
Pagi ini Ryu bangun dengan perasaan yang sulit diartikan. Ia bahagia, baru ini pertama kalinya ia bersama wanita yang dipandangnya seperti wanita itu sendiri. Biasanya Viana yang tidak pernah ia pandang seperti Viana. Namun, kali ini berbeda. Ia melihat Salma yang memang sebagai Salma. Sekali ia mengecup kening Salma. "Terima kasih," bisiknya.
Salma menggeliat meregangkan otot-ototnya. Salma teringat langsung kejadian tadi malam dimana ia bersama Ryu yang memadu kasih. Ia bahagia, ini kali pertamanya ia melakukan ini. Ryu yang ternyata memiliki sifat lembut mampu membuat Salma luluh. Salma tersenyum lalu mendekap erat tubuh Ryu.
"Salma." Suara serak Ryu membuat Salma membuka matanya.
"Ada apa?" Salma menatap intens Ryu.
Ryu tak menjawabnya, ia mengelus lembut pipi Salma dan membalas tatapan lembut Salma lalu tersenyum.
"Kau ternyata berbeda dari sebelumnya."
"Beda apanya?" tanya Ryu.
"Kau memiliki sifat yang berbanding terbalik dari sifat dan sikap yang kau tunjukkan kepada orang lain selama ini." Salma mengelus dada bidang milik Ryu yang tak tertutup sehelai benang pun.
"Kau berhasil membuat Ryu kecil kembali hidup. Aku pikir Ryu kecil memang benar-benar harus mati." Ryu menatap kosong pada langit-langit kamarnya.
"Aku tak tahu apa yang membuat semuanya berubah. Tapi, Ryu yang sejak awal aku kenal sangat berbeda dengan Ryu yang tadi malam dan pagi ini. Kenapa kau tidak bersikap ramah saja kepada semua orang?" tanya Salma.
"Aku tidak mau mereka menganggapku lemah karena sikap ramahku. Aku terpaksa harus mengubah diriku menjadi keras agar mereka yakin kalau aku adalah anak yang kuat. Namun sayangnya, sikap kerasku membuatku jauh dari mereka yang awalnya aku sebut keluarga. Semua berubah begitu saja, Ayah yang seharusnya menjadi keluarga, kini berubah status menjadi saingan bisnisku. Kami saling menjatuhkan satu sama lain. Dia yang mengajarkanku untuk bersikap keras dan tak terkalahkan." Ryu tak sadar telah menitikkan air mata.
Salma menghapusnya lalu mengecup lembut kening Ryu. "Aku yakin kau adalah orang terkuat yang tak terkalahkan. Tapi, kalau aku boleh memberikan saranku, jangan jadi kuat dengan menjatuhkan orang lain ya." Salma mengelus pipi Ryu.
"Kau ini berhasil membuatku luluh. Sebenarnya di sini siapa Bosnya? Aku atau kau?" tanya Ryu sinis.
"Kaulah." Salma tertawa.
"Tapi, kenapa aku yang selalu menuruti omonganmu? Harusnya kau yang harus menuruti semua omonganku." Ryu menatap tajam manik Salma.
"Eh ralat. Enak saja kau bilang begitu. Aku juga selalu menuruti mau ya. Mulai dari memasak mie, bikin kopi, menata ulang ruangan kerja sampai ini itu semuanya aku menurutimu." Salma membantah ucapan Ryu.
Ryu hanya tertawa gemas melihat Salma yang selalu saja bisa membantahnya dan selalu berhasil meluluhkan hatinya.
"Pertama sekali aku melihatmu, kau terlihat tomboy dalam penampilan. Sekarang kau berbeda, ternyata sangat keibuan."
"Kemarin itu hanya penampilan untuk melindungi diri saja. Agar tidak ada yang berani macam-macam kepadaku makanya aku bersikap galak kepada semua pengunjung." Salma selalu tersenyum setiap kali berbicara kepada Ryu.
"Kau belajar darimana dalam meracik minuman? Kau tahu buatanmu itu enak sekali, bahkan buatan Hans saja tidak seenak punyamu."
"Aku pernah menjadi bartender sebelumnya, tapi Bosku yang dulu terlalu nakal. Setiap saat dan setiap hari selalu menggoda dan mengajakku untuk melayaniku." Salma memutar bola matanya jengah.
"Ah, Bosmu itu tidak pandai merayu. Atau memang Bosmu tidak setampan aku?" canda Ryu.
"Kau emang beda dari yang lain."
__ADS_1
"Kau telah masuk ke dalam penjaraku. Jangan harap kau bisa keluar lagi." Ryu mengecup pucuk kepala Salma lalu bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi.
"Mandi yang bersih ya." Salma berteriak.
"Kau tidak mau mandi sekalian denganku?" Kepala Ryu nongol dari balik pintu kamar mandi.
"Kau saja duluan, yang ada kita tidak akan mandi."
"Kau ini lebih mesum ternyata dariku." Ryu meledek.
"Cepatlah mandi, aku akan menyiapkan baju kerjamu. Hari ini aku tidak ikut denganmu ke kantor ya. Aku ingin membereskan rumah ini." Salma membuka pintu lemari Ryu mencari pakaian yang pas untuk dipakainya hari ini.
