THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 5


__ADS_3

Ryu dan Kogo sedang bersiap-siap dengan pakaian kantornya di kamar masing-masing. Ryu tinggal memakai sepatunya saja, sedangkan Kogo sudah selesai. Kogo terlebih dahulu keluar dari kamarnya. Mendengar itu, Ryu menahan dirinya sebentar sampai kira-kira Ayahnya itu sudah sampai di lantai 1. Setelahnya baru Ryu keluar dari kamarnya. Ia menuju dapur yang tidak ada orang lain selain Danang. Artinya Ayahnya tidak sarapan pagi ini.


"Mau sarapan apa, Tuan?" tanya Danang.


"Kopi hitam dan ... itu Bapak lagi masak apa?" tanya Ryu.


"Oh ini saya lagi buat tumis orek telur dan tauge." Danang mematikan kompornya karena masakannya sudah matang.


"Saya mau itu juga deh pakai nasi putih panas." Ryu menuangkan air putih untuk minumnya.


Danang menyiapkan segera sarapan keinginan Ryu. "Ini nasi dan lauknya, Tuan." Danang menyajikan sebakul nasi panas dan lauk yang ia masak tadi sudah berpindah ke dalam piring saji. "Silahkan makan, Tuan. Kopinya segera saya bikinin."


Ryu dengan semangat pagi ini untuk sarapan dan mengambil 2 centong nasi dan lauk yang cukup banyak. "Pasti ini enak sekali, Pak." Ryu memakan sesuap. "Kan benar saja, oishi."


"Waduh, baru ini saya melihat Tuan sarapan sebanyak itu. Biasa juga secentong dan itu pun dikurangin lagi atau paling hanya memakan roti sepotong saja. Makan yang banyak ya, Tuan. Biar cepat besar."


Ryu tertawa mendengar ucapan Danang. "Sudah besar gini, Pak. Mau sebesar apa lagi?"


"Kalau belum menikah dan punya anak artinya belum besar, Tuan." Danang tertawa.


"Pak Danang menyuruh saya menikah?" tanya Ryu serius.


"Tidak, jika sudah saatnya tiba. Bapak akan sangat senang."


"Kalau begitu, Pak Danang juga harus sarapan biar tambah besar." Ryu tertawa.


Ryu selesai dengan sarapannya dan bergegas ke kantor. Ryu memang tidak punya supir pribadi seperti Ayahnya. Ia lebih senang kemana-mana sendirian dengan mobilnya sendiri.


Kogo sudah sampai di kantornya. Bahkan sepagi ini, ia sudah memarahi 3 karyawannya.


"Kalian ini bisa kerja atau tidak sih? Pekerjaan seperti ini saja kalian tidak becus. Kalian tidak berguna. Dasar bodoh!"


Ketiga karyawan yang berdiri di hadapan Kogo hanya bisa menunduk ketakutan.


"Kalian tahu apa resiko yang harus kalian terima atas kesalahan kalian kali ini?" tanya Kogo dengan nada membunuhnya.


"Tahu, Bos. Kami siap menerima segala resiko terburuk yang akan diberikan oleh Bos," ucap salah satunya.


"Kalian masih bisa memperbaiki kesalahan ini dalam waktu 1 x 24 jam? Atau karir kalian akan benar-benar berakhir?" Kogo tidak pernah main-main dengan ancamannya.


Ketiganya menjawab serempak. "Siap, Bos."


"Laksanakan segera!" bentak Kogo.

__ADS_1


Ketiganya lari tunggang langgang keluar dari ruangan Kogo.


Kogo kembali duduk pada kursinya. "Punya karyawan tidak berguna sama saja menghancurkan aku." Kogo menggebrak meja kerjanya.


Tok ... tok ... tok ...


"Masuk!"


Seorang wanita masuk dengan pakaian kemeja ketat dan 2 kancing terbuka di bagian atas serta rok mini di atas lutut yang bagian belakangnya terbelah sampai hampir setengah dari rok tersebut.


"Bos," panggil wanita itu dengan sensual.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Kogo dengan nada sinis.


"Aku hanya ingin memijit dan merelaksasi. Kau pasti sedang banyak pikiran, bukan?" Wanita itu berjalan menghampiri Kogo. Mengalungkan tangannya pada leher Kogo. Memeluknya dari belakang sampai dadanya mendekap kepala Kogo. "Aku merindukanmu. Tadi malam kau tidur dengan siapa?" tanyanya berbisik di telinga kiri Kogo.


"Aku tidak tahu siapa wanita yang tadi malam. Hanya memilih random."


"Kenapa kau tidak menghubungiku."


"Maaf, aku bosan denganmu, Deasy." Kogo memalingkan wajahnya.


Deasy dengan sigap duduk di pangkuan Kogo. mengalungkan tangannya di leher lalu meniup hidup Kogo. "Jangan pernah bosan denganku." Deasy mengecup manja bibir Kogo.


