THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 9


__ADS_3

"Ahhhhh." Salma berteriak begitu Ryu menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.


Ryu langsung beranjak bangun dari tidurnya. "Kau ini apa-apaan sih?" Ryu mengucek matanya.


"Kau yang menarikku. Aku hanya berteriak saat diriku mendapat perlakuan tidak senonoh." Salma tertunduk malu. Pipinya merah merona. Ia malu sekaligus takjub pada sesuatu yang besar milik Ryu.


Ryu mengangkat dagu Salma dan menatapnya intens. "Kau kenapa malu seperti ini?"


Salma tak menjawab banyak, hanya melirik kepada milik Ryu yang entah ia sadar atau tidak telah bangun di sana. "Tuh!"


"Ah sialan!" Ryu berlari ke kamar mandi. "Kau makan saja terlebih dahulu! Aku akan menyusulmu," teriak Ryu dari dalam kamar mandi.


"Jangan terlalu lama, mie nya akan mengembang." Salma menyahuti sambil tertawa.


Setelah selesai dengan urusannya, Ryu keluar kamar untuk menemui Salma.


"Mari sarapan," ajak Salma.


Ryu melihat dua mangkuk mie yang masih utuh. "Kau belum makan?" tanya Ryu.


"Menunggumu. Makanlah!" Salma menyodorkan semangkuk mie dan jus jeruk yang memang ada di kulkas.


"Terima kasih."


Suasana seketika hening, keduanya sama-sama menikmati makanan dan pikiran mereka.


"Ryu," panggil Salma.


"Hm?" Ryu hanya meliriknya sekilas.


"Kau tinggal di sini sendirian?" tanya Salma.


"Tidak."


"Terus bersama siapa kau di sini?" tanya Salma lagi.


"Denganmu." Ryu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.


Salma berbeda dari gadis lainnya. Entah apa yang dimiliki oleh Salma sampai Ryu bisa dengan mudahnya menerima keberadaan Salma. Sejauh ini tidak ada wanita yang berhasil dekat dengannya selain Viana. Itu juga hanya dijadikan Ryu sebagai pemuas nafsunya saja. Bahkan Viana harus jatuh bangun hanya untuk bisa dekat dengan Ryu, tak hayal ia juga harus seperti wanita murahan.


"Maksudku dulu sebelum aku di sini," protes Salma.


"Aku tidak tinggal di sini."


"Terus?" tanya Salma yang semakin penasaran.


"Aku tinggal di rumah Ayahku, bersama para pelayan. Apartement ini aku beli 3 bulan yang lalu."

__ADS_1


"Untuk apa? Pasti rumahmu besar sekali seperti istana." Salma menerawang jauh membayangkan rumah yang besarnya bak istana raja.


"Aku tidak tahu. Bagiku rumah itu sangat kecil, aku hanya tahu kamarku, kamar mandi yang ada di dalam kamarku, dapur, dan parkiran mobil saja. Selebihnya aku tidak tahu apa saja yang ada di rumah itu."


Salma menganga membayangkan segala kemewahan yang ada. "Lantas untuk apa kau membeli apartement ini?" tanya Salma.


"Untukmu."


Salma mengernyitkan keningnya menatap sinis Ryu.


"Tidak usah menatapku seperti itu. Aku sama sekali tidak ingin menculikmu. Ini aku beli dengan tujuan kalau suatu waktu aku bosan dengan keadaan rumahku, aku punya tempat tinggal sendiri. Toh, nanti kalau aku menikah juga aku harus punya tempat tinggal, bukan? Tidak mungkin aku bawa istriku yang cantik jelita ke rumahku dan tinggal bersama Ayahku yang hobinya bermain dengan wanita jalang." Ryu menghabiskan sisa mie yang ada.


Salma mengintip mangkuk Ryu yang sudah kosong. "Kau ingin lagi?"


"Tidak. Nanti saja kalau aku lapar, kau harus siap kapan saja menyediakan makanan untukku." Ryu menghabiskan jus jeruknya lalu meninggalkan Salma di dapur.


"Siap, Bos."


Salma mencuci piring bekas makan mereka tadi dan setelah itu ia menemui Ryu yang sedang asyik menonton televisi.


"Kau tidak ingin pulang?" tanya Ryu.


"Tidak. Keluargaku tadi malam ada masalah, maka dari itu aku senang kau ajak kabur. Dan dikasih tempat tinggal yang sangat bagus seperti ini." Salma masih tidak bisa bayangkan ia bisa tinggal di tempat yang seperti ini.


"Kau tinggal di mana?" tanya Ryu.


"Hei, bagaimana bisa kau rahasiakan denganku. Kalau nanti kau kabur dari sini kan aku bisa mencarimu." Ryu tak terima karena tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


"Aku tidak akan kabur. Bersama denganmu selamanya di sini juga tidak masalah." Salma menggoda Ryu.


"Besok kita harus menikah kalau begitu." Ryu balik menggoda Salma.


"Enak saja. Aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Itu prinsip hidupku." Salma melipat tangannya di depan dada.


