THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 30


__ADS_3

Kogo sudah kembali ke kantornya hari ini. Sedangkan Deasy masih sibuk menyiapkan semua keperluan untuk pernikahannya dengan Kogo. Hari ini jadwal Deasy untuk melihat undangan dan cincin yang kemarin sudah mereka pesan.


Siang hari, Deasy sudah selesai dengan urusannya. Ia berniat untuk membawakan makan siang ke kantor Kogo. Ini juga sudah waktunya untuk makan siang. Ia membeli 2 bungkus makanan untuknya dan Kogo.


Deasy sampai di kantor Kogo dan langsung saja masuk menuju ruangan Kogo. Deasy tidak lagi bersikap seperti karyawan di kantor ini, tapi sudah seperti pemiliknya. Deasy memang memiliki sifat yang angkuh seperti ini. Itu juga yang sebenarnya Kogo tidak sukai, ia hanya terpaksa. Terpaksa. TERPAKSA.


Deasy membuka pintu ruangan Kogo perlahan tanpa mengetuk sebelumnya. Dengan wajah sumringah ia ingin menyambut Kogo. Namun, apa yang ia lihat di dalam ternyata membuat senyumnya seketika berubah lengkungan ke bawah.


Ini bukan kali pertamanya, pernah juga dulu ia memergoki Kogo bersama wanita lain. Tapi, ia tetap memaafkan dan menerima Kogo kembali.


Saat ini, ia kembali melihat seorang wanita bersama Kogo. Ini bukan hubungan antara Bos dan karyawan. Karena apa yang mereka lakukan memang selayaknya suami dan istri. Wanita yang sedang duduk menghadap Kogo dan mengangkanginya sedang bercumbu mesra dengan Kogo.


Deasy ingin membunuh wanita itu. Emosinya meluap bagai air yang mendidih. Deasy tanpa pikir panjang langsung menghampiri keduanya. Kogo tampak terkejut begitu tahu ada Deasy. Wajar saja posisinya yang menghadap pintu terhalang oleh tubuh wanita yang sedang duduk dipangkuannya.


"Kogo," bentak Deasy.


Kogo sedikit kaget lalu hanya memiringkan kepalanya ke kanan untuk melihat siapa itu. "Deasy!"


"Kau keterlaluan." Deasy melemparkan plastik berisi makanan ke meja kerja Kogo lalu berlari keluar dengan air mata yang berjatuhan.


"Lanjutkan saja, yuk!" Kogo meremas bokong wanita itu dan mendorongnya ke atas agar wanita itu kembali bergerak lagi.

__ADS_1


Kogo memang tidak peduli pada Deasy kalau ada yang lain sedang bersamanya. Toh, yang ia pikirkan kalau dulu juga ia merebutnya dari mantan istrinya. Wajar saja kalau sekarang juga ia direbut oleh orang lain.


Setelah selesai dengan wanitanya, Kogo menghubungi Deasy agar segera ke kantornya dan menemuinya segera mungkin. Tentunya Deasy menurut karena ancaman Kogo yang tidak akan menikahinya kalau ia tidak datang dalam waktu 15 menit ini.


Benar saja, dalam waktu 13 menit saja Deasy sudah sampai di depan ruangan Kogo.


"Kenapa?" tanya Deasy tanpa basa-basi.


"Kenapa kau pergi? Padahal aku ingin menikmatimu juga dengan wanita tadi. Kita bisa bermain bertiga, kan?" tanya Kogo tanpa rasa bersalahnya.


"Kenapa kau sangat jahat?" tanya Deasy sambil menahan matanya yang ingin berair.


Deasy merasakan perih yang luar biasa. Namun, ia tidak bisa meloloskan dirinya dari Kogo karena posisinya yang menghadap tembok dan tengkuk leher yang tekan oleh Kogo sampai ia tidak bisa bergerak.


Kogo terus memaju mundurkan pinggulnya, menghujami Deasy dengan sangat ganas. Desahan dan tangisan Deasy menyatu menjadi satu. Ia menahan sakit yang teramat sampai perlahan intinya basah lalu semua rasa berganti menjadi nikmat yang tiada tara. Bahkan ia sudah mencapai puncaknya yang kedua kalinya dengan posisi seperti ini.


Kogo membalikkan tubuh Deasy untuk menghadap ke arahnya. Menghujaminya lagi sampai Deasy mencapai puncaknya lagi untuk yang ketiga kalinya. Lalu, Kogo membimbing Deasy agar menungging dengan badan bertumpu pada meja kerjanya dan Kogo dengan cepat menghujamkan lagi miliknya yang seperti tidak ada lelahnya sampai Deasy mencapai puncaknya lagi. Namun, belum ada tanda-tanda kalau Kogo akan segera menyelesaikan pergulatan mereka padahal Kogo sudah melakukannya tadi dengan wanita itu.


