujung teruncing dari rudal yang sedang menderu kencang. Tiga anak panah Sem menyusul di belakang. Tiga anak panah itu dengan cepat membelah menjadi ribuan, bergerak memutar seperti kawanan sarden dengan gerakan spiral. Berpilin. Membentuk bangun ruang kerucut raksasa. Ujungnya yang runcing bergerak memutar. Dua buah peluru Nin sudah mengenai sasaran. Merubah arah rudal itu sepersekian senti. Tapi itu sudah cukup. Ribuan anak panah itu yang akan menyelesaikannya. Ujungnya kerucut raksasa yang runcing itu mengenai ujung rudal. Bertabrakan. Gerakan rudal itu perlahan melambat. Arahnya berubah sedikit demi sedikit. Melambat, tapi bukan berarti rudal itu kehilangan daya dorong. Rudal itu tetap meluncur ke atas. Membawa ribuan anak panah yang masih menumbuk dari samping. Tapi kabar baiknya, rudal itu kehilangan arah. Malah ribuan anak panah Sem lah yang masuk ke dalam portal. Lantas portal raksasa itu menutup. Rudal itu keluar dari permukaan air laut menuju angkasa. Meledak di sana.
Negara hutan hujan tropis untuk saat ini berhasil di selamatkan. Ribuan anak panah itu tidak akan seberbahaya sebuah rudal yang memiliki daya ledak 100 kali lipat bom tom.
Lengang.
Sem menghela nafas panjang, mengusap wajahnya. Jika saja ini di daratan. Sem mungkin sudah bermandikan air peluh yang bercucuran. Saatnya masuk kemnali memikirkan ruang kendali rudal, sebelum mereka kembali mengisi energinya. Sem membidik tiga anak panas ke langit-langit di atas bangunan di depannya. Tiga anak panah meluncur deras dari busur tuannya. Hampir menyentuh permukaan, turun menukik seperti elang yang menerkam mangsa. Membelah menjadi ribuan. Sasarannya adalag gedung yang hampir roboh karena ulah Nin itu.
Ribuan anak panah itu menghujam keras. Bangunan itu roboh. Berantakan. Terdengar bunyi berdebam keras. Puing-piungnya berserakan. Law keluar dari reruntuhan, menyingkap puing yang menindih tubuhnya. Anak buahnya sudah habis semua. Tertimpa reruntuhan. Mesin pelontar rudal itu juga dipastikan rusak.
“KAU MEMANG KEPITING PENGGANGGU!!” Law dengan wajah merah padam berseru keras. Marah. Moncong pistol itu sudah membidik kepala Sem.
Sungguh sayang. Kekuatan komandan pasukan di negara ini tidaklah sekuat Rem dari negara Hutan HujanTropis. Mereka hanya unggul dari jumlah pasukan, tapi kalah dari segi kekuatan. Pistol itu terjatuh, mengepulkan asap. Menjadi barang rongsokan. Nin menembaknya dari kejauhan. Law yang menyaksikan, bergetar. Mulutnya kelu. Kekalahannya sudah menggantung di pelupuk mata. Semua anak buahnya sudah habis. Belum sempat ia berpikir hendak melawan, belum sempat ia berpikir hendak lari dari pertempuran. Ratusan anak panah sudah menghujam ke tubuh yang malang sendirian itu. Law terjatuh. Tubuhnya menghilang perlahan.
“Raja kami akan membalas semuanya, kepiting penggangu.” Suaranya yang remang terdengar sebelum tubuh itu sempurna menghilang.
***
Pasukan di dalam gedung pemerintahan ini tidak ada habisnya. Mereka selalu datang dari segala penjuru. Entah dari mana sumbernya.
“Mereka tidak mengenal kata menyerah.” Deni sudah tersengal. Berdua, kami saling melekatkan punggung. Dikeroyok.
Aku melakukan pukulan. Ratusan pasukan berkuda laut lengkap dengan tombak itu terpental. Tapi mereka terus datang. Lagi dan lagi. Tidak ada habisnya. Tubuh-tubuh yang kalah itu menghilang. Tapi entah dari mana datangnya, bantuan pasukan berkuda laut yang lain datang lagi.
Deni menebaskan pedang. Ratusan pasukan berkuda laut yang lain juga ikut terpental. Menghilang.
“Sepertinya ini strategi musuh untuk membuat kita kelelahan, Den.” Aku mengusap wajah. Benar saja, aku sudah meraskan energiku sudah sangat berkurang. Tersengal kelelahan.
Di tengan carut marut itu, sebuah peluru dengan kecepatan tertahan mendarat di depan kami. Bukan peluru biasa. Peluru itu mengeluarkan asap. Membuat jarak pandang hanya lima meter saja. Pasukan penunggang kuda laut itu gelabakan tak karuan. Bukan orangnya, tapi kuda laut itulah yang panik. Bergerak tanpa kendali, menabrak satu sama lain.
“Ini kesempatan kita menuju ruangan itu, Den.” Aku menunjuk ke sebuah ruangan yang menurut insting manusiaku disitulah pimpinan negara ini berada.
Deni mengangguk. “Terima kasih, Nin.”
Kami berlari kecil menuju sebuah ruangan, mendorong pintu. Terbuka.
__ADS_1
Ketika memasuki ruangan itu, saat aku melihat siapa yang duduk di atas kiani yang mewah, saat kami berdua benar-benar mengenali sosok itu. Semua gigi langsung bergemelatukan. Tangan mengepal kuat-kuat. Bagaimana tidak? Kemunculan sosok itu sudah ada sejak kami berada di negara pasir. Mafia minyak. Pengacau negara Sabana.
“SEW!!” Kami berdua berteriak serempak.