
Salma mengerjapkan matanya, meski kepala masih terasa berat dan ia tetap berusaha untuk bangun. Semilir angin lebih kencang dari udara di kamarnya yang biasa dan ... "What? Ini badan siapa?" tanya Salma dalam hati.
Salma berusaha bangun perlahan agar tidak membangunkan pria yang sedang tidur bersamanya. Ia berniat untuk kabur sebelum pria ini bangun. Terlebih karena ia sadar kalau pria ini adalah Ryu.
Setelah berhasil bangun dan ingin kabur, sebuah tangan menahan kakinya sampai ia hampir tersungkur ke depan.
"Kau mau kabur setelah memelukku semalaman?" Suara Ryu yang serak khas bangun tidur mengagetkan Salma.
Salma berbalik badan dan berkacak pinggang tepat di atas tubuh Ryu. "Kau ini yang sudah kurang ajar. Kau pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan ini, kan? Dasar otak mesum!" Salma berusaha melepaskan kakinya yang ditahan Ryu.
"Kau yang memelukku, bukan aku yang memelukmu. Siapa yang mengambil kesempatan dengan alasan kau sedang mabuk jadi kau tidak sadar. Dasar wanita aneh!" Ryu semakin mengumpat.
"Kau ini pria yang tidak mau mengalah kepada wanita. Kau jahat!" Salma menghentakkan kakinya kasar agar terlepas dari genggaman Ryu.
Berhasil melepaskan diri dari Ryu, ia hendak segera kabur. Namun sayang, perutnya rasanya mual bahkan kepalanya terasa berat. Sisa alkohol tadi malam yang ia minum masih berefek sampai sekarang.
Jackpot!!
Salma memuntahkan isi perutnya bahkan tepat di atas jas Ryu yang ia pakai untuk alas tidurnya tadi malam.
"Kau ini lemah, jadi jangan sok kuat." Ryu memapah tubuh Salma yang oleng. Mendudukkan di bangku yang ada di pinggir danau.
"Kau bersamaku sepanjang malam ini?" tanya Salma.
Ryu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. "Iya, lebih tepatnya aku menjaga dirimu sepanjang malam."
"Mengapa kau lakukan ini?" Salma memijit keningnya yang nyeri.
"Bukan inginku untuk melakukan ini, tapi kau yang memintaku untuk menemanimu." Ryu duduk di samping Salma.
"Aku?" Salma menunjuk dirinya sendiri.
"Di sini hanya ada kau dan aku." Ryu memandang sekitarnya yang sunyi. "Kau yang memintaku, sayang jangan tinggalin aku. Aku ingin tidur bersama bintang-bintang malam. Dan kau juga bintangku." Ryu berbohong. "Ku mohon tidurlah bersamaku malam ini." Ryu semakin menjadi-jadi berbohongnya karena melihat ekspresi mimik wajah Salma yang malu.
Salma mendekap tubuhnya sendiri. "Apa mungkin aku bersikap seperti itu tadi malam?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Kau sedang mabuk berat. Wajar saja kau tak akan mengingat kejadian tadi malam."
Salma refleks memukul-mukul tubuh Ryu.
Ryu berusaha menahan pukulan Salma. "Kau ini apa-apaan?" bentak Ryu yang tidak terima dirinya dipukul.
"Kau pasti sudah kurang ajar terhadap tubuhku." Salma melihat isi dalam bajunya dari lubang atas leher bajunya. "Tidak terbuka." Ia memegang bagian sensitifnya dari luar celana. "Tidak sakit." Salma bingung.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ryu.
"Kau apakan aku tadi malam?" Salma balik bertanya.
"Tidak ada." Ryu menjawabnya datar.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Pasti kau sudah melakukan tindakan senonoh. Aku kan sedang mabuk, pasti kau mengambil kesempatan dalam kesempitan, kan?" Salma menuduh Ryu.
"Aku tidak suka meniduri wanita yang sedang mabuk." Ryu berdiri dari duduknya dan berjalan ke tepian danau.
"Kalau aku sampai hamil, kau harus bertanggung jawab."
Ryu membelalakkan matanya menatap Salma. "Kau ini gadis gila ya. Aku tidak menyentuhmu sedikitpun. Kau yang memelukku."
Salma semakin memeluk erat tubuhnya sendiri. "Apa-apaan aku ini. Memalukan sekali." Salma berdiri lalu ingin berlari meninggalkan Ryu.
Ryu menangkap tangan Salma. "Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau harus tanggung jawab."
"Enak saja aku yang tanggung jawab. Harusnya kau yang tanggung jawab kalau aku sampai hamil."
Ryu menoyor kepala Salma. "Kau gila!" Ryu menunjuk jasnya yang kotor akibat isi perut Salma yang ia muntahkan. "Kau lihat jasku! Kotor semua. Kau harus bertanggung jawab. Untung saja itu jas termurah milikku. Kau harus menggantinya sebesar 10 juta." Ryu menaikkan kedua alisnya menatap Salma dengan senyum liciknya.
"Terbuat dari apa jas harga segitu?" gumam Salma.
"Itu jas termurah yang pernah aku miliki."
