
Ryu sedang duduk di sofa yang menghadap jendela. Pemandangan luar jendela adalah pemandangan kota di malam hari yang ramai dengan berbagai kegiatan di bawah sana. Dari ketinggian lantai 7 hotel yang cukup terkenal ini, Ryu merasakan semilir angin malam. Namun, perasaannya gelisah karena sekali lagi ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya sudah bergeser 3 angka lagi. Yang pertanda ia sudah menunggu selama 30 menit yang lalu.
Terdengar suara pintu hotel terbuka, wangi aroma parfum cherry langsung menusuk indera penciuman Ryu. Ia sudah mengerti siapa orang yang masuk tadi.
Seorang wanita memeluk Ryu dari belakang, gayanya yang sensual menggoda setiap inci dada bidang milik Ryu.
"Maafkan aku yang sedikit terlambat," bisiknya tepat di telinga kanan Ryu.
"Malam ini aku sedang berbaik hati. Maka berikan sesuatu yang luar biasa malam ini." Ryu menatap tajam wanita itu.
"Viana milikmu malam ini." Viana berbisik sambil mengelilingi sofa ke hadapan Ryu.
Viana dengan lihai membuka kancing kemeja Ryu satu persatu dengan gaya sensualnya. Sampai ia membuka ikat pinggang lalu resleting juga sudah terbuka. Viana dengan manja bermain di bawah sana. Ryu mulai menikmatinya namun tampangnya masih saja datar menatap keramaian kota di bawah sana.
Udara yang masuk melalui jendela kamar pun rasanya memanas, mereka sudah tidak lagi di sofa melainkan pindah ke ranjang. Ranjangnya sudah tidak lagi rapi, bahkan terkesan acak-acakkan.
Peluh membasahi keduanya sampai bagai terbang ke tempat paling indah. Ralat, hanya Viana saja. Sedangkan Ryu rasanya datar karena memang ia melakukannya tanpa cinta, terpaksa demi kebutuhan biologisnya saja.
Ryu baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Sedangkan Viana sudah terlelap di ranjang tanpa sehelai benang pun. Ryu hanya melirik Viana sekilas lalu memakai pakaiannya dan pergi meninggalkan Viana begitu saja tanpa membangunkan atau sekedar menyelimuti tubuhnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Ryu tidak berniat pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Ia singgah ke club malam untuk minum atau sekedar menyapa temannya. Karena kalau untuk mencari wanita, Ryu tidak pernah tertarik pada wanita di club ini selain Viana.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ryu segera masuk ke dalam tanpa melewati pemeriksaan dari penjaga. Bahkan penjaganya pun memberikan hormat kepada Ryu. Wajar saja karena ini club memang milik Ryu. Ssttt ... tidak ada yang tahu kalau Ryu lah pemilik club ini. Club terbesar di kotanya adalah milik Ryu.
Ryu berjalan melenggang santai masuk ke dalam. Semua mata wanita tak bisa berkedip menyaksikan Ryu. Wajar saja, fisik yang sempurna dibarengi dengan materi yang melimpah membuat siapa saja akan berusaha untuk mencuri perhatian seorang Ryu.
"Woi, udah lama gak muncul. Kemana aja kau?" tanya Ale begitu Ryu sampai di mejanya.
"Kerja." Ryu duduk di samping Ale yang sedang bermesraan dengan seorang wanita.
"Gimana hasilnya? Udah berapa cewek yang hamil?" tanya Ale sambil mengelus paha cewek yang ada di pangkuannya.
Ryu melirik wajah wanita yang ada di pangkuan Ale. Menjijikkan bagi seorang Ryu. "Aku tidak sepertimu." Ryu beranjak dari duduknya menuju meja bartender. "Aku minta Vodka aja 1 gelas," pinta Ryu kepada bartender langganannya.
"Siap, Bos."
__ADS_1
"Hans, itu cewek siapa? Anak baru ya?" tanya Ryu ketika melihat seorang wanita yang berpakaian sama seperti Hans sedang menyajikan minuman kepada pelanggan di ujung sana.
"Namanya Salma, Bos. Karyawan baru. Baru kemarin masuk." Hans memberikan segelas minuman pesanan Ryu.
"Oh, pantesan baru lihat." Ryu mengangguk paham.
"Tapi, galak banget." Hans ngedumel.
Ryu tertawa mendengarnya. "Iya kah?" tanya Ryu penasaran. "Kalau pekerjaannya bagaimana?" tanya Ryu lagi.
"Kerjaannya lumayan oke, Bos. Sekarang itu udah banyak pelanggannya." Hans menunjuk Salma yang sedang sibuk membuatkan pesanan beberapa pelanggannya yang didominasi pria.
