
Deasy sepanjang perjalanan sampai ke rumah Kogo selalu ngedumel tak karuan karena kakinya yang panas akibat saos dan juga rok yang basah membuatnya sangat tidak nyaman. Kogo hanya diam tanpa memberikan komentar sedikit pun. Ia fokus menyetir saja.
"Kau kenapa diam saja?" tanya Deasy.
"Kau itu yang kenapa mengomel saja sepanjang jalan. Aku pusing mendengarkannya."
"Ini perbuatan anakmu-"
"Tadi, kau bilang itu temannya Ryu." Kogo memotong ucapan Deasy yang menyalahkan putra sulungnya.
"Iya maksud aku itu. Tampaknya dia sengaja menumpahkan saos itu." Deasy tampak sangat kesal.
"Sudahlah, kau tahu kan kalau kau mengomel sepanjang jalan tidak akan membuat semuanya seketika baik-baik saja. Diam saja sudah sangat membantuku agar tidak pusing di dalam mobil ini dan dapat menyetir dengan baik dan benar. Mengerti?" Kogo sangat sarkas kepada Deasy.
Deasy mengangguk paham dan diam seketika.
Sampailah mereka di rumah Kogo dan segera Deasy menghambur keluar karena sudah tidak tahan menahan rasa panas di kakinya.
Para pelayan hanya memperhatikan saja tanpa berani mengusik. Karena memang mereka dibayar untuk berjaga, bukannya mencampuri urusan Tuannya.
Deasy sudah berada di dalam kamar mandi ketika Kogo masuk ke dalam kamarnya. Terdengar suara shower dan percikan air. Kogo lelah dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa membuka jas dan sepatunya terlebih dahulu.
Kogo sudah terlelap ketika Deasy sudah selesai mandi. Hanya mengenakan bathrobe saja, ia keluar dari kamar mandi. Melihat Kogo yang tertidur, ada niatan jahil Deasy untuk mengganggunya. Namun, ia urungkan niatnya karena takut Kogo marah. Ia memutuskan untuk ikut rebahan juga di samping tubuh Kogo sambil memainkan ponselnya.
Sesaat ranjang bergerak karena Kogo ternyata sudah bangun. Ia merenggangkan otot-ototnya dan berusaha memulihkan kesadarannya.
"Sudah bangun?" tanya Deasy.
"Nghhh," erang Kogo.
"Aku sudah mandi ini, sudah wangi. Kita pergi jalan-jalan lagi yuk. Aku pingin beli tas dan sepatu. Bajuku juga nih tidak ada. Aku aja hanya pakai bathrobe doang ini." Deasy berbicara hanya dengan satu tarikan napas.
Kogo bangkit dari tidurnya lalu menarik tubuh Deasy agar ikut bangun juga. Saat ini posisinya Deasy sedang duduk di pinggir ranjang dengan Kogo berdiri di hadapan Deasy.
Kogo membuka resleting celananya dan mengeluarkan isinya yang sudah setengah menegang. "Mending kau lahap ini saja. Daripada Kau terlalu banyak bicara."
Deasy belum sempat menjawab apapun, mulutnya sudah dijejeli oleh Kogo. Masih setengah menegang saja sudah memenuhi mulut Deasy sampai sulit bernapas, bagaimana kalau menegang sempurna.
Kogo mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur agar Deasy semakin kewalahan di bawah sana. Deasy semakin tak karuan. Bahkan rasanya sampai menohok ke tenggorokannya. Namun, nikmat.
__ADS_1
Tak sampai di situ saja pergulatan mereka. Saat ini Kogo sudah terbaring di kasurnya dengan Deasy yang menduduki bagian intinya dan sedang bergerak naik turun di atas sana. Keringat membasahi keduanya sampai mereka sudah berganti posisi lagi. Deasy yang sedang menungging dengan Kogo yang menghujamnya dari belakang. Desahan keduanya sudah menggema dan memenuhi ruangan ini.
"Ah, Kogo ... aku ... hm ... sudah tidak kuat lagi." Tubuh Deasy menegang di bawah sana.
"Sebentar. Keluar bersama." Inti Kogo juga membengkak di dalam sana pertanda kalau sebentar lagi akan ada sesuatu yang tersembur.
Tak berapa lama, tubuh keduanya menegang menikmati indahnya surga dunia ini. Tubuh Kogo ambruk di samping Deasy. Lelah.
***
"Aini suruh ke sini aja deh." Ryu menyuruh Salma untuk menghubungi Aini.
"Kenapa?" tanya Salma.
"Sekalian suruh bawa berkas yang kemarin aku minta, bilang sama Aini gitu. Di sini kalau malam hari tempatnya cantik banget." Ryu bermain lagi bersama anak-anak yang lain.
