THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 26


__ADS_3

Kogo dan Deasy sedang berada di toko perhiasan. Pasalnya mereka sedang memilih sepasang cincin untuk disematkan di jari pasangan masing-masing pada hari pernikahan mereka. Ini bukan toko perhiasan yang biasa. Tapi, super mewah.


"Pernikahan kita harus sangat mewah. Kau tahu, ini adalah acara yang sangat aku tunggu-tunggu sejak beberapa tahun lamanya." Deasy mencoba cincin bermotif simple dengan berlian warna biru sebagai hiasannya.


"Lakukan saja semua yang kau inginkan. Aku rasa uang di ATM itu akan sangat cukup untuk memenuhi kebutuhanmu." Kogo memperhatikan cincin yang ia kenakan. "Aku lebih suka cincin yang ini."


"Kau suka yang ini? Bagaimana dengan yang ini?" Deasy menunjukkan pasangan dari cincin yang sedang ia kenakan. "Kalau itu pasangannya seperti itu. Terlalu mewah."


Kogo melirik Deasy. "Bukannya tadi kau yang bilang ingin acara yang mewah. Jangan nanggung-nanggung. Buatlah semeriah mungkin."


"Kau terbaik." Deasy memeluk erat Kogo.


Aksi Deasy ini mengundang perhatian pegawai toko. Pasalnya Deasy yang sudah berumur 35 tahunan dengan Kogo yang sudah menginjak kepala 5. Sangat tidak pantas untuk bermesraan di tempat umum. Namun, mereka hanya tersenyum karena bagaimana pun Deasy dan Kogo adalah pembeli yang harus mereka layanin dengan sepenuh hati.


"Yang mana jadinya, Bu?" tanya pegawai berambut hitam panjang di kuncir kuda.


"Sayang, kau pilih yang mana jadinya?" tanya Deasy.


"Terserah kau saja. Aku ikut pada pilihanmu." Kogo duduk di kursi tinggi.


"Yang ini saja ya. Kau pasti suka." Deasy menunjukkan sepasang cincin pilihannya kepada Kogo. Kogo hanya mengangguk pasrah.


"Mba, kami sepakat untuk memilih yang ini. Bisa diselesaikan sekarang atau tidak?" tanya Deasy.


"Tergantung, Bu. Kalau ukuran dan model semua sudah pas ya bisa langsung dibawa pulang. Tapi, kalau ukuran masih harus dirombak lagi itu memerlukan waktu 2 sampai 3 minggu." Pegawai toko menjelaskan dengan sebaik mungkin.


"Sebentar kami tes dulu ya." Deasy mencoba cincin untuknya. "Ini cobain dulu, Sayang." Deasy memberikan cincin yang seharusnya dipakai oleh Kogo.


Kogo menerimanya dan mencobanya. "Sempit."


"Baik, saya ukur terlebih dahulu lingkar jari bapak ya." Pegawai tersebut memberikan cincin percobaan yang sekiranya muat untuk Kogo. Lalu langsung dipakai oleh Kogo dan PAS!!!

__ADS_1


"Baik, Bapak dan Ibu bisa menunggu 2 sampai 3 minggu akan kami kabarin jika sudah selesai."


"Cukup selesaikan ini dalam waktu 1 minggu." Kogo memberikan ATM nya kepada pegawai untuk proses pembayaran.


"Sebentar, Pak. Saya konfirmasi ke Bos dulu. Kalau boleh tahu atas nama siapa?" tanya Pegawai Toko.


"Makoto Kogo."


"Tunggu sebentar, Pak." Pegawai toko berlari ke belakang menemui bosnya.


Hanya berselang 5 menit, pegawai tadi sudah kembali lagi dengan wajah sedikit panik.


"Baik, Pak Kogo. Kami akan menyelesaikan cincin pesanan Bapak dan Ibu dalam waktu 3 hari. Setelah selesai, kami akan langsung antar ke alamat Bapak." Pegawai tadi membuatkan kuitansi untuk Kogo.


"Langsung bayar lunas saja. Ini pakai debit card saya." Kogo memberikan ATMnya kepada pegawai toko.


Pegawai toko menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih, Pak. Mohon ditunggu sebentar, akan segera saya proses." Pegawai tersebut mengutak-atik mesin pembayaran. "Ini, Pak. Struknya." Pegawai itu memberikan struk tersebut kepada Kogo.


Deasy mengikuti Kogo keluar dari toko perhiasan menuju parkiran dimana mobil terparkir.


"Kita ke boutique sekalian ya, Sayang. Baju kamu perlu diukur dulu." Deasy bergelayut manja pada lengan Kogo.


Sepanjang perjalanan, Kogo lebih banyak diam daripada Deasy yang selalu mencari pembahasan apa saja agar bisa mengobrol dengan Kogo. Bahkan Deasy sampai menggoda Kogo. Deasy mengelus lembut paham Kogo sampai terus ke pusat tubuh Kogo. Kogo hanya melirik sekilas pada tangan Deasy yang sedang meremas-remas miliknya.


