
"Salma," teriak Ryu dari dalam kamarnya.
Salma tak mendengar karena terlalu sibuk memasak makanan untuk sarapan Ryu dan juga karena pikirannya sedang kalut. Salma melamun sampai tak sadar masakannya sudah gosong.
"Sayang," bisik Ryu tepat di telinga kanan Salma. Ryu memeluk Salma dari belakang lalu mematikan api kompornya. "Kau kenapa?" tanyanya.
Salma kaget dan segera berusaha mengembalikan kesadarannya secepat mungkin. "Hm? Kenapa dimatikan api kompornya?" tanya Salma.
"Masakanmu sudah kematengan, Sayang." Ryu mengecup pipi kanan Salma. "Aku ada di pelukanmu, mikirin apalagi?" Ryu membalikkan tubuh Salma agar menatapnya. Kembali Ryu peluk pinggul Salma. "Aku tak akan meninggalkanmu. Ku mohon kau juga jangan meninggalkanku."
Salma mengangguk. Lalu mereka menyatukan kening mereka.
"Kau ikut denganku yuk. Aku hari ini tidak ke kantor. Kita jalan-jalan." Ryu melonggarkan pelukannya. "Mandi sana! Aku tunggu."
Salma ingin protes. Namun, rasanya percuma saja. Ia menurut lalu ke kamarnya untuk mandi. Sedangkan Ryu menunggu Salma sambil memasak sarapan untuk mereka. Ryu terlalu mandiri sebenarnya. Hanya saja ia pura-pura berantakan agar Salma yang membereskannya sekalian memanjakannya.
Setelah Salma selesai mandi, Ryu juga sudah selesai memasaknya. Sudah tersaji sarapan untuk mereka berdua.
"Kau yang memasak semua ini?" tanya Salma.
"Special for you. Silahkan duduk." Ryu menarik kursi agar Salma bisa duduk.
Salma tersenyum dengan semua perlakuan Ryu. Salma suka Ryu yang seperti ini.
"Kau manis sekali," puji Salma.
"Kau suka?" tanya Ryu sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
"Aku suka kau yang ceria. Bukan yang seperti pertama sekali aku bertemu denganmu, cuek, dingin dan seram."
"Seram?" Ryu mengulanginya.
Salma mengangguk. "Iya."
"Emang aku setan?" tanya Ryu.
"Mirip." Salma menutup mulutnya menahan tawanya.
"Kau ini. Minta dicium apa? Ngeledeknya gitu." Ryu mengambilkan nasi ke piring Salma. "Ayo makan. Hidup denganku butuh banyak tenaga." Ryu tersenyum jahil.
"Ryu," ucap Salma lirih.
"Makanlah! Tak usah pikirkan yang lain. I'm yours." Ryu menggenggam tangan Salma di atas meja.
Setelah selesai makan, Ryu membereskan piring kotor dan langsung mencucinya. Hari ini ia akan memanjakan Salma seperti layaknya seorang ratu.
"Ayo kita pergi. Aku sudah selesai mencuci piring." Ryu menggandeng tangan Salma.
"Ryu!" Salma menahan tangan Ryu. "Maafkan aku. Aku sempat bimbang dengan kehadiran Adit. Jujur dia adalah pacar pertamaku dan bahkan kami belum sempat ada kata putus."
"Tapi, bukankah dengan dia meninggalkanmu adalah tanda dia telah memutuskanmu sepihak?" potong Ryu.
"Aku masih mencintai dia. Dan kembalinya dia dengan alasan mengapa dia meninggalkanku adalah bukti cinta dia."
"Aku tahu." Ryu melepaskan genggaman tangan Salma. "Kau boleh memilih sekarang. Aku tak akan menahanmu, apalagi kalau ini menyangkut kebahagiaanmu."
Salma tampat bimbang. Haruskah ia menetap atau pergi meninggalkan Ryu dan kembali kepada Adit. Salma diam tak tahu harus bertindak apa. Ia terduduk lemas, Ryu berusaha menopangnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan. Kau bisa sakit kalau terlalu banyak pikiran." Ryu mengambilkan air putih untuk Salma.
Kring ... kring ... kring ...
Ponsel Salma berdering menandakan ada panggilan masuk untuknya. Salma melirik si penelpon begitu juga dengan Ryu.
Adit.
Salma melihat Ryu meminta persetujuan kepada Ryu untuk mengangkatnya.
"Angkat sajalah. Barangkali penting," ucap Ryu yang berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.
"Halo."
"Loudspeaker!" bisik Ryu.
"Salma, kau di mana?" tanya Adit.
"Di rumah."
"Rumah? Kata Ibu kau tidak ada di rumah."
"Rumah Ryu."
"Oh kau dengannya? Apa kau bisa nanti siang temui aku? Aku ingin menunjukkan beberapa konsep acara untuk pernikahan kita nanti."
Ryu mengepalkan tangannya menahan amarah. Salma tertunduk takut. Ryu mengambil alih ponsel Salma.
"Oh tentu saja boleh. Kau mau bertemu di mana? Kebetulan kami berdua akan pergi jalan-jalan. Atau kau boleh ikut kalau mau." Ryu yang menjawab.
"Oh kau ternyata. Boleh. Kalian mau ke mana?" tanya Adit.
"Terserah kalian." Salma menjawabnya lirih.
