THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 1


__ADS_3

Ryu berjalan gontai keluar dari ruangan kerjanya. Bukan sendirian, ada seorang wanita lagi yang berjalan di belakangnya. Wanita itu tampak membenarkan pakaiannya yang sedikit acak-acakan. Wanita itu bernama Viana. Sekretaris dengan tinggi badan 165 cm dan berat 50 kg dengan postur tubuh yang sangat proposional.


Suasana kantor yang sudah sepi dikarenakan memang sudah jam 9 malam. Hanya tersisa Ryu dan Viana yang masih lembur.


"Kau pulang naik taksi saja ya. Aku tidak bisa mengantarmu." Ryu berjalan keluar kantor menuju mobilnya yang berada di parkiran. Viana tampak mengerucutkan bibirnya tanda sebel karena tidak diantar oleh Ryu.


"Enak ya jadi bos. Bisa sesuka hati. Habis manis, sepah dibuang." Viana ngedumel sambil mengotak-atik ponselnya untuk memesan taksi online.


Ryu adalah seorang CEO termuda di kotanya. Dengan usia yang baru menginjak 25 tahun ini, karirnya sudah terbilang cukup gemilang. Koleganya tidak hanya berasal dari dalam negeri. Banyak juga yang dari luar negeri percaya untuk menaruh saham di perusahaannya.


Sesampainya Ryu di rumah yang lebih dari besar, megah. Itu lebih pantas. Di rumah ini Ryu tinggal bersama Ayahnya dan para asisten rumah tangga serta supir pribadi Ayahnya. Orang tua Ryu sudah berpisah sejak Ryu berusia 17 tahun. Sampai diusianya saat ini, ia tidak mengetahui bagaimana keadaan Ibu dan adik perempuannya. Ayahnya sama sekali tidak mengizinkan Ryu untuk bertemu meski hanya untuk bertukar kabar dari ponsel saja pun tidak diizinkan. Ryu juga tidak mencari tahu bagaimana keadaan Ibu dan Adiknya, bahkan ia membenci mereka.


Ryu berjalan memasuki rumahnya yang megah menuju kamarnya. Ia melewati kamar Ayahnya, terdengar suara Ayahnya dengan seorang wanita yang entah apa sedang Ayahnya lakukan di dalam sana. Ia mengetahui pasti, tapi ia tidak peduli.


Ryu segera membersihkan dirinya, setelah selesai mandi dengan handuk masih melilit di pinggangnya. Ia meraih ponsel di kasurnya dan mengecek beberapa pesan masuk. "Tidak ada yang penting." Batin Ryu lalu membanting kembali ponselnya di kasur.


Ryu melepaskan handuknya lalu bercermin. Cermin memantulkan tubuhnya sepenuhnya, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Badan yang gagah, wajah yang tampan serta kejantanan yang besar. Pantas saja tidak ada wanita yang bisa menolak pesona Ryu. Tampan dan rupawan. Namun, hati yang sama sekali tidak bisa ditebak oleh siapa pun. Wajah tersenyum, hati memaki. Hanya Ryu yang mengetahuinya.


Tanpa memakai pakaiannya, Ryu berbaring pada kasurnya yang sangat empuk. Warna putih sangat mendominasi ruangan ini. "Bagaimana pun mereka, tetap mereka adalah Ibu dan Adikku. Ryuni, I miss your body." Pikiran Ryu liar tentang tubuh adik kandungnya itu. "Aku akan membalaskan dendamku." Ryu bergumam dengan nada penuh kebencian.


Ryu bangkit lalu berjalan ke lemari untuk mengambil celana boxer dan memakainya. Hanya dengan itu, iya keluar dari kamarnya untuk mengambil makanan di dapur.


"Apa menu makan malam hari ini?" tanya Ryu kepada pelayannya yang berada di dapur.


"Ada banyak, Tuan." Pelayan tersebut membuka tudung saji dan terlihatlah jelas semua makanan yang sudah pasti sangat enak. Dari mulai makanan laut sampai darat semua ada.


"Duduklah! Temani saya makan." Ryu menarik kursi untuk dirinya sendiri.


Pelayan pria itu mengikuti perintah Ryu tanpa sanggahan apalagi bantahan, karena Ryu adalah tipikal orang yang tidak akan terima kalimat penolakan dalam bentuk apapun. Sifat ini juga yang selalu membuatnya bekerja keras untuk mendapatkan apa saja yang ia inginkan, termasuk Ryuni.


Pelayan pria itu mengambilkan nasi putih di piring Ryu. "Silahkan makan, Tuan."


Ryu mengambil semua lauk yang ingin ia makan. "Bapak juga makanlah!" titah Ryu kepada pelayan pria yang usianya 2 kali lipat dari usia Ryu. Pelayan ini adalah pelayan tertua dan terlama yang bekerja di rumah Ryu. Satu-satunya pelayan yang paling Ryu percaya, bagaikan Ayah kedua baginya.


Pelayan yang bernama Danang itu menuruti semua perintah Ryu. Pelayan yang lain pun tidak ada yang berani membantah karena mereka tahu sekeras apa Ryu.

