
"Sudah waktunya pulang. Kau boleh pulang terlebih dahulu." Ryu menyuruh sekretaris barunya itu untuk pulang.
"Baik, Bos. Besok saya akan datang jam 7. Bos jangan kelamaan kerjanya. Istirahat juga perlu." Velly membereskan meja kerjanya. "Saya pulang duluan, Bos."
"Iya, hati-hati kamu."
Ryu kembali bekerja setelah Velly sudah pulang. Ryu benar-benar bekerja keras akhir-akhir ini. Banyak yang ingin ia wujudkan dalam waktu dekat ini. Sampai kadang ia lupa untuk menjaga dirinya sendiri. Kadang malam ia harus menemani Salma lagi bekerja di club.
Ryu meraih ponselnya dan melihat tak ada notifikasi dari Salma. Mungkin Salma lupa atau batrainya habis karena Ryu coba menghubungi tetapi tidak bisa juga.
Ryu segera membereskan meja kerjanya dan bergegas pulang.
***
Sesampainya di apartement, Ryu tak menemukan sosok Salma. Pasti Salma belum pulang. Ia segera mengganti pakaiannya dan segera meminjam motor anak buahnya. Ini bukan sebagai aksi penyamaran, hanya saja memang ia harus naik motor untuk sampai di rumah Salma.
Dengan segera ia melajukan motornya untuk sampai di rumah Salma. Pasalnya ini sudah pukul 9 malam dan Salma tak kunjung bisa dihubungi. Ryu seketika panik dan khawatir. Wajar saja, inilah sifat asli Ryu. Ia akan sangat khawatir kepada siapa saja yang ia sayangi dan bisa bersikap sangat cuek bahkan tidak peduli kepada orang yang dianggapnya sama sekali tidak penting.
Ryu sudah sampai di gang kecil menuju rumah Salma. Tinggal mencari rumah yang paling kumuh di situ. Itulah rumah Salma.
Saat sampai dan melihat ada sebuah motor besar berwarna hitam. Ryu langsung mematikan mesin motornya agar tidak kedengaran sampai ke dalam rumah. Ia mendorong perlahan motornya. Bukannya langsung masuk ke dalam. Ia mengintip terlebih dahulu ke dalam rumah. Ternyata apa yang ia lihat tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Tampak Adit dan Salma duduk di bersebelahan sedang bercanda dengan kedua orang tua Salma. Sesekali mereka tertawa, sesekali tampak raut serius dari mereka. Delima dan Surya tidak seperti mereka yang dahulu saat Ryu datang kemari tempo hari. Sikapnya jauh berbeda, Delima tampak sangat menerima kehadiran Adit dan juga Surya yang akrab dengan Adit. Mereka merokok bersamaan sambil sesekali tertawa membahas apa saja.
Sebuah tangan menepuk pundak Ryu. Membuatnya kaget.
"Kau sedang apa?" tanya Aini.
"Ssttt ...," ucap Ryu.
Aini melirik ke dalam rumah sekilas. Dia mengerti apa yang sedang dilakukan pacar kakaknya ini. Aini menarik tangan Ryu. "Ikut aku."
Ryu ingin menolak tapi sudah terlanjur kepergok Aini. Ia pun mengikuti Aini juga.
"Kau ini pacarnya Kak Salma, kan?" tanya Aini.
Ryu mengangguk.
"Kau tahu siapa Kak Adit?" tanya Aini.
Dari gaya bahasanya, Aini tampak lebih menghargai Adit dan Salma ketimbang Ryu. Aini yang memanggil Adit dengan panggilan Kak. Sedangkan kepada Ryu, ia hanya Kau tanpa embel Kak atau memanggil namanya.
"Mantan pacarnya kali." Ryu menjawab cuek.
"Aku tidak tahu mantan seperti apa. Setahuku mereka tidak pernah bertengkar apalagi sampai putus. Kak Adit baik dan juga penyayang. Sifatnya yang seperti itu yang berhasil membuat Ayah dan Ibu luluh kepada Kak Adit. Sampai suatu ketika saat Kak Adit ingin menikahi Kak Salma, saat itu juga orang tua Kak Adit tidak merestui hubungan mereka karena keadaan keluarga kami yang seperti ini. Dan Kak Adit pernah tiba-tiba menghilang, itu membuat Kak Salma sangat terpuruk. Hingga kemarin malam Kak Adit tiba-tiba datang ke rumah mencari Kak Salma, aku sempat usir karena dia dulu pergi. Tapi, Kak Adit menjelaskan alasannya. Kak Adit kini kembali dengan memiliki usaha sendiri, jadi orang tuanya menyerahkan jodohnya sepenuhnya atas pilihan Kak Adit. Tapi, aku bilang Kak Salma sudah punya kekasih. Aku beri nomor telpon Kak Salma, biar Kak Adit bisa menjelaskan langsung kepada Kak Salma," jelas Aini.
"Kalau kau disuruh memilih, kau akan memilihku atau Adit?" tanya Ryu.
"Aku tidak tahu kau ini orang yang seperti apa. Kalau Kak Adit aku sudah cukup lama mengenalnya. Dia orang yang baik."
"Selain baik, apalagi yang menjadi pertimbangan untukmu?" tanya Ryu.
