
Hari ini adalah hari pertama Salma bekerja sebagai sekretaris. Ruangannya tidak di ruangan Viana, ia satu ruangan dengan Ryu agar lebih mudah Ryu untuk mengajari Salma. Ryu pasti modus ini. Tapi, tak apa deh. Salma juga suka.
"Sal," panggil Ryu.
"Hm? Kenapa?" tanya Salma.
"Kau ini. Aku ini Bosmu. Masa seperti itu kalau dipanggil Bos." Ryu mengomel melihat respon Salma.
"Iya, maaf. Aku lagi baca ini nih." Salma menunjukkan sebuah buku berjudul buku panduan menjadi sekretaris.
"Baca ya baca tapi kalau dipanggil ya harus siaga dong." Ryu mendelikkan matanya menatap Salma sinis.
"Iya maaf, Bos. Ada apa Bos ganteng?" Salma tersenyum menggoda Ryu.
"Bagaimana jadi sekretarisku? Enak, bukan? Kau bisa melihatku setiap saat." Ryu tertawa.
"Kau ini ya, sudah tidak romantis dan lawakanmu juga garing sekali." Salma balik meledek Ryu.
"Kau ini juga sebenarnya tidak cocok jadi sekretaris. Jadi, guru baru cocok." Ryu menatap sayu Salma.
"Aku saja tidak bersekolah. Bagaimana mungkin bisa jadi guru." Salma menatap Ryu sinis.
"Guru untuk anak-anak kita nanti." Ryu tertawa.
"Pintar juga gombalnya. Bolehlah boleh. Kasih nilai berapa ya ... hm ... 7 deh." Salma tertawa juga.
"Sudah ah, aku mau kerja." Ryu fokus kembali pada laptopnya.
Salma berdeham. "Aku jadi bartender aja deh. Aku gak punya bakat sama sekali menjadi sekretaris. Daripada nanti perusahaanmu ini bangkrut karena aku yang tidak bisa apa-apa, bagaimana?" tanya Salma.
"Kau mau jadi bertender? Biar apa? Biar bisa godain om-om di sana?" Ryu mengernyitkan keningnya.
"Iya dong." Salma mengerlingkan sebelah matanya.
"Sama om Ryu aja sini, Sayang."
"Ih jijik deh." Salma tertawa. Ryu pun ikut tertawa.
Suasana hening seketika, baik Ryu dan Salma seperti kehabisan bahan pembicaraan. Mereka memilih untuk menyibukkan diri mereka pada pekerjaan masing-masing.
"Ryu," panggil Salma dengan nada ragunya karena takut mengganggu fokus Ryu.
Ryu mendongakkan kepalanya dan menatap calon istrinya itu. "Kenapa?" tanyanya.
"Kau yakin mau menikahi aku?" Salma tampak ragu.
"Kau tidak percaya kepadaku?" Ryu menaikkan kedua alisnya.
"Tidaklah. Sikapmu saja seperti ini."
"Seperti ini bagaimana?" tanya Ryu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Tidak ada romantisnya sama sekali. Lagian kau juga hanya memutuskan sepihak. Emangnya aku mau? Keluargaku bagaimana?" tanya Salma.
"Aku akan menemui keluargamu secepat mungkin. Aku selalu dapatkan apa yang aku mau. Jadi, tolong jangan menolakku kalau kau masih mau baik-baik saja di dunia ini." Ryu memberikan ancaman kepada Salma.
"Dih, kau ini. Bukannya merayuku atau meyakinkan raguku. Kau malah mengancamku. Dasar lelaki tidak peka!" umpat Salma.
"Bukan lelaki yang tidak peka. Hanya saja wanita yang tidak bisa diterka maunya apa." Ryu protes.
"Laki-laki harusnya mengalah dong."
"Mengalah yang bagaimana? Wanita juga harus mengerti dong."
"Mengerti yang bagaimana? Makanya jadi laki-laki itu peka."
"Emang wanita peka?" tanya Ryu.
"Iya, dong. Laki-laki saja yang keras kepala dan tidak mau mengalah." Salma melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku sudah mengalah malah kau yang terus mengajakku berdebat."
Salma tertawa terbahak-bahak. "Sudah lupakan saja. Aku hanya bercanda tadi mengajakmu bertengkar. Lanjutkan pekerjaanmu!"
"Maksudmu?" tanya Ryu.
"Prank. Akhirnya kau bisa juga diajak berdebat dan emang lelaki tidak mau kalah." Salma menutup mulutnya agar tawanya tidak terlepas.
Ryu melemparkan pulpen ke meja kerja Salma. "Kau ini jahil sekali ternyata."
"Masuk!" teriak Ryu.
Seorang lelaki berseragam satpam masuk dengan wajah yang panik. Salma kenal kalau ini adalah Samsul yang mengantarkannya kemarin untuk menemui Ryu.
