
"Ryu," panggil Salma.
"Hm?" Ryu meletakkan ponselnya di meja lalu menatap Salma.
"Kau lapar?" tanya Salma.
"Tadikan kita sudah makan."
"Lalu kenapa diam saja? Aku perhatikan tadi juga sepanjang perjalanan kau diam saja. Sakit perut? Sakit gigi? Sakit hati? Kau kenapa? Ada yang mengganjal? Cerita dong sama aku." Salma berbicara cepat tanpa jeda.
"Kita lagi nonton televisi loh ini bukannya lagi naik kereta. Kenapa panjang banget mana gak pakai rem ngomongnya." Ryu mencubit gemas kedua pipi Salma.
Salma mendelikkan kedua matanya lalu menghembuskan napas kasar. "Sakit, Sayang."
Ryu bukannya berhenti, malah makin gemas mencubit pipi Salma. Salma yang tak terima, balas menggelitikin pinggang Ryu sampai Ryu tertawa guling-guling.
Sampai Ryu merasakan seperti mengompol karena rasa geli di pinggangnya.
"Salma," ucap Ryu lirih.
Salma menghentikan kegiatannya dan menatap Ryu iba. "Kenapa? Sakit ya?" tanyanya.
"Enggak. Aku ... itu ... hm ... ngompol." Ryu tertunduk malu.
Salma menganga mendengar pernyataan Ryu. "Mana coba lihat!" Salma menurunkan celana Ryu sampai tersembulnya milik Ryu tepat di depan wajahnya.
Salma terbelalak dan tanpa izin dari Ryu, ia langsung melahapnya bagai anak kecil yang diberi eskrim. Terpancar wajah riang dari Salma dan begitu Ryu yang keenakan hingga merem melek.
"Ini hm ... bukan hm ... ngompol," ucap Salma.
"Lanjutkan!" Ryu menikmati permainan Salma di bawah sana. Ia tidak bisa menyerang Salma balik karena Salma sedang berhalangan.
***
Pagi ini Ryu sudah selesai dengan setelan jas mahalnya untuk ke kantor. Dan ia ingin sarapan terlebih dahulu karena pasti Salma sudah menyiapkan sarapannya.
"Pagi, Sayang." Ryu mengecup kening Salma yang sedang menyiapkan sarapan untuk Ryu. "Sarapan apa?" tanyanya.
"Roti bakar ya." Salma menarik kursi agar Ryu bisa duduk. "Duduk dulu! Nih rotinya dan ini susunya." Salma memberikan sepiring roti dan segelas susu kepada Ryu.
"Kau tidak ikut ke kantor?" tanya Ryu sambil mengunyah rotinya.
"Tidak. Kan aku tidak berbakat menjadi sekretarismu. Bakatku sepertinya menjadi istrimu saja." Salma tertawa.
Ryu melirik sekilas pada Salma. "Gombal terus."
__ADS_1
"Ryu, aku boleh meminta sesuatu kepadamu?" Salma menatap Ryu yang sarapan dengan rasa iba.
"Anything. Katakan saja."
"Keluargamu bagaimana?" tanya Salma.
"Oh, kau ingin tahu keluargaku?" Ryu memastikan maksud Salma.
Salma mengangguk dengan sangat antusias.
"Hancur," lanjut Ryu.
Senyum Salma seketika berubah menjadi datar. "Maksudmu?" tanyanya.
"Semua sudah hancur. Kau tahu lelaki tua yang bertengkar kemarin malam di club?" tanya Ryu.
"Hm ... yang rebutan cewek, bukan?" Salma memastikan ingatannya.
"Iya."
"Emangnya kenapa?" tanya Salma.
"Itu Ayahku." Ryu menghabiskan susu digelasnya sampai tak bersisa. "Aku sudah selesai sarapan. Aku berangkat kerja dulu ya." Tanpa mencium kening Salma seperti biasanya, Ryu langsung pergi meninggalkan Salma yang masih sarapan di meja makan.
Ryu sangat tak berminat kalau sudah membahas tentang keadaan keluarganya. Baginya ia sebatang kara dan tak memiliki keluarga siapapun lagi di dunia ini.
***
Di saat mereka keluar, saat itu juga Deasy ingin menemui Kogo. Mereka saling senyum untuk menyapa satu sama lain.
"Deasy, cepatlah kemari!" titah Kogo.
Deasy segera menutup rapat pintu lalu menghampiri Kogo.
Kogo tanpa berbicara apapun langsung saja mencium Deasy.
Deasy memukul dada Kogo karena oksigen yang masuk semakin menipis. "Hm ... sabarlah sedikit. Tidak perlu sepanas ini, kan? Apa aku tidak memuaskanmu? Slowly, Dear." Deasy mendorong tubuh Kogo sampai terduduk di kursi kerjanya. "Kau mau sambil bekerja atau kau mau menikmatiku terlebih dahulu?" tanya Deasy.
