THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 11


__ADS_3

Malam ini Ryu dan Salma berada di sebuah restaurant ternama. Private room adalah pilihan utama bagi Ryu, selain ia tidak menyukai keramaian, ia juga tidak suka pada tatapan orang lain tentang dirinya bersama Salma.


"Kau ingin makan apa?" tanya Ryu.


"Aku tidak tahu makanan apa yang ada di sini." Salma berbisik karena ia malu kepada pelayan yang menunggu mereka.


"Terserah kau saja mau pesan yang mana." Ryu menyodorkan buku menu kepada Salma.


"Kau saja yang pesankan buatku." Salma mengembalikan buku menu tersebut kepada Ryu.


"Baiklah, sajikan saja menu yang terbaik dari kalian." Ryu menyerahkan buku menu kepada pelayan yang menunggunya.


"Untuk 2 porsi kan, Tuan?" tanya pelayan yang bername tag Didu.


"Kau lihat ada berapa orang di sini?" tanya Ryu sinis.


"Baik, Tuan." Didu pergi meninggalkan Ryu dan Salma.


"Ryu," panggil Salma.


"Hm?" Ryu hanya mengernyitkan keningnya sebagai ganti dari pertanyaan 'ada apa?'


"Kenapa kita ada di ruangan yang seperti ini? Bukankah di luar juga itu masih banyak meja kosong?" tanya Salma.


"Aku tak ingin mereka melihatmu apalagi sampai berpikiran buruk tentangmu." Ryu menjawabnya datar.


"Kau melindungiku?" tanya Salma.


"Karena kau asistenku."


"Hm, baiklah." Tampak Salma sedang memikirkan sesuatu. "Seburuk apa pemikiran mereka tentangku jika aku bersamamu seperti ini?" tanya Salma.


"Apa kau terima kalau mereka menganggapmu wanita jalang?" Ryu balik bertanya.


"Seperti itu kah? Aku akan marah jika mereka bilang seperti itu, karena saat ini aku belum seperti itu." Salma memutar bola matanya jengah membayangkan orang lain seandainya ada yang berkata seperti itu kepadanya.


Ryu menatap tajam Salma. "Belum katamu?"


"Iya, belum."


"Dasar gila kau!" umpat Ryu.


"Apa kau tahu orang miskin sepertiku ini sangat mungkin untuk menjadi seorang jalang. Asal dapat mengisi perut dan tidur dengan nyenyak, bagi kami itu sudah cukup." Salma terbayang masa di mana ia sangat sulit untuk makan dan ibunya juga sakit.


"Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi. Apapun yang kau butuhkan, bilang saja padaku. Jangan sampai kau jual tubuhmu kepada lelaki lain. Apalagi sampai ada yang menyentuhmu selain aku." Ryu tidak sadar dengan ucapannya barusan.


Salma membelalakkan matanya meminta penjelasan dari ucapan Ryu. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


Ryu gelagapan untuk menjawab pertanyaan Salma. Untung saja pelayan datang untuk mengantarkan makanan mereka. Terselamatkan Ryu.


"Silahkan makan, Tuan, Nyonya." Pelayan tersebut pergi meninggalkan Ryu dan Salma.


"Mari makan!" ajak Ryu kepada Salma.


"Yang tadi masih menggantung." Salma protes.


"Lupain ya. Sekarang kita makan. Aku sangat lapar." Ryu menyendok makanan yang ada di hadapannya lalu melahapnya. "Enak."


Salma melirik Ryu lalu menghembuskan napas perlahan seolah ia kalah menghadapi Ryu.


"Sehabis makan ini kau mau ke mana?" tanya Ryu.


Salma melirik Ryu sekilas. "Ke mana? Aku tidak tahu. Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah sebentar boleh? Malam ini juga aku akan kembali ke apartementmu kok."


"Tidak mau ku antar?" tawar Ryu.


"Tidak usah. Aku sendiri saja. Aku pasti kembali kok. Tidak berani kabur. Hanya ingin melihat keadaan ibuku saja." Salma merindukan ibunya, satu-satunya harta yang ia miliki.


Meski ada ayah dan adiknya, tetap saja hanya ibunya yang mengerti bagaimana dia.


"Baiklah, berikan ini kepada ibumu." Ryu menyerahkan beberapa lembaran uang yang jumlahnya cukup banyak. "Kau tidak akan sering-sering kembali ke rumahmu. Karena minggu depan kita harus ke luar kota untuk mengurus bisnisku."


"Iya, terima kasih banyak. Tapi, ini tidak perlu aku rasa." Salma mengembalikan uang pemberian Ryu.


"Ini pasti rayuanmu agar aku tidak kabur, kan?" Salma tertawa.


"Kau tahu saja." Ryu tertawa.


"Makanan tidak usah. Nanti aku beli di pinggir jalan saja. Aku jalan sekarang boleh? Takut kemaleman." Salma beranjak dari duduknya.


"Naik taksi. Jangan jalan kaki." Ryu menelpon seseorang. "Bentar aku pesankan taksi untukmu. Jangan pulang larut malam. Bahaya."