Ryu keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Sudah selesai?" tanya Salma.
"Sudah, Sayang." Ryu tersenyum menggoda Salma.
"Itu pakaian kerjamu, aku mau membereskan ruang tamu dulu. Nanti sarapan kamu beli di pinggir jalan aja ya. Di kulkas tidak ada apa-apa yang bisa aku masak untuk sarapan." Salma menutup pinth kamar Ryu.
Ryu memakai pakaiannya dengan segera lalu keluar dari kamar untuk menemui Salma.
"Aku sudah selesai, aku berangkat dulu ya." Ryu mengecup kening Salma. "Oh iya, ini untuk makanmu atau terserah kalau kau ingin belanja. Dan ini ATM ku kau pegang saja. Pin nya 122109." Ryu memberikan kartu ATM kepada Salma.
"Buat apa? Pegang ini ATM. Duit ini aja cukup. Kalau kurang aku bisa minta lagi aja." Salma mengembalikan ATM Ryu.
"Kau boleh saja luluh kepadaku. Tapi, tidak semestinya kau bisa memberikan semuanya kepadaku." Salma bersikeras untuk menolaknya.
"Kenapa sih?" tanya Ryu.
"Kau sudah melindungiku, bukan?" Salma balik bertanya.
"Maksudnya?"
"Kau lupa tadi malam kau mengajakku makan di private room untuk apa?" tanya Salma.
"Karena aku malas mendengar ocehan mereka."
"Yaudah, kau melindungiku kan? Terus kalau sekarang aku memanfaatkanmu, berarti apa yang mereka bilang tentangku itu benar dan usahamu untuk melindungi akan sia-sia."
Ryu menangguk paham.
"Simpan ATM mu. Segala keperluan aku akan minta jika memang mendesak. Lagian uang ini sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan beberapa hari." Salma menyimpan uang pemberian Ryu di saku celananya.
"Aku berangkat dulu ya." Sekali lagi Ryu mengecup kening Salma sambil merangkul pinggangnya.
__ADS_1
"Kau hati-hati. Jangan ngebut!" titah Salma.
Kali pertamanya bagi Ryu berangkat bekerja dengan hati yang riang. Tidak seperti biasanya yang hanya karena tuntutan dan ingin menjatuhkan seseorang atau hanya karena dendamnya semata.
Ryu sampai di kantornya seperti biasa. Masih memasang tampang dinginnya kepada semua karyawannya. Ia tidak bisa bersikap ramah secara tiba-tiba kepada semua orang. Image bahwa dirinya tegas, berwibawa dan bijaksana akan terus ia pertahankan agar semua karyawannya bisa bekerja dengan baik kepadanya.
Ia sudah berkutat dengan laptopnya sedaritadi. Bahkan ia melupakan pesan Salma untuk membeli sarapan terlebih dahulu.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk," titah Ryu.
Viana masuk ke dalam dan berjalan sesensual mungkin untuk menggoda Ryu seperti biasanya. Dan Ryu hanya melirik Viana lalu kembali berkutat pada pekerjaannya.
"Ini sudah siang. Apa kau tidak ingin makan siang?" bisik Viana yang sudah memelum tubuh Ryu dari belakang.
"Sebentar lagi. Aku sedang menunggu seseorang. Kau makan saja sana." Ryu berusaha menepis tangan Viana.
"Kau ini kenapa Ryu?" tanya Viana yang semakin gencar menggoda Ryu.
"Aku tidak suka kau di sini," ucap Ryu sinis.
"Apa karena wanita itu?" Viana tampak murka.
"Tidak juga. Aku sedang sibuk saat ini. Pekerjaanku memang sangat diburu-buru kini. Kau bisa keluar dan jangan menggangguku terlebih dahulu." Ryu berbohong agar Viana tidak mencelakai Salma.
"Bilang saja karena jalangmu itu, kan?" bentak Viana.
"Kau siapa berani membentakku?" Ryu menatap tajam Viana.
"Kau berubah. Biasanya juga kau berhenti dulu bekerja sesibuk apapun. Sekarang kau menolakku." Viana marah besar.
"Kau ini tidak bisa diberitahu ya? Pekerjaanku sedang diburu."
"Kau jahat." Viana memukul-mukul dada bidang milik Ryu.
Ryu berusaha menahan pukulan Viana dengan berbagai cara karena Viana sangat liar. Sampai keseimbangan badan mereka tidak stabil dan keduanya jatuh ke lantai dengan posisi Viana di bawah dan Ryu berada di atas tubuh Viana.
Seseorang membuka pintu ruangan Ryu dan ...
Brak!!!
Rantang berisi makanan jatuh ke lantai dan berantakan.
Ryu menoleh asal suara itu. "Salma," ucapnya lirih.
__ADS_1
Mata Salma memanas dan bulir itu jatuh begitu saja. Ia lari menjauh ruangan Ryu. Ryu berusaha mengejarnya. Namun, saat sampai di lobi, Salma keburu naik taksi san Ryu tak bisa lagi mengejarnya.