"Aku ingin keduanya. Aku ingin menikmatimu dahulu sebelum kau memuaskanku sembari aku bekerja dan setelah aku selesai bekerja, aku ingin bersamamu lagi di sepanjang malamku nanti. Kau harus bersedia."
"Yes, Dear. As you want." Deasy mencium bibir Kogo dengan jenggot tipis yang belum sempat ia cukur. Sambil memanaskan diri, Deasy dan Kogo saling membuka kancing kemeja masing-masing pasangan mereka.
Sesuatu yang keras di bawah sana sudah dimasukkan ke tempat seharusnya. Deasy sudah mandi keringat karena dia harus bergerak naik turun.
***
__ADS_1
Ryu tampak gelisah di ruangannya, sebab tak ada lagi yang menemaninya bekerja. Ia juga membutuhkan seorang sekretaris untuk membantunya mengurus pekerjaannya.
RP Coorporation membuka lowongan pekerjaan untuk mengisi posisi sekretaris. Banyak yang sudah melamar karena memang mereka tahu RP Coorporation itu seperti apa saat ini. Ini sudah yang ke 157 CV pelamar yang dibaca oleh Ryu. Namun, tak ada satu orang pun yang menarik hatinya. Baginya mereka tidak memenuhi standart keinginan Ryu.
"Payah sekali. Aku sudah lelah membacanya namun belum ada yang menurutku kompeten untuk menggantikan Viana." Ryu berdialog sendiri. "Oh ini ada dua lagi. Semoga ada yang cocok." Ryu membuka CV berikutnya dan membaca sekilas. "I want you." Senyum Ryu merekah begitu ia melihat CV kedua dari akhir ini. "Velly Angelica."
Segera ia membawa CV tersebut kepada bagian HDR untuk segera dihubungin.
Ryu meletakkan CV Velly di hadapan HRD. "Saya mau besok ia sudah datang untuk wawancara kepada saya."
"Baik, Bos."
Ryu melanjutkan pekerjaannya. Rasanya ia tak sabar menunggu besok untuk mewawancarai calon sekretaris barunya itu.
Ryu mengerjakan project Mr. Gerg. Ia ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk Gerg Gruop. Ia tidak ingin dianggap sama seperti Ayahnya. Ia harus lebih baik dari Kogo Company.
"Selesai juga. Akhirnya, bisa pulang juga." Ryu melirik jam di pergelangan tangannya. "Eh kirain masih jam 7 ternyata udah jam 8. Pasti udah gelap di luar ini." Ryu segera membereskan tasnya agar bisa segera pulang.
***
Sesampainya di apartement, yang pertama kali dicari oleh Ryu adalah keberadaan Salma. Ia mencarinya di dalam kamar. Ternyata benar kalau Salma sedang bersiap-siap untuk bekerja.
"Kau baru pulang?" tanya Salma yang melihat Ryu muncul dari balik pintu.
"Iya, mengerjakan project Mr. Gerg." Ryu melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. "Kau mau ke mana?" tanya Ryu lagi.
"Bekerja." Salma mengambil tasnya. "Kau ikut atau mau di sini aja? Tapi, lebih baik kau tinggal di sini saja istirahat. Kau pasti lelah sekali."
"Aku ikut." Ryu mengikuti Salma keluar kamar. "Tunggu sebentar, aku ingin berganti pakaian terlebih dahulu." Ryu masuk ke dalam kamarnya.
5 menit kemudian Ryu sudah keluar dengan setelan pakaian yang lebih santai dari tadi. Hanya dengan kaos polos dan jaket baseball serta celana jeans dan sepatu kets.
"Sudah selesai. Yuk berangkat!" ajak Ryu.
"Cepat sekali? Gak mandi ya?" tanya Salma.
"Kan aku bilang ganti pakaian aja bukan mandi." Ryu mengikat tali sepatunya.
Salma berjalan ke arah kamar Ryu. "Pasti baju kerja tadi naruhnya di atas kasur aja." Salma membuka pintu kamar Ryu. "Tuh kan, bener. Dirapihin dong jangan berantakan gitu." Salma memungut pakaian Ryu lalu meletakkannya di keranjang pakaian kotor di samping mesin cuci.
"Kau ini mau kerja juga masih sempatnya lagi membereskan itu dulu. Jiwa asisten rumah tangganya jangan kelihatan banget dong." Ryu tertawa
"Kau ini yang merepotkan. Coba kalau kau tidak ikut, pasti gak repot aku." Salma menggandeng tangan Ryu. "Yuk berangkat keburu telat nanti dipecat sama Bos."
"Aku harus ikut kalau tidak apa kau mau digoda sama om-om di sana?" tanya Ryu.
__ADS_1
"Gak tergoda juga kok sama yang lain. Kan udah punya Om Ryu." Salma tertawa.