
Cahaya matahari mulai meredup, semburat merah di ufuk barat. Awan tipis berwarna jingga, membungkus separuh dari lingkaran mentari sore. Beberapa burung melintas di atas kepala. Pulang ke kandangnya masing-masing. Semua pemandangan ini selalu terlihat nyata. Tidak terlalu jauh dari istana, lokasi pertarungan itu lengang. Menyisakan pola lingkaran akibat portal antardimensi yang direncanakan Rem. Membekas di atas tanah.
Di depan istana.
“Kita sudah sampai raja Lan.” Sem yang membantu memapah raja Lan menghentikan langkah kaki. Raja Lan beberapa saat lalu sudah siuman, setelah kami mengambil istirahat beberapa menit di lokasi pertempuran. Tubuh tua itu sangat lemah.
Di halaman, seseorang telah menunggu. Matanya menatap getir istana yang porak poranda. Hancur. Aku tidak pernah melihatnyanya, orang itu menghadap istana. Mendongak. Senjata laras penjang terselempang di punggungnya. Pakaiannya serba hitam, kurang lebih sama seperti Sem. Jangan-jangan?
“Apa itu kau?” Raja Lan terperanjat seketika, melihat sosok yang masih berdiri menghadap istana.
Lengang sejenak. Tidak ada jawaban.
“Nin? Kau benar Lin, kan? Anakku.” Demi melihat sosok itu raja Lan bahkah melepaskan pegangan Sem, beringsut berusaha mendekati tubuh itu. Tubuh yang indah.
“Maafkan aku, ayah. Ini semua tidak akan terjadi jika aku tidak menyukai kehidupan alam liar.” Seseorang itu masih menatap getir, reruntuhan bangunan istana. Menyeka ujung mata. Sosok itu adalah seorang wanita cantik. Anak dari raja Lan sendiri, namanya Nin, si sniper. Usianya seumuran dengan aku dan Deni. Remaja tanggung.
“Tidak apa-apa. Aku tahu kau telah berbuat banyak untuk kerajaan ini. Aku tahu kau selalu menjegal pengantar barang terlarang dari mafia ganja itu. Dan aku tahu, kau telah membantu kami mengalahkan Rem.” Raja Lan menyentuh pundak anaknya. Hangat.
Nin membalikkan badan. Memberikan pelukan hangat. Itu pertemuan pertama sejak lima tahun terakhir. Nin lebih memilih hidup di tengah-tengah hutan. Dia tidak menyukai dinamika kehidupan istana. Sebelum menggapaiu usia sepuluh tahun, Nin sudah terlatih menembak. Di usianya yang ke lima belas, Nin memutuskan menjadi seorang sniper. Hingga sekarang.
Raja Lan terharu. Nin adalah anak satu-satunya. Pewaris tahta. Walaupun Nin sedikitpun tidak menginginkan kedudukan itu. Gadis muda itu juga menyeka ujung mata. Terharu.
“Aku rasa kau harus berkenalan dengan mereka. Tiga orang Pahlawan. Petarung tangguh.” Raja Lan mengangkat tangan, memanggil kami bertiga.
Nin menoleh, gadis itu tersenyum anggun, mempesona.
“Inilah yang aku sebut sebagai ahli senjata, namanya Nin.” Raja Lan memperkenalkan anak semata wayangnya.
Kami bersalaman, bergiliran. Nin ternyata anak yang ramah, selalu tersenyum. Wajahnya bersahabat. Belum ada pembicaraan, semuanya hanya mengangguk, saling menghormati.
“Rasanya itu sudah lama sekali, ya?” Raja Lan mendongak, menatap reruntuhan istananya. Nin di sampingnya bersandar di pundak sang raja.
__ADS_1
Nin memang sudah lama pergi dari istana. Sejak dia bisa menggunakan senjata, anak itu bersikeras meninggalkan kerajaan. Memilih hidup di hutan. Meski sempat mendapat tantangan, namun akhirnya hati sang ayah luluh tak kuasa. Raja Lan membiarkan Nin pergi memeluk keinginannya. Salah satu alasan yang membuatnya mengizinkan adalah karena Nin sudah mahir menjaga diri. Senjata yang selalu terselempang di punggung itu menjadi sahabat setia dimanapun Nin berada. Selalu menemani, selalu menjaga.
“Maaf aku tidak pernah pulang, ayah.” Nin merebahkan kepala, terasa hangat. Kasih sayang orang tua. Selama ini dia hanya tidur bersandarkan pohon kayu, berkawan monyet-monyet yang bergelantungan.
Raja Lan menggeleng. Tidak masalah.
Semburat jingga di ufuk barat semakin meredup, malam akan menyalin siang. Rembulan telah menggelantung, bintang-gemintang menghias membentuk ribuan formasi indah. Hari ini, malam terasa begitu cepat datang menghampiri.
“Kalian sebaiknya bermalam di istanaku ini. Walaupun hampir seperti rumah tua yang akan roboh, tapi mungkin masih ada beberapa kamar yang bagus.” Raja Lan menawarkan tempat menginap.
Sem menatapku. Bagaimana menurutmu, Jon? Sementara Deni, sudah menatap dengan tatapan penuh permohonan. Ayolah, Jon. Kita bermalam disini. Satu malam saja. lagipula aku belum sempat berbicara dengan Nin. Begitu kira-kira maksud tatapannya.
Aku mengangkat bahu. “Baiklah, apa salahnya?”
Malam itu suasana istana kerajaan yang kebiasaan menampakkan suasana formal, penuh dengan prajurit-prajurit sekarang berganti menjadi seperti tempat penginapan sementara. Tempat penyimpanan makanan di lemari pendingin tidak rusak saat perebutan kekuasaan. Nin yang memasak. Masakannya sedap. Dia terbiasa memasak sendiri di hutan.
Awalnya tidak ada percakapan, tergugu. Tetapi setelah raja Lan yang memulai. Semua mencair.
“Jadi kalian bukan berasal dari dunia ini?” Raja Lan yang mendengar kabar itu sama sekali tidak terkejut. Nin pun juga sama. Dia hanya sibuk mengunyah makanan.
“Kalau begitu semoga kalian bisa pulang secepatnya.” Raja Lan tersenyum, menatapku dan Deni. Sementara Deni sibuk memperhatikan gerak-gerik sniper itu. Dia tidak peduli dengan perkataan raja Lan.
Aku menyikut lengannya. Tidak sopan, Den.
Makan malam itu selesai. Tanpa ada sepatah katapun dari sniper, hanya senyuman dan anggukan. Raja Lan yang lebih banyak bercerita. Sementara sang anak sudah sibuk merapikan piring-piring kotor.
“Kalian mungkin hanya akan tidur dalam satu kamar. Kamar-kamar lain sudah rusak. Aku mohon maaf soal itu. Jika kejadiannya tidak seperti ini, mungkin kalian akan menikmati pelayanan seperti hotel bintang lima.” Raja Lan menatap prihatin. Besok-besok tempat ini mungkin akan diperbaiki.
Kami bertiga mengangguk. Tidak masalah. Bukankah kami sudah pernah tidur dengan menatap gemintang di angkasa. Ini sudah lebih dari cukup.
Malam itu rembulan bersinar terang. Langit hitam dengan bintik-bintik bintang sempurna, formasi yang indah. Kamimtidur dengan nyenyak, melepas semua kepenatan tadi siang.
__ADS_1
***
Keesokan harinya. Kami bertiga akan pamit menuju negara selanjutnya. Perbekalan pemberian dari raja Lan akan mencukupi beberapa hari ke depan. Semua tersimpan melalui program yang ada pada jam tangan canggih yang ada di pergelangan. Raja Lan berdiri di anak tangga kecil depan istana mengantarkan perpisahan. Tapi tak nampak Nin disana. Entah apa yang dilakukannya.
Lagi, matahari bersinar terang. Cerah.
“Maaf hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak bisa membantu banyak kalian berdua untuk kembali ke dunia itu.” Untuk kesekian kali raja Lan tertunduk prihatin.
Deni menepuk bahu raja Lan. “Tidak masalah. Kami akan terus mencari jalan pulang.” Tersenyum.
Astaga! Deni memperlakukan seorang raja seperti kawan akrab. Tapi raja Lan sepertinya tidak keberatan.
Perbekalan sudah penuh, tenaga sudah pulih. Saatnya berangkat. Tapi saat kami mulai melangkahkan kaki. Seseorang berseru menahan.
“Tunggu!” Nin mengangkat tangan. Tubuhnya muncul dari balik pintu di belakang raja Lan.
Raja Lan menoleh, mengerutkan wajah.
“Aku akan ikut mereka, Yah.” Nin tersenyum riang, meminta izin. Pakaiannya sama seperti kemarin, baju serba hitam. Sebuah senjata laras panjang terselempang di belakang.
Hening. Senyap.
Sebenarnya berat bagi raja Lan. Nin adalah anak satu-satunya, dia juga baru pulang kemarin, baru saja kebersamaan itu kembali, baru saja keping kehangatan keluarga yang hilang itu utuh. Apalah hendak dikata, Nin memang terlahir dengan jiwa petualang yang mandiri. Raja Lan untuk kedua kalinya tak kuasa menahan. Dia hanya mengangguk dalam-dalam, menyeka ujung mata. Membiarkan anaknya pergi. Lagi.
“Baik, tapi kau harus janji. Jangan merepotkan mereka, jangan merepotkan orang lain.” Raja Lan menyentuh kedua pundak anaknya. Nin mengangguk dalam-dalam. Senang. Dia akan berpetualang kembali, kali bukan hanya di hutan. Tapi akan pergi ke negara lain. Petualangan yang lebih jauh dan menantang. Nin terlihat bersemangat, wajahnya berbinar-binar.
“Baik. Aku janji.” Nin menjawab singkat. Berlari-larian kecil menuju rombongan. Ikut bergabung. Raja Lan melepasnya dengan menyeka air mata, melepasnya dengan sebuah kebanggan besar. Anak itu tumbuh mandiri, terbiasa mandiri, anak itu perempuan yang kuat.
Tidak ada perayaan saat bergabungnya Nin. Memang tidak ada waktunya. Kami sudah harus menuju portal selanjutnya, portal menuju negara Laut. Petualangan baru akan segera dimulai. Bukan hanya mencari potensi korupsi di negara itu, kami juga harus menemukan Sew, mafia minyak yang berbahaya.
Memasuki hutan, kicau burung terdengar dari kejauhan. Sinar matahari menerabas melalui celah-celah dedaunan hutan yang lebat. Awan putih mulai menyaput langit biru, memberikan nuansa hening yang syahdu. Bentang alam yang indah. Dari kejauhan negara itu nampak seperti seperti lumut yang menempel di bebatuan karang. Semua serba hijau. Mengharukan jika harus berpisah dengan kehidupan alam yang masih asri.
__ADS_1
Pada scene ini, aku menemukan sebuah pelajaran penting:
Seorang pemimpin tidak bisa sembarangan memilih anak buahnya. Sekalipun itu adalah orang kepercayaan, keluarga dekat, saran dari kawan ataupun sahabat. Tapi tanpa memperdulikan kapasitas dan kemampuannya, semua itu nihil. Bisa saja, suatu saat akan menjadi bumerang yang menusuk dari belakang. Bahkan dari arah manapun. Karena itu selektif adalah pilihan.