THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 31


__ADS_3

Adit sudah menunggu di cafe yang kemarin untuk bertemu dengan Salma. Ia tidak sendirian, ia bersama Aini. Aini belum memulai sekolahnya karena masih dalam pengurusan berkas-berkasnya.


"Ryu," panggil Salma.


"Hm?" Ryu hanya berdeham dengan memasang ekspresi bertanya 'ada apa?'


"Aku akan pergi dengan Aini dan ...." Salma ragu melanjutkan kalimatnya.


"Dan?" tanya Ryu.


"Dan ada Adit juga." Salma melihat mimik Ryu seperti tidak setuju. "Aini yang minta anterin Adit ke cafe."


"Sengaja atau tidak?" tanya Ryu sambil mengunyah sarapannya.


"Aku tidak tahu. Tadi Aini barusan ngabarin aku kalau dia mau ketemu denganku di cafe yang kemarin kata Kak Adit. Di situ aku baru tahu kalau Aini datang bersama Adit." Salma coba menjelaskan kepada Ryu.


"Oke. Aku izinkan. Jangan berduaan dengan Adit. Kau harus waspada kalau anak buahku ada dimana-mana." Ryu menghabiskan minumannya lalu beranjak dari duduknya. "Aku berangkat dulu." Ryu pergi tanpa mengecup kening Salma seperti biasanya.


Salma sudah mengerti kalau Ryu sedang cemburu saat ini. Ia berusaha untuk bersabar dan menenangkan dirinya sendiri agar tidak salah bersikap kepada Ryu. "Hati-hati, Sayang."


Ryu tak mendengar karena sudah berada di depan pintu kamar apartementnya. Ryu segera menuju parkiran dimana mobilnya terparkir.


***


"Pagi, Bos." Ryu mendapat sapaan dari Satpam yang berjaga di depan kantornya.


"Pagi," balas Ryu sambil sedikit membungkukkan badannya.


Ryu kembali belajar hormat kepada orang lain, khususnya kepada yang lebih tua darinya. Dulunya ia memang anak yang sangat sopan dan bertutut kata lembut. Sangat berbeda dengan dirinya yang keras bahkan tak melihat orang tua atau muda. Kini, perlahan Salma merubahnya dan Ryu juga menuruti Salma.


Ryu sudah berada di ruangan kerjanya. Tidak ada siapapun di ruangannya. Ia menyalakan laptop untuk mengecek pekerjaan yang kemarin belum sempat ia lihat. Tak berapa lama, Velly masuk dengan sedikit tergesa-gesa.


"Maaf, Bos. Saya terlambat. Tadi di perjalanan ada kebakaran. Jadi, jalanan macet total." Velly duduk di kursinya lalu membereskan meja kerjanya sebelum memulai bekerja.


"Iya, silahkan bekerja." Ryu tak memalingkan wajahnya sedikit pun dari monitor.

__ADS_1


Velly tak berani menatap Ryu lagi. Setelah memastikan meja kerjanya sudah bersih, ia kembali melanjutkan pekerjaan yang kemarin belum selesai.


Suasana hening seketika karena sibuk pada kerjaan dan pikiran masing-masing. Velly merasa sungkan untuk memulai obrolan dengan Ryu. Sedangkan Ryu sedang memikirkan Salma di sana yang katanya mau ketemu dengan Aini tetapi ada Adit juga.


Ryu mulai gelisah melirik jam di tangannya yang masih menunjukkan pukul 11 siang yang artinya kalau ia masih harus menunggu sejam lagi untuk istirahat. Mungkin bisa saja ia pulang terlebih dahulu, tapi ia tidak akan melakukannya jika bukan kebutuhan yang sangat mendesak. Ia profesional dalam pekerjaannya, tapi tidak dengan hatinya.


Ryu mencoba mengetikkan sebuah pesan untuk Salma agar menunggunya nanti saat istirahat. Ia akan menemui mereka di sana.


Velly melirik sekilas ke arah Bosnya dan mengetahui kalau Bosnya itu memang tampak gelisah, entah apa yang dipikirkan. Ada yang ingin ia tanyakan kepada Ryu, tapi ia ragu.


Velly berdeham. "Bos," panggilnya lirih.


Ryu mengangkat wajahnya melihat Velly yang memanggilnya. "Kenapa, Vel?" tanya Ryu.


Velly beranjak dari duduknya dan menghampiri meja Ryu dengan membawa beberapa lembar kertas. Lalu berdiri di depan meja Ryu dan menyodorkan kertas yang ia bawa tadi kepada Ryu. "Ini, Bos." Velly menunjuk deretan angka yang jumlahnya tidak sedikit. "Saya kurang paham untuk perhitungan ini. Bagaimana bisa totalannya seperti ini. Dan dari laporan yang saya terima ... sebentar, Bos." Velly kembali ke mejanya mengambil sebuah proposal dan kembali lagi kepada Ryu. "Nah, ini dia. Beda jauh kan Bos."


Ryu memperhatikan dengan seksama apa yang ditunjukkan oleh Velly. "Kok beda perincian dana dan yang dikeluarkan. Coba kamu cek sekali lagi. Lihat yang salah sebenarnya ada di proposal perincian atau di pengeluaran yang memang sedikit tapi mereka buat harga tinggi di proposal dana yang mereka buat. Tolong cek ya. Saya minta kepastiannya nanti sore dimana kesalahannya ya. Sekarang istirahat saja dulu. Sudah waktunya makan siang. Aku duluan ya." Ryu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Velly sendiri di ruangannya.


