
Kogo sudah sampai di depan Kost Putri, ini adalah kost Deasy. Kogo sudah tahu di mana letak kamar Deasy dan ia yang sudah biasa ke sini, langsung saja masuk setelah memarkirkan mobilnya. Lampu kamar Deasy tampak padam, tidak ada satu cahaya pun yang terpancar dari dalam. Seharusnya kalau malam seperti ini pasti lampunya menyala dan tidak mungkin juga Deasy sudah tidur jam segini. Kogo membuka pintu kamar Deasy dan ternyata terkunci. Mungkin keluar mencari makan. Ia memutuskan untuk menunggu dan duduk di kursi kecil di depan kamar Deasy.
15 menit menunggu, baginya ini adalah waktu yang cukup lama. Kogo sudah gelisah ketika mendapati ponsel Deasy yang memang tidak bisa dihubungi sejak kepergiannya dari kantornya tempo lalu.
Tetangga kamar Deasy keluar dan terkejut melihat ada Kogo di depan kamar Deasy.
"Dek, tadi ada ngelihay Deasy gak?" tanya Kogo.
"Tadi sih keluar, Mas. Sekitar 1 jam yang lalu."
"Lama juga ya. Bilang gak perginya ke mana?" Kogo berusaha menggali informasi tentang Deasy.
"Mungkin ke Club Eighty. Tadi sih sempat ngajak ke sana tapi aku lagi bareng pacar." Wanita itu menunjuk ke dalam. Mungkin di dalam sana ada pacarnya.
"Club Eighty ya. Oke. Terima kasih banyak atas infonya." Kogo berlari kecil meninggalkan wanita itu.
Tanpa ba-bi-bu, langsung saja Kogo melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang menuju Club yang dimaksud wanita tadi.
Sampainya di parkiran dan memarkirkan mobilnya, Kogo langsung masuk ke dalam tanpa diperiksa lagi oleh penjaga. Pasalnya mereka tahu siapa Kogo, pengusaha paling tersohor di negeri ini. Tapi, beberapa hari yang lalu sebelum Ryu berhasil meraih pencapaian Kogo.
Kogo masuk dan menyusuri setiap sudut ruangan mencari sosok Deasy. Karena lampu yang temaram dan ramainya orang berlalu lalang, menghambat Kogo untuk mencari keberadaan Deasy. Yang dicari tak kunjung ketemu, malah ia melihat putra sulungnya dengan seorang wanita di balik meja bartender sedang mengobrol. Meski entah apa yang dibicarakan mereka, tapi dari gesture yang dilihatnya mereka sangatlah akrab.
Kogo seperti mengenal wanita yang bersama Ryu, tidak asing hanya saja ia juga tidak mengingatnya jelas. Eh iya kelupaan, ia kan sedang mencari Deasy. Setelah ia mencari lagi, ia melihat Deasy dan seorang pria berjalan menuruni tangga.
"Sialan, ngapain dia sama laki-laki itu. Dasar jalang!" Kogo berjalan kasar menghampiri Deasy. "Hei, wanita jalang. Sedang apa kau di sini bersama laki-laki ini?" Kogo menatap tajam Deasy.
"Kau siapa?" tanya Deasy yang pura-pura tidak mengenal Kogo.
Kogo menepis tangan lelaki yang menggandeng erat Deasy. "Jangan sentuh dia!" Kogo mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah lelaki yang bersama Deasy.
Lelaki itu menepis tangan Kogo. "Kau siapa datang-datang membuat keributan di sini." Ia maju selangkah menantang Kogo.
Keributan ini membuat hampir seisi Club memperhatikan mereka. Ryu juga melihat dari kejauhan bahwa ternyata Ayahnya penyebab keributan itu. Ia tidak akan melerai mereka langsung. Ia memanggil pihak keamanan untuk membawa ketiga orang itu keluar dari Club nya.
Saat mereka digiring oleh pihak keamanan dan berjalan keluar, mereka melewati Ryu. Ryu berdiri dari duduknya dan menghentikan mereka. Tanpa melihat wajah ketiganya Ryu berbicara lantang. "Kalian adalah orang yang mengaku hebat dan memiliki kuasa. Namun, kenyataannya ternyata kalian jauh lebih murahan dari mereka yang tidak memiliki apapun. Miskin etika. Bertengkar karena seorang wanita jalang. Memalukan sekali." Ryu tertawa meledek ketiganya. Terkhusus hinaan ini memang sengaja ia tujuan untuk Ayahnya.
Kogo hanya melirik sekilas wajah putra sulungnya. Dan berjalan meninggalkan kerumunan dengan menggandeng Deasy.
Kogo tidak tahu kalau Ryu adalah pemilik Club Eighty Zero. Mungkin Kogo hanya berpikir kalau Ryu memang sering nongkrong di sini. Karena hari-hari Kogo selalu dihabiskan di kantor dan di rumah bersama wanita-wanita jalangnya. Bedanya Kogo dan Ryu, Kogo suka bergonta ganti pasangan. Berbeda dengan Ryu yang hanya memakai Viana saja sebelum ada Salma.