"Kau ingin di sini sampai malam?" tanya Adit.
"Iya. Tenang suasananya kalau malam hari di sini."
Salma mengambil ponselnya di dalam tas untuk menghubungi Aini sesuai perintah Ryu.
Adit pun meninggalkan Salma dan ikut bermain bola dengan Ryu dan anak-anak yang lain.
Salma ikut bergabung dengan ibu-ibu dan baby sitter dari anak-anak yang sedang bermain bersama Ryu dan Adit. Dari cerita mereka kepada Salma, Ryu sering ke sini dan bermain bersama anak-anak. Katanya biasanya sepulang bekerja karena masih memakai setelan jas kerja. Ryu memang sering membelikan eskrim atau bahkan mainan untuk semua anak-anak di sini. Bahkan ada cerita, pernah ada anak yang sakit tapi gak mau minum obat dan makan. Jadi, dibawa ke sini untuk bertemu Ryu. Setelah disuapin Ryu, akhirnya mau makan dan minum obat. Segitu penyayangnya Ryu kepada anak-anak di sini. Senyum Salma tersungging setiap mendengar cerita dari ibu-ibu di sini.
"Kak Adit," panggil Aini dari pinggir lapangan.
Adit menghentikan permainannya dan melihat asal suara yang memanggilnya. "Aini!" pekiknya.
"Kak Salma mana?" teriak Aini.
"Itu di sana." Adit menunjuk ke arah Salma duduk bersama ibu-ibu, lalu melanjutkan permainannya.
Aini menghampiri Salma yang sedang mengobrol.
***
Anak-anak sudah pulang karena memang hari sudah sore. Adit dan Ryu malah merebahkan dirinya di lapangan berumput. Aini dan Salma menghampiri mereka berdua lalu duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Bau," ledek Salma pada Ryu yang menyenggol lengannya.
"Namanya juga keringetan." Ryu memanyunkan bibirnya.
Salma mencari tisu di dalam tasnya lalu mengambil dan mengelapkan pada wajah Ryu yang berkeringat. Adit melirik yang Salma lakukan, cemburu.
"Eh, ada Aini. Bagaimana?" tanya Ryu.
Aini menyerahkan amplop cokelat besar kepada Ryu. "Ini berkasnya."
"Udah komplit?" Ryu menerimanya.
"Udah."
"Minggu depan ya mulai masuk sekolah." Ryu menaruh amplop tadi di samping tubuhnya tanpa melihat dulu isinya.
"Itu apa?" tanya Salma.
"Lihat aja!" Ryu memejamkan matanya.
Salma meraih amplop cokelat dan membukanya. "Oh kirain apaan." Memasukkan kembali isinya dan menutup kembali dengan rapi. "Buat apaan?" tanyanya lagi.
"Daftar sekolah," jawab Aini.
Salma mendelikkan matanya kepada Aini. "Kenapa? Kau merepotkan Ryu ya?" protes Salma.
Ryu melerai Salma. "Tidak. Aku tidak repot. Sekolah itu penting, kan? Kau sendiri yang bilang kemarin kalau Aini harus tetap bersekolah. Aku sama sekali tidak repot. Sudahlah, Salma. Aini harus meraih cita-citanya." Ryu menatap Aini. "Kau ingin jadi dokter, kan?" tanyanya kepada Aini.
Aini mengangguk.
"Belajar yang benar mulai sekarang. Dokter harus pintar, kalau tidak bisa salah suntik kan bahaya." Ryu tertawa.
Adit hanya menyimak. Ia sadar kalau Ryu ini adalah orang yang baik. Meski Ryu juga tidak sebaik yang mereka pikirkan. Tapi, Adit dan Salma yakin kalau Ryu memang baik. Sikap keras dan kasarnya terbentuk karena dendamnya kepada Ayahnya. Sebenarnya, Ryu baik.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku tahu kalau aku ini emang ganteng. Nanti pada naksir, loh." Ryu meledek Salma dan Adit yang menatapnya secara intens.
Keduanya merasa tersindir lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Ryu tertawa melihat ekspresi keduanya yang terpergok melihatnya.
Akhirnya mereka bercanda sampai malam hari. Bahkan Ryu memesan makanan delivery untuk diantar ke taman ini biar mereka bisa makan malam bersama.
__ADS_1
Ryu mengantarkan Adit ke cafe di mana motornya tadi ditinggal kemudian meminta Adit untuk mengantar Aini karena mobil tidak bisa masuk ke pemukiman rumah mereka.
Salma dan Ryu pulang berdua ke apartement mereka.