
Ini belum berakhir.
Tiba-tiba Sem tersenyum menyeringai. Atap ruangan yang menghilang, satu keuntungan baginya. Sontak, Sem mengangkat busur, membidik langit biru. Anak panahnya meluncur deras, jauh tak terlihat. Beberapa detik panah itu kembali dengan ribuan mata runcingnya, bersiap menghujam. Sasarannya bukan Hon, tapi Was yang duduk santai tanpa peduli apa kejadian di tengah arena. Ribuan anak panah meluncur deras ke arah tubuh tanpa pertahanan itu.
Aku dan Deni berlonjak tartahan. Siapa pula yang bisa lolos dari kepungan anak panah dari segala penjuru. Sesuatu di luar dugaan kembali terjadi. Hon, bukannya menolong Was, dia malah berlari ke arah kami, menyerang. Pukulannya menghantam kami bertiga. Aku membuat tameng, berusaha meminimalisir efek dari serangan itu. Aku tahu tamengku akan sia-sia. Tapi setidaknya, itu akan membuat tubuh kami tidak terpental terlalu jauh. Berbahaya jika terpental di ruangan terbuka seperti ini. Sekali terpental jauh, maka tubuh di lantai dasarlah jatuh. Aku bertahan dengan membalikkan badan, menggunakan tekanan angin agar tubuhku tidak melewati batas arena. Deni bertumpu pada pedang, membuat garis panjang hampir dari tengah lapangan. Sem terpental paling parah, dia tidak bisa mencegah kerasnya serangan itu, tameng yang aku buat tidak banyak membantu. Beruntung, tubuhnya tidak keluar terjatuh.
Bagaimana dengan Was? Ribuan anak panah itu terdiam seketika. Was memiliki kekuatan sepertiku. Dia mampu memanipulasi tekanan udara lebih baik. Mampu menahan gempuran seribu anak panah itu. Saat Was melepas acungan tangannya, seketika anak panah itu berjatuhan di lantai kehilangan bertenaga. Ribuan anak panah telah gagal.
Aku menelan ludah. Sem tidak melihat kejadian itu. Dia masih tersungkur. Astaga! Satu orang Hon saja kami sudah kesulitan menghadapinya. Bagaimana dengan rencana mengalahkan Was? Ini sungguh di luar dugaan. Mereka lebih kuat.
Hening, arena pertarungan itu disapa deru angin padang pasir.
Aku dan Deni sudah mampu berdiri, tapi tenaga kami sudah hampir habis. Aku rasa, satu kali serangan lagi ini semua sudah game over. Kami akan kalah. Hon yang berdiri tegak mengumpulkan tenaga, bersiap untuk serangan selanjutnya. Tidak ada waktu untuk menolong Sem. Aku harus segera mengalahkan Hon.
Sebuah peluru tiba-tiba melesat. Menembus kepala. Hon terjerambab. Dia tidak menduga serangan itu. Tubuhnya langsung melemah, kehilangan banyak energi.
“Dia..” Sem berusaha bangkit, aku dan Deni mendekatinya. Seperti ada yang ingin Sem katakan. Kami membantunya berdiri.
“Apa yang kau lakukan, Sew!?” Was yang melihat Hon mulai tersungkur berteriak marah. Sew, lelaki berpakaian rapi yang telah membunuh salah satu anak buahnya, Gen. Sew muncul dari balik portal putih.
Sem yang melihat Hon melemah mengambil anak panah dari arrow rest, membidik ke arah tubuh lunglai itu. Wuss.. satu anak panahnya melesat, membelah menjadi tiga, menghujam kepala Hon. Jika sebelumnya anak panah itu hanya seperti gangguan nyamuk usil. Kali ini lebih dari itu. Hon kehilangan banyak tenaga setelah kepalanya ditembus peluru yang sama persis ketika menghabisi Gen. Peluru antik dan mahal. Anak panah yang dilepaskan Sem bekerja dengan baik, membuat tubuh Hon lebih cepat perlahan menghilang. Hanya beberapa menit setelah Hon menunjukkan kehebatannya, semua berubah. Dia tewas dengan sebuah peluru yang juga menewaskan Gen, serta tiga anak panah yang satu dari anak panah itu mampu menghabisi seekor singa. Begitu mudah.
“Kau ingin aku memusuhimu, Sew!?” Was sudah terlampau marah. Dia berdiri dari kiani miliknya. “Apa yang kau lakukan, hah?”
“Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Was. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak mau menjual minyakmu kepadaku hanya karena tiga kecoa ini?” Sew menanggapi amarah Was dengan santai. Tidak ada rasa takut terlihat dari lelaki yang satu ini.
“Kau membunuh anak buah terbaikku. Kau mungkin juga sudah membunuh Gen. Kau keterlaluan, Sew.” Was meloncat turun dari kiani.