"Harta. Aku tidak munafik, harta sangat penting untuk saat ini. Kau tahu bagaimana pekerjaanku? Kau tahu bagaimana keadaan keluargaku? Semua membutuhkan biaya yang cukup besar. Bahkan kehidupan yang normal saja tetap membutuhkan uang untuk makan."
__ADS_1
Kring ... kring ... kring ...
"Sebentar, ada panggilan masuk." Ryu menjawab panggilan tanpa menjauhi Aini. Ia juga tidak tahu harus ke mana.
"Halo."
"..."
"Kerjakan sekarang juga!"
"..."
"Baik, besok aku berikan semua data dirinya. Bungkam mulut semua guru dan siswa yang terlibat. Jangan tinggalkan bekas apapun."
"..."
"Oh iya, aku mau besok rumahnya sudah harus selesai dan siap dipakai."
"..."
Panggilan terputus.
"Kau ini siapa?" tanya Aini.
"Kau tidak mengenalku?" Ryu bertanya balik.
"Tidak." Aini menggelengkan kepalanya.
"Siapa kau mengaturku. Lagian kau tidak bisa seenaknya begitu, bagaimana kalau sampai guru dan teman-temanku membeberkan rahasiaku ini. Dan percuma saja aku tidak akan bisa sekolah lagi." Aini tidak setuju.
"Percaya padaku." Ryu menatap tajam Aini. "Kau lihat ini. Pilih mana yang kau sukai." Ryu menunjukkan beberapa foto rumah kepada Aini.
Aini salah fokus. "Kau punya ponsel termahal di dunia?" tanya Aini sambil memperhatikan setiap inci ponsel yang digenggam Ryu.
"Emang iya?" tanya Ryu.
"Apanya?" Aini bingung.
"Ini ponsel termahal."
"Kau yang punya masa tidak tahu. Atau jangan-jangan kau membeli replikanya ya?" Aini tertawa meledek Ryu.
"Kalau sampai benar ini replika, bakal aku pecat saat ini juga anak buahku." Ryu menyodorkan ponselnya kepada Aini. "Coba tolong periksa apakah ini asli atau replika."
Aini terpukau menatap setiap kemewahan ponsel milik Ryu.
"Kau ini siapa?" tanya Aini.
"Kau punya ponsel?" Ryu balik bertanya kepada Aini.
"Punya. Tapi, tidak semahal milikmu." Aini menunjukkan ponsel miliknya.
__ADS_1
"Bisa kau searching di internet?" tanya Ryu.
"Bisa dong."
"Coba kau cari, RP Coorporation."
Aini dengan sigap menuruti perintah Ryu. Betapa terkejutnya Aini begitu melihat profil perusahaan itu. Terpampang foto Ryu sebagai pemilik perusahaan paling sukses di tahun ini.
"Benar ini kau?" tanya Aini menunjukkan foto di ponselnya.
"Mirip tidak?" tanya Ryu.
"Mirip sih. Tapi, kok begini?"
"Begini bagaimana?" tanya Ryu yang tak mengerti maksud Aini.
"Lihat motormu? Masa lebih besar motor Kak Adit."
"Itu motor anak buahku. Kata Salma jalan menuju rumahnya tidak bisa dilalui mobil. Yaudah aku bawa motor aja."
"Kau ini bego atau gimana, sih. Itu Kak Salma di dalam bersama Kak Adit dan kau diam saja daritadi malah mengintip."
"Biarkan saja. Melihat Salma, Ayah dan Ibu bisa tertawa seperti itu pasti pemandangan yang langka, kan?" tanya Ryu.
Aini mengangguk pertanda ia membenarkan ucapan Ryu.
"Aku tidak ingin merusak moment seperti itu dengan kehadiranku. Aku cemburu. Karena Salma dan Adit bersama sedari siang tadi."
"Kau berhak mempertahankan Kak Salma."
"Aku berhak memang. Tapi, aku tidak boleh egois. Seandainya saja Salma lebih memilih Adit, aku akan membiarkannya. Tapi, aku akan pertahankan Salma bagaimanapun caranya." Ryu tersenyum licik.
"Jangan pernah sakiti Kak Salma. Kak Salma orang yang baik."
"Akan aku usahakan semaksimal mungkin. Aku ingin serius dengan Salma. Aku tidak pernah main-main atas apa yang sudah aku rencanakan."
"Aku suka percaya dirimu. Tapi, tolong jangan tunjukkan sikap egoismu di hadapan Kak Salma. Kak Salma suka orang yang lembut dan penyayang. Ia tidak suka kepada Ayah saat Ayah marah-marah atau bahkan membanting sesuatu untuk meluapkan emosinya. Wajar saja karena itu pengaruh obat-obatan yang biasa ia konsumsi."
"Aku mengerti. Terima kasih banyak."
"Kau tidak ingin masuk ke dalam?" tanya Aini.
"Aku menunggu di sini saja."
"Yaudah aku temani."
Tak berapa lama sepertinya obrolan di dalam rumah sudah selesai. Tampak mereka berdiri. Mungkin Adit ingin pulang karena memang sudah larut malam.
Saat Salma mengantar Adit sampai di depan pintu. Ia melihat Ryu dan Aini yang duduk tak jauh dari rumah mereka.
"Ryu," panggil Salma.
__ADS_1