Salma mengangguk.


Mereka berdua berjalan ke luar restaurant.


"Aku tunggu sampai taksimu datang. Oh iya, kalau ada apa-apa segera hubungin aku. Aktifkan ponselmu kalau sewaktu-waktu aku menghubungimu."


Ryu memang baru saja membelikan ponsel baru untuk Salma. Ia ingin Salma menjadi lebih baik dari ini. Ia akan mengajari Salma menjadi seorang sekretaris agar ia bisa menjadi sekretaris Ryu bukan hanya seorang asisten.


Seorang Salma berhasil membuat Ryu luluh. Entah apa yang dimiliki oleh Salma, yang pasti ia berhasil.


"Ingat jangan pulang terlalu malam." Ryu membukakan pintu taksi untuk Salma.


"Siap, Bos." Salma tersenyum senang dengan perlakuan Ryu.

__ADS_1


Ryu pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil pakaiannya. Ternyata sudah banyak yang menyambutnya karena beberapa hari memang ia tidak pulang ke rumahnya.


Namun, dari segitu ramainya pelayan. Ayahnya tidak nampak batang hitungnya sama sekali. Hanya Pak Danang yang menyambutnya, tampak mimik kekhawatiran dari Pak Danang.


"Selamat malam, Tuan. Tuan kemana saja beberapa hari tidak pulang ke rumah?" tanya Pak Danang.


"Pak, aku ada urusan pekerjaan. Untuk beberapa bulan ke depan aku akan jarang pulang ke rumah. Bilang sama Ayah aku sibuk belakangan ini. Aku pamit ke kamar dulu ya, Pak." Ryu meninggalkan para pelayannya di lantai bawah.


Saat ia melewati kamar Ayahnya, terdengar suara desahan wanita. Sudah diduga pasti Ayahnya sedang bersama jalangnya. Ia langsung masuk ke kamar dan membereskan pakaiannya ke dalam koper besar.


Tanpa sempat merebahkan tubuhnya di kasur, ia segera membawa koper besarnya menuruni anak tangga untuk segera kembali ke apartementnya.


"Tuan mau pergi lagi?" tanya Pak Danang.


"Iya. Sampaikan sama Ayah jangan cariin aku. Aku sibuk dengan urusan kantor." Ryu pamitan kepada Pak Danang.


"Baik, Tuan. Sini saya bantu." Pak Danang membawakan koper Ryu dan menaruhnya ke bagasi mobil Ryu.


"Saya pergi dulu, Pak." Ryu menjalankan mobilnya keluar dari rumah mewahnya.


***


Ryu sampai di apartementnya, begitu ia membuka pintu ternyata Salma sudah kembali karena terlihat lampu yang sudah menyala serta suara shower kamar mandi terdengar.


Ryu masuk perlahan agar tak mengagetkan Salma. Sampai membuka pintu kamarnya perlahan. Namun, ia terpaku begitu melihat ternyata Salma baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang belum terikat. Terpampang jelas seluruh tubuh Salma. Baik Salma ataupun Ryu, tak ada yang berteriak. Mereka terdiam pada posisi mereka masing-masing.


"Tutuplah tubuhmu." Ryu menutup pintu kamar lalu keluar. Tubuhnya panas dingin dan ada sesuatu yang ingin berontak di bawah sana.


Salma malu, ia segera memakai bajunya. Lalu keluar menemui Ryu.


"Aku minta maaf. Kran di kamarku masih belum dibenarin." Salma duduk di sofa yang berada di hadapan Ryu.


"Aku yang minta maaf tidak mengetuk terlebih dahulu. Malah aku mengendap-endap karena takut mengejutkanmu." Ryu tak berani menatap wajah Salma.


"Maafkan aku." Salma berlutut di hadapan Ryu.


Ryu dengan sigap berusaha mengangkat pundak Salma agat tidak berlutut. "Sudahlah."


"Aku tak enak terhadapmu." Salma tertunduk malu.


Ryu tak kuasa membendung hasratnya. Ia meraih dagu Salma lalu mendekatkan wajahnya kepada Salma dan mengecup lembut bibir ranum milik Salma.


Tak ada penolakan dari Salma. Ia sepertinya menikmatinya. Bahkan ada sesuatu yang menuntut untuk diberi lebih oleh Ryu. Ciuman mereka semakin panas dan ganas. Saling menuntut satu sama lain. Sampai di mana tanpa sadar, Salma telah mengelus sesuatu milik Ryu yang mengeras di balik celananya. Salma mengelusnya dari luar. Ryu hanya bisa mendesah di sela ciuman panas mereka.


Salma memberanikan diri untuk membuka ikat pinggang Ryu dan juga resletingnya dan mengeluarkan isinya.


"Besar sekali," pekik Salma.

__ADS_1


Ryu membimbing agar Salma tiduran di sofa dan Ryu membuka celana pendek Salma lalu bermain di bawah sana. Salma menggelinjang hebat merasakan nikmatnya perlakuan Ryu di bawah sana.


__ADS_2