“Keterlaluan? Bukankah itu kau, Was.” Sew mengangkat tangan. Tertawa. “Lihatlah, kau sudah berpuluh tahun di benci rakyatmu. Jika saja mereka memiliki kekuatan sepertiku, sudah lama mereka melakukan pemberontakan. Sayang, mereka hanya penduduk biasa, lemah. Mereka memilih meringkuk di rumah masing-masing. Mereka sudah meninggalkanmu, meninggalkan rajanya. Pemimpin macam apa kau, Was? Kau malah berbisnis dengan mafia minyak.” Sew kembali tertawa. Yang di tertawakan wajahnya semakin geram.
Pertarungan telah diambil alih. Sekejap, kami bisa mengambil nafas lega. Hanya sejenak. Was berhadapan dengan Sew. Rekan bisnis minyak. Memberikan kami waktu untuk berpikir.
“Kita tetap waspada.” Sem meminta kami berkumpul di satu titik. Saling mengawasi. “Aku tahu lelaki dengan senjata itu. Itulah alasanku berpisah dengan kalian saat hendak kesini. Aku tahu jenis senjata itu, pelurunya hanya ada tiga. Dia sudah menggunakannya saat membunuh Gen, salah satu anak buah Was. Berarti pelurunya tinggal satu. Selain itu, aku berhasil mendapat satu keterangan penting.” Sem masih tersengal, dia yang paling menderita di antara kami bertiga.
Aku dan Deni menoleh. Keterangan penting?
“Tapi tidak sekarang. Nanti akan aku ceritakan. Kita harus tetap fokus pada pertarungan ini.” Sem menatap ke depan. Busurnya bersiaga di tangan.
Was melancarkan pukulan, sepersekian detik tubuhnya sudah berada di depan Sew. Gerakannya sama sekali tidak terlihat. Sekajap mata? Tidak. Kurang daripada itu. Tinju bertenaga menghantam Sew. Walau sempat menahan, tubuh Sew tetap saja terlempar.
“Kau tahu, Sew? Sudah berpuluh tahun aku tidak pernah memukul orang. Mungkin itu hanya pemanasan. Aku belum sungguh-sungguh, Sew.” Was berjalan mendekati tubuh yang mencoba bangkit. Kami bertiga hanya bisa menonton di terpi arena. Tetap waspada.
Sew bangkit. Menodongkan senjata. Peluru yang bisa membunuh Gen dan Hon dalam satu tembakan.
“Kau ingin menembakku? Silakan kalau kau berani, Sew.” Was tertawa kencang. Da tidak takut, meski anak buahnya tewas dengan senjata yang sedang menyasarnya saat ini.
Sew menatap tajam. Habis sudah jalinan bisnis puluhan tahun terakhir. Sebuah peluru akhirnya melesat. Tepat sasaran. Menembus bahu kanan. Was menunduk.
Hening sejenak. Deni sudah mengepalkan tangan. Yes!
__ADS_1
Was tersenyum, lantas tertawa kencang. Air liurnya berhamburan, mengembun.
“Ternyata peluru seperti itu yang kau gunakan untuk menghabisi dua anak buahku, Sew. Lemah. Terlalu lemah.” Was kembali tertawa, menahan perutnya. Sakit. Bukan karena tembakan, tapi karena menahan tawa.
Sew mendesis. Itu peluru terhebat yang ia miliki. Kelongsong pelurunya sudah kosong. Sebuah portal akhirnya terbuka. Sew memutuskan pergi, kabur. Was bermaksud menghentikannya. Terlambat. Portal itu sudah menutup sepersekian detik sebelum Was menyentuhnya.
Kami bertiga kembali tegang. Jika sudah tidak ada lawan, kongsi bisnis sudah pecah, anak buah sudah habis. Siapa lagi yang akan menjadi sasaran kemarahan?
“Bersiap, kawan-kawan!” Sem memberi aba-aba. Sem membidikkan anak panah, Deni menghunuskan pedang. Aku menghunus kepalan tangan. Hanya aku yang tidak memiliki senjata.
Was menoleh ke arah kami, tersenyum.
“AARGGHH..” Was berteriak sekerasnya. Arena pertarungan yang terbuat dari pualam terbaik itu pecah. Batu-batunya berterbangan. Retak. Gedung itu terasa bergoncang keras.
“Kalian akan membayar ini dengan kematian. Kalian pengganggu!” Raut wajah Was yang selama ini santai, berubah menjadi bengis dan menyeramkan. Amarahnya sudah berada di puncak. Meriam perang yang siap didentumkan.
Arena pertarungan itu berubah. Bukan lagi dengan lantai pualam yang mengkilap, tapi tumbukan bebatuan yang pecah.
