THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 16


__ADS_3

Kogo mencari Deasy di ruangannya. Namun, tak menemukan apa yang ia cari. "Kemana dia pergi." Kogo membatin.


"Kau melihat Deasy ke mana?" tanya Kogo pada bagian receptionist.


"Tadi sudah pergi, Pak."


"Pergi gimana maksudnya? Keluar? Beli makan? Atau izin pulang?" tanya Kogo dalam 1 tarikan napas.


"Ini, Pak." Receptionist ber-name tag Lina itu memberikan sebuah amplop berisi surat resign dari Deasy.


Kogo menerimanya dan membuka isinya. Hanya membaca judul surat dan nama si penulis, ia genggam kuat-kuat kertas itu sampai menjadi bentuk seperti bola.


"Sialan!" umpat Kogo sambil membuang surat pengunduran diri Deasy ke dalam tempat sampah. "Kau melihat ke mana perginya dia?" tanya Kogo pada Lina.


"Tadi Mba Deasy naik taksi di depan. Tapi, saya tidak tahu perginya ke mana."


"Ya sudahlah. Kembali bekerja!"


Kogo kembali ke dalam ruangannya. Kembali ia membuka laptop dan melihat berita yang ada.


Hot News!!!


Seorang pengusaha muda berhasil mencapai kesuksesan yang gemilang, hingga mampu mengalahkan Kogo Company.


Tampaklah foto Ryu di situ. Tanpa membaca isinya, ia langsung menutup kembali laptopnya.


"Sialan! Dia benar-benar menghancurkanku. Ini semua salahku dari awal. Aku harus bagaimana." Kogo berjalan mondar mandir di belakang meja kerjanya.


***


Ryu sedang tertawa bersama karyawannya yang lain. Mereka merayakan kesuksesan RP Coorporation dengan melaksanakan makan siang bersama.


"Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini di sini." Ryu memberikan kata sambutannya untuk semua karyawan.


Seluruh karyawan bersorak bahagia dan saling bersulang.


Salma sampai di kantor Ryu dan suasana lebih sunyi dari sebelumnya. Ia ke ruangan Ryu juga tidak ada Ryu. Ia kembali ke pos satpam.


"Pak, saya boleh tanya. Pak Ryu ada keluar tidak?" tanya Salma pada satpam yang bernama Samsul.


"Oh tidak ada keluar, Mba. Seluruh karyawan berkumpul di ruangan meeting untuk merayakan keberhasilan RP Coorporation." Samsul keluar dari posnya. "Mari saya antar, Mba."


Salma mengekori Samsul karena memang ia tidak tahu banyak ruangan di kantor Ryu. Ia hanya tahu ruangan kerja Ryu dan pantry.


Sampailah mereka di depan sebuah pintu cokelat besar dengan tulisan 'Meeting Room' di bagian atas pintunya.

__ADS_1


"Ini Mba ruangannya." Samsul mempersilahkan Salma untuk masuk.


"Terima kasih banyak, Pak." Salma tersenyum seramah mungkin.


Sekembalinya Samsul mengantar Salma, Salma sungkan untuk masuk ke dalam ruangan. Ia menghubungi Ryu untuk memberitahu kalau ia sudah sampai di depan ruangan.


Pintu terbuka, muncullah Ryu.


"Hei, kau sudah sampai?" tanya Ryu.


"Belum." Salma menahan tawanya.


Ryu menatap Salma sinis. "Jangan bercanda. Masuklah! Akan ku kenalkan kepada seluruh karyawanku." Ryu menarik tangan Salma yang masih menenteng rantang makanan untuknya.


"Selamat siang semua." Ryu berdiri di depan seluruh karyawannya dengan terus menggenggam tangan Salma. "Mohon perhatiannya sebentar. Di sini, saya ingin memberitahukan bahwa wanita di sebelah kanan saya ini adalah calon istri saya. Namanya Salma. Dan kami akan segera meresmikan pertunangan kami secepatnya. Terima kasih banyak."


Seluruh karyawan bersorak gembira menyambut Bos mereka yang sudah terbuka tentang hubungannya. Di tengah ramainya riuh sorakan, ada seorang wanita yang tersenyum karena terpaksa. Viana cemburu dan ia tidak bisa menerima semuanya saat ini juga. Ia bertahan untuk tidak membuat keributan di sini karena emosinya yang cemburu kepada Salma.


"Saya permisi dulu untuk kembali ke ruangan ya. Kalian lanjutkan saja partynya. Jangan lupa untuk kembali bekerja ya." Ryu menarik tangan Salma keluar dari ruangan ini.


"Kau kenapa tidak bilang kalau ada acara. Mungkin aku tidak akan kemari." Salma menahan tangan Ryu sebelum masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Kau tidak mau bertemu denganku?" tanya Ryu sinis.