Kogo memberhentikan mobilnya di jalanan sepi. Meski ini adalah siang hari, tetap saja jalanan ini sepi tidak seperti jalanan lainnya. Hanya ada satu atau dua kendaraan yang melintas.


Kogo memundurkan posisi jok yang ia duduki. Deasy mengerti maksud Kogo. Deasy langsung membuka resleting celana Kogo dan mengeluarkan isinya yang memang sudah siap bertempur. Deasy memijitnya pelan lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Ini adalah benda kesukaan Deasy. Deasy selalu dibuat terlena oleh benda ini. Sampai cairan itu keluar dan menyatu dengan liur Deasy. Deasy bergerak perlahan untuk bisa menaiki tubuh Kogo. Ruang gerak yang terbatas di dalam mobil ini, mereka melakukannya. Deasy sudah bergerak liar di atas tubuh Kogo.


***


Ryu, Salma dan Adit sudah berada di sebuah cafe yang dekat dengan kolam renang tadi. Tampak mereka sedang mengobrol santai sambil menikmati beberapa cemilan yang ada di meja mereka.

__ADS_1


Sejak dari kolam renang tadi, Adit sudah bisa menerima kalau Salma tidak memilihnya. Salma memilih Ryu yang akan menjadi pendampingnya. Adit tetap meminta izin kepada Ryu untuk tetap bisa menjadi teman mereka dan Ryu mengizinkan dengan syarat tidak boleh ada pertemuan antara mereka berdua kalau tidak ada dirinya. Intinya Ryu tidak mengizinkan mereka bertemu diam-diam yang hanya mereka berdua saja.


Ryu menyampaikan rencananya kepada Salma dan juga Adit. Ia akan menikahi Salma 10 bulan lagi atau lebih tepatnya akhir tahun ini. Salma bahagia sekaligus merasa tidak enak kepada Adit. Adit juga turut bahagia atas niatan baik Ryu. Tapi, hatinya sakit.


"Setelah ini kalian mau ke mana lagi?" tanya Ryu.


"Aku sudah capek sehabis berenang tadi." Salma memakan donat yang ada di hadapannya.


"Yaudah kita nongkrong saja sampai kau bosan dan mengajakku pulang." Ryu tertawa.


Salma menyuapkan donat yang sudah ia gigit tadi kepada Ryu. "Bawel," omelnya.


Ryu tertawa. Lalu, seketika langsung diam karena matanya menangkap sosok yang ia kenal sedang masuk ke dalam cafe.


Viana masuk dengan seorang lelaki berwajah asia. Mungkin keturunan Cina atau Korea. Tidak tahu pasti, hanya saja matanya yang terlihat sedikit sipit. Viana tidak menyadari keberadaan Ryu di cafe ini. Viana semakin bergelayut manja di lengan lelaki itu.


Salma mengusap wajah Ryu. "Hayo, kangen mantan ya." Salma mengikuti arah pandang Ryu. Begitu juga dengan Adit.


"Bukan mantan." Ryu mengelak.


"Apa dong." Salma menggoda Ryu.


"Dia itu teman SMA ku. Dia selalu mendekatiku sejak SMA, sampai dia tahu kalau aku selalu belajar berbisnis di kantor Ayahku sepulang sekolah. Ia juga belajar dan menempuh pendidikan menjadi seorang sekretaris agar bisa terus denganku." Ryu menatap kosong ke depan. Ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu itu. "Sejak di mana keluargaku hancur dan disitu juga aku mulai ikut hancur karena dendamku. Dia hadir dan menemaniku. Selama kehadirannya, aku tak melihat sosok dia di dekatku. Aku selalu membayangkan sosok orang lain yang bersamaku. Bahkan di saat kami berdua, dia yang sering mendesahkan namaku, lantas aku malah mendesahkan nama wanita lain." Ryu melirik Salma sekilas. "Kalau dengan Salma, aku kembali menjadi diriku yang dulu. Yang mencintai satu orang wanita saja. Dan dia benar-benar Salma, bukan wanita yang dulu selalu aku sebut saat bersama Viana."


Adit sangat antusias pada cerita Ryu. Salma pun demikian antusiasnya, hanya saja ia diselimuti rasa cemburu pada kedekatan antara Ryu dan Viana dulu bahkan ia sampai memergokinya waktu itu di kantor.


Sampai asyiknya mereka mengobrol sampai tak ada yang sadar kalau ada seorang wanita yang berjalan menghampiri mereka.


"Ryu," panggil wanita tadi saat ia sudah berdiri di samping meja mereka bertiga.


Sontak ketiganya melihat karena memang mereka tidak memanggil waitress atau memiliki janji dengan siapapun untuk bertemu di sini. Tapi, Ryu mengenalinya.

__ADS_1


"Deasy!"


__ADS_2