“Serang dia!” Sem mengambil langkah. Sebelum kami melancarkan serangan, tubuh Was sudah terangkat ke udara. Dia terbang? Entahlah. Semakin tinggi
“Dia akan menyerang kita dari atas! Jangan pedulikan gerakannya. Kita serang bersama!” Sem kembali berseru.
Deru angin padang pasir di puncak gedung itu semakin kencang. Matahari sedikit meredup. Was mengumpulkan energi, memusatkannya pada kepalan tangan. Bersiap melancarkan pukulan terbaik. Peluru terbaik Sew saja tidak mempan. Bagaimana dengan kami? Ini sungguh memojokkan.
Deni melancarkan tebasan terbaik. Tebasannya membentok goresan berwarna putih berenergi. Apapun yang dilalui tebasan itu akan terpotong. Apapun? Entahlah. Goresan-goresan putih itu terbang melenting menuju tubuh yang melayang. Sem menarik busur, melepas anak panah. Memecah, membelah, mungkin ratusan. Menyusul bentuk fisik dari tebasan pedang Deni. Beriringan. Was melayang tinggi di atas, memberikan jarak bagi anak panah itu beranak pinak. Belum sempat dua serangan itu menyentuh tubuh melayang Was. Energi yang sudah terkumpul di kepalan tangan Was dilepaskan. Berdentum, bertabrakan. Was jauh lebih unggul. Tebasan pedang Deni dan ratusan panah Sem hancur lebur. Tidak sampai disitu, pukulan Was berlanjut mengincar kami di puncak gedung. Tubunya seperti meteor yang jatuh. Siap menabrak gedungnya sendiri.
Angin di sekitar berderu semakin kencang. Arahnya tak menentu. Tekanan energi itu luar biasa. Aku menyilangkan tangan, membuat tameng. Beteriak, agar tameng itu semakin besar, semakin tebal. Ditahan atau tidak ditahan sama saja. Kami bertiga akan tetap terkena pukulan itu. Tamengku mengambang lebih besar, melindungi seluruh sudut arena. Was meluncur dari atas. Semakin deras. Kepalan tangannya mengeluarkan cahaya, menyilaukan. Sem dan Deni meletakkan tangan ke wajah, berlindung. Menghindar atau tidak menghindar, sama saja.
Lengang sejenak. Dinding-dinding rumah yang masih tersisa rontok perlahan. Negara pasir itu porak poranda. Lebih parah daripada diserang tornado. Puing-puing berserakan.
“Harusnya aku lebih menahan kekuatanku.” Was menggerutu. Tubuh itu tetap melayang.
Aku berusaha mendorong puing beton yang menindih. Berusaha berdiri. Sepertinya aku sudah tidak memiliki energi lagi. Zirah yang aku kenakan hancur di bagian sayap kanan. Tapi masih belum ada tanda game over. Ini belum selesai. Tak jauh dari tempat aku berusaha merangkak. Tubuh Deni juga tertimpa reruntuhan beton.
“Den! Kau tidak apa? Hei, Deni!” Aku menggoyangkan tubuhnya. Deni mungkin tidak apa-apa. Tubuhnya masih ada disini. Tapi aku tidak melihat Sem. Kemana dia? Apa Sem baik-baik saja. Di dalam game ini tubuhnya lah yang paling terdampak dari serangan.
Deni mengerjapkan mata, baik-baik saja. Aku menyingkirkan beton yang menindihnya. Zirahnya juga retak di pagian dada.
“Kau baik-baik saja, Den?” Aku bertanya.
Deni mengangguk, sebuah jawaban.
Suasana sudah senyap. Kami sudah berada di lantai dasar. Lebih tepatnya, di luar gedung. Sudah tidak ada bangunan berdiri kokoh lagi setelah pukulan itu.
“Dimana, Sem?” Deni bertanya.
Aku menggeleng. Tidak tahu. Semoga dia baik-baik saja. Aku sudah berdiri tegak, juga Deni. Energi kami masih ada, walaupun kecil. Tubuh Was masih terlihat melayang di atas kami. Semakin merendah, mendarat. Sepuluh meter dari aku dan Deni.
“Aku tidak menduga. Daya tahan tubuh kalian itu kuat.” Was kembali tersenyum, matanya menatap tajam.
__ADS_1
Bagaimana ini, Jon. Deni menatapku. Aku mengerti tatapan itu. Aku pun tidak tahu. Entah bagaimana caranya mengalahkan Was. Dia terlalu kuat.
“Baik, sepertinya aku sudah bosan. Akan aku selesaikan segera.” Was menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Membuang senyumnya jauh-jauh. Merubah raut wajah lebih menyeramkan. Tubuh itu melayang perlahan mendekati kami seperti hantu.