__ADS_1


Sedang asyik menyantap makanannya, seorang wanita berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Ryu hanya melirik sekilas dan membatin. "Wanita lain lagi!"


Wanita itu berjalan menuju dapur, dan melihat Ryu sedang makan dengan seorang pelayan.


"Kau Ryu?" tanya wanita berbaju merah itu. "Aku Deasy." Deasy menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Ryu. Namun, matanya tidak hanya fokus pada wajah Ryu, ia terpanah dengan tubuh sempurna milik Ryu.


Ryu tak menggubris ucapan wanita itu. "Dasar wanita jalang!" batinnya.


Deasy berjalan menuju kulkas dan mengambil minuman kaleng lalu ikut duduk di sebelah Ryu.


Ryu menatap risih pada Deasy. "Pak Danang, setelah makan nanti, tolong bersihkan semua sampah yang ada di sini." Ryu sengaja menekankan nadanya pada kalimat 'sampah' karena ia tidak suka dengan kehadiran orang asing.


"Baik, Tuan."


Deasy menatap liar pada tubuh Ryu yang memang tidak menggunakan baju.


"Kau boleh pergi jika tidak ada urusan di sini." Ryu mengusir Deasy tanpa melihat wajah Deasy sedikit pun.


"Benar kata orang-orang di luar sana. Ryu adalah lelaki sempurna yang tidak akan mudah untuk didekati. Tapi, yang hobinya bergonta-ganti wanita setiap harinya." Nada bicara Deasy yang terlihat meremehkan Ryu.


Ryu menatap tajam Deasy. "Pergi jika urusan Anda sudah selesai di sini." Kalimat dan tatapan yang sama tajamnya bagai ingin membunuh wanita yang ada di hadapannya.


"Wanita gila," umpat Ryu.


"Sabar, Tuan." Pak Danang berusaha menenangkan majikannya itu.


"Iya, Pak. Itu wanita lain lagi, kan?" tanya Ryu.


"Mba Deasy sih saya udah sering melihatnya di sini. Tidak tahu ada urusan apa dengan Tuan, bahkan datang hanya sebentar lalu langsung pergi." Danang menjawab dengan hati-hati.


"Yasudahlah, saya tidak ada urusan sama sekali dengan mereka. Terserah mereka mau ngapain aja." Ryu acuh pada segala urusan Ayahnya.


Sejak lama hubungan mereka tidak dekat meski tinggal satu atap setiap harinya. Tidak ada juga obrolan santai apalagi yang serius. Tidak ada juga pertengkaran di antara keduanya. Mereka bagaikan pinang dibelah dua. Sama. Mereka sama, tapi begitu asing. Entah hubungan seperti apa yang mereka jalin selama ini, yang pasti mereka tidak pernah bertengkar apalagi damai. Bahkan hanya berbicara atau sekedar menyapa saja, keduanya enggan untuk melakukannya.


Sejak perpisahan dengan Ibunya, hubungannya dengan Ayahnya kian mengasing. Bahkan sempat Ryu ingin membeli rumah sendiri dan tinggal seorang diri. Hanya saja Pak Danang lah yang menahannya.

__ADS_1


"Pak, saya sudah selesai makan. Saya mau kembali ke kamar dulu ya." Ryu berdiri dan mengambil sekaleng minuman beralkohol dari kulkasnya lalu menaiki anak tangga untuk masuk ke kamarnya.


Lagi-lagi ia melewati kamar Ayahnya dan mendengar percakapan Ayahnya yang entah dengan siapa tapi melalui telepon.


"Bereskan dia sekarang juga!"


Ryu tidak ambil pusing, bukan urusannya. "Kenapa tidak dipasang kedap suara aja sih tuh kamar. Berisik banget." Ryu mengumpat di dalam hatinya.


Sesampainya di kamar, ponselnya berderingnya.


"Halo."


"...."


"Oke, terima kasih atas infonya."


Ryu membuka laptopnya yang ada di meja kerjanya. Mengecek kiriman e-mail yang barusan dikirim oleh si penelepon.


"Bagus juga kerjanya dia." Ryu berbicara pada dirinya sendiri. Ryu meraih ponselnya dan me-redial nomor yang baru saja menghubunginya tadi.


"Silahkan selesaikan segera mungkin. Jangan sampai ada yang tahu soal ini." Ryu mematikan sambungan teleponnya sebelum menerima jawaban dari lawan bicaranya.


Ryu kembali mengecek berkas yang masuk ke e-mailnya. Meneliti setiap isinya tanpa ada sedikit pun yang terlewat dari perhatiannya.


Ponselnya berdering, Ryu melirik sekilas nama penelponnya lalu mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo."


"...."


"Tidak ada kata gagal dalam hidup saya. Segera selesaikan atau hidupmu selesai."


"...."


"Baik, aku tunggu masalah ini selesai dalam waktu 1 kali 24 jam."

__ADS_1


Ryu memutuskan sambungan teleponnya lalu menutup laptopnya dan membanting tubuh kekarnya pada ranjang besar miliknya.


"Bagaimana bisa dia ingin menghancurkan perusahaan sudah susah payah aku bangun." Ryu memijit keningnya yang berdenyut. "Tidak akan ku biarkan siapa pun menghancurkan aku."


__ADS_2