THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 24


__ADS_3

"Ryu," panggil Salma.


"Eh hai, Salma." Ryu menyapa semanis mungkin.


"Kau di sini?" tanya Salma.


"Iya aku mencarimu."


Tatapan Adit sangat tajam kepada Ryu. Ia merasa posisinya akan segera diambil oleh Ryu. Salma melihat ekspresi ketegangan dari keduanya meski Ryu tampak tersenyum.


"Kau pulanglah duluan, Dit. Aku nanti pulang bersama Ryu." Salma terpaksa mengusir Adit.


"Baiklah." Adit pamitan lagi kepada Ayah dan Ibu Salma.


"Salma." Adit menggenggam tangan Salma. "Inget janji kita."


Ryu emosi tapi ia tetap berusaha tersenyum untuk menutupi rasa cemburunya. Salma melirik sekilas kepada Ryu. Segera Salma melepaskan genggaman tangan Adit.


"Pulanglah," ucap Salma lirih.


Adit mengangguk paham. Lalu menyalakan mesin motornya dan meninggalkan rumah orang tua Salma.


"Kau siapa?" tanya Delima.


"Selamat malam, Bu." Ryu menyodorkan tangannya ingin menyalam tangan Delima. Delima menarik tangannya agar tak tersentuh Ryu.


"Jangan datang ke sini lagi. Jangan panggil saya, Bu. Saya bukan Ibu kamu. Pergi kamu dari sini," ucap Delima lantang.


"Ibu, ini temannya Salma." Salma berusaha menenangkan Ibunya.


"Tidak. Teman Salma hanya Adit. Salma tidak boleh dekat sama yang lain selain Adit. Titik." Delima menarik tangan Salma ke dalam rumah. "Ayo masuk!" titah Delima pada putri sulungnya itu.


Salma ingin menolak. Tapi, Delima adalah bukan tipe orang yang bisa dibantah. Salma hanya bisa menatap Ryu miris. Ryu juga tidak tahu harus bagaimana. Ia membiarkan saja Delima mau apa.


Delima membanting pintu dengan kasar. Meninggalkan Ryu dan Aini di depan rumah.


"Kau lihat bagaimana tertutupnya Ibuku dengan orang baru?" tanya Aini. "Bahkan teman wanitaku saja diusir juga sama Ibu. Sejauh ini cuman Kak Adit yang bisa diterima oleh Ibu."


"Bisa bantu aku?" tanya Ryu.


"Bantu apa?" Aini balik bertanya.


"Kau tahu bagaimana caranya agar Ibumu bisa sembuh?" Ryu meminta bantuan kepada Aini.


"Aku tidak tahu."


"Aku ingin membawa Ibumu ke Psikiater. Apa kau mengizinkannya?" tanya Ryu.

__ADS_1


"Aku sebenarnya tidak setuju. Tapi, coba tanya dulu ke Kak Salma."


"Iya. Aku akan meminta izinnya terlebih dahulu. Sekalian juga aku ingin meminta izin untuk membawa Ayahmu ke Rehabilitasi Narkoba."


"Silahkan saja. Aku setuju saja asal ini baik dan tentunya semua biaya harus kau tanggung."


"Aku siap. Aku hanya meminta izin kepada kalian selaku anak-anaknya."


"Tanyakan pada Kak Salma. Aku ingin masuk ke dalam. Ini sudah larut malam. Kau lebih baik pulang saja sana."


"Tidak apa-apa. Aku tunggu Salma sebentar lagi. Kau masuk sajalah. Terima kasih sudah menemaniku tadi, Aini."


"Iya, Kak Ryu." Aini sudah bisa menerima keberadaan Ryu dan menerima kalau Ryu ini adalah pacar Salma.


20 menit Ryu menunggu di depan rumah Salma. Duduk di motornya dengan sesekali menepuk nyamuk yang berusaha menghisap darahnya. Ia masih setia menunggu Salma, dan berharap dapat mengajak Salma pulang ke rumahnya.


Pintu terbuka perlahan, meski begitu tetap saja suara decitan pintu terdengar. Muncullah Salma dari dalam rumah.


"Kau masih di sini?" tanya Salma.


"Menunggumu."


"Kenapa tidak pulang saja?" tanya Salma dengan nada sinis.


"Kau mengusirku?" Ryu menatap sayu sosok gadis yang cintai ini.


"Bukan begitu. Kau sudah melihat semuanya, kan? Masih ingin bertahan denganku?" Nada bicara Salma seperti orang yang sedang putus asa.


"Kau bisa cari wanita lain. Banyak yang lebih pantas untukmu, bukan wanita dengan latar belakang keluarga seperti aku ini. Kau orang terpandang, tersohor hampir di penjuru negeri. Lihat aku? Apa yang bisa kau banggakan dariku?"


Ryu turun dari motornya. "Ayo ikut aku. Kita obrolin di apartement saja. Aku tidak ingin menciptakan keributan di sini." Ryu menarik tangan Salma dan menyuruhnya untuk naik ke jok belakang.


