
Ryu masih berusaha mengejar Salma dan buru-buru menuju mobilnya di parkiran. Ia harus menjelaskannya kepada Salma. Rasanya dadanya terasa sangat sakit begitu melihat Salma menangis dan terlebih makanan yang sudah Salma siapkan berantakan di lantai.
Taksi yang dinaiki Salma sudah berada di depan mobil Ryu. Ryu mencari celah untuk memotong dan menghentikan laju taksi tersebut. Saat mendapatkan kesempatan itu, Ryu segera memotong taksi itu dari depan. Dan taksi itu segera menginjak rem dalam sampai hampir menabrak mobil Ryu. Ryu turun dari mobilnya lalu menghampiri taksi tersebut dan mengetuk kaca jendela.
Supir tersebut membuka kaca jendelanya. "Mas, hati-hati dong kalau bawa mobil."
"Mana penumpang yang kau bawa tadi?" tanya Ryu panik.
"Penumpang yang mana?" tanya supir itu.
"Yang naik dari kantor RP Coorporation."
"Sudah turun di persimpangan jalan tadi."
"Terus pergi ke mana dia setelah turun?" Ryu tampak sangat panik.
"Saya tidak tahu. Coba tanya saja sama orang di sekitar sana. Yang pasti sepanjang jalan wanita itu menangis."
Ryu berlari meninggalkan supir tersebut tanpa ada kata maaf ataupun terima kasih.
Ryu segera memutar balikkan mobilnya menuju menuju persimpangan yang dimaksud oleh supir taksi tersebut.
"Kemana dia?" gumam Ryu.
Ryu sudah turun dari mobilnya dan celingukan di pinggir jalan mencari sosok wanita bernama Salma. Tak ada tanda-tanda keberadaan Salma di sini. Ryu nyaris frustasi harus mencari Salma ke mana lagi. Ia harus menjelaskan sekarang juga kepada Salma. Ia bukanlah orang yang betah menahan kesalah pahaman.
Dibalik pohon besar ada sosok wanita bernama Salma yang terduduk di tanah dengan memeluk erat lututnya. Bahu yang bergetar hebat karena isaknya yang tidak bisa ia tahan lagi. Duduk memunggungi pohon tersebut. Setelah ia melihat Ryu yang berdiri di pinggir jalan sedang mencarinya, rasa sakit di dadanya semakin menusuk. Mengapa Ryu harus mengejarnya setelah ia membuatnya sakit berkali-kali lipat. Ia berusaha mempertahankan pikiran positifnya kalau tadi hanya sebuah kecelakaan tapi iblis di pikirannya lah yang menguasai seluruh hati dan pikiran Salma. 'Ryu selingkuh dengan wanita lain.' Iblis selalu membisikkan kalimat itu serta melanjutkan bisikan jahatnya lagi. 'Sadarlah, Salma. Bisa jadi selama ini kau lah yang hanya selingkuhan Ryu. Kalian baru kenal beberapa hari. Wanita tadi adalah pacar Ryu.'
"Mengapa aku bisa sejahat ini. Mengapa aku harus merebut Ryu dari pacarnya. Mengapa aku sampai terlena bahkan tidur bersamanya. Ryu sangat spesial dan istimewa. Kenapa harus Ryu yang sudah memiliki pacar." Salma makin terisak dalam pikiran buruknya.
Ryu masih mengumpati kebodohannya. "Bodoh kau, Ryu!" Ryu memukul setir mobilnya dengan penuh emosi.
Ryu masih memperhatikan sekitar mencari Salma. Dan berjalan perlahan sambil memperhatikan orang-orang di trotoar. Berharap salah satunya adalah Salma. Namun, harapannya sia-sia karena tak ada satu pun Salma di antara ramainya pejalan kaki.
__ADS_1
Ryu kembali ke apartement berharap Salma sudah kembali. Namun, saat sampai di apartement, tidak ada siapapun di dalamnya. Hanya ruangan yang sudah bersih dan rapi. Sayangnya Salma tidak ada. Ryu menjambak rambutnya frustasi.
"Bodoh sekali aku ini. Bisa-bisanya aku seceroboh itu. Viana sialan!" umpat Ryu kesal.
Ryu teringat sesuatu. "Kenapa aku gak telpon dia."
Ryu segera merogoh kantongnya mencari ponselnya. Segera ia menelpon Salma.
Tak ada jawaban sampai 4 kali panggilan dan dipanggilan kelima, sudah tidak aktif lagi nomor Salma.
Ryu membanting ponselnya ke lantai, untung saja ada karpet tebal yang menampungnya. Kalau tidak, mungkin akan hancur berantakan ponselnya.
Tak lama ia memungut kembali ponselnya dan menghubungi seseorang, mungkin saja bawahannya.
