
Kogo membolak balikkan berkas di hadapannya. Ia bingung sekaligus geram melihat laporan yang sangat berantakan seperti ini. Ingin rasanya ia membalikkan meja kerjanya agar semua yang ada di atas meja ini hancur. Emosinya di ujung tanduk.
"Sialan. Beraninya dia menghancurkanku." Kogo menggebrak meja keras sampai beberapa benda bergeser dari tempat asalnya.
Ia meraih ponselnya dan menelpon seseorang. Tak berapa lama Deasy masuk ke ruangan Kogo.
"Bagaimana?" tanya Deasy.
"Ini kacau. Kita akan bangkrut kalau seperti ini terus." Kogo memberikan berkas laporannya. "Tuh lihat!" titahnya.
Deasy memperhatikan setiap lembar laporannya. "Kau kalah dengan Ryu." Deasy masih membaca laporan itu.
Kogo menatap tajam Deasy. "Kau tahu kalau ini pastilah sesuatu yang memalukan. Bagaimana bisa aku dikalahkan oleh anakku sendiri." Kogo bangkit dari duduknya dan menghampiri Deasy.
"Apa?" tanya Deasy bingung. Pasalnya Kogo mendekatinya lalu memeluknya dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu kiri Deasy.
"Aku pusing," bisik Kogo tepat di telinga kiri Deasy dan kemudian mencium bagian belakang telinganya.
"Tidak, Kogo."
Kogo, meski umurnya sudah menginjak 50 tahun. Namun, tetap saja jiwa mudanya selalu terpancar. Dengan tubuh tinggi dan otot yang masih terbentuk sempurna, mampu mengurangi kesan seorang ayah. Ia lebih cocok menjadi abang Ryu.
Deasy membalikkan tubuhnya menghadap Kogo. Memegang kedua dada bidang Kogo. "Kogo, tahanlah dulu. Kita harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu." Deasy menarik tangan Kogo menuju sofa besar dan menyuruh Kogo untuk duduk. Deasy duduk di hadapannya.
"Kau ingin membalas Ryu?" tanya Deasy.
"Menurutmu?" Kogo balik bertanya.
"Aku tahu kau akan membalas ini, tapi pasti kau punya cara tersendiri untuk membalas anakmu." Deasy menatap Kogo penuh harap.
Deasy adalah selingkuhan Kogo saat dulu masih bersama Ibunya Ryu. Sampai saat ini, Deasy masih setia bersama Kogo meski hanya dijadikan pemuas nafsu. Deasy adalah wanita yang sudah berumur 35 tahun. Namun, pesona sama seperti Kogo. Makin tua makin mempesona.
"Bagaimana kabar anak perempuanmu?" tanya Deasy.
Tubuh Kogo seketika menegang bagai tersengat listrik. Ia sudah lama tidak memikirkan ini. Mengapa Deasy harus mengingatkannya kembali.
"Lupakan masalah ini." Kogo beranjak dari sofa dan pindah ke meja kerjanya.
"Bisa saja memang itu penyebab Ryu menjadi seperti ini. Tapi, terserahmu saja. Kau tahu betul bagaimana Ryu, bukan? Ia hanya tumbuh menjadi anak yang penuh dendam karena orang tuanya." Deasy berusaha menasehati Kogo.
__ADS_1
"Aku sangat tahu itu. Aku akan mencari solusi untuk ini. Semua ini akulah penyebabnya. Jadi, hanya aku yang bisa menyelesaikannya." Kogo membuka laptopnya.
"Ini yang selalu aku suka darimu. Kau tahu kesalahanmu, kau menyadari itu dan kau juga yang akan bertanggung jawab. Tapi, apa aku masih kau butuhkan?" tanya Deasy.
Kogo memperhatikan Deasy dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Maksudmu?"
"Sudah berapa lama kau pisah dengan istrimu itu? Bahkan sampai sekarang pun kau tak kunjung memberi kepastian kepadaku. Kau hanya datang ketika kau sedang butuh wanita untuk memuaskan nafsumu itu. Kalau hanya itu, di luar sana banyak jalang yang bisa kau pakai kapan saja." Tatapan Deasy tajam kepada Kogo. Tatapan yang penuh harap dan juga amarah. Deasy benci Kogo dan juga sayang kepada Kogo dalam waktu yang bersamaan.
"Kau tahu kalau aku ini masih menyayangi mantan istriku. Sampai saat ini dan sampai kapanpun. Sejak awal sudah ku peringatkan, bukan? Jangan menaruh harapan apapun kepadaku. Aku memakaimu hanya karena aku sedang sendirian. Kau harusnya tahu itu." Kogo mematahkan semua harapan Deasy.
Deasy tahu memang sejak awal, tapi ia terus berusaha agar bisa mendapatkan hati Kogo. Bukan karena Kogo kaya. Deasy juga sebenarnya adalah keturunan orang kaya. Deasy tetap mencintai Kogo sejak pertama kali ia menyerahkan segalanya kepada Kogo, bahkan harga dirinya. Kogo lah yang melakukan pertama kali kepada Deasy, merenggut segalanya. Bertahun-tahun hanya Kogo yang menemani tidur dan mengisi hatinya. Tidak ada lelaki lain yang pernah dekat dengan Deasy. Kogo adalah cinta pertama Deasy, sampai Deasy rela dikucilkan oleh keluarganya dan hidup sendirian hanya demi mempertahankan cintanya kepada Kogo. Namun, Kogo tak memberi balasan apapun. Hanya dijadikan sekretaris sekaligus pemuas nafsu saja.
"Kau jahat, Kogo. Kau korbankan segalanya hanya karena 1 masalah. Padahal ada jalan lain untuk penyelesaian itu tanpa harus mengorbankan segalanya."
Deasy memang mengetahui keluarga Kogo. Karena saat dirinya dekat dengan Kogo, ia adalah teman curhat Kogo. Kogo menceritakan semua masalah keluarganya kepada Deasy. Sampai Kogo memutuskan untuk memisahkan keluarganya, sampai saat itu Kogo kesepian dan menjadikan Deasy pelampiasannya. Sebenarnya Deasy bukanlah selingkuhan Kogo. Hanya karena kedekatan mereka, semua orang berpikir seperti itu.
"Boleh kau tinggalkan aku untuk saat ini. Aku sedang tidak butuh teman cerita." Kogo memijit keningnya yang mulai berdenyut.
Deasy mengangguk tanpa menjawabnya. Ia keluar dengan hati yang hancur tentunya. Ia bukan hanya keluar dari ruangan Kogo, tapi dari Kogo Company. Ia membereskan semua barang-barangnya dan pergi dari Kogo Company tanpa sepengetahuan Kogo. Deasy juga sempat berpesan kepada karyawan yang lain untuk tidak memberitahukan hal ini kepada Kogo. Biarkan saja Kogo mengetahuinya sendiri.
Deasy menyetop taksi di depan lalu pergi meninggalkan kantor itu dengan hati yang penuh kecewa. Bahkan setiap bulir mengalir deras tanpa ia malu kepada supir taksi yang sesekali meliriknya dari kaca spion, bukan karena ingin mencampuri urusan Deasy, hanya saja Deasy belum menyebutkan ingin kemana ia pergi.
Supir memberanikan diri untuk bertanya karena ini sudah lumayan jauh dari kantor. "Maaf, Mba. Mba mau saya antarkan ke mana?" tanya Supir.
"Baik, Mba."
Supir taksi segera melajukan kendaraannya menuju alamat yang disebutkan Deasy. Setelah sampai, ia meminta supir untuk menunggunya karena ia akan pergi lagi.
Deasy keluar dari kamar kost nya dengan beberapa koper. Supir taksi turun dan membantu Deasy membawakan kopernya. Deasy kembali masuk ke dalam taksi dan taksi itu melaju menjauhi kost Deasy.
"Mau ke mana kita, Mba?" tanya Supir taksi.
"Ke Jalan Tiiittt (Sensor) Nomor Tiiittt (Sensor) yang dekat kolam tiiitt (Sensor) di seberangnya ada jualan tiiitt (Sensor)." Deasy menjawabnya tanpa melihat supir. Ia sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa di sensor sih, Mba?" tanya Supir.
"Biar reader gak tahu mau ke mana saya pergi. Entar mereka bakal ngadu sama Kogo. Saya tidak ingin bertemu dengan Kogo lagi. Dia jahat, Pak."
"Baiklah, Mba. Saya mengerti." Supir melajukan taksinya ke tempat yang dimaksud oleh Deasy.
__ADS_1
***
Sampailah Deasy di rumah orang tuanya. Ia melihat kedua orang tuanya sedang duduk di teras bermain dengan keponakannya. Mungkin abangnya sedang bekerja.
Deasy cukup lama terdiam di dalam taksi sebelum benar-benar keluar dan menemui orang tuanya. Ia takut.
"Pak, tunggu di sini dulu ya. Koper saya jangan dituruni dulu. Siapa tahu saya diusirkan bisa langsung pergi aja." Deasy turun.
"Baik, Mba." Supir taksi geleng-geleng kepala mendengar ucapan Deasy.
Deasy berjalan perlahan, kepalanya menunduk.
Kedua orang tuanya menatap Deasy nanar. Begitu juga kakak iparnya yang baru keluar dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi makanan. Serta kedua keponakannya yang melihat aneh kepada Deasy, sebab mereka emang belum pernah bertemu dengan Deasy sebelumnya.
"Assalamualaikum, Ma, Pa." Deasy memberanikan diri menatap wajah kedua orang tuanya.
"Deasy." Mata Ibu Deasy berkaca-kaca. Ia merindukan putri bungsunya.
"Dia siapa, Ma?" tanya lelaki tua yang duduk di kursi bersebelahan dengan Ibu Deasy.
"Pa, jangan gitu. Bagaimana pun ia anak kita."
Deasy hanya menunduk tak berani menatap siapapun.
"Bukannya dia yang tidak menganggap kalau dirinya pernah punya orang tua? Bukan kita yang tidak menganggapnya. Suruh pergi sana, Ma."
Deasy mengangkat dagunya. "Maafkan saya, Pa." Suara Deasy bergetar menahan tangis.
"Tolong suruh pergi, Ma."
Kakak ipar Deasy ikut bersuara. "Kamu kenapa, Dek?" tanyanya dengan suara lembut.
"Kak, maafin Deasy."
"Duduklah dulu, Dek." Kakak ipar Deasy menghampiri Deasy dan mengajaknya masuk.
"Tidak! Dia menginjak pekarangan rumahku saja aku tidak sudi. Apalagi dia masuk ke dalam rumahku."
Deasy berbalik badan dan lari meninggalkan mereka. Ia tidak kuat. Ia baru saja dicampakkan Kogo dan sekarang diusir oleh orang tuanya.
__ADS_1
Deasy masuk ke dalam taksi dan menyuruhnya kembali berjalan. Tampak dari dalam taksi, ia melihat Mamanya yang menangis berusaha mengejar dirinya, hanya saja Papanya menahan. Hatinya terluka melihat ini. Ia sadar semua ini salahnya.
"Tuh kan, Pak. Coba tadi kalau kopernya dituruni terus saya diusir. Susah kan pasti masukin lagi." Deasy kembali menangis di dalam taksi setelah taksi berjalan cukup jauh dari rumah orang tuanya.