
Kogo sudah berada di kamarnya bersama Deasy. Malam ini rencananya Deasy akan menginap di rumah Kogo karena ia sudah berjanji akan menemani Kogo sepanjang malam ini.
"Deasy," panggil Kogo.
"Hm?" Deasy memalingkan wajahnya sejenak dari ponselnya. "Kenapa? Kau mau mandi dulu?" tanya Deasy.
"Tidak. Hm ... aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanya aja, kayak sama siapa aja." Deasy membuka bajunya. "Aku ingin mandi dulu ya. Gerah banget."
Kogo hanya memandang tubuh Deasy yang tanpa apapun masuk ke dalam kamar mandi. "Kau ingin ke club kemarin lagi tidak?" tanyanya.
Deasy berteriak dari dalam kamar mandi. "Ngapain ke sana lagi?"
"Kau sering ke sana?" tanya Kogo.
"Tidak, hanya sesekali saja."
"Kau pernah melihat Ryu di sana?" tanya Kogo lagi.
"Tidak pernah." Deasy menyalakan showernya. "Oh pernah sekali," lanjutnya lagi. "Kenapa?"
"Kemarin ada dia di sana. Dan itu pertama kalinya ia berbicara padaku secara langsung, meski matanya tak mau menatapku."
"Kau pasti tahu itu kesalahan siapa," ucap Deasy.
"Aku sadar."
"Tunggu sebentar lagi aku selesai mandi. Biar kita lebih enak ngobrolnya tidak perlu teriak-teriak." Deasy mempercepat kegiatan mandinya.
Kogo membaringkan tubuhnya di ranjang, memijit keningnya yang mulai berdenyut. Ia tak tahu bagaimana cara untuk mengembalikan apa yang sudah ia lewatkan. Ia pasrah pada keadaan.
Deasy keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk saja. "Bagaimana? Ada yang mengganjal?" tanyanya sambil mengeringkan tubuhnya yang basah.
"Ryu. Ia sudah lama tidak pulang ke rumah ini."
"Mungkin ia ingin mandiri," tegas Deasy.
"Mandiri seperti ini?" tanyanya.
"Bukannya sejak ia remaja kau yang selalu mengajarkan padanya untuk menjadi anak yang mandiri, bukan?" tanya Deasy memastikan bahwa pendapatnya adalah benar.
"Aku tidak pernah mengajarkannya seperti itu." Kogo membantah.
"Bukannya sejak kau pisah dari istrimu, kau memperigati Ryu untuk menyiapkan segala keperluannya sendiri? Kau yang menyuruhnya untuk belajar menyiapkan pakaian sekolahnya sendiri, dan sepulang sekolah kau jemput dia untuk ke kantormu belajar berbisnis denganmu lalu malamnya kau masih menuntutnya untuk belajar agar nilai sekolahnya tetap bagus. Kau yang membentuk sikapnya saat ini," jelas Deasy.
"Kau menyalahkanku?" tanya Kogo.
"Tanpa aku bilang pun, kau pasti menyadarinya, bukan? Kau hanya butuh seseorang yang membantumu untuk menyudutkan dirimu sendiri. Dengan begitu kau bisa benar-benar sadar kalau kau ini bersalah hanya egomu saja yang terlalu besar." Deasy meletakkan handuknya dan memakai hotpants serta kaos oblong yang kebesaran karena itu adalah kaos Kogo.
"Saat kau pergi dari kantor, kau hanya di kost saja?" tanya Kogo.
"Tidak. Aku langsung mengemasi barangku karena aku takut kau langsung mencariku ke kost."
"Kau ke mana saat itu?"
"Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku. Karena aku pikir kau tidak akan mungkin berani untuk mencariku ke rumah orang tuaku. Tapi, aku salah besar." Deasy tertunduk malu. "Aku diusir oleh Papaku."
__ADS_1
"Lalu kau ke mana setelah itu?"
"Ya ... aku kembali ke kost lah. Mau ke mana lagi aku kalau tidak kembali ke kost."
"Lantas malam itu mengapa kau bisa sampai di club itu?" tanya Kogo.
"Bukan hanya malam itu. Sebelum malam itu juga aku ke sana bersama tetangga kost ku. Dia yang sering ke sana. Katanya aku harus ikut bersenang-senang agar tidak bunuh diri di kamar saja."
"Memangnya kau mau bunuh diri?"
"Tidak juga. Aku kan phobia pada darah. Bagaimana aku melukai diriku sendiri."
"Kalau gantung diri kan tidak sampai berdarah."
"Aku juga berpikir seperti itu. Hanya saja prakteknya tidak semudah yang ada di televisi. Susah buat talinya. Yaudah aku ikut saja ke club. Dan malam itu aku bertemu laki-laki yang kau labrak waktu itu."
"Jadi, kalian sudah dekat?"
"Iya. Dia baik. Dia mengajakku untuk tidur bersamanya. Kau tahu dia bilang apa?"
Kogo menggeleng.
"Dia bilang kalau dia mau menemaniku. Tidak sepertimu yang selalu menyuruhku untuk menemanimu. Kau tidak sadar apa kalau aku juga butuh kau temani."
"Maafkan aku."
"Temanilah aku malam ini. Boleh?" Deasy menatap sayu Kogo.
Kogo mendekat dan mendorong tubuh Deasy sampai tertidur. Ia membuka hotpants yang dikenakan Deasy. Tanpa pakaian dalam lagi, sudah langsung terlihat milik Deasy yang sangat disukai Kogo. Kogo langsung menjilatnya seperti sedang memakan eskrim.
"Apa dia memperlakukanmu seperti ini?" tanya Kogo di sela cumbuannya pada milik Deasy.
Kogo menuruti permintaan Deasy. Deasy semakin menggelinjang karena permainan Kogo di bawah sana.
"Jangan pernah lagi dekat dengan lelaki manapun selain denganku. Kau milikku dan tidak boleh dimiliki orang lain."
"Nikahin aku!" pinta Deasy.
"Segera akan ku wujudkan permintaanmu itu. Tapi, bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Kogo.
"Selama ini aku sudah membangkang, bukan? Biarlah tanpa restu mereka. Toh, aku juga sudah tidak diakui lagi."
"Baiklah. Bulan depan kita akan menikah. Kau persiapkan semua keperluannya. Kau tidak perlu ke kantor dulu sampai acara pernikahan kita selesai."
Deasy hanya mengangguk sambil memainkan milik Kogo. Mereka sudah bertukar posisi.
***
"Bekerjalah dengan baik malam ini. Aku akan menunggumu di sini." Ryu mengecup kening Salma dan ia duduk bergabung dengan sahabatnya itu.
Ale menyambut hangat kedatangan Ryu. "Baru datang?" tanyanya.
"Sudah dari 5 menit yang lalu sampai di parkiran."
Ale menyodorkan sloki kecil berisi wine. "Nih minum dulu biar benar tuh otak."
Ryu menerimanya lalu menenggak habis. "Udah dari tadi?" tanyanya kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Udah dari setahun yang lalu sejak cafe ini dibuka." Tawa Ale menggelegar. "Auh ... enak banget." Ale menikmati pijitan pada miliknya dari wanita yang ada di sampingnya.
Ryu hanya memutar bola matanya jengah melihat perlakuan sahabatnya itu. Untung saja mereka duduk di sofa yang sandarannya cukup tinggi dan sedikit tertutup. Jadi, orang lain tidak bisa melihatnya.
"Kau ini otaknya hanya sebatas yang ada di dalam celana saja." Ryu mengumpati kelakuan Ale.
"Kayak kau enggak aja. Ah ...," geram Ale saat ia sudah mencapai puncaknya.
Wanita yang bersama Ale dengan cekatan melahapnya sambil membersihkan layaknya menikmati eskrim paling nikmat. Sampai bersih tak tersisa.
"Giliranmu nanti ya. Masih ada Ryu di sini. Nanti dia juga ingin menikmatimu. Aku tidak mau." Ale mencium bibir wanita itu yang belepotan.
Ryu bergidik ngeri. Rasanya ia jijik sekali melihat Ale seperti itu. Yang ada di pikirannya apa enaknya seperti itu.
"Pergilah sana ke atas. Jangan di sini. Kau ini membuat rusuh saja." Ryu mengusir keduanya.
"Kebetulan sekali kau mengusir kami. Padahal aku tidak enak meninggalkanmu sendiri di sini. Tapi, demi kebaikan bangsa dan negara. Dah ... aku mau ke atas dulu ya." Ale merangkul wanitanya dengan sesekali mencumbunya. Rasanya Ale sudah tidak kuat lagi.
Ryu hanya bergeleng heran menatap kelakuan sahabatnya itu. Ryu menghampiri Salma yang sedang bekerja bersama Hans.
"Aku bosan." Ryu duduk di kursi tinggi menghadap meja bar.
"Aku tidak," lanjut Hans.
"Gak nanya." Salma ikut menimpali.
Mereka bertiga tertawa bersama. Salma saat ini sudah ramah kepada Hans dan pelanggan lain sejak ia bersama Ryu.
"Ale mana?" tanya Hans.
"Biasalah. Temanmu itu otaknya udah berubah bentuk jadi bulat dan lonjong."
"Lalu, mengeras begitu melihat wanita seksi," lanjut Hans.
Mereka berdua tertawa bersamaan membicarakan perilaku Ale yang memang sejak kuliah tidak pernah berubah.
"Oh iya, kemarin itu Ayahmu kan?" tanya Hans.
"Iya. Memalukan sekali."
"Masih sama seperti itu?" tanya Hans.
"Gak pernah berubah malah." Ryu tersenyum tipis.
"Bagaimana persaingan bisnis kalian?" tanya Hans lagi.
"Akan segera menuju kehancurannya."
"Masih ingin membalas dendam?"
"Harus. Agar dia sadar kalau apa yang ia miliki tidak kekal. Lihat saja setelah dia jatuh. Apa dia akan sadar bahwa keluarga adalah yang paling utama." Ryu menatap kosong.
"Aku percaya padamu. Lakukan yang terbaik tanpa menyakiti siapapun."
"Eh, bagaimana bisa? Pasti dia akan tersakiti."
Hans segera mengambil sikap untuk membela diri. "Eh maksudku bukan seperti itu. Lakukan apa saja asal tidak melukai siapapun. Nah, ini baru benar. Jangan sampai ada nyawa yang melayang."
__ADS_1
"Aku bukan pembunuh berdarah dingin sepergi Makoto Kogo." Kebencian itu mencuat.