"Yaudah kita ketemu di cafe kemarin." Ryu memutuskan sambungan teleponnya.
"Yuk kita bersiap." Ryu mengajak Salma.
Sesampainya di cafe, tampak Adit sudah menunggu mereka dengan segelas kopi di mejanya.
"Kau meminum kopi?" tanya Salma. "Lambungmu bagaimana?" lanjut Salma lagi.
"Sengaja agar kau peduli padaku." Adit tertawa.
Salma menarik gelas kopi yang ada di hadapan Adit. "Jangan minum kopi lagi."
Ryu hanya melongo menyaksikan sikap Salma yang terlalu peduli kepada Adit. Ia cemburu.
"Kau mau makan dulu atau langsung pergi?" tanya Ryu pada Salma.
"Langsung saja."
"Yuk! Kau naik apa?" tanya Ryu pada Adit.
"Motor."
"Yaudah tinggal saja motormu di sini. Kita naik mobil saja bersama, karena tidak mungkin kita bertiga naik motor." Ryu mengajak Adit agar bersamanya. "Bro, nitip motor merah itu ya." Ryu menitipkan motor kepada pelayan yang berjaga di depan pintu masuk cafe.
__ADS_1
"Aman?" Adit tampak ragu.
"Mereka aku bayar untuk menjaga keamaan di cafe ini." Ryu menepuk pundak pelayan yang berjaga.
Pelayan tersebut tersenyum ramah lalu menundukkan kepalanya memberikan tanda hormat kepada Ryu. "Baik, Bos."
Salma menatap heran pada Ryu untuk meminta penjelasan.
"Ini cafeku." Ryu yang mengerti maksud Salma pun langsung menjelaskannya.
Adit dan Salma hanya ber-oh ria.
Mereka menuju sebuah mall untuk menonton bioskop. Ryu membeli tiket untuk mereka bertiga dan juga popcorn serta minuman untuk mereka.
Film ini adalah film pilihan Salma. Sengaja Ryu menyuruh Salma yang memilih film. Dan Ryu membelikan tiket yang duduknya terpisah.
"Ini tiket untukmu. Maaf duduknya terpisah sendirian. Karena tidak ada lagi tempat yang kosong. Ini tiket kita, Sayang." Ryu menunjukkan dua buah tiket untuknya dan Salma.
Raut wajah Adit berubah drastis karena duduknya terpisah dari Salma. Harapannya mereka akan duduk sejajar dan Salma di tengah di antara mereka. Setidaknya ia berharap bisa menggenggam tangan Salma. Ia sangat merindukan Salma.
Mereka bertiga mengobrol banyak hal. Namun, Salma lebih banyak diam. Hanya Ryu dan Adit yang tampak asyik mengobrol. Obrolan mereka pun tidak seperti saling bersaing satu sama lain untuk mendapatkan hati Salma. Tapi, mereka mengobrol banyak hal bagai teman lama yang tak jumpa.
Sampai panggilan untuk mereka tiba. Mereka masuk ke dalam, dan Adit kembali merasa cemburu sepanjang film diputar.
Mereka keluar dari bioskop.
"Mau ke mana lagi kita?" tanya Adit.
"Tanya sama Tuan Putri saja." Ryu menggenggam tangan Salma. "Mau ke mana kita, Sayang?" tanya Ryu.
"Aku mengikut saja."
"Kau mau berenang?" tanya Adit.
"Boleh."
Mereka keluar dari mall dan menuju ke kolam renang. Kali ini Adit yang duduk di sebelah kiri Ryu. Salma sendirian di jok belakang. Kalau tadi diperjalanan ke mall, Adit lah yang duduk sendirian di belakang.
"Kau selain membuka usaha percetakan, mau membuka apa lagi?" tanya Ryu.
Obrolan laki-laki tidak akan jauh dari cewek dan bisnis.
"Belum tau mau membuat apa." Adit menatap kosong jalanan di depannya.
"Kalau mau kau bisa membuka usaha cafe juga."
"Ide bagus. Tapi, aku pikirkan terlebih dahulu. Karena modalnya tidak sedikit. Kalau kau akan mengembang bisnis apa lagi?" tanya Adit.
"Sekarang lagi proses pembangunan hotel baru. Mungkin setelah itu aku ingin membangun sekolah, dan memutarkan keuntungannya untuk biaya sekolah. Aku ingin menyediakan sarana untuk menuntut ilmu bagi anak-anak jalanan."
"Kau ...." Kalimat Adit terpotong tidak tahu harus melanjutkannya.
"Aku sejak remaja selalu merasa kesepian. Kalau begitu aku mungkin bisa turun tangan untuk membantu mengajar." Ryu mengerti maksud Adit.
Sampailah mereka di kolam renang yang dimaksud Adit. Mereka langsung turun dan berganti pakaian dengan pakaian renang.
Di kolam renang, Adit selalu mencari kesempatan untuk mendekati Salma. Namun, Ryu selalu dengan sigap menjaga Salma agar tidak dekat dengan Adit. Sampai Ryu memeluk Salma dari belakang.
__ADS_1
"Sayang, remember this. You're still be mine," bisik Ryu tepat di telinga kiri Salma.
Salma membalikkan badannya menatap Ryu lalu memeluk erat Ryu. "I'm yours."