THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 6


__ADS_3

"Tuh, pujaan hati telah tiba." Hans menunjuk ke arah pintu masuk.


Ryu segera memalingkan wajahnya ke arah yang ditunjuk oleh Hans.


"Tapi, bohong." Sambung Hans.


Ryu menatap tajam pada Hans. "Jangan bercanda sama aku."


"Ampun, Bos." Hans hanya bisa menyengir mendapat ancaman dari Ryu.


Tampak Ale berjalan gontai dengan seorang cewek dirangkulannya menghampiri Ryu dan Hans. "Bro, aku tinggal sebentar ya. Kasihan ini my sweetheart udah pengen nyobain basoka." Ale menuntun cewek tersebut untuk menuju lantai 2 di mana memang disediakan kamar-kamar kosong.


Seorang wanita keluar dari backroom dengan pakaian seperti Hans menuju meja bar tempatnya bekerja.


"Salma," pekik Hans. "Kau kemana saja? Bos kita sudah menunggu."


"Maaf, tadi aku ada urusan sebentar." Salma mengambil alih pekerjaan Hans sedangkan Hans mengerjakan yang lain.


"Salma," panggil Ryu.


Salma hanya tersenyum menanggapi panggilan Ryu lalu kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Ryu kesal karena Salma tak menggubrisnya. Ia berjalan memutari meja bar mendekati Salma. "Hei, aku sedang memanggilmu." Ryu menarik tangan Salma yang sedang membereskan susunan gelas.


Prang ...


Sekitar 3 gelas pecah dan berserakan di lantai. Hans melihat kejadian itu dan hanya mendiamkan saja karena sudah ada Ryu bersama Salma. Ia pura-pura tidak tahu saja.


"Kau ini apa-apaan sih? Kau mengganggu pekerjaanku saja." Salma memarahi Ryu dengan nada tinggi. Ia berjongkok untuk membereskan pecahan gelas yang berserakan di lantai.


Ryu tidak tahu bagaimana cara menenangkan wanita yang sedang marah. Ia belum pernah mendapati seorang wanita pun yang memarahinya. Ia hanya berdiri diam memperhatikan setiap gerakan Salma.


"Auh ...," desis Salma ketika sebuah pecahan kaca melukai jari tangannya.


Ryu dengan sigap berjongkok dan meraih tangan Salma. Menghisap darah yang keluar dari jari Salma lalu meludahkannya ke sisi kiri nya. "Hati-hatilah!" titah Ryu.


Salma menarik tangannya dari genggaman Ryu. "Kau yang harusnya berhati-hati dalam bertindak. Kau ini sudah mencelakai orang lain." Salma berdiri untuk mencari kotak P3K.


Ryu segera mengejarnya. "Kau ini keras kepala. Aku tidak sengaja tadi. Sini aku obatin lukamu." Dengan paksa Ryu menarik kembali tangan Salma. "Ikut aku!" Ryu menarik tangannya menuju backroom. "Bersihkan pecahan kaca itu." Begitu ia melewati Hans.


"Siap, Bos."


Ryu mendudukkan Salma di salah satu kursi yang ada di backroom ini. Ruangan ini memang sepi karena semua sedang berada di depan untuk bekerja dan berpesta.


Ryu mengambil kotak P3K lalu berlutut di hadapan Salma untuk mengobati luka di tangannya. Lukanya terkesan biasa saja, hanya saja Ryu memang memiliki kekhawatiran berlebih terhadap darah.


Dengan telaten Ryu membalut luka di tangan Salma. Setelah selesai ia membereskan kembali kotak P3K dan Salma malah berdiri tanpa memperhatikan Ryu yang masih membereskan kotak P3K.

__ADS_1


Tubuh Salma oleh hingga menimpah Ryu di bawahnya.


Degup jantung Ryu bekerja 2 kali lebih cepat dari biasanya. "Ternyata kau ini sangat ceroboh!" Ryu menatap tajam Salma yang ada di atas tubuhnya.


Jarak wajah mereka sangat dekat sampai deru napas keduanya saling bertemu. Namun, tatapan tajam Ryu seakan menusuk jantung Salma. Ia gugup.


"Apa kau gugup?" tanya Ryu.


Salma tersentak dan berusaha bangkit tetapi sayang sekali tangannya seperti tidak bisa menopang tubuhnya lalu oleng dan kembali terjadi sampai bibirnya bertemu dengan bibir Ryu.


Mata keduanya terbelalak sampai jantung keduanya seakan berhenti sejenak.


"Kau menyukaiku?" tanya Ryu.


"Sangat percaya diri." Salma membenarkan pakaiannya lalu kembali ke belakang meja bar menemui Hans dan meninggalkan Ryu di backroom sendiri.


Hans menangkap ekspresi tidak senang dari wajah Salma. "Hei, Sal. Mau minum?" tawar Hans.


"Aku di sini bekerja. Aku tidak ingin gajiku dipotong karena meminum apa yang seharusnya mereka bayar." Salma kembali menyibukkan diri pada pekerjaannya.