"Bagaimana aku menggantinya. Mungkin dengan gajiku 3 bulan tanpa aku bisa makan dan minum." Salma bergidik ngeri membayangkannya. Terlebih Ibu dan Ayahnya yang sudah tidak bisa bekerja lagi. Ia lah tulang punggung keluarganya.
"Kau mau menggantinya atau kau akan ku tuntut sampai kau masuk ke dalam penjara?" Pertanyaan Ryu ini seperti simalakama bagi Salma.
"Aku pasti akan menggantinya, tapi aku tidak punya uang sebanyak itu." Salma menunduk.
"Kau bisa bekerja denganku, bukan?" tawar Ryu.
"Memangnya cukup gajimu bekerja di Club untuk membayarnya?" tanya Ryu.
Salma menggelengkan kepalanya.
"Kau harus bekerja lagi untukku." Ryu mencolek dagu Salma dan menggoda.
"Kau ini pasti berniat mesum, kan?" tanya Salma waspada.
"Kau ini terlalu curiga padaku. Kau bisa bekerja lagi di kantorku."
"Kantor? Kau punya kantor lagi?" tanya Salma tak percaya.
"Iya. Bekerja di kantorku sebagai asisten pribadiku selama sebulan. Bagaimana?" tanya Ryu.
"Hanya itu?" Salma tertawa kecil mendengar penawaran Ryu. "Gampang sekali itu."
"Satu bulan full bersamaku. Hanya diizinkan seminggu sekali untuk pulang. Bagaimana?" tanya Ryu meyakinkan Salma.
"Deal." Salma menyetujuinya tanpa memikirkan kembali pernyataan Ryu yang terakhir.
"Mulai hari ini kau sudah boleh bekerja denganku. Ikutlah!" Ryu berjalan di depan kemudian diikuti oleh Salma.
__ADS_1
"Kita langsung ke kantormu?" tanya Salma.
Ryu berbalik badan menatap Salma tajam. "Bos. Bersikap sopanlah pada atasanmu. Panggil saya Bos."
"Baik, Bos." Salma memberikan hormat grak kepada Ryu.
"Aku Bosmu bukan komandanmu. Mari kita pulang terlebih dahulu karena tidak mungkin kau akan ke kantor dengan pakaian seperti ini." Ryu menunjuk Salma dari atas ke bawah.
Pakaian Salma memang selalu seperti ini, kaos oblong, celana jeans yang biasanya robek di bagian lututnya dengan perpaduan sepatu kets yang memang sudah sedikit jelek.
Ryu membawa Salma ke sebuah toko pakaian terkenal.
"Kau ingin menyuruhku mengganti jas mu sekarang?" tanya Salma.
"Tidak."
"Terus untuk apa kau mengajakku ke sini?" tanya Salma.
"Membeli pakaian yang layak buatmu. Ayolah ikuti saja perintahku tanpa membantahnya." Ryu turun dari mobilnya begitu juga dengan Salma yang mengikutinya.
Ting ...
Bel toko pada pintu masuk berbunyi menandakan bahwasanya ada pengunjung.
"Selamat pagi, Tuan Ryu." Seorang pramuniaga menyapa Ryu yang memang sudah dikenal di sini.
"Tolong bantu dia untuk mencari beberapa pakaian yang cocok untuknya. Berikan saja semua yang dia inginkan." Ryu menyerahkan Salma kepada pramuniaga tadi.
"Siap, Tuan." Pramuniaga memberikan hormat kepada Ryu dengan membungkukkan badannya. "Mari, Mba. Ikut dengan saya."
Salma hanya mengikuti kemana pramuniaga tersebut membawanya dan mengiyakan semua baju yang ditawarkan kepadanya. Sedangkan Salma sibuk memilih dan mencoba beberapa pakaian yang sudah ada di tangannya, Ryu hanya duduk di sofa yang tersedia untuk menunggu Salma.
kemeja putih polos dengan rok di atas lutut warna peach sudah dipakai oleh Salma. Ia ingin menunjukkan kepada Ryu.
"Bagaimana, Bos?" tanya Salma yang sudah berdiri di hadapan Ryu.
Ryu tertegun sejenak memandang wanita yang ada di hadapannya itu. "Sangat pantas untukmu." Ryu memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Eh, wait. Sepatunya buang saja. Sekalian carikan sepatu yang cocok untuknya," titah Ryu.
"Baik, Tuan." Pramuniaga mengajak Salma menuju booth sepatu.
Setelah komplit dengan pakaian yang layak dan sepatu yang cocok serta tas belanjaan yang banyak berisi beberapa pakaian untuk Salma. Ryu mengajak Salma ke salon untuk menyempurnakan penampilannya.
"Untuk apa semua ini kau lakukan?" tanya Salma.
"Untukmu. Oh iya, kau akan tinggal bersamaku selama sebulan kedepan." Ryu menggandeng tangan Salma keluar dari salon.
Salma menahan tangan Ryu yang menggandengnya. "Maksudmu?"
"Ikuti saja mauku. Aku akan membeli apartement baru untuk tempat tinggal kita. Jadi, kita bisa tinggal berdua."
__ADS_1
"Aku memang bekerja denganmu tapi bukan berarti kau bisa bertindak seenaknya terhadapku." Salma menghentakkan tangannya dan meninggalkan Ryu di depan salon.