
Pagi ini, Ryu sudah rapi dengan setelan jas nya. Hari ini ada meeting besar untuknya. Ia berpakaian serapi mungkin. Selesai itu ia segera keluar dari kamarnya.
Kogo juga selesai dengan pakaian kerjanya, hari ini akan ada pertemuan besar di perusahaannya. Ia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang untuk hal seperti ini.
Saat Ryu melewati kamar Ayahnya, saat itu pula Kogo membuka pintu. Tapi, Ryu sama sekali tidak terkejut dan terus saja berjalan tanpa menghiraukan Ayahnya. Begitu juga dengan Kogo yang sama sekali tidak menyapa Ryu.
Ryu duduk di meja makan untuk sarapan. "Saya mau kopi, dong."
Danang segera membuatkan kopi untuk Tuannya.
Hampir habis sarapan Ryu, Kogo tak juga muncul di meja makan ini. "Mungkin langsung berangkat kali ya." Ryu hanya bisa membatin dalam dirinya saja.
Kogo yang sudah duduk di mobilnya dan siap untuk diantar oleh supir pribadinya kemana pun ia mau.
"Kita langsung ke kantor." Kogo membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk.
"Baik, Tuan."
Kogo sepanjang perjalanan hanya memantau pekerjaan melalui ponselnya. "Shit!" Umpatnya.
"Tolong lebih cepat lagi jalannya," titahnya pada supir pribadinya itu.
"Baik, Tuan." Kecepatan ditambah sampai 140 km/jam. Dan mendapat akses jalan prioritas. Bisa dengan cepat menembus kemacetan. Bahkan Polisi lalu lintas pun mengatur agar mobil Kogo bisa terbebas dari kemacetan. Pemilik uang adalah penguasa.
Tidak sampai 10 menit, mobil pun sudah memasuki area parkir Kogo Company. Satpam bergegas menghampiri mobil tersebut untuk membukakan pintu kepada Tuannya. Sekali lagi, pemilik uang adalah penguasa.
Di sisi lain, pimpinan perusahaan RP Coorporation baru saja tiba di lobi kantornya. Beberapa kolega bisnisnya sudah menunggu di lobi.
"Good morning, Mr. Mads and Mr. Nerdy." Ryu menyapa kedua kolega bisnisnya yang sudah menantinya sejak 10 menit yang lalu.
"Good morning, Mr. Ryu." Mads dan Nerdy menjabat tangan Ryu.
"Just call me, Ryu. That's enough!" Ryu sangat tidak suka jika dirinya dipanggil Pak. Apalagi dengan rekan bisnisnya yang jauh lebih tua darinya. Ia lebih senang dipanggil Ryu saja dengan alasan dirinya lebih muda dan agar bisa lebih akrab.
"Mari ikut saya." Ryu berjalan di depan menuju ruangan rapat.
Mads dan Nerdy mengikuti Ryu sampai di ruangan.
"Silahkan masuk!" Ryu membukakan pintu untuk keduanya
"Baiklah, langsung saja kita mulai rapat hari ini." Ryu membuka laptopnya dan langsung terpampang jelas bahan rapatnya pada tembok putih yang sudah tersambung dengan infocus. "Jadi, rapat kita hari ini akan membahas bagaimana pemasaran untuk produk baru kita. Pasti akan banyak peminatnya." Ryu tampak yakin dengan konsepnya.
__ADS_1
Mads dan Nerdy hanya mengangguk setuju karena mereka yakin pada apa yang telah diatur oleh Ryu sudah pasti akan berjalan sesuai ekspektasi. Karena bukan hanya sekali mereka melakukan ini, berkali-kali dan selalu booming. RP Coorporation memang tidak lagi diragukan.
"Bagaimana, Mr. Mads and Mr. Nerdy?" tanya Ryu.
Mads memberikan applause kepada Ryu. "Always amazing."
Nerdy juga tersenyum bangga kepada Ryu. "I proud of you. Tidak ada alasan untuk tidak menjalankan rencana ini secepat mungkin."
"Baiklah kalau begitu. Minggu depan kita akan segera launching produk kita yang akan booming di pasaran." Ryu menutup laptopnya. "Rapat hari ini saya akhiri sampai di sini. Terima kasih banyak atas perhatiannya dan waktunya. Salam sukses!" Ryu menjabat tangan Mads dan Nerdy bergantian.
"Kalau begitu, kami permisi terlebih dahulu." Nerdy pamitan kepada Ryu.
"See you on top." Ryu tersenyum smirk. Selalu begitu jika dirinya merasa berhasil.
Ryu sudah ada di ruangannya lalu ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk!" teriaknya.
Masuk seorang wanita cantik nan seksi.
"Terlalu cepat kau datang." Ryu tak melihatnya sama sekali. Tapi, ia hafal siapa wanita ini hanya dari ketukan pintu dan dugaannya menguat setelah mencium parfum cherry milik wanita ini.
"Pasti kau merindukan yang lain, Viana?" tebak Ryu.
Viana berjalan mendekati Ryu dan memeluk tubuh Ryu dari belakang. "Kau sangat handal dalam hal menebak," bisik Viana tepat di telinga kanan Ryu.
Ryu hanya tersenyum tipis. Ia tergoda tapi sekali lagi bukan karena Viana, tapi ada sosok wanita lain yang ia bayangkan pada setiap wanita-wanita jalangnya ini.
"Kau paling pandai dalam menggoda."
Viana mengendurkan pelukannya pada Ryu lalu meraba dada bidang Ryu dan meniup lembut telinga Ryu.