__ADS_1
Ryu tersenyum miring menatap betapa bodoh Ayahnya karena seorang wanita. Bahkan sampai menghancurkan keluarganya sendiri. Ayah macam apa itu. Ryu adalah seorang anak yang tumbuh besar dengan rasa dendam yang menyelimuti hatinya.
Salma menghampiri Ryu dan bergelayut manja pada lengan Ryu. "Kau ini kenapa sih? Marah-marah terus. Nanti cepat tua nih banyak keriputnya."
"Hellow, seharian ini yang marah-marah terus siapa? Yang ngomel mulu sepanjang hari siapa?" Ryu berkacak pinggang di depan Salma.
"Cewek kalau lagi PMS emang gitu. Kok gak ngertiin banget, sih. Gak peka emang cowok." Salma manyun.
"Tuh kan, salah lagi aku." Ryu kembali duduk di kursi tingginya tadi. "Udah bikinin minuman yang enak."
"Siap, Bos."
"Salma." Ryu menatap dalam Salma yang sedang sibuk meracik minuman untuk Ryu.
"Hm? Kenapa?" tanya Salma tanpa memandang wajah Ryu.
"Kau serius mau samaku, kan?" tanya Ryu dengan tampang ragunya.
"Kau ini jadinya yang meragukan. Kau selalu bertanya masalah ini berulang-ulang seakan aku ini tidak pantas untukmu." Salma menatap Ryu penuh introgasi.
"Aku ingin bertemu keluargamu." Ryu menggenggam tangan Salma.
"Usah bosan hidup kau?" Ryu menatap tajam Ale.
"Lagian baru kemarin juga kenal udah mesra-mesraan aja. Aku yang duluan kenal aja gak bisa." Ale bersandar pada meja bar. Nada bicara sedih tapi dengan mata yang jelalatan memperhatikan setiap lekuk goyangan penari striptis.
"Dasar predator." Ryu menoyor kepala Ale.
"Kebutuhan biologis, Bro. Yakan, Hans?" tanya Ale kepada Hans yang baru bergabung dengan mereka.
"Apaan sih. Baru juga dateng." Hans menatap jengah Ale.
Di antara mereka bertiga emang Ale yang banyak bicara. Pria kelahiran Ambon ini, dengan kulit hitam manis dan kupis tipis membuat wanita ingin nangis eh tidak ... membuat wanita meringis karena Ale adalah pemain handal. Hans adalah cowok keturunan Jawa dengan badan atletis dan tinggi, berjenggot tipis dan berlesung pipi ini sedikit pendiam. Beda dengan Ryu dengan wajah Asia keturunan Jepang ini memiliki mata setajam elang. Pesona yang membuat siapapun tidak bisa menolaknya. Sama pendiamnya dengan Hans. Dengan postur tubuh hampir sama seperti Hans, hanya saja lebih sedikit kurus.
"Aku pamit pulang duluan ya. Ada urusan." Ryu menarik Salma menjauhi kedua sahabatnya itu.
Salma menahan tangan Ryu. "Pekerjaanku bagaimana?" tanyanya.
"Pernikahan kita bagaimana?" Ryu balik bertanya.
__ADS_1
"Baiklah." Salma membuka apronnya dan menitipkannya Hans.
Hans dan Ale hanya menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah laku sahabatnya yang tidak pernah Ryu tunjukkan kepada mereka.
"Ganti bajumu terlebih dahulu. Aku tidak ingin membawamu bertemu keluargaku dengan penampilan seperti ini." Salma menunjuk setelan pakaian Ryu.
"Baiklah."
Mereka kembali ke apartement Ryu terlebih dahulu sebelum ke rumah Salma.
***
Ryu sudah selesai dengan pakaian casualnya. Jeans berwarna biru dan kaos polos berwarna putih yang senada dengan sepatu putihnya.
"Yuk," ajak Ryu.
"Jangan naik mobil. Motor kecil saja." Salma mengambil kunci mobil Ryu dan meletakkannya di meja kembali.
"Aku tidak punya motor."
"Katanya orang kaya raya. Motor biasa aja berapa sih harganya."
"Baiklah." Ryu menelpon anak buahnya. "Yuk, mereka sudah menunggu kita di lobi." Ryu menarik tangan Salma.
"Kenapa sih aku harus seperti ini?" tanya Ryu.
"Bersikap biasa saja. Bilang saja pekerjaanmu seorang guru atau bartender juga sepertiku. Ayahku sangat matre. Aku tidak mau Ayahku memanfaatkanmu nanti untuk bisa merestuin kita. Bersikap biasa saja pokoknya." Salma memperingati Ryu harus bagaimana nanti ketika bertemu keluarga Salma.
***
Mereka sudah sampai di gang kecil yang pertanda kalau rumah Salma tidak jauh lagi.
"Nah yang itu." Tunjuk Salma pada sebuah rumah yang setengah temboknya dari batu dan setengahnya lagi dari kayu.
Ryu menatap setiap inci rumah Salma sebelum ia masuk.
"Mari masuk!" Salma menarik tangan Ryu.
Ibu Salma yang menyambut mereka. Ibu Salma terpaku sejenak begitu bertemu dengan Ryu.
__ADS_1