"Kau pasti akan mencintaiku kelak. Ingat ini!" Ryu tertawa.


"Oh iya, kalau aku boleh tahu. Tadi kau bilang hanya tinggal dengan Ayah dan pelayanmu. Ibumu kemana?" tanya Salma.


Tawa Ryu seketika terhenti dan mimik wajah langsung berubah drastis menjadi dingin. "Aku paling malas membahas masalah ini. Sama sekali tidak menarik dan layak untuk diperbincangkan. Oh iya kau pernah bersekolah?" tanya Ryu.


"Pernah, hanya sampai SMP karena tidak ada uang orang tuaku untuk melanjutkan sekolah. Sejak saat itu aku langsung bekerja dimana saja yang mau menerimaku untuk bekerja. Mulai berjualan di pasar, membantu mencuci piring di kedai nasi atau mengamen dari bis ke bis juga pernah aku lakuin."


Ryu memegang dagunya seolah berpikir atau mengingat masa lalu. "Kenapa kita tidak pernah bertemu ya."


"Emangnya kau pernah pergi ke pasar? Atau kau naik bis? Atau malah kau makan di kedai nasi yang murah seperti tempatku bekerja?" tanya Salma dengan satu tarikan napas.


"Tidak pernah." Ryu menahan tawanya karena ia sendiri bingung harus tertawa atau menangis saat mengingat masa lalunya yang seperti itu.

__ADS_1


"Apa masa kecilmu menyenangkan?" tanya Salma.


"Masa kecilku sangat menyenangkan. Tapi, masa remajaku sangatlah buruk. Setiap hari aku harus ikut ke kantor Ayahku sehabis pulang sekolah. Belajar bagaimana berbisnis yang baik dan benar. Itu sangat memuakkan. Aku tidak punya waktu untuk bermain dengan temanku, atau bahkan untuk mengerjakan tugas kelompok dari guruku. Membosankan."


Salma tersenyum. "Ayahmu pasti baik. Ia ingin kau menjadi sukses diusia mudamu. Sekarang terbukti, kan? Kau jadi orang yang sangat sukses dan kaya raya. Meskipun aku belum tahu siapa dirimu. Aku tahu kau ini seorang pemilik Club tempatku bekerja dan kau barusan tadi pagi bilang kalau kau mengajakku ke kantormu dan itu artinya kau adalah pemilik kantor. Bukankah itu hebat?" Salma sangat antusias dengan hidup Ryu.


Ryu menghembuskan napas kasar. "Semuanya tidak seindah yang kau pikirkan. Jika saatnya tiba, aku akan benar-benar jadi orang yang paling buruk di dunia ini."


"Kau ini memang iblis. Bisa-bisanya kau memiliki niatan buruk seperti itu. Kau tahu tidak kalau ucapan itu adalah do'a." Salma menceramahi Ryu.


"Kau tidak akan tahu sebaik apa aku ini. Aku setuju denganmu, kalau setiap ucapan adalah do'a. Aku hanya berusaha mewujudkan semua do'a mereka." Ryu tersenyum licik.


Salma menatap Ryu intens. "Matamu bagaikan malaikat. Namun, senyummu bagaikan iblis yang paling kejam. Kau membingungkan."


"Kau tidak akan bisa memahamiku. Jadi, jangan sok tahu atau ingin mencari tahu apapun yang berkaitan denganku." Ryu membalas tatapan Salma dengan tatapan tajam bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.


"Kau ini unik." Salma membaringkan setengah badannya pada sofa lalu memeluk bantal sofa dan fokus kepada televisi.


"Kau itu aneh." Ryu bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah balkon yang ada di sebelah kiri dari tempatnya menonton televisi.


Ryu mengambil barbel lalu duduk di kursi yang menghadap ke perkebunan teh. Tampak sinar matahari masuk ke ruangan dan itu membuat Salma sedikit silau.


Salma penasaran dengan balkonnya. "Kau sedang apa?" tanya Salma.


"Makan bakso."


"Mana baksonya?"


"Tuh di dalem kolam renang."


"Bercanda ya?"


"Iyalah, Salma. Ya kali ini lagi mainan barbel pakai ditanya lagi. Ini yang bego kau atau aku sih?"


Salma hanya cekikan melihat ekspresi gemas dari Ryu.


"Lagian bercandanya gak masuk akal. Lagi main barbel tapi bilangnya makan bakso."


"Kalau jawabnya beneran itu bukan bercanda namanya, Salma. Kok aku kesel ya!" Ryu melirik sinis Salma.


Salma hanya tertawa.


"Pesankan aku makanan dong. Aku mau spaghetti dan salad sayuran saja. Kau terserah mau makan apa tinggal pesan aja." Ryu menggerakkan tangannya seolah mengusir Salma.


"Aku tidak tahu bagaimana cara pesannya."


"Yaudah ambilkan saja ponselku biar aku yang memesankannya. Kau ini payah sekali jadi asistenku. Kau harus belajar mulai saat ini. Besok aku belikan ponsel baru untukmu."

__ADS_1


"Siap, Bos."


__ADS_2