Ryu menarik kepala Viana dan mencium bibirnya. Perlahan menarik tubuh Viana ke pangkuannya.
Tok ... tok ... tok ...
Ryu dan Viana menghentikan aktifitasnya dan membenarkan posisi pakaian mereka.
"Tolong kau bukakan pintu itu!" titah Ryu pada Viana yang langsung menurutinya.
"Silahkan masuk!" Viana menyilahkan tamu Ryu untuk masuk.
__ADS_1
"Terima kasih." Seorang pria kumis tipis dan berperut buncit dengan setelan jas berwarna biru muda dan gaya yang mentereng.
"Selamat siang, Ryu." Pria itu menghampiri Ryu dan menjabat tangannya.
Ryu segera berdiri dan menyambut jabatan tangan Mr. Ahn. "Welcome to my world, Mr. Ahn." Ryu memeluk Mr. Ahn sebagai sambutan selamat datang darinya. "Viana, bisa tinggalkan kami berdua saja?" Ryu melirik Viana yang berdiri 5 meter di belakang Mr. Ahn.
Viana mengangguk. "Saya permisi dulu, Pak."
"Bagaimana wanita yang tadi? Sepertinya Anda sangat terganggu dengan kehadiran saya." Mr. Ahn tertawa.
Ryu tertawa saja. "Sama saja seperti wanita yang lain." Ryu menepuk lengan kiri Mr. Ahn. "Mari kita duduk dulu biar lebih santai ngobrolnya. Atau Anda tertarik dengan wanita itu juga bisa saya aturkan nantinya."
"Gampang deh kalau soal wanita. Yang penting punya ini kan, Ryu?" Mr. Ahn menggesekkan jari telunjuk dan ibu jarinya menandakan uang.
Ryu tertawa bersama Mr. Ahn. "Bagaimana kerja sama kita? Lancar, kan?" Ryu kembali pada ekspresi seriusnya. Ia tidak ingin sampai gagal karena tidak fokus.
"Kerja sama antara RP Coorporation dan Ahn Group akan selalu berjalan baik dan lancar. Bukankah begitu, Ryu?" tanya Mr. Ahn.
Ryu tersenyum tipis. "RP Coorporation selalu memberikan yang terbaik kepada semua rekan bisnisnya selama rekan tersebut setia dan tidak main belakang. Semuanya akan baik dan lancar."
Mr. Ahn tertawa renyah mendengar sindiran Ryu. "Ahn Group akan selalu menjaga etika yang baik kepada semua kolega bisnisnya. Berbisnis harus memiliki etika yang baik, bukan?" Mr. Ahn kembali menyindir Ryu.
"Etika seperti apa yang Anda maksud, saya tidak peduli. RP Coorporation akan selalu memberikan yang terbaik dan menjanjikan kesuksesan kepada semua kolega jika mereka menjunjung tinggi nilai dan norma dalam berbisnis." Ryu tertawa. "Siapa saja yang berani menjatuhkan RP Coorporation, mereka dapat saya pastikan akan kembali jatuh dalam waktu sesingkat mungkin. Bahkan bukan hanya jatuh, saya pastikan akan tenggelam dan terkubur ke tempat yang paling dalam."
Mr. Ahn bergidik ngeri mendengar ancaman Ryu. "Ryu Prakasa Kogo memang selalu memukau. Tiada banding dan tak terkalahkan. Saya bangga dengan Anda." Mr. Ahn tertawa. "Saya jadi ingat kepada APR Company yang dalam waktu semalam bisa jatuh bangkrut sampai tak tersisa ke anak cucu. Bahkan sampai saat ini tidak terdengar kabar tentang keluarga Angga Pratama Ryis. Sampai ke sanak saudara tidak terdengar kabarnya kini." Mr. Ahn menegakkan duduknya. "Anda sangat mirip dengan ayah Anda. Mr. Kogo yang sejak mudanya sudah menuai kesuksesan seperti Anda. Bahkan masalahnya dengan APR Company membuat mata dunia terpukau."
Ryu tercengang, maksud dari Mr. Ahn ini adalah Ayahnya yang membuat APR Company sampai saat ini tenggelam dan terkubur. Ia bahkan tidak tahu berita ini. Ia hanya tahu kalau memang dulu ada perusahaan yang sangat tersohor namanya di penjuru negeri. Namun, dalam semalam dapat hancur sampai debunya pun tidak tersisa lagi. "Luar biasa!" Ryu membatin dalam hatinya sendiri.
"Like father, like son. Saya juga yakin Anda akan sama besar seperti ayah Anda, Mr. Kogo. Apakah kejadian seperti itu akan terulang lagi saat ini." Mr. Ahn menerka masa depan.
"Jika saatnya itu tiba, saya harap bukan Ahn Group lah yang memiliki nasib seperti APR Company." Ryu tertawa bangga.
"Saya usahakan agar itu tidak terjadi." Mr. Ahn berdiri dari duduknya. "Saya permisi dulu ya. Senang bisa mengobrol dengan Anda."
Ryu berdiri juga lalu menjabat tangan Mr. Ahn.
Mr. Ahn berbalik badan. "Kapan bisa aturkan waktu dengan wanita yang tadi?" tanya Mr. Ahn.
"Sekarang juga kalau Anda mau." Ryu menantang Mr. Ahn.
"Baiklah, saya bawa dia dulu ya." Mr. Ahn keluar dari ruangan Ryu dengan wajah sumringah seperti anak kecil mendapatkan mainan baru.
__ADS_1