
"I want you," gumam Ryu lirih.
Salma mendelikkan matanya kaget. "What?" Meski suara Ryu pelan dan ditambah lagi musik DJ yang sangat berisik, tapi Salma masih dapat mendengarnya dengan begitu jelas.
Ryu gelagapan melihat ekspresi kaget Salma, ia berusaha secepat mungkin untuk menetralkan ekspresinya.
"Kenapa?" tanya Ryu.
"Apa yang baru saja kau bilang?" Salma balik bertanya.
"Nothing." Ryu membutar tubuhnya membelakangi Salma. "Semua wanita di club ini sama saja jalangnya." Ryu berbisik sekecil mungkin.
Plakk ...
Sebuah pukulan mendarat di pundak Ryu.
Salma tampak murka. "Kau pikir aku tidak mendengar ucapanmu barusan."
Ryu berbalik badan lalu menatap tajam pada Salma. "Apa yang kau dengar?" tanya Ryu.
"Kau bilang semua wanita di sini jalang. Iya, kan?" Salma berkacak pinggang menantang Ryu.
"Kau ini punya pendengaran ke-enam ya? Kau bisa mendengar semua ucapanku meski aku berbisik sekali pun." Ryu balik berkacak pinggang menatap tajam Salma.
"Itu memang keahlianku." Salma berkata bangga.
Ryu menatap tubuh Salma dari ujung rambut sampai ujung kakinya. "Kau ini siapa? Kau seperti tidak asing bagiku. Apa kau mengenalku?" tanya Ryu.
"Aneh sekali kau ini." Salma meninggalkan Ryu. Salma kembali pada pekerjaannya dan mengabaikan keberadaan Ryu.
"Gimana? Galak banget, kan?" tanya Ale yang baru muncul.
"Lebih galak dari macan dan menaklukkannya tidak sesulit yang kau bilang. Hanya perlu beberapa sentuhan saja, dia akan jadi milikku." Ryu menatap Salma bangga.
"Buktikan!" Ale menepuk pundak Ryu lalu meninggalkannya.
"Hans, aku balik dulu ya." Ryu melambaikan tangannya pada Hans.
Hans ini adalah orang kepercayaan Ryu untuk mengurus club ini. Karena ia tidak akan sempat lagi mengurus ini club. Ryu, Ale, dan Hans adalah sahabat sejak mereka SMA. Ryu yang seorang pengusaha kondang, Ale adalah seorang penyanyi yang memang sudah sangat terkenal, sedangkan Hans tidak seperti keduanya, sejak tamat SMA ia memang bekerja sebagai bartender karena tidak memiliki biaya untuk berkuliah. Sejak Ryu sudah memiliki modal cukup, ia membangun club ini untuk membantu Hans.
Ryu sudah berada di dalam mobilnya. Namun, pikirannya malah memikirkan Salma. "Siapa sih wanita itu. Aku seperti mengenalnya." Ryu membatin.
__ADS_1
Salma baru keluar dari tempat kerjanya dan bersiap untuk pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Ia menghirup udara sebanyak mungkin lalu menghembuskannya kasar. Menutupkan tutup kepala dari hoodie yang ia kenakan. Hoodie hitam dengan jeans yang di bagian lututnya sudah robek dan sepatu kets warna hitam serta tas selempang berwarna hitam juga. Salma berjalan menembus dinginnya malam, tanpa melihat kanan kiri, ia hanya fokus pada langkahnya di depan.
Sebuah mobil yang berada di depannya tampak memundurkan jalannya. Salma tidak peduli. Ia terus melangkah sampai ia berpapasan dengan mobil itu pun ia terus saja berjalan tanpa meliriknya sama sekali. Mobil hitam itu kembali jalan perlahan mengikuti langkah Salma.
"Hei, kau mau pulang?" tanya seseorang dari dalam mobil.
Salma melirik sekilas pada sang empunya mobil tersebut. "Kau lagi. Mau apa sih?" tanya Salma tanpa menghentikan langkahnya.
Mobil Ryu terus saja berjalan pelan mengiringi jalan Salma. "Kalau kau tidak keberatan, aku akan mengantarkanmu pulang." Ryu berteriak agar Salma dapat mendengarkan ucapannya.
"Apa tujuanmu menawarkan tumpangan kepadaku?" tanya Salma.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja ini sudah terlalu larut malam. Bahaya bagi seorang gadis berkeliaran malam-malam begitu." Ryu turun dari mobilnya dan mengejar Salma.
"Aku tidak selemah yang kau pikirkan. Pergilah sana! Harusnya kau yang lebih berhati-hati!" Salma mengingatkan.
"Aku ini lelaki. Bisa menjaga diri." Ryu tampak membanggakan dirinya.
"Kau terlalu angkuh. Kau lihat aku! Apa yang aku punya? Aku tidak punya uang yang banyak, tidak akan ada yang mau menculikku. Sedangkan kau? Lihatlah! Dari ujung kaki sampai ujung rambut adalah sesuatu yang mewah," ucap Salma.