Ryu segera melajukan mobilnya menuju cafe di mana Salma, Adit dan Aini berada. Sesampainya di sana, Ryu langsung memarkirkan asal mobilnya berhubung cafe juga tidak terlalu ramai. Ryu berlari kecil masuk ke dalam untuk segera menemui Salma.


Ryu melihat Salma dan Adit duduk di satu sofa yang sama dengan posisi Adit meletakkan satu tangannya di sandaran sofa tepat di belakang tubuh Salma. Aini tak terlihat sedangkan Adit seperti berusaha mendekatkan diri dengan Salma.


"Eh, Sayang. Sini duduk." Salma menyuruh Adit pindah.


"Gak apa-apa. Aku di sini aja. Kalian lanjutin aja, aku cuman mau numpang makan aja di sini. Bukan mau ganggu kok." Ryu duduk di kursi seberang mereka. Lalu melambaikan tangan kepada pelayan untuk memesan.


Salma beranjak dari duduknya untuk pindah ke sofa sebelah Ryu yang masih kosong. "Sayang, jangan salah paham ya." Salma berusaha menjelaskan kepada Ryu. Ia paham betul kalau calon suaminya ini cemburu sedari pagi.


Ryu merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya. "Kalian ngobrol sajalah kalau ada urusan penting. Aku cuman mau numpang makan saja ke sini. Atau aku pindah tempat duduk aja." Ryu beranjak dan Salma menahannya.


Ryu kembali duduk dan menatap Salma datar. Ryu sibuk bermain ponselnya melihat beberapa pesan dari teman dan juga rekan kerjanya. Ia memilih untuk membalas pesan singkat dari sahabatnya, Hans. Hans hanya menanyakan kabarnya dan memberikan laporan bulanan Club Eighty kepada Ryu. Meski Hans yang mengelolanya semua, tetap ia di bawah Ryu dan harus memberikan Ryu laporan sekecil apapun itu.


Sampai makanannya datang, Ryu terus sibuk dengan ponselnya dan tidak menggubris bujukan Salma. Tak lama Aini datang menghampiri mereka.


"Maaf, sakit perut. Gak biasa makan enak gini, nih." Aini memegang perutnya dan melihat ternyata ada Ryu yang sudah bersama dengan Adit dan Salma. "Eh ada Kak Ryu. Lagi jam istirahat ya, Kak? Kakak udah pesan makanan?" Aini berusaha seramah mungkin karena ia tidak tahu apa yang terjadi selama dirinya di toilet.

__ADS_1


Ryu tak menggubris sampai pelayan datang membawakan makanan pesanan Ryu. Ryu langsung memakan makanannya tanpa mempedulikan sekitarnya.


Aini melihat ada yang aneh dengan Ryu. Ia mencoba mengkode Salma dan meminta penjelasan ada apa sebenarnya ini. Salma hanya geleng kepala.


Ryu tersedak. Salma dengan sigap menyodorkan gelas minuman kepada Ryu dan Ryu menerimanya dengan sedikit kasar. Adit terlihat emosi melihat reaksi Ryu yang sedari tadi tidak menggubris Salma.


"Kau ini seperti anak-anak." Adit buka suara.


Ryu menatapnya sinis.


"Kau sedari tadi mengabaikan Salma yang berusaha membujukmu. Kekanakan sekali." Adit meremehkan Ryu.


Salma mendelikkan matanya kepada Adit agar tidak mencari masalah dengan Ryu.


"Oh, hai orang dewasa yang ...." Ryu tersenyum miring menatap Adit tajam. "Aku yang seperti anak-anak karena cemburu calon istriku dekat dengan cowok lain atau kau yang mengakui dewasa tapi mencoba mendekati calon istri orang. Memalukan sekali perilaku orang dewasa." Ryu tertawa meremehkan Adit.


"Apa maksudmu? Dia mantan kekasihku, padahal kami belum ada kata putus." Adit berusaha memojokkan Ryu.


"Sudah, Dit, Ryu." Salma berusaha melerai keduanya.


"Tidak ada kata putus? Oh begini ternyata caranya orang dewasa mencintai. Hanya sekedar kata-kata." Ryu bersandar pada sandaran sofa, mencari posisi senyaman mungkin. "Kalau aku tidak salah, bukannya kau yang meninggalkan Salma karena tidak dapat restu orang tuamu? Lalu sekarang kau kembali dan berusaha merebut Salma dariku? Pantas kan kalau aku sebut kau merebut. Tindakan orang dewasa seperti itu ternyata. Murahan." Ryu tertawa.


Adit berdiri dan menatap tajam Ryu. "Kau ********."


Ryu membalas tatapan tajam Adit dengan masih posisi seperti tadi. "Iya, kau benar. Sayangnya Salma sudah terlanjur mencintai aku. Bukan begitu, Sayang?" tanya Ryu pada Salma.


Salma mengangguk.


"Silahkan pergi dan jangan temui Salma lagi." Ryu mengusir Adit.


Adit menendang kaki meja karena kesal ia kalah telak dengan Ryu.


Salma memeluk Ryu dari samping. "Maafin aku."


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku tahu kok siapa yang berusaha mendekati. Maafkan aku tidak mengontrol emosiku tadi." Ryu mengelus lembut rambut Salma lalu mengecup pucuk kepala kekasih hatinya itu.

__ADS_1


Ryu, Salma dan Aini sudah berada di parkiran. Ryu berniat untuk mengantarkan Salma dan Aini terlebih dahulu ke apartementnya untuk beristirahat. Namun sayang, ban mobil Ryu semuanya kempes. Ia tahu ini ulah siapa.


Ryu menendang ban mobilnya. "Sialan. Dia cari masalah denganku."


__ADS_2