"Dia jualan juga?" tanya Ryu.
"Sepertinya dia gak bisa dipakai, Bos. Kemarin ada yang deketin tapi dicuekin abis-abisan sama dia." Hans geleng-geleng kepala mengingat kejadian kemarin. "Tapi, kalau Bos yang ngajakin mungkin dia mau."
Ryu memperhatikan setiap gerakan Salma. "Siapa kau? Rasanya aku tidak asing denganmu." Ryu membatin sembari mencoba mengingat siapa wanita itu.
Salma sadar kalau ada yang memperhatikan dirinya, ia melihat Ryu yang menatapnya tanpa kedip. Ryu bahkan tidak sadar kalau Salma memergoki dirinya.
Ale menepuk pundak Ryu.
"Itu Salma. Bartender baru di sini." Ale merangkul pundak Ryu.
Ryu menyikut perut sahabatnya itu. "Giliran cewek aja, cepat banget nyambungnya."
Ale tertawa mendengar sahabatnya bisa bercanda seperti ini. "Tapi susah banget dideketin. Kau deh sana coba bisa gak." Ale menantang Ryu.
"Maaf, anak club bukan seleraku." Ryu menenggak habis minumannya.
Hans menghampiri kedua sahabat yang sedang asyik bercanda itu. "Le, gak coba buat deketin lagi?" tanya Hans dengan nada meledeknya.
"Kapok dah. Galaknya kayak macan." Ale bergidik ngeri membayangkan kejadian kemarin malam di mana ia hampir tak bernyawa lagi kalau sampai pisau itu benar-benar mengenai jantungnya.
"Jadi, cowok yang kau maksud ditolak kemarin malam sama Salma itu si playboy cap badak ini?" tanya Ryu pada Hans.
__ADS_1
Hans mengangguk tanda mengiyakan ucapakan Ryu. Ryu tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan Hans.
"Makanya kalau mau menjinakkan macan itu harus berguru dulu sama Mbahnya macan." Ryu menepuk bahu Ale sambil tertawa terus menerus.
Hans tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi kesal sekaligus takut dari wajah Ale.
Hans menepuk bahu Ryu. "Nih berguru sama Bos, Le. Jangankan macan gitu, Mbahnya macan juga ditaklukin sama si Bos."
"Coba taklukin tuh macan. Kalau berhasil, apa aja yang kau minta bakal aku kasih." Ale menantang Ryu.
"Gak butuh. Apa yang kau punya, semuanya aku punya. Taruhannya gak bikin aku tertarik." Ryu memberikan lagi gelas kosongnya agar segera diisi oleh Hans.
Salma sesekali melirik tiga sekawan yang sedang mengobrol sambil memperhatikan dirinya. Ia tahu kalau ketiga orang itu sedang membicarakan dirinya. Tapi, baginya selama tidak mengganggunya secara langsung atau menyentuhnya, ia tidak akan melalukan tindakan apapun. Ia akan membiarkannya saja.
"Tunggu sebentar, akan ku panggilkan dia untuk kalian." Hans meninggalkan Ryu dan Ale.
Hans menepuk pundak Salma. "Salma, ada seseorang yang ingin dilayani olehmu." Hans menunjuk ke arah Ryu dan Ale.
Ryu hanya memasang wajah datar karena ia tahu kelakuan sahabatnya itu memang sangat di luar dugaan manusia manapun. Sedangkan Ale selalu memasang wajah sok gantengnya. Ale ini keturunan orang Timur, dengan wajah hitam manis.
"Bos mau minum apa?" tanya Salma.
Ale bersikap seperti playboy pada umumnya. "Apa saja yang kau buatkan, pasti aku akan menyukainya."
Salma beralih pada Ryu. "Bos mau minum apa?" tanyanya.
"Buatkan sana cocktail kesukaanmu." Ryu menjawabnya datar.
Salma membuatkan 2 gelas minuman yang berbeda. Yang satu diberikannya untuk Ale, dan yang satu lagi untuk Ryu. Terlihat dari tampilannya kalau minuman Ryu lebih spesial.
"Silahkan diminum!" Salma meninggalkan keduanya lalu mengerjakan pekerjaan lainnya.
Ale meminumnya dalam sekali teguk. "Aahhhhh, panas." Rasanya seperti membakar tenggorokannya.
Ryu meminum perlahan, rasanya soft banget meski membuat tenggorokannya panas. "Kenapa dia bisa tahu rasa yang pas untukku." Ryu membatin. "Siapa sebenarnya kau?" Ryu bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Salma begitu melihat Ryu yang menatapnya tanpa kedip.
"I want you," gumam Ryu lirih.