"Cari dia sekarang juga."
"...."
Ryu meletakkan kasar ponselnya di meja yang ada di hadapannya. Ia bersandar pada sofa sampai setengah badannya tertidur. Rasanya ia lelah sekali sampai kakinya pun sudah naik ke atas sofa.
***
Seorang wanita membuka pintu apartement Ryu. Masuk perlahan tanpa mengucapkan salam. Berusaha meminimalisir suara agar tidak mengganggu yang sedang ada di dalam. Salma tahu kalau Ryu sudah pulang karena memang pintu tidak terkunci dan ada sepatu kerja Ryu di belakang pintu yang tergeletak begitu saja. Salma berjalan perlahan sampai ia melihat Ryu sedang lelap tertidur di ruang tamu. Tanpa membangunkan Ryu, Salma langsung masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya masih sembab, sangat kentara kalau ia baru saja selesai menangis. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartement Ryu setelah ia pulang ke rumahnya dan ia mendapati kalau Ayah dan Ibunya sedang bertengkar. Ia kembali juga karena ia ingat bahwa ia harus membayar utangnya kepada Ryu dengan menjadi asistennya selama sebulan penuh. Alasan sebenarnya karena Salma telah berhasil berdebat dengan dirinya sendiri bahwa ia bukanlah siapa-siapa Ryu. Ia tidak berhak marah apalagi cemburu seperti saat ini.
Salma mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan hotpants. Setelah itu ia membereskan beberapa barang yang berserakan karena ia pikir kalau Ryu tadi sedang marah-marah di sini. Tentunya dengan gerakan sepelan mungkin agar Ryu tidak bangun. Ia belum siap jika harus mendapat pertanyaan dari Ryu. Ia yakin kalau dirinya akan diinterogasi habis-habisan.
Selesai semuanya sudah bersih dan rapi. Salma kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia sangat lelah, lelah fisik, lelah pikiran, lelah hayati. Haduh Salma lelah, Bang...
Salma terlelap di kamarnya.
Sedangkan di luar kamar ada keributan yang sudah diketahui penyebabnya berasal dari Ryu. Seribut apapun di luar sana, Salma tidak terusik dalam tidurnya. Ia tetap nyenyak dalam mimpinya yang basah, ngiler.
"Kalian ini tidak becus dalam bekerja."
__ADS_1
Kedua anak buah Ryu hanya bisa menunduk. Mereka tahu kalau Bosnya ini akan sangat marah besar jika keinginannya tidak tercapai.
"Hanya mencari seorang wanita saja tidak bisa. Kalian memang tidak berguna." Ryu menendang meja di hadapannya. Beberapa benda di atas meja itu pun berserakan di lantai.
Kedua anak buah Ryu sudah ketakutan karena Bosnya akan marah besar.
Pintu kamar Salma terbuka dan keluarlah Salma dengan rambut berantakan khas bangun tidur. Dengan mata yang masih terpejam ia berjalan menuju dapur.
Ryu dan kedua anak buahnya melongo melihat Salma yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Ryu memandang kedua anak buahnya dan begitu sebaliknya. Mereka saling pandang heran.
Salma berjalan kembali dari dapur menuju kamarnya lagi dengan tangan kanan memegang cangkir berisi air minum. Tentunya dengan mata yang masih terpejam.
Ryu berlari menghampiri Salma dan menabrak Salma begitu saja. Ryu memeluk Salma. Salma sedikit berontak karena ia terkejut.
Ryu mempererat pelukannya seakan tak ingin Salma pergi. "Kau ke mana saja?" Dari nadanya terlihat kecemasan Ryu yang besar terhadap Salma.
"Nghhh ...." Salma hanya berusaha meregangkan pelukan Ryu. Ia masih mengantuk.
"Kau dari mana saja? Seharian aku mencarimu," bisik Ryu.
"Seharian kau tertidur di sofa, bukan?" Salma memaksa matanya untuk terbuka segera.
"Iya, karena kelelahan mencarimu." Ryu berusaha meyakinkan Salma kalau dirinya sangat khawatir.
"Kau terlalu khawatir padaku. Bersikap biasa sajalah kepadaku. Aku ini asistenmu, bukan?" Salma menepis kedua tangan Ryu yang memeluknya.
Ryu berusaha menahan, namun tenaga Salma kali ini cukup kuat. Ia berhasil lepas dari pelukan Ryu lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya.
Ryu mengetuk beberapa kali pintu kamar Salma. Alih-alih dibukakan, dijawab pun tidak.
Ryu lupa masih ada anak buahnya di sini.
"Kalian pulanglah!" titah Ryu kepada anak buahnya.
__ADS_1