
Kogo dan Deasy sedang berada di butik malam ini untuk fitting baju pengantin mereka. Tampak ekspresi bahagia dari Deasy, karena akhirnya setelah sekian tahun lamanya. Penantiannya akan segera jadi kenyataan. Kalau Kogo selalu memperlihatkan ekspresi datarnya. Wajar saja, Kogo memang tidak benar-benar mencintai Deasy. Hanya sebagai manekin mantan istrinya.
"Sayang, bagaimana bajumu? Apa masih ada yang kurang?" tanya Deasy yang membuyarkan lamunan Kogo.
"Lihat saja ini!" ucap Kogo ketus.
"Cocok kan ya, Mba?" tanya Deasy pada pelayan butik.
Pelayan tersebut tersenyum ramah. "Sudah pas sepertinya, Bu. Tinggal Bapaknya saja yang memakai sudah merasa nyaman belum?" tanya Pelayan butik kepada Kogo.
"Iya sudah begini saja." Kogo melepaskan pakaian yang ia kenakan tadi satu persatu. "Lagian juga acaranya tidak lama."
"Iya, Sayang." Deasy membantu Kogo melepaskan pakaian pengantin yang dikenakan Kogo.
Kogo duduk dan memainkan ponselnya sambil menunggu Deasy menjajal pakaian pengantinnya. Kogo sama sekali tak memperhatikan Deasy. Bahkan Deasy yang bertanya saja hanya dijawab seadanya tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel yang ada di genggamannya.
"Sayang, aku sudah selesai. Kita pulang, yuk!" ajak Deasy pada Kogo.
Kogo langsung beranjak dari duduknya begitu mendengar kata 'pulang' karena memang itu yang ditunggunya sedari dulu.
Kogo dan Deasy sudah berada di jalan menuju rumah Kogo. Sejak Kogo berniat untuk menikahi Deasy, Deasy selalu pulang ke rumah Kogo. Ia merasa itu sudah menjadi rumahnya juga. Kogo tak mau membantah karena nanti ujung-ujungnya akan bertengkar. Kogo ikuti saja maunya Deasy seperti apa.
Deasy mengelus nakal paha Kogo. Kogo hanya meliriknya tangan nakal di bawah sana. Deasy semakin nakal, menjelajah setiap inci sampai sesuatu sudah menegang di bawah sana. Deasy mendekatkan wajahnya lalu melahap ganas milik Kogo. Deasy tak peduli kalau saat ini Kogo sedang menyetir. Semakin panas perlakuan Deasy sampai Kogo tak bisa menahannya lagi. Mulut Deasy menjadi tempat penampungan atas ****** ***** Kogo. Semua dilahap habis oleh Deasy tanpa tersisa.
"Aku mau cobain 7 gaya malam ini," Deasy membereskan celana Kogo meski masih terlihat sempit. Deasy berusaha memasukkan ke dalam lagi karena sebentar lagi mereka sampai ke rumah.
Kogo menahan tangan Deasy. "Biarkan saja. Aku akan memberikan sensasi nikmat kepadamu malam ini. Kau ingin mencoba 7 gaya untuk malam ini kan. Akan ku berikan." Kogo segera memarkirkan mobilnya. Tanpa rasa malu, Kogo turun dengan sesuatu yang masih mengeras di bawah sana. Ia berjalan menghampiri pintu Deasy, membukanya lalu mencium Deasy dengan ganasnya. Deasy tidak sadar kalau celana dalamnya sudah terbuka. Kogo menaikkan rok Deasy sampai sepinggul. Lalu, menggendong Deasy seperti menggendong anak kecil. Mereka menyatu dalam gendongan. Kogo masuk ke dalam rumah dengan Deasy di gendongannya. Para pelayan menatap kelakuan majikannya dengan perasaan yang entah bagaimana, sulit dijelaskan.
__ADS_1
Deasy mendesah sepanjang jalan. Karena milik Kogo menghujam begitu dalam sampai menyentuh titik sensitif milik Deasy. Deasy merasa terbang melayang.
"Kau ... ah ... mmmph ... luar biasa, Sayang." Deasy mempererat rangkulannya pada leher Kogo begitu mereka menaiki tangga.
Sampai di dalam kamarnya, Kogo segera membaringkan Deasy di ranjang tanpa melepaskan penyatuan mereka. Kogo langsung lagi menghujami maju mundur milik Deasy. Deasy tak kuat sampai menggelinjang hebat.
***
Ryu dan Salma sedang melihat majalah yang menunjukkan foto-foto tema pernikahan. Mereka memang menyewa wedding organizer untuk mengurus segala keperluan mereka. Memang waktunya masih lama, tapi mempersiapkan dari awal akan lebih baik daripada harus terburu-buru. Begitu yang mereka pikirkan.
"Ini lucu, Sayang." Salma menunjuk sebuah dekorasi pesta dengan tema yang didominasi warna pink dan biru itu. Memang kalau dibayangkan akan terkesan norak, tapi ini lucu yang digambarkan.
"Iya. Tapi, apa tidak terlalu colorfull?" tanya Ryu.