Aku menelan ludah. Serangan kedua ini akan menghabisi semuanya.
Di saat itulah, di saat kami putus asa untuk yang kesekian kalinya. Sesuatu yang aneh terjadi pada tubuh Was. Dia kehilangan kekuatan? Was berhenti melayang, jatuh terjongkok di lantai pualam yang masih tersisa. Nafasnya tersengal. Aku dan Deni saling tatap, tidak mengerti. Ada apa?
“Joni! Deni! Serang dia dengan kekuatan maksimal kalian!” Terdengar suara teriakan di balik reruntuhan. Tidak asing. Dari arah itu, Sem berjalan terhuyung, memegang bahunya.
Aku dan Deni mengangguk. Serangan terakhir bukan dari Was, tapi datang dari kami.
Deni memusatkan energi pada mata pedangnya. Aku mengambil kuda-kuda, meyimpan kepalan di balik pinggang. Lebih konsentrasi, lebih banyak. Kami butuh energi lebih banyak. Lima detik, serangan itu dimulai. Deni menebas lebih keras. Goresan cahaya yang keluar dari pedangnya lebih besar. Bergerak cepat menuju tubuh Was yang masih tak berdaya. Aku menyusul aksi Deni dengan pukulan. Tekanan angin tak terlihat menyusul goresan cahaya dari pedang Deni. Telak. Serangan terakhir itu mengenai tubuh tak berdaya Was. Dia terjungkal, terbaring menghadap langit biru.
Lengang. Tubuh itu kaku, mematung tak bergerak. Semilir angin gurun membelai wajah. Pengap.
“Itu cukup untuk menghabisinya.” Sem berjalan mendekat, bahu kirinya terluka. Terbentur beberapa reruntuhan.
Aku sebenarnya bingung. Ada satu pertanyaan besar di dalam kepalaku. Bagaimana mungkin Was yang beberapa saat lalu terlihat superior, sekarang mudah sekali untuk dikalahkan? Aku hampir saja mengucapkan pertanyaan itu. Terpotong oleh gerakan tangan Was yang melambai ke arah langit, berusaha menjangkau matahari.
Kami bertiga mendekati tubuh itu.
“Kau dan mimpimu itu sudah berakhir, Was.” Sem mendekati bagian kepala Was.
Was tersenyum. “Aku sudah lama menginginkan ini, Sem.” Suaranya datar, tak berintonasi. Sem mengangguk, mengerti. Aku dan Deni ikut mengerti, pura-pura.
Apa hebatnya hidup dengan kehilangan kepercayaan? Menjadi pemimpin yang ditinggalkan, dibenci, tidak dipedulikan. Sekeras apapun niat untuk menjadi penguasa. Jika yang dipimpin sudah tidak menaruh rasa percaya, semua sirna dengan sia-sia.
Tubuh itu perlahan menghilang. Piksel yang rusak. Lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanya kehancuran hampir seluruh kota. Deru angin sekali lagi, mengucapkan selamat tinggal. Kemenangan.
Satu pertanyaa masih mengganjal.
“Bagaimana kami bisa mengalahkannya begitu mudah, Sem? Bukankah..” Aku bertanya. Akhirnya pertanyaan itu terucap. Namun terpotong oleh penjelasan Sem.
“Racun. Panah yang aku lontarkan itu beracun. Racun itu tingkat tinggi, mampu membunuh seribu singa hanya dengan satu tetes. Bahkan membunuh orang yang dua kali lebih kuat daripada Was. Aku membeli anak panah itu di toko yang kita kunjungi. Beruntung kalian tidak membeli apapun saat itu. Aku bisa menggunakan jatah uang yang aku berikan kepada kalian untuk membeli anak panah itu.” Sem menjelaskan, tangannya masih memegang bahu yang sakit.
“Apa itu kebetulan?” Deni tertawa ringan.
“Yang penting kita menang kawan.” Aku menepuk bahu Deni. Hendak menepuk bahu Sem. Sem menjegal, mengingatkan. Bahunya cedera.
Kami bertiga tertawa. Misi pertama telah selesai.
“Kami akan istirahat sekarang, Sem. Kau juga sebaiknya melakukan hal yang sama.” Aku menuntun Sem berdiri.
Sem mengangguk. “Tenang saja. Aku tahu beberapa toko obat yang bagus. Lakukan saving game sekarang, Den.”
Deni menyimpan game yang kami lakukan. Jika kembali bermain nanti. Kami sudah akan ada di scene yang kedua. Negeri Sabana.
“Baiklah. Kami log out sekarang, Sem.” Aku menekan salah satu tombol jam tangan di pergelangan.
__ADS_1
Sem mengangguk. melambaikan tangan.