"C'mon, Salma. Hari ini Bos Ryu sengaja bikin pesta dan semua yang ada di sini malam ini free. Ayolah." Hans menyodorkan segelas cocktail buatannya.


Salma menerimanya dengan sedikit ragu. "Thank's."


Hans merangkul pundak Salma. "Nikmati malam ini. Kita berpesta." Hans mengambil kain di tangan Salma dan membukakan apron yang dikenakan Salma. "Tidak perlu bekerja malam ini."


"Kau tidak kuat minum?" tanya Hans panik begitu melihat ekspresi Salma yang mabuk.


Salma hanya tertawa menanggapi ucapan Hans.


Ryu menghampiri Hans. "Kau melihat Salma?" tanya Ryu.


"Tuh!" Hans menunjuk ke arah kerumunan di mana Salma sedang berjoget di tengah lantai dansa.


Ryu emosi melihat Salma dikerumunin banyak lelaki. Dengan langkah tegas ia menghampiri Salma dan menarik Salma menjauh dari kerumunan itu. Salma memberontak sampai Ryu harus memaksanya bahkan sampai menggendongnya keluar dari Club.


"Kau siapa? Turunkan aku."


Ryu terus saja menggendong Salma seperti karung beras di pundaknya.


"Turunkan aku!" Salma memukul-mukul punggung Ryu. "Tolong! Aku diculik penjahat." Salma teriak-teriak histeris.


Penjaga Club hanya menggeleng-geleng melihat Salma dan Bosnya. Kalaupun benar Ryu menculik Salma, para penjaga juga tidak akan menangkap Ryu.


Ryu memasukkan Salma ke dalam mobilnya dan memasangkan safety belt kemudian membawa Salma menjauhi tempat ini.


Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Salma berteriak meminta pertolongan. Untung saja jalanan sepi, dan hanya ada beberapa orang yang melintas. Ryu hanya perlu menjelaskan bahwa Salma sedang mabuk. Dan mereka membiarkan saja.

__ADS_1


Ryu membawa Salma ke tepi danau. Dulu ia sering bermain di danau ini bersama Ibu dan Adiknya, Ryuni.


Salma ini mirip sekali dengan adiknya. Tapi, mereka pasti berbeda.


Ryu membukakan pintu untuk Salma dan dengan otomatis Salma menyerang Ryu. Memukul-mukul dada bidang Ryu. "Kau ini penculik!"


Ryu memeluk erat tubuh Salma agar Salma berhenti menyerangnya. "Kau ini bisa diam tidak sih. Liar sekali jadi wanita." Ryu membentak Salma.


Ekspresi mimik wajah Salma berubah drastis setelah dibentak oleh Ryu. "Kau jahat membentakku." Salma jongkok lalu memeluk lututnya dan menangis.


Ryu merasa bersalah telah membentak Salma. Pundak Salma bergetar hebat pertanda ia sangat terisak dalam tangisnya.


"Maafkan aku." Ryu mendekap pundak Salma.


Salma mendongakkan wajahnya menatap Ryu. "Jangan pernah membentakku. Aku punya hati." Lalu kembali membenamkan wajahnya dilipatan tangannya dan menangis.


"Maafkan aku," ucap Ryu lirih.


"Kau ini siapa? Kenapa mendekatiku terus?" tanya Salma.


"Aku hanya ingin mengenalmu." Sikap lembut Ryu keluar. Sikap yang sudah lama ia simpan dengan rapih tanpa pernah menunjukkannya lagi kepada siapapun.


"Apa tujuanmu? Aku hanya gadis biasa. Tidak pantas jika hanya menjadi temanmu. Pantasnya aku ini jadi budakmu yang hanya bekerja untukmu." Salma menatap lemah Ryu.


"Kalau begitu, bekerjalah denganku. Temani aku!" titah Ryu.


"Apa maksudmu?" tanya Salma.


"Jadi temanku. Aku tidak punya teman." Ryu tertunduk menahan malu.


"Hans dan Ale bukannya sahabatmu?" tanya Salma.


Ryu melirik sekilas wajah Salma. "Dia masih mabuk." Ryu membatin.


"Mereka teman. Hanya teman. Dan mereka itu lelaki. Aku butuh teman wanita." Ryu menatap dalam Salma.


Sejak pertama melihat Salma, rasa ketertarikan akan wanita kembali tumbuh. Ia tidak pernah merasakan ini lagi setelah kehilangan Ryuni. Bahkan Viana yang telah menemaninya bertahun-tahun saja tidak bisa membuka hati seorang Ryu.


"Maksudmu teman apa?" tanya Salma yang bingung.


"Besok saja kujelaskan. Kau sedang mabuk sekarang. Besok juga kau pasti akan lupa. Percuma saja." Ryu duduk di sebelah Salma. "Pulang yuk. Kau harus istirahat."


Salma memeluk lengan kiri Ryu dan meletakkan kepalanya pada pundak Ryu dan memejamkan matanya. "Aku ingin tidur di sini malam ini. Kau boleh menemaