The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 25: DUA PULUH LIMA


__ADS_3

Portal menuju negara Laut itu terletak di hutan bagian utara. Di puncak gunung. Sem melirik jam tangan canggihnya, memastikan arah dengan benar. Menurut raja Lan saat makan bersama tadi malam, puncak itu dipenuhi hutan pinus. Sejauh mata memandang, pohon itu memang sudah menghias sepanjang perjalanan. Itu pertanda tmpat yang kami tuju tidak akan jauh.


Sem berjalan di depan, meminpin. Aku dan Deni bersisian di belakangnya. Sementara Nin mengikuti di belakang kami, sibuk menatap alam yang tak asing baginya. Saat ini mungkin ada dua kesedihan menggurat di hatinya, berpamitan dengan alam yang sudah menjadi rumahnya itu, berpamitan dengan ayahnya yang baru bertemu kurang dari 24 jam. Walaupun itu hanya sementara.


“Maaf tuan putri. Apa nama senjata itu?” Deni memberanikan diri memulai percakapan. Dia menunjuk senjata laras panjang yang terselempang di punggung Nin.


Nin menoleh, menatap Deni. Tidak memberi jawaban. Hanya mengangkat bahu. Tidak tahu.


“Tidak tahu? Bukankah tuan putri sudah lama menggunakannya? Oh, biar kutebak.” Deni memperlambat langkahnya, membuat langkah Nin sejajar dengannya. Sementara aku hanya menguping dari depan. Apa pula rencana bocah ini. “Ini mungkin M16.. Oh bukan. Ini lebih mirip M82A1, atau mungkin M90, M95, M99.” Deni menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Menyerah.


Hening. Kami terus berjalan. Deni tetap memperhatikan senjata itu dari samping. Nin sama sekali tidak memperdulikannya.


“Hei, Jon. Kau bisa bantu aku menjelaskan senjata ini?” Deni setengah berseru. Dasar Deni, kenapa pula harus sok-tahu. Padahal cukup bilang tidak tahu, mudah, kan?


“Entahlah. Itu mungkin sejenis PGM UR HECATE II, karena jarak tempuh pelurunya lebih dari satu kilo.” Aku menjawab asal. Terus berjalan mengikuti Sem.


Deni mengangguk-angguk, mengiyakan. Entah jawaban itu benar atau tidak. Senjata di tempat ini berbeda dengan di dunia kami. Tidak tahu apakah namanya sama atau tidak. Nin yang mendengat jawaban itu mendongak. Dia juga tidak tahu nama senjatanya, mungkin sudah saatnya memberi nama kepada sahabat sejatinya itu. Sudah lama mereka bersama di tengah-tengah hutan. Tapi Nin tidak pernah tahu apa sebutan untuk senjatanya itu.


“Apa kau sudah terbiasa hidup di tengah-tengah hutan seperti ini?” Deni bertanya, mencoba lebih akrab.


Nin menoleh, hanya mengangguk. Gadis yang sejatinya adalah tuan puteri sekaligus pewaris tahta satu-satunya lebih banyak diam. Tidak berkomentar. Deni menatapnya dengan berbinar, mengangguk saja sudah cukup baginya sebagai jawaban. Tuan puteri itu semakin cantik saat sinar mentari menarabas melalui celah-celah dedaunan dan mengenai batang hidungnya yang mancung.


“Tuan puteri. Kau adalah seorang petualang, kau tahu betul daerah sini. Apa kau pernah membuka portal itu?” Sem menghentikan langkah, menoleh. Lantas bertanya.


Membuka portal? Bukankah itu hanya bisa dilakukan Sem? Tunggu. Jangan-jangan semua orang di dalam game ini bisa melakukannya.


“Aku pernah mencobanya, tapi pertanyaan itu terlalu menyulitkan bagiku.” Nin akhirnya mau berbicara.


“Apa pertanyaannya? Kawan kita ini, Joni. Dia sudah menaklukkan dua pertanyaan kuis itu sebelumnya. Dan kali ini, dia juga pasti akan melakukannya.” Deni mengepalkan tangan, antusias. Aku menyikut lengannya. Jangan terlalu berlebihan, Den.


Nin mengangkat bahu. “Entahlah, sepertinya aku sudah lupa. Itu sudah lama sekali. Lebih dari lima tahun yang lalu. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi mendekati portal itu.”


“Sayang sekali. Jika tuan puteri masih ingat, kita akan punya waktu lebih banyak untuk memecahkannya.” Deni menunduk.


“Tidak apa-apa, Den. Kita akan memecahkannya bersama-sama.” Aku tersenyum.


“Dan ingat. Jangan panggil aku tuan puteri. Cukup panggil aku Nin. Itu namaku.” Nin menyeringai. Dia sudah mulai banyak berbicara. Sebenarnya Nin masih canggung, karena diantara kami berempat hanya dia wanita. Itu alasannya dia lebih memilih banyak diam.


“Oke.. Oke, tuan puteri. Eh, maksudku, Nin.” Deni kembali menggaruk-garuk kepala. Nin melotot ke arahnya. Aku dan Sem hanya tertawa. Jika ini bukan game, sepertinya mereka pasangan yang serasi.


Kami melanjutkan perjalanan. Nin sudah bercakap riang sepanjang perjalanan. Dia bercerita banyak, karena Nin adalah orang yang paling tahu soal tempat ini. Kali ini, dia yang memimpin di depan bersama Sem. Lincah dan cekatan.


Matahari sudah mendaki naik. Cahanya lebih benderang. Sejuk tetap membungkus hutan itu. Oksigen yang tersedia sangat banyak. Mungkin hampir tidak ada karbondioksida disini. Daun-daun kering mulai berjatuhan, tak kuasa melawan angin. Hutan pinus sejauh mata memandang, berjejer rapi di sisi jalan setapak. Hijau mempesona. Alam yang asri.


“Jadi kalian benar-benar bukan dari sini?” Nin bertanya.


Aku dan Deni mengangguk. Kami dari bumi. Secara fisik, orang-orang di tempat ini tidak berbeda dengan orang-orang di dunia kami, pengecualian saat kami di negara pasir, penjaga gerbang itu menggunakan topeng yang seperti menyatu dengan wajah, atau mungkin itu benar-benar wajah mereka.


“Apa aku bisa berkunjung ke tempat kalian?” Nin mulai antusias.


“Sepertinya tidak, Nin. Mereka berasal dari tempat yang sangat jauh. Dunia yang kita sendiri tidak akan bisa hidup disana.” Sem menjelaskan, dia mengerti betul bahwa dirinya hanyalah program yang diciptakan dari sebuah konsol game. Ingatan seperti itu sepertinya tidak dimasukkan ke dalam memori Nin. Bahkan mungkin memori seluruh orang di negara ini.


“Kenapa?” Pertanyaan Nin semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


“Karena kami manusia.” Deni yang menjawabkan. Itu sebenarnya jawaban yang sedikit sensitif bagi Sem dan Nin.


Nin melotot, menyelidik. Dia mencoba ingin bertanya, lebih tahu lagi.


“Sem, bagaimana portalnya?” Aku cepat-cepat mengalihkan topik.


“Tepat di depan kita.” Sem melirik jam tangan canggih yang ada di pergelangan, mendongak. Sontak, panndangan kami semua menyapu sekitar, melupakan sejenak soal perbedaan dua dunia.


Portal itu benar-benar berada di puncak gunung di bagian utara. Sekeliling kami penuh dengan pinus berjejer rapi seperti upacara pagi senin. Sepanjang perjalanan tadi, kami sebenarnya mendaki. Tapi itu tidak terlalu menguras tenaga. Tentu saja, berkat sepasang sepatu yang sepaket dengan zirah. Entah itu mendaki, entah itu turunan. Semua akan terasa seperti jalan datar biasa.


Sem beranjak satu langkah, merasakan dengus angin pegunungan. Mengangkat tangan, mencari portal. Sesuatu yang bergetar terasa, sama seperti portal negara-negara sebelumnya. Tapi ini berbeda, portal itu sempat muncul dua detik, lantas menghilang lagi. Sem kemudian menyentuhnya lagi, portal itu muncul beberapa kejap, lantas hilang lagi. Portal ini seakan tidak mau muncul.


“Ada apa, Sem?” Aku bertanya.


“Sepertinya energiku tidak cukup untuk memunculkan portal ini.” Sem terlihat tersengal. Aku baru menyadari, ternyata memunculkan portal itu memerlukan energi.


“Bagaimana kalau kita buka bersama-sama?” Deni memberikan satu ide yang harus kami coba.


Berempat, portal itu tetap tidak bertahan lama. Bagaimanalah hendak menjawab pertanyaan kuis, portalnya saja tidak bisa dimunculkan.


“Apa yang salah?” Deni mulai tersengal. Tiga puluh menit, sudah puluhan kali kami mencoba memunculkan portal itu. Tetap tidak bertahan lama. Paling lama hanya tiga detik.


“Entah apa yang ada dalam pikiranku. Tapi portal ini seperti memberikan pesan bahwa yang dapat memunculkannya secara utuh hanya orang yang ditentukan.” Sem berkata dengan tercekat-cekat, dia sangat kelelahan. Sem yang paling terkuras tenaganya saat ini.


“Lalu siapa?” Nin juga tersengal, memegang lutut.


“Kabar baiknya kau salah satunya, Nin. Kabar buruknya aku tidak tahu siapa pasanganmu.” Sem menjawabkan, peluh membasahi leher.


“Jadi untuk membuka portal itu perlu dua orang? Kalau begitu sudah jelas itu adalah aku. Aku keturunan pemuda tampan yang berhak dan pantas menjadi pangeran dari tuan puteri. Tidak ada lagi yang lain, kan?” Deni terkekeh, tidak merasa semua mata menatapnya dengan jeri.


“Kalau begitu kita akan mencoba satu persatu.” Tidak ada pilihan lain. Kalaupun pendapat Sem ini salah, tentu masih ada cara lain yang bisa dipikirkan.


“Baik. Nin, ayo kita lakukan berdua. Mereka tidak akan kebagian, karena kita yang akan memunculkan portal ini.” Deni menyeringai. Sinar matahari membuat wajahnya lebih memerah, semua menyadari itu. Nin mengikuti, lantas bersama dengan Deni mencoba mengangkat tangan, portal itu muncul.


Semilir angin di atas gunung membelai lembut anak-anak rambut. Lengang. Tidak terjadi apa-apa. Deni tertunduk lesu. Putus asa. Pupus sudah harapannya membuka portal bersama tuan puteri. Nin tersengal. Kelelahan. Nin memang dipastikan bisa membuka portal ini, tapi tidak sendiri. Harus ada pasangan. Tapi jika aku dan Sem tidak bisa membuka bergiliran berpasangan dengannya, Nin akan benar-benar kehabisan tenaga.


“Kau tidak apa-apa, Nin?” Aku menatap cemas. Nin mengangguk, tidak masalah. Ini baru awal petualangannya. Nin kembali menegakkan punggung. Sekarang giliranku dengannya yang akan mencoba.


Semua tetap sama. Deru angin kian terasa kencang, lebih memainkan ujung-ujung rambut kami. Matahari terus beranjak naik. Lebih hangat, lebih menyengat.


“Kalau begitu kau adalah orangnya, Sem.” Aku menepuk pundak Sem, masih berusaha mengatur nafas. Benar-benar menguras tenaga.


“Belum tentu, Den.” Sem menanggapi singkat. “Bagaimana denganmu, Nin? Kau masih kuat? Kita bisa beristirahat sejenak jika kau sudah tidak mampu.” Sem mengangkat tangan, khawatir melihat kedaan Nin yang hampir kehabisan tenaga.


Nin menggeleng. Dia berdiri dari duduknya. “Ini yang terakhir dalam menit ini, Sem. Siapa tahu kau orangnya. Jika kembali gagal. Aku harap kalian tidak menyalahkanku yang tidak kuat hanya karena portal ini. Kita akan mencobanya lagi setelah beristirahat.”


Sem dan Nin melangkah bersama, mengangkat tangan. Getaran yang menekan muncul, sama seperti yang kami rasakan sebelumnya. Tapi kali ini lebih berbeda. Getaran itu semakin kuat, berkilat. Aliran listrik seperti mengalir muncul. Berpilin, portal itu bercahaya lebih terang, lebih menyilaukan. Dan ini yang diharapkan, portal itu sudah utuh muncul di depan. Cahayanya lebih terang daripada di negara-negara sebelumnya. Portal ini juga lebih besar dua kali lipat.


Hanya beberapa kejap Nin menyaksikan portal yang dibukanya bersama Sem, dia pingsan. Kehabisan tenaga. Tapi itu bukan masalah besar. Yang menjadi pikiran sekarang adalah seperti apa kuis yang akan muncul. Angka berapa? Dan jika sudah berhasil membuka kunci portal, bagaimana jika kami tiba-tiba mendarat di dasar laut? Tidak bisa bernafas, ditelan hiu hidup-hidup.


“Aku rasa itu sudah disesuaikan oleh sistem, Jon. Kita mungkin bisa bernafas di air.” Sem juga mengambil posisi duduk. Memunculkan portal itu menguras hampir seluruh tenaganya.


“Bernafas di dalam air? Apa kita akan memiliki insang? Itu sedikit menjijikkan, Sem.” Deni memicingkan mata, geli.

__ADS_1


“Kita lihat saja nanti, Den. Sem, apa kau masih bisa memunculkan kuisnya. Kita akan punya waktu banyak untuk berpikir.” Aku beranjak mendekat portal yang berpilin itu, terlihat indah. Tetapi masih terkunci.


Sem mengangguk, dia menyentuh portal itu sekali lagi. Layar besar muncul. Ada dua buah strip yang masing-masing berisi tulisan. Hanya Sem yang mengerti, karena tulisan itu adalah bahasa pemograman.


“Kuis kali ini memiliki dua pernyataan. Kita harus menyimpulkannya dengan sebuah angka sebagai jawaban.” Sem mendongak, menatap dua pernyataan itu. memangku dagu, mencoba menterjemahkan.


Jumlah dua digit angka hasil perkalian darinya yang selalu sama dengannya.


Dua orang yang sudah ditentukan.


“Ini menyulitkan. Kau bisa menjawab, Jon?” Deni sudah membaringkan tubuhnya di tanah yang sebagian ditumbuhi rumput teki. Menyerah, bahkan sebelum dia memikirkan.


“Kenapa kau langsung menyerah seperti itu, Den? Bukankah hebat jika kau bisa menyelesaikan kuis ini sendiri? Nin mungkin akan bangga padamu.” Aku mencoba membujuk Deni berpikir.


“Bukankah wajahku sudah cukup untuk membuatnya bangga, Jon?” Deni tersenyum, menyeringai. Bertolak belakang dengan tatapanku dan Sem. Dasar sok-keren! “Baik, baik. Kita semua sudah tahu, dua orang yang sudah ditentukan itu adalah Sem dan Nin. Karena mereka yang berhasil memunculkan portal itu dengan utuh. Masalahnya adalah pernyataan pertama. Kalaupun kita tahu, bagaimana menghubungkan angka itu dengan pernyataan kedua? Hanya itu komentarku, selebihnya silakan kalian berdua yang pikirkan.” Deni menutup matanya, tidak ingin ambil pusing lebih lama.


Aku dan Sem memangku dagu. Itu benar, Deni benar. Angka itu sebenarnya sudah ada di dalam benak kami, hanya saja menghubungkan kedua pernyataan itu yang masih sulit dilakukan.


Tiga puluh menit berlalu. Aku bahkan ikut merebahkan badan di sebelah Deni. Lelah, bukan hanya tenaga yang terkuras. Tapi berpikir juga ikut menguras tenaga tanpa terasa. Sementara Nin sudah siuman. Dia mengusap wajah, baik-baik saja. Ikut berpikir, mencari jawaban itu bersama Sem.


Matahari akhirnya benar-benar berada di puncak. Semua benda terlihat tanpa bayang. Sejajar. Awan putih berpilin-pilin di kaki cakrawala. Seakan bersiap menyambut pulangnya sang mentari di ufuk barat. Hari ini sepertinya akan berlalu tanpa jawaban. Negeri laut harus diurungkan. Tapi saat berusaha memejamkan mata, aku teringat sesuatu. Sesuatu yang berhubungan, sesuatu yang menyangkut Sem, sesuatu yang menyangkut Nin. Mereka berdua mewakili angka pada kedua pernyataan itu.


“Aku sudah menemukan jawabannya.” Aku membangunkan badan. Sem dan Nin menoleh kaget. Sementara Deni tak bergeming.


“Lupakan itu, Jon. Jika kau salah, bagaimana jika portal itu menghilang? Besok-besok jika ingin memunculkannya lagi tenaga kita akan terkuras lebih banyak. Belum lagi di negara laut nanti kita harus berenang seperti ikan buntal.” Mata itu tetap terpicing, hanya mulutnya yang bicara ngawur tak karuan.


“Oh, ayolah, Den. Aku benar-benar menemukan jawabannya. Sem, kau isi kolom jawaban itu. Aku yakin sekali ini akan mengantar kita bertemu dengan karang laut.” Aku berdiri, menatap optimis. Kuis ini sudah aku taklukkan.


“Jelaskan dulu jawabanmu itu kepada kami semua disini. Boleh jadi ada yang tidak sependapat, kan?” Deni membangunkan tubuhnya, duduk.


“Baik.” Aku menarik nafas panjang. Semua mendongak, menoleh kepadaku.


Matahari sudah mulai turun dari puncak tertinggi. Bayang-bayang mulai menggurat di ujung kaki.


“Pernyataan kedua itu memang merujuk kepada Sem dan Nin. Jawaban sementara dari dua orang yang sudah ditentukan itu adalah Sem dan Nin. Pernyataan pertama adalah soal logika dan angka. Ini ternyata mudah, hanya soal perkalian dan penjumlahan. Dua digit angka yang jika dijumlahkan akan mempunyai hasil sama dengan angka yang sebelumnya menjadi pengali. Angka itu adalah sembilan. Dan sembilan adalah jawaban untuk kuis ini. Sebuah angka yang dikalikan dengan sembilan akan menghasilkan dua digit angka, kecualikan angka satu. Anggap saja itu tidak masuk hitungan. Misalnya angka tiga jika dikalikan dengan sembilan hasilnya adalah dua puluh tujuh. 27 itu 2 dan 7, jika 2 ditambahkan dengan 7 maka hasilnya adalah 9. Angka lain, misalnya 6. Jika enam dikalikan dengan sembilan, maka hasilnya adalah limapuluh empat. 54 itu 5 dan 4, jika 5 ditambahkan dengan 4 hasilnya juga adalah 9. Juga angka-angka lain yang kurang dari 10. Maka jelas, angka yang dimaksud pada pernyatan pertama itu adalah 9.”


“Bukankah kau melupakan hubungan dengan pernyataan pertama, Jon? Apa hubungan angka sembilan dengan mereka berdua?” Deni mengangkat tangan, menoleh kepada Sem dan Nin.


“Tidak. Itu masih berhubungan, Den. Kau melupakan nama mereka berdua.” Aku tersenyum.


“Melupakan nama mereka?” Deni melipat dahi.


“Ya. Nama mereka adalah Sem dan Nin. Sem itu adalah sembilan, Nin itu adalah nine dari bahasa Inggris, yang artinya juga sembilan. Berhubungan, kan?” sekarang aku yang mengangkat tangan.


“Kau jenius, Jon.” Sem tersenyum penuh penghargaan. Nin mengacungkan jempol kanannya. Tersenyum.


“Oke, itu masuk akal. Baik, aku tahu kau selalu dapat diandalkan untuk hal serumit ini, kawan.” Deni menepuk pundakku. “Nah, tunggu apa lagi Sembilan, kau masukkan jawabannya sekarang.” Deni menatap Sem, menyuruh seperti majikan. Nin menimpuknya dengan segenggam dedaunan kering. Semua tertawa melihat wajah penuh dedaunan, berantakan.


Sem memasukkan jawaban itu. Portal yang sudah lama menunggu itu akhirnya terbuka. Cahaya yang dipancarkan lebih terang, menyilaukan. Portal dengan ukuran dua kali lebih besar daripada portal sebelumnya ini terlihat seperti menganga, menunggu benda yang akan memasukinya.


“Tunggu! Tunggu! Apa kita tidak memerlukan pakaian renang? Hei, Sem!” Deni sebenarnya ingin menahan. Tapi Sem sudah lebih dahulu masuk ke dalam portal, tubuh itu sudah menghilang. Nin mengikutinya di belakang.


“Jon, kau yakin kita tidak akan mendarat di tengah-tengah kawanan hiu, kan?” Deni cemas, wajahnya pucat.

__ADS_1


“Masuk saja, Den. Ambil oksigen lebih banyak, tahan nafasmu.” Aku melambaikan tangan, meninggalkan Deni masuk ke dalam portal. Khawatir ditinggalkan sendirian, Deni juga langsung melompat menyusul.


Negara dengan karang-karang lautnya sudah menghadang. Petualangan di negara baru akan segera dimulai. Negara Laut.


__ADS_2