The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 12: DUA BELAS


__ADS_3

Dua hari setelah log out dari game itu. Aku dan Deni memutuskan akan bermain lagi. Nanti. Bukan pagi, bukan hari ini. Tapi sepulang sekolah, sore hari, besok. Game yang sebenarnya tidak banyak disukai. Dari sekian banyak penggila konsol terbaru, mungkin hanya aku dan Deni yang menyukai game itu. Bagi kami, ada sentuhan magis tersendiri dari game itu.


Istirahat. Lapangan sekolah itu riuh oleh kesenangan para siswa. Mereka bermain basket. Aku memutuskan pergi ke kantin. Sudah ada Deni menunggu di sana.


“Yo..” Deni melambaikan tangan, mengajakku duduk bersamanya, satu meja. Dua gelas jus jeruk segar sudah menunggu. Terlihat menggiurkan. Cocok dengan udara panas.


“Bagaimana rencana kita?” Aku bertanya.


“Soal game itu? Tentu saja, Jon. Kau tahu? Aku setiap malam hanya tidur empat jam. Kepalaku penuh penantian, ketidaksabaran. Jika saja pedang itu bisa aku bawa ke dunia ini. Sudah aku pamerkan di tengah lapangan.” Deni menyeringai, tersenyum lebar.


Aku melambaikan tangan. Ada-ada saja.


“Ada satu yang aku pikirkan, Jon.” Deni berkata datar.


Aku mendongak. Apa?


“Apa kau pernah membayangkan? Bagaimana jika seandainya Was tidak terkalahkan? Bagaimana jika Sem tidak membeli anak panah beracun itu? Kita akan kalah, Jon.” Deni menghentikan kegundahan sementara, meminum jus jeruk di depannya. Kosong satu  pertiga dari isi penuhnya.


Aku menatap datar Deni. Ada benarnya.


“Perbedaan kekuatan. Itulah yang aku maksud. Kita memang bisa mengalahkan beberapa petarung kelas bawah. Tapi saat pertarungan dengan musuh utama, kita jauh ketinggalan.” Deni melanjutkan kegundahan.


“Lantas?” Aku bertanya singkat.

__ADS_1


“Bagaimana dengan musuh kita di negari Sabana? Berbeda scene, tentu berbeda kekuata, Jon. Jika kekuatan kita jalan di tempat. Kita tidak akan bisa unjuk gigi lagi.” Lagi, Deni menyisakan separuh jus jeruknya. Haus.


“Maksudmu kita harus mengupgrade kekuatan?” Aku mengerti maksud pertanyaan-pernyataan dan pernyataan-pernyataan itu.


“Ya.” Deni menjawab singkat.


“Caranya?”


Deni mengangkat bahu. Entahlah.


Aku tersenyum kecut.


“Kita tidak bisa hanya menciptakan teori disini, Jon. Harus praktek di lapangan. Dunia game itu terasa sangat berbeda. Aku rasa kita harus berbelanja seperti Sem.” Deni tertawa kecil.


“Kita bisa meminta kepada Sem. Atau mungkin mencari singa-singa itu, melakukan hal yang sama seperti Sem lakukan. Singa itu bisa menjadi sumber keuangan, kan?” Deni tertawa.


“Beruntung itu hanya game, Den. Jika di dunia ini. Kau akan tersangkut hukum karena mengganggu hewan yang dilindungi.” Aku membalas tawanya.


“Ah, apa kau dengar tentang penelitian yang dilakukan NASA baru-baru ini?” Jus jeruk itu sudah habis, gelas yang kosong.


“Soal peluncuran roket itu?” Aku bertanya, tidak menghiraukan segelas jus jeruk yang sudah mengembun.


“Bukan itu, Jon. Tapi soal planet baru yang semakin terungkap. NASA menemukan cara untuk menginjakkan kaki di planet itu.” Deni memangku dagu, sudah tidak ada lagi yang bisa ia minum.

__ADS_1


Aku mendongak, memasang wajah bingung. Bagaimana caranya? Sepertinya aku ketinggalan berita.


“Mereka memodifikasi cara negara kita menggunakan tekhnologi portal pada konsol game itu. Kau bisa bayangkan? Mereka akan menggunakan portal untuk menuju planet itu.” Deni mengakhiri menyampaikan berita yang baru saja ia baca dari tablet miliknta itu, beberapa saat yang lalu.


“Astaga!” Aku menepuk wajah. Bagaimana itu bisa menjadi berita yang tidak menghebohkan? Kabar tentang planet baru yang bisa dihuni itu sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tapi tentu bukan waktu yang singkat untuk bisa menginjakkan kaki disana.


Deni bereaksi berbeda. Dia tersenyum menyeringai. Menang dalam urusan tahu segala hal.


Bel berbunyi. Saatnya jam pelajaran terakhir.


Semilir angin membelai wajah. Gorden hijau muda itu berkibar. Ruangan kamar itu sejuk. Tekhnologi pendingin ruangan bekerja dengan baik. Aku merebahkan badan di kasur yang sama sekali tidak terlalu empuk, memandang langit-langit ruangan. Hening. Aku sempat berpikir. Apa yang dilakukan Sem sekarang? Mungkin dia sedang berburu singa.


Jujur saja, mungkin aku lebih tidak sabar dibanding Deni. Dia bicara soal upgrade kekuatan, berburu singa, berbelanja. Rasa ingin tahuku melebihi semua itu. Dan yang paling ingin aku lihat dalam game itu adalah negeri yang akan aku kunjungi selanjutnya. Negeri Sabana.


Bosan. Aku menyalakan televisi setebal kertas HVS di dalam kamar itu. Barang belian ayahku dua minggu yang lalu.


Jepang memutuskan memboikot negara Asia Tenggara. Mereka memutuskan hubungan bilateral dengan negara pembuat konsol game yang dianggap membahayakan. Selain kalah saingan, beberapa perusahaan konsol game di jepang juga bangkrut. PHK masal terjadi dimana-mana. Para buruh melakukan aksi unjuk rasa di jalanan. Jepang dalam waktu dekat akan melakukan konfrensi pers terkait konsol game yang mereka anggap berbahaya, menjelaskan betapa berbahayanya bermain dengan tubuh dan nyawa sendiri. Walaupun itu hanya di dalam game.


Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan berita ini. Persaingan bisnis soal konsol game yang memanas sudah biasa sepuluh tahun terakhir. Jepang selalu menjadi pihak yang paling “tidak mau diganggu” oleh negara pesaing, terutama negara Asia Tenggara. Mereka seolah sudah merajai bidang tekhnologi apapun. Tidak mau digusur walaupun hanya sejengkal.


Televisi setebal kertas HVS itu aku matikan. Itu bukan berita baru. Tidak menarik. Beranjak menuju jendela dengan gorden hijau muda. Aku menatap indahnya senja kuning sore hari. Matahari jingga, awan jingga, atap rumah jingga, hanya jalanan kota itu yang tak terbias dari kejinggaan. Burung layang terbang menukik, lantas kembali naik ke atas. Berputar-putar. Menghiasi langit-langit kota canggih ini.


Matahari terlihat indah, menyelinap di sela-sela gedung kejauhan. Bersiap istirahat di titik terendahnya. Gelap sudah mulai membungkus langit timur, sesaat sebelum cahaya barat sempurna meredup. Rembulan menyabit, tersenyum menggelantung. Pemandangan sore yang sempurna. Entah, apakah aku bisa menyaksikan hal yang serupa di dalam game sana.

__ADS_1


__ADS_2