"Kenapa kau seperti ini? Kau tidak sadar kalau kau baru saja merendahkanku?" tanya Ryu dengan nada sinisnya.
"Kau tadi bilang kalau aku ini memiliki segalanya. Bagiku itu adalah hinaan. Karena hanya diriku sendiri yang boleh memujiku," jawab Ryu.
"Kau ini aneh." Salma mendengus sebal lalu meninggalkan Ryu.
Ryu mengejar Salma. "Hei, tunggu! Biar aku mengantarkanmu pulang."
"Tidak perlu. Lagian mobil sport mewahmu meskipun kecil tetap tidak akan muat untuk masuk ke dalam gang rumahku. Pergilah sana!" Salma mendorong tubuh Ryu agar menjauh darinya. Salma berlaru meninggalkan Ryu.
"Wanita aneh!" desis Ryu.
Ryu kembali ke mobilnya lalu pulang ke rumahnya. Meski sudah pukul 2 dini hari, para pelayan rumahnya masih ada yang terjaga menunggu dan menyambutnya pulang.
"Selamat malam, Tuan," sapa Satpam yang membukakan pintu pagar untuknya.
"Ini sudah pagi." Ryu menjawabnya tanpa melihat wajah Satpam itu sama sekali. Memang begini sikap Ryu. Mereka semua memang sudah sangat paham betul.
Ryu masuk ke dalam rumahnya dan langsung menaiki anak tangga untuk ke kamarnya. Begitu melewati kamar Ayahnya, samar namun jelas terdengar suara desahan ayahnya dengan seorang wanita. Ia tidak peduli. Ia sudah dapat jatah tadi dari Viana.
Sampai di dalam kamarnya pun, suara desahan itu masih terdengar. Ia keluar untuk mencari cemilan di dapur.
__ADS_1
Tampak Danang masih terjaga di dapur.
"Pak, belum tidur?" tanya Ryu.
"Belum, Tuan." Danang meletakkan gelas minumnya di meja makan.
"Pak, saya boleh minta tolong."
"Apapun akan saya lakukan, Tuan."
"Saya minta tolong besok kamarnya Ayah dipasang kedap suara ya, Pak. Terlalu berisik. Saya capek pulang kerja mau tidur malah mereka berisik banget." Ryu mengambil minuman kaleng dari kulkas dan duduk di hadapan Danang.
"Siap, Tuan. Saya beritahu kepada Tuan Kogo dulu ya." Danang membereskan piring bekas makannya. "Tuan mau makan?" tanya Danang.
"Tidak, Pak. Saya sudah makan. Iya, Pak Danang harus minta izin dulu kepada Ayah. Ini kan rumahnya, kita yang hanya menumpang tidak bisa seenaknya bertindakkan." Ryu menghabiskan minumannya.
"Jangan bicara seperti itu, Tuan. Ini juga rumahnya Tuan. Hanya saja saya perlu meminta izin karena itu kan kamarnya Tuan Kogo." Danang memang selalu mengingatkan Ryu jika Ryu bersikap tidak sopan.
"Maaf, Pak. Lagian Ayah sudah bangkrut ya sampai untuk menyewa hotel semalam saja tidak sanggup."
Danang memotong kalimat Ryu. "Sudah jangan diteruskan, Tuan."
Ryu tidak mengerti maksud Danang. "Kenapa sih harus mengotori rumahnya dengan perbuatan seperti ini."
Danang menepuk jidatnya.
Kogo berjalan santai menuju kulkas untuk mengambil minuman. Ryu melirik sekilas kepada Ayahnya itu. Ia baru paham maksud ucapan Danang tadi kalau ternyata ada Ayahnya di belakang. Kogo mendengar jelas semua ucapan Ryu, tapi ia sama sekali tidak menggubris atau tersulut emosi dari ucapan Ryu. Karena semua yang dibilang Ryu benar adanya. Kogo mengambil dua kaleng minuman.
"Pak Danang, ini sudah larut malam. Silahkan tidur!" Kogo melirik Danang yang sedang duduk di meja makan.
"Baik, Tuan."
"Pak Danang, jangan lupa yang tadi tolong dipasang kedap suara." Ryu beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Kogo dan Danang yang masih di dapur.
"Silahkan pasang saja nanti siang, Pak." Kogo mengerti maksud ucapan Ryu.
"Baik, Tuan."
Langkah Ryu terhenti sejenak begitu di depan kamar Ayahnya, pintu kamar yang tidak terbuka menampakkan seorang wanita sedang tertidur menghadap ke arahnya. Kontak mata mereka bertemu. Ryu hanya memandang datar, sedangkan wanita itu menggigit bibir bawahnya memperhatikan isi di dalam celana boxer milik Ryu. Ryu tidak peduli lalu melangkah terus ke kamarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari, Ryu tak kunjung dapat memejamkan matanya. Salma mengganggu pikirannya malam ini.
__ADS_1