"Kayaknya tidak, soalnya warnanya soft pink dan soft blue. Kayak apa ya hm ... kayak kita. Aku pink dan kau biru." Salma tertawa.
Salma tertawa lagi. Ryu langsung mengecup bibir Salma lagi.
Salma makin tertawa. Ryu terus mencium bibir Salma ketika ia tertawa. Ryu pun ikut tertawa.
"Kau senang banget ya aku cium terus." Ryu menggoda Salma.
"Iya. Kau penyayang. Aku suka laki-laki yang lembut dan penyayang. Jangan pernah berubah ya." Salma menyeruk ke dalam leher Ryu. Memeluk tubuh Ryu erat. "Jangan lepaskan dulu. Biar aku merasakan cintamu."
Ryu mengangguk dan membalas pelukan Salma. Mengelus lembut rambut Salma.
"Akan tetap begini selama kau ada di sampingku." Ryu mengecup pucuk kepala Salma.
__ADS_1
Salma semakin menyerukkan kepalanya dalam pelukan Ryu.
"Tidur, yuk!" ajak Ryu.
Salma mengangguk dalam pelukan Ryu. Malam ini Ryu dan Salma tidur dengan posisi saling memeluk. Tidak ada pergulatan panas malam ini. Hanya kecupan lembut dari Ryu untuk Salma sebelum mereka tidur. Malam ini penuh cinta tanpa adanya gairah nafsu sedikit pun.
***
Paginya Salma terbangun dengan perasaan yang sangat bahagia. Ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Ryu. Lelaki yang masih terlelap itu tampak sangat mengagumkan jika dilihat. Salma sangat beruntung saat ini. Ia mengelus lembut pipi Ryu sampai menyentuh ujung hidup Ryu yang mancung. Ryu bergerak seolah tidurnya terusik. Namun, kembali terlelap lagi. Salma hanya memandangi wajah Ryu yang sedang tidur. Mengecup lembut kening Ryu.
"Kau nanti naksir sama aku?" Ryu membuka matanya lalu tersenyum jahil menggoda Salma.
"Udah naksir dari pertama kali lihat. Oops ...." Salma menutup mulutnya karena ia keceplosan.
"Udah tahu. Bukan hanya kau, hampir semua wanita akan langsung jatuh cinta begitu melihatku." Ryu tertawa sendiri.
Salma menggelitiki pinggang Ryu. "Kau ini terlalu percaya diri." Ryu menggelinjang tak karuan karena rasa geli di perutnya. Ryu sampai harus berteriak-teriak meminta ampun agar Salma berhenti. Namun, Salma semakin menggelitiki Ryu karena semakin gemas melihat Ryu meminta ampun sampai nangis seperti anak kecil.
Salma kasihan juga kepada Ryu karena Ryu sampai memohon untuk berhenti. Salma berhenti dan menarik tubuh Ryu ke dalam pelukannya. "Cup ... cup ... cup. Anak mama nangis ya." Salma menenangkan Ryu seperti seorang Ibu yang menenangkan anak laki-laki yang menangis karena jatuh sehabis bermain sepeda.
Ryu sampai terisak dalam pelukan Salma. Setelah kira-kira ia bisa menstabilkan napasnya. Ryu membalas Salma dan menggelitikin perut Salma sampai teriakan Salma memenuhi kamar bahkan apartement Ryu. Untung saja apartement Ryu memang di desain kedap suara agar tidak mengganggu tetangga yang lain.
Ryu terus menggelitiki perut Salma. Namun, Ryu sambil menciumin dada Salma sampai meninggalkan bekas kemerahan di beberapa titik.
"Ah ... stop ... ampun ... ah ... geli sekali ... kau ... mmph ... ah ... Ryu ... jahil!" Salma tak kuat jika tidak mendesah. Ryu memang sang ahlinya dalam membuat Salma melayang seperti ini.
Ryu sudah tidak lagi menggelitiki Salma, tetapi ciumannya sudah turun sampai ke perut Salma. Bukan hanya di dada, di bagian perut Salma juga terdapat beberapa bekas kemerahan dari Ryu. Sampai Ryu menurunkan habis celana Salma. Ia bermain di bawah sana. Salma tak kuasa menahan gejolak cinta dari Ryu. Intinya yang beradu cepat dengan lidah hangat Ryu membuatnya menggelinjang tak karuan. Ryu berhenti sampai tubuh Salma menegang hebat dan sesuatu mengalir deras dari bawah sana. Ryu dengan sigap membersihkan layaknya ia sedang makan eskrim. Meyakinkan segalanya bersih, Ryu memberikan satu ciuman perpisaha lagi pada bagian inti Salma. Paha Salma juga tak luput dari ganasnya Ryu yang tampak dari bekas kemerahan di sana. Ryu merangkak naik di atas tubuh Salma untuk melanjutkan yang seharusnya ia lanjutan. Salma menyambut bibir Ryu dan mengemutnya karena layaknya anak kecil yang makan eskrim dan belepotan di sekitar mulutnya. Ryu dan Salma melanjutkannya sampai mereka benar-benar lelah.
__ADS_1