"Bos Ryu, maaf sebelumnya saya lancang menemui Anda. Saya ingin memberikan ini." Samsul menyerahkan kaleng soda yang terdapat secarik kertas di bagian lubang kaleng tersebut.
"Apa itu?" tanya Ryu.
"Surat kaleng atau surat ancaman. Soalnya tadi ada dua orang mengendarai sebuah motor dan berhenti tepat di depan gerbang kemudian melemparkan kaleng ini. Mereka memakai pakaian jaket kulit berwarna hitam dengan wajah tertutup helm fullface. Saya tidak dapat melihat wajah mereka, Bos." Samsul tampak panik.
Ryu menerimanya dengan wajah sedatar mungkin. Entah ia memang tidak takut atau ia hanya pura-pura tidak takut. Entahlah ...
"Baik, Pak. Terima kasih. Kembalilah bekerja."
"Siao, Bos."
Salma menghampiri Ryu karena penasaran dengan isi surat tersebut.
"Kepo ya?" Ryu meledek Salma.
"Jangan bercanda. Itu isinya apaan." Salma memukul lengan Ryu.
"Santai, dong. Bukanya pelan-pelan saja." Ryu masih bersikap biasa.
__ADS_1
Ryu membuka surat tersebut dan membacanya.
Isi surat:
Ryu Prakasa Kogo. Jangan pernah main-main dengan saya. Saya akan membalas semuanya dengan tindakan yang lebih menyakitkan dari ini.
Kau memang saat ini sedang berada di atas. Hati-hati, angin sekecil apapun bisa menjatuhkan dirimu saat ini.
Kali ini aku sedang berbaik hati dengan membiarkanmu menikmati sedikit surga dunia ini. Kuserahkan kejayaanku saat ini kepadamu. Ingat ini hanya sesaat. Tak lama lagi keadaan akan berbalik lagi dan kau akan benar-benar hancur tanpa tersisa sedikitpun lagi.
Salma bergidik ngeri membaca semua ancaman dari surat itu. Ryu masih dengan gaya santainya tanpa memikirkan ancaman itu apalagi sampai takut.
Ryu melirik Salma sekilas. "Sudah jangan kau pikirkan surat ini. Aku bisa mengatasinya. Kau jangan takut ya." Ryu menggenggam tangan Salma yang duduk di sampingnya. Ryu memutar kursinya sampai menghadap Salma. Ia memeluk pinggang Salma dan membenam wajahnya di perut Salma. "Jangan takut. Aku bisa menghadapinya selama kau bersamaku." Ryu mendongak sesaat kemudian kembali membenamkan wajahnya di perut Salma. Dan Salma membalasnya dengan mengelus lembut rambut Ryu.
"Aku hanya khawatir kalau kau sampai kenapa-napa." Salma mengelus lembut rambut Ryu.
"Makanya jangan pernah pergi dari sisiku. Tetap temani aku terus."
"Iya." Salma tertawa. "Kembali bekerjalah! Tanggung jawabmu akan bertambah." Salma mencolek hidung Ryu.
"Maksudmu?" Ryu tak mengerti.
"Kau akan memiliki istri. Itu tanggung jawabmu kan?" tanya Salma.
Ryu tertawa. "Kau bilang katanya ini hanya keputusanku sepihak saja. Toh, aku juga tidak perlu jawaban darimu. Aku tahu kau tidak akan menolakku."
"Kau ini terlalu percaya diri." Salma protes.
"Aku bukan terlalu percaya diri. Aku ini lagi peka loh." Ryu menyengir selebar mungkin. "Jangan protes mulu, nanti makin cinta loh."
Salma memutar bola mata jengah mendengar kepercayaan diri Ryu yang kelewatan.
"Apa? Salah lagi?" tanya Ryu.
"Bukan. Tapi, hanya-"
"Cowok selalu salah ya. Tadi katanya aku ini gak peka. Sekarang udah peka malah salah. Oh Tuhan, mengapa wanita tidak boleh salah." Ryu mendongakkan kepalanya menatap langit-langit seolah sedang berdialog kepada Sang Pencipta.
"Udah kerja. Aku mau keluar sebentar beli makan ya. Kita makan di sini saja. Katanya kerjaanmu sedang banyak." Salma meninggalkan Ryu sendirian di ruangan. Lalu, tak lama kembali masuk lagi.
"Apa? Sudah rindu ya?" ledek Ryu.
"Bukan! Kau mau makan apa? Aku takut kau tidak suka dengan makanan yang ku belikan nanti."
"Terserah, apa saja yang kau belikan pasti aku makan. Toh, ujung-ujungnya kau juga yang akan aku makan." Ryu tertawa. "Oh iya, aku pedan kopi aja ya. Black coffee di cafe depan sana."
"Oke."
"Makan kau saja tidak boleh?" teriak Ryu sebelum Salma benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Tidak ada jatah untukmu selama seminggu ke depan. Aku sedang berhalangan. Bye." Salma benar-benar sudah menghilang dari pandangan Ryu.
__ADS_1