"Aku tidak bisa pergi." Salma ingin turun dari motor Ryu.


"Kenapa?" tanya Ryu.


"Nanti Ibu nyariin aku. Kau pulang saja."


"Jadi, ini masalahnya karena kau masih mengharapkan Adit, kan? Bukan karena keadaan keluargamu yang seperti ini, kan?" tanya Ryu dengan nada sarkasnya.


"Kau ini apa-apaan berpikir seperti ini?" Nada bicara Salma sudah meninggi.


"Bahkan kau membentakku? Kau ini kenapa? Perasaan tadi siang kau baik-baik saja. Sekarang kau seperti ini."


"Kau yang bersikap kasar padaku. Apa karena wanita itu." Salma membalikkan tuduhan Ryu.


"Tadi siang juga aku jelaskan mengapa aku bisa ke sana dengannya. Lagian selama makan siang aku bersamamu, mengabaikan mereka berdua. Velly juga tahu kalau kau itu calon istriku, dia tidak pernah menggodaku. Bahkan dia menjaga jarak denganku. Bukan seperti Adit yang seharian ini bersamamu, bahkan sampai diantar ke rumah dan bisa dengan akrab seperti itu dengan keluargamu."

__ADS_1


"Iya, Adit melamarku tadi. Ia ingin menikahiku. Ia meminta izin kepada orang tuaku." Salma tertunduk.


"Naik!" titah Ryu.


Salma menuruti perintah Ryu. Dan Ryu langsung menstarter motornya menjauhi rumah orang tua Salma.


"Kita ke apartement ya." Ryu menarik tangan Salma untuk memeluk pinggangnya. "Pegangan ya. Nanti jatuh lagi loh. Cukup jatuh cinta saja sama aku." Ryu tersenyum miris di balik helmnya.


Salma hanya memeluk sesuai permintaan Ryu.


Sesampainya di depan apartement, anak buah Ryu sudah menunggu di depan. Setelah Ryu memberikan motornya lalu manggandeng Salma masuk ke dalam.


"Kau duduk dulu. Aku ingin ngambil minum." Ryu berjalan ke dapur mencari minuman dingin di kulkas.


"Nih minum dulu. Aku haus banget." Ryu membuka kaleng minuman dan menghabiskan setengah dari isinya.


"Ryu," panggil Salma.


"Hm? Kenapa, Sayang?" Ryu menatap Salma dalam.


"Kau baik-baik saja?" tanya Salma.


"Akan baik-baik saja selama kau tetap di sampingku. Aku belum siap jika kau meninggalkanku. Kalau soal Velly, aku bisa memecatnya besok kalau kau tidak suka." Ryu menggenggam tangan Salma dan berlutut. "Aku siap menjadi pendampingmu."


Salma menetaskan air matanya dan mengenai tangan Ryu. Dengan sigap Ryu menghapusnya.


"Ku mohon jangan menangis. Kau satu-satunya orang yang aku punya saat ini." Ryu menatap dalam pupil mata Salma.


"Aku tidak tahu."


"Aku belum bercerita kepadamu karena aku tidak mau kau menerimaku karena perasaan itu. Aku janji akan menceritakan semuanya setelah kita menikah. Dan kau juga mengizinkan aku membantu keluargamu karena setelah kita menikah, kan?" Ryu memeluk perut Salma.


"Jangan lakukan itu. Biar saja aku yang berusaha untuk keluargaku."


"Kau ini apa-apaan. Hm? Kau ini calon istriku, kau akan jadi tanggung jawabku. Keluargamu juga tanggung jawabku. Jangan berpikiran negatif apapun itu." Ryu masih berusaha meyakinkan Salma.


"Terima kasih atas niat tulusmu." Salma mengelus lembut rambut Ryu. "Kau tidak lelah? Tidur yuk."


"Tapi, peluk ya. Aku ingin bermanja padamu. Seharian ini aku merindukanmu terlebih lagi rasa cemburuku padamu." Ryu menggendong Salma ala bridal style sampai ke kamarnya dan merebahkannya di kasur besarnya.


Ryu menyusul dan memeluk tubuh Salma dari belakang. "Aku mohon tetaplah nyaman dalam pelukku. Jangan tinggalkan aku."


Salma mengangguk dalam pelukan Ryu.


"Aku boleh meminta sesuatu kepadamu?" tanya Ryu.


"Boleh. Apa itu?" Salma menjawab lirih tanpa berniat melihat Ryu.

__ADS_1


"Aku mohon jangan bertemu dengan Adit lagi. Aku cemburu. Aku takut kau kembali padanya." Ryu mempererat pelukannya pada pinggang Salma.


Salma tak menjawab. Namun, Ryu merasakan lengannya yang sebagai bantal untuk kepala Salma terasa basah. Seperti ada sesuatu yang mengalir. Salma menangis.


__ADS_2