THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 19


__ADS_3

"Malam, Bu. Saya Ryu." Ryu menyalim tangan Ibunya Salma.


"Delima. Panggil saja Delima." Delima bersikap seperti tidak menyukai Ryu.


"Iya, Bu Delima." Ryu mengulang.


"Delima saja. Gak perlu panggil saya, Bu. Saya bukan Ibu kamu."


Ryu kaget dengan reaksi Ibunya Salma. Salma mengerti itu lalu menarik Ryu agar mengikuti dirinya. "Bu, Ayah dimana?" tanya Salma.


"Di belakang."


"Salma tinggal dulu ya, Bu. Salma mau nemuin Ayah." Salma mengajak Ryu untuk ke belakang rumahnya.


"Aku jelasin nanti." Salma menarik Ryu terus menuju belakang rumahnya.


Seorang lelaki tua dengan kisaran umur 60 tahunan ini sedang duduk di kursi kecil bawah pohon dengan membelakangi rumah.


"Ini Ayahku." Salma menepuk pundak lelaki tua itu.


Lelaki itu hanya melirik ke belakang siapa yang menepuknya. Lalu kembali melanjutkan kegiatannya menghisap botol yang sudah diisi dengan barang terlarang. Ryu kaget menyaksikan kegiatan calon mertuanya ini.


Salma mengajak Ryu untuk duduk di kursi panjang tak jauh dari tempat Ayahnya.


"Begini keadaan keluargaku. Kalau kau tidak suka, kau bisa mundur dari sekarang. Ayahku seorang pecandu narkoba dan Ibuku tadi, ia punya gangguan mental. Ia tidak akan mau beradaptasi dengan orang asing atau orang yang baru dikenal. Masih mending kau hanya dijutekin. Temanku dulu ada yang masih di depan pintu sudah dilempar pakai sapu."


Ryu menatap Salma penuh iba. "Pasti ada alasan kenapa semua ini bisa terjadi. Kau pasti tahu sesuatu."


"Tidak. Aku tidak bisa mengingat apapun. Ingatanku dan Ibu hilang sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu. Kami tidak bisa mengingat apapun. Sampai saat ini tidak tahu apa penyebabnya." Salma menatap Ayahnya dengan pandangan kosong.


"Kau anak tunggal?" tanya Ryu.


"Tidak. Aku punya seorang adik perempuan."


Ryu celingukan. "Aku tak melihat ada orang lain selain Ayah dan Ibumu di rumah ini." Ryu mencari sosok adik yang dimaksud Salma.


"Iya pasti kerja kalau jam segini. Mungkin sejam lagi bakal balik."


"Kerja? Adikmu pasti masih kecil." Ryu protes.


"Iya. Dia kerja buat makan, buat sekolah dia, buat beli obat-obatan Ayah. Belum lagi kalau Ibu udah sakit. Aku dan Aini harus kerja ekstra sampai kadang Aini gak sekolah." Salma tertunduk malu.


"Aini? Nama adikmu Aini? Kalian berdua pasti wanita yang kuat. Menjadi tulang punggung keluarga." Ryu mengelus bahu Salma.


"Aini jauh lebih kuat dariku. Ia rela mengorbankan segalanya demi keluarga kami ini. Kalau aku tidak sekuat dia, aku hanya bisa menjadi buruh cuci di pagi dan siang hari, dan bartender di malam hari." Salma miris melihat keadaan keluarganya.

__ADS_1


"Bekerja apa Aini?" tanya Ryu.


"Hahahahaha," tawa Surya menggelegar membuat Ryu dan Salma terkejut.


Ryu menatap Salma dengan penuh tanda tanya.


"Biasa. Pengaruh obat-obatan," jelas Salma.


"Sudah lama seperti ini?" tanya Ryu.


Surya beranjak dari duduknya dan menari-nari dengan riangnya. "Begini baru hidup yang nikmat. Aku menjadi kaya, bisa beli apa saja. Bisa berdansa dengan wanita-wanita cantik." Surya seakan-akan sedang berdansa.


"Kita pindah yuk." Salma menarik tangan Ryu mengelilingi samping rumah kecil di kawasan padat penduduk ini sampai di bagian depan rumah. "Kita duduk di sini saja. Di dalam rumah ada Ibu. Maaf Ibu pasti akan marah-marah."


"Tidak apa-apa. Jadi, bagaimana?" tanya Ryu.


"Bagaimana apanya?" Salma balik bertanya.


"Kau mau kan menikah denganku?" tanya Ryu penuh harap.


"Aku mau. Tapi, apa kau masih tetap mau dengan keadaan keluargaku seperti ini?" Salma sangat pesimis.


Ryu mengangguk riang.


"Itu, Aini." Tunjuk Salma pada gadis itu.


"Hm?" Ryu meminta penjelasan.


"Dia adikku, Aini. Begitu pekerjaannya." Salma menghentikan kalimatnya begitu Aini sampai di hadapan mereka.