Ryu dan Viana juga sama hal nya. Di ruangan Ryu, sudah ada Viana yang berjongkok di bawah kolong meja kerja Ryu. Sedang bermain di bawah sana. Ryu membuka laptop dan mengerjakan kerjaannya dengan sedikit tidak fokus. Tak jarang desahan demi desahan lolos begitu saja dari mulut Ryu. Nafas Ryu yang terengah-engah menuntut untuk mendapatkan lebih dari sekedar mulut Viana. Ryu menarik pundak Viana agar segera bangkit dan menuntun agar Viana duduk di pangkuannya. Viana sudah duduk di pangkuan Ryu dengan mengangkangi paha Ryu.


Ryu dan Viana sama-sama berpeluh dengan Kogo dan Deasy.


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itu benar adanya untuk Ayah dan Anak ini.


Kogo dan Deasy sudah selesai lebih dahulu.


"Deasy, segera bereskan pakaianmu laku keluar dari sini sekarang. Sebentar lagi aku akan kedatangan klien penting." Kogo menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ryu dan Viana juga sudah selesai. Ryu sedang membersihkan pakaiannya. "Kau bisa pergi sekarang, Viana." Ryu mengusir Viana seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya.


Viana terpaksa keluar dari ruangannya, meski sudah biasa ia diperlakukan seperti ini tetap saja Viana sakit hati. "Selalu saja begini. Habis manis, sepah dibuang. Kenapa kau tidak bisa melihat sedikit saja cinta yang ada dariku." Viana berdialog seorang diri setelah keluar dari ruangan Ryu.


***


Ryu berdiri sambil bertepuk tangan. "Luar biasa kerja kalian. Saya suka. Jatuhkan semua saingan kita. Menangkan lebih banyak saham." Ryu membuka sekali lagi berkas yang diberikan oleh kedua karyawannya itu. "Saya tidak sia-sia memperkerjakan kalian. Sekarang kalian sudah boleh keluar. Terima kasih banyak."


***

__ADS_1


Kogo menggebrak mejanya sampai beberapa barang bergeser dari tempat asalnya. "Kalian ini sungguh tidak berguna. Bisa kerja atau tidak kalian?" bentak Kogo pada ketiga karyawan yang berdiri di hadapan mereka.


"Kalian saya pecat! Memperkerjakan orang seperti kalian sama saja membuat perusahaan saya bangkrut. Tidak berguna." Kogo melemparkan map berisi berkas-berkas kepada karyawannya itu. "Kalian pergi dari kantor saya sekarang juga," bentak Kogo.


ketiganya meninggalkan ruangan Kogo menuju meja kerja masing-masing untuk membereskan barang-barang mereka sebelum mereka meninggalkan kantor ini.


Kogo memang tidak pernah sungkan memecat karyawan yang gagal dalam pekerjaannya atau mereka yang tidak sesuai dengan kemauannya. Sama halnya seperti Ryu. Ayah dan Anak ini memang sama mulai dari sifat sampai tingkah laku. Sayangnya, mereka saling bersaing satu sama lain.


Ryu tersenyum bangga begitu melihat berita di televisi kalau perusahaannya berada diperingkat pertama se-Indonesia.


"RP Coorporation akan terus berada diperingkat pertama. Tidak akan ada yang bisa menggeser posisi ini." Ryu tertawa bangga pada dirinya sendiri.


Ryu mengambil ponselnya dari kantong celananya lalu menelpon Hans.


"Siapkan pesta malam ini. Aku ingin Salma ada dan khusus untuk melayaniku. Jangan undang Viana!" titah Ryu.


***


Ryu sudah berada di parkiran Club Eighty Zero, suara musik terdengar jelas dari parkiran. Dengan langkah gagah, Ryu memasuki Club miliknya itu dan Ale langsung menyambutnya.


"Welcome to my paradise." Ale menyambut Ryu layaknya sang raja.


"Apaan sih kau. Gak jelas banget." Ryu menoyor kepala Ale.


"Hans ada di mana?" tanya Ryu.


Ale menunjuk meja bar tempat di mana Hans berada. "Itu di sana."


Ryu meninggalkan Ale lalu menghampiri Hans. "Hans, pesanan mana?" tanya Ryu.


"Katanya mungkin telat. Masih ada urusan mendadak." Hans sibuk meracik cocktailnya.


"Tapi, dia pasti bakalan datang?" tanya Ryu tak sabaran.


"Pasti datang kok. Sabar, Bos." Hans tertawa melihat ekspresi khawatir dari Ryu. "Nih diminum dulu." Hans menyodorkan segelas cocktail hasil racikannya.


Ryu meminumnya. "Masih enakan buatan Salma." Ryu tertawa meledek Hans.


"Itu modus. Karena cewek aja dibilang enakan." Hans melemparkan kain yang tersampir di pundaknya kepada Ryu.


"Jorok banget kau." Ryu mencampakkan kain itu ke lantai.


"Tuh, pujaan hati telah tiba." Hans menunjuk ke arah pintu masuk.

__ADS_1


Ryu segera memalingkan wajahnya ke arah yang ditunjuk oleh Hans.


__ADS_2