Kogo tak membiarkan Deasy untuk sekedar beristirahat. Masih merasakan nikmatnya mencapai puncak, Kogo sudah membalikkan tubuh Deasy dan mendorongnya sampai telentang di atas meja kerjanya dan Kogo sudah menghujaminya lagi. Kaki Deasy memeluk pinggang Kogo dengan erat agar milik Kogo semakin dalam masuk ke dalam miliknya. Deasy merasakan milik Kogo membesar di dalam sana karena itu pertanda kalau Kogo akan segera menyemburkan cairan cintanya.


Kogo berusaha melepaskan kaki Deasy yang memeluk pinggangnya. "Lepaskan kakimu!"

__ADS_1


Deasy bukannya menuruti mau Kogo, ia semakin mempererat pelukan kakinya dengan sengaja agar Kogo menyemburkan di dalam rahimnya.


Kogo sudah tidak tahan lagi, sedangkan kaki Deasy belum bisa ia lepaskan. Kogo menyemburkan saja cairan cintanya di dalam inti Deasy. Begitu banyaknya sampai meleleh keluar. Bercampur dengan cairan Deasy sampai ke lantai lelehannya.


Kogo ambruk di atas tubuh Deasy tanpa melepaskan penyatuan mereka. Berhubung pintu ruangannya sudah ia kunci, tidak akan ada yang bisa mengganggu mereka.


Hanya 30 menit Kogo tertidur di atas tubuh Deasy. Ia kembali bangun dengan inti mereka yang masih menyatu. Milik Kogo sudah mengecil tapi masih mengisi penuh milik Deasy. Kogo sudah sadar sepenuhnya dan menggerakkan pinggulnya maju mundur dan itu membuat Deasy terbangun lalu melenguh nikmat. Kogo menggila lagi di bawah sana. Ia menarik tubuh Deasy agar dapat ia gendong. Dengan inti yang tak mau terlepas, Kogo menggendong Deasy lalu mendorong tubuhnya ke atas. Deasy bergerak agar bisa menciptakan kenikmatan yang tiada tara di bawah sana. Kogo menempelkan punggung Deasy ke tembok lalu ia yang menghujami dengan kasar milik Deasy. Deasy sudah tidak tahan sampai cairannya meleleh keluar dan mengalir di paha Kogo.


Kogo menelentangkan Deasy di sofa, tentunya dengan inti yang tidak terlepas. Saat ini Kogo berada di atas Deasy. Kogo terus menghujami Deasy dengan ganasnya. Deasy sudah lemas tak kuat melawan apalagi hanya sekedar menyeimbangi pergulatan Kogo.


Kesadaran Deasy perlahan menghilang. Deasy pingsan. Kogo tetap tidak peduli. Ia terus mengejar puasnya. Dengan posisi terus seperti ini, Kogo terus menghujami milik Deasy tanpa ampun. Tak hanya itu, Kogo mencumbui dada Deasy yang sedari tadi menggoda untuk dinikmati. Kogo juga dengan ganas melahap ujungnya dan meremas satunya. Meninggalkan banyak bercak merah, dari leher, dada, sampai ke perut. Hampir semua penuh dengan tanda kemerahan.


Kogo mendekati puncaknya lalu menyemburkan cairannya ke seluruh tubuh Deasy, bahkan sampai sebagian wajah Deasy juga terkena semburan.


Sampai malam hari, Kogo masih berada di ruangan kerjanya bersama Deasy dengan tanpa ada selehai benang pun yang menutup tubuh mereka. Deasy masih pingsan. Kogo terus menikmati tubuh indah Deasy tanpa ampun.


Setelah menggesekkan miliknya di sela leher Deasy, kini Kogo berjongkok di atas dada Deasy. Ia meletakkan miliknya yang belum juga lemas itu di tengah-tengah gundukan dada Deasy. Lalu, meremas kedua milik Deasy dengan senjata Kogo di tengahnya. Kogo melenguh kenikmatan karena ia merasakan sensasi yang luar biasa pada intinya sampai tak sadar cairannya menyembur dan memenuhi wajah sampai mengalir pada leher dan rambut Deasy.


Tak cukup sampai di situ, Kogo memasukkan miliknya ke mulut Deasy perlahan. Ia merasa tidak enak karena Deasy pingsan.


Kogo mengejar kembali puncaknya setelah memasukkan miliknya pada inti Deasy. Mereka menyatu lagi. Kogo terus menghujami Deasy dengan kasar dan cepat. Deasy tersadar lalu menyeimbangi permainan Kogo. Mereka berdua saling mengejar puncak masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2