"Hai, Kak. Ini siapa?" Aini memperhatikan penampilan Ryu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau sudah jadi pelacur juga sekarang? Mana cakep banget lagi ini cowok. Pasti itunya besar banget deh, auh ... tidak seperti pelangganku yang kebanyakan om-om tua jablai. Sekalinya dapat yang mudaan eh ejakulasi dini. Boleh gak aku cicipin pelangganmu ini? Aku juga mau sekali aja dipuasin." Aini menatap sayu Ryu.


Salma menggenggam erat tangan Ryu. Salma sedikit menahan emosinya, karena apa yang dibilang Aini ini sudah kelewatan batas. Memang benar kalau 'itu'nya Ryu besar dan tahan lama. Tapi, apa benar juga ia seorang pelacur juga seperti yang dibilang Aini? Sedangkan ia juga bersama Ryu sering melakukannya, tak hanya di apartement bahkan di kantor juga.


Ryu mengerti kegelisahan Salma. Ia menggenggam tangan Salma yang bertumpu di tangan sebelahnya.


"Aini, kenalkan ini adalah calon suamiku." Salma berdiri dan mensejajaru Aini.


"Kau ini, Kak. Masa baru sekali jadi pelacur saja sudah baper sampai langsung minta pertanggung jawaban kepada pelangganmu."


Plak!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Aini.


"Bisa jaga sikapmu? Dia ini Ryu, calon suamiku." Salma berkata cukup keras.

__ADS_1


"Santai aja dong, Kak. Jangan marah-marah gitu bisa, kan?"


"Kau boleh saja menjadi pelacur, tapi tolong sikapmu juga jangan sampai murahan seperti ini."


Plak!!!


Aini balik menampar Salma. Ryu bangkit dari duduknya dan segera menarik Salma ke dalam pelukannya.


"Bisa tidak kalian jangan bertengkar seperti ini. Mohon maaf, Aini. Boleh duduk dulu. Kita obrolin dulu."


Aini menuruti ucapan Ryu.


"Begini, saya ini memang berniat ingin menikahi Salma. Karena itulah, saya datang ke sini untuk menemui Ayah dan Ibu-"


Kalimat Ryu belum selesai terucap. Namun, Aini sudah tertawa mendengarnya. Lucu bagai lelucon pelawak terkenal.


"Kau ini bercanda?" tanya Aini.


"Aku serius. Mungkin hanya kau yang bisa aku ajak ngobrol di keluarga ini-"


"Maksudmu apa berkata seperti itu? Mau bilang orang tuaku gila?" Aini memotong ucapan Ryu.


"Bukan seperti itu maksud aku."


Aini menutup mulutnya menahan tawa. "Aku mengerti. Kau pasti diusir oleh Ibu, kan? Lalu Ayah pasti sedang memakai obat-obatan terlarang di belakang sana." Aini menunjuk rumahnya asal. "Apa kau yakin? Di rumah ini hanya Kak Salma yang waras. Selebihnya gila. Tapi, mungkin sekarang dia sepertinya sudah gila juga." Aini tertawa.


"Apa maksudmu?" tanya Salma.


"Iya, kau gila. Harusnya kau tidak perlu membawa lelaki ini ke rumah kita yang seperti ini. Bisa saja dia tidak akan jadi menikahimu. Kau bilang saja pada dia kalau kau ini sebatang kara dan tidak memiliki siapapun di sini. Selesai." Aini beranjak dari duduknya hendak meninggalkan Ryu dan Salma.


Ryu menahan tangan Aini. "Tunggu sebentar."


Aini menatap tajam Ryu. "Apalagi? Aku lelah sekali rasanya ingin istirahat," omelnya.


Ryu merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya. "Ini kau pakai saja. Bisa untuk beberapa hari. Kau bisa tidak perlu bekerja untuk beberapa hari. Istirahatlah di rumah dan bersekolah dengan baik."


"Kau kaya juga ternyata. Ini sih cukup untuk seminggu. Aku mungkin bisa tidak perlu bekerja lagi. Tapi, kalau bersekolah yang baik. Aku rasa tidak bisa. Karena teman sekolahku suka mengajakku ke kamar mandi sekolah untuk melayaninya. Apalagi guruku, mereka selalu mengancam akan memberikan nilai yang jelek jika aku tidak mau memuaskan mereka."


"Kau boleh pindah sekolah." Ryu memberikan saran.


Aini tertawa. "Mereka yang pernah aku layani tidak akan mengizinkan aku. Mereka akan mengancam untuk mem-viral-kan siswa yang bekerja sebagai pelacur seperti aku. Dunia ini tidak adil bagi kami yang miskin ini." Aini meninggalkan Ryu dan Salma.


"Ayo kita kembali ke apartement saja," ajak Salma.


Sepanjang perjalanan, Ryu kebanyakan diam. Ia memikirkan bagaimana caranya membantu Aini agar bisa sekolah dengan baik tanpa ancaman apapun. Dan bagaimana caranya untuk membantu Ayahnya Salma yang seorang pecandu. Mungkin ia akan membawa Ibu Salma ke psikiater untuk membantu pemulihan jiwanya. Ia akan lakukan itu semua demi Salma. Ia bisa mengerti guratan kesedihan yang tidak pernah Salma perlihatkan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2