"Kau tidak senang akan menikah denganku?" Ryu menatap Salma sinis.


"Bukan seperti itu. Hanya saja kau tidak bilang terlebih dahulu kepadaku. Aku malu." Salma tertunduk menahan malu.


Ryu mendekatkan wajahnya kepada Salma dan mengecup lembut bibir Salma. Ia tersadar kalau mereka belum masuk ke dalam ruangan.


"Di dalam saja, yuk. Kau akan semakin malu kalau ada yang melihat kita, bukan?" Ryu menutup pintu ruangannya lalu menempelkan tubuh Salma di belakang pintu lalu menciumnya dengan ganas sampai rantang makanannya nyaris terlepas dari genggaman Salma sesaat sebelum Ryu meraihnya dan meletakkannya di meja. Kembali menyerang Salma sampai Salma terasa kehabisan napas.


"Ryu, makan dulu." Salma menahan Ryu sesaat sebelum Ryu ingin mencumbu bagian dadanya.


"Makan kamu ya." Ryu menciumi leher Salma.


"Makan dulu yuk." Salma melepaskan diri dari Ryu.


Meski dengan pakaian yang sudah berantakan, Salma membuka rantang dan menyiapkan makanan untuk Ryu.


"Makanlah dulu. Aku sudah lapar."


Ryu menurut meski sesuatu di bawah sana sudah menuntut untuk dimasukkan.


Ryu melahap makanannya dengan wajah tertahan. Ryu menahan sesuatu. Melihat sebuah nasi menempel di sudut bibir Salma.

__ADS_1


"Kau makan seperti anak kecil." Ryu mencium bibir Salma, dari mulai ciuman lembut sampai yang menuntut.


Salma menahan tubuh Ryu. "Habiskan dulu makanannya, Sayang."


Ryu melahap dengan cepat makanannya. "Sudah habis."


Salma tertawa melihat ekspresi Ryu. "Kau ini. Sabar aku belum selesai."


Ryu seakan tak mendengar ucapa Salma, ia mendekati Salma dan duduk di sampingnya. Meminta Salma untuk duduk di pangkuannya. Salma yang masih memakan makanannya menurut dengan terus makan. Namun, Ryu mencumbu tengkuk Salma tanpa menghiraukan Salma yang sedang makan. Ryu mulai bergerilya, meremas dada Salma dan mengelus bagian bawahnya yang sudah basah.


Ryu menyuruh Salma untuk berdiri agar ia bisa lebih leluasa menurunkan celana Salma lalu ia mencumbu bagian bawah Salma. Salma tak kuasa lagi menahan rasa nikmat yang disalurkan oleh Ryu. Ia meletakkan piring makanannya dan menjambak rambut Ryu di bawah sana.


***


Viana sudah membereskan semua barangnya dan mengundurkan diri dari RP Coorporation tanpa sepengetahuan Ryu. Ia tidak ingin memberitahu Ryu saat Ryu sedang bersama Salma. Ia sudah tidak dibutuhkan lagi.


Viana pergi saat itu juga dari RP Coorporation.


Sesampainya di rumahnya, Viana pamitan kepada orang tuanya untuk pergi liburan ke luar negeri.


Hari itu juga Viana pergi sendiri untuk menenangkan dirinya.


Ryu telah mengetahui kepergian Viana. Ia berusaha untuk menghubungi Viana. Salma sudah mengetahui semua tentang Viana dan ia tidak lagi menaruh curiga meski rasa cemburu itu masih ada karena ia tahu Viana dan Ryu bagaimana selama ini.


Salma berusaha menenangkan Ryu.


"Mulai besok kau harus mengganti Viana. Kau akan jadi Nyonya Ryu." Ryu mengecup kening Salma lembut.


"Aku tidak tahu," balas Salma.


"Kau harus belajar mulai sekarang. Biar kau bisa mendampingiku terus." Ryu tersenyum lembut pada Salma.


"Kau ini sudah gila." Salma hanya tertawa melihat tingkah Ryu.


"Aku gila karenamu." Ryu meluncurkan rayuannya lalu memeluk Salma dari belakang.


"Sudah ya, Sayang. Tadi kan sudah dikasih. Sekarang kerja lagi." Salma menahan tubuh Ryu.


"Mau lagi." Ryu memasang wajah memelasnya.


"Sekarang kerja dulu. Nanti malam lagi." Salma mengelus lengan Ryu. "Sana kerja."


Ryu menurut dan kembali pada meja kerjanya. Sedangkan Salma duduk di sofa sesekali melirik Ryu dengan tatapan menggoda.


"Kau jangan iseng sekarang ya. Awas saja kau nanti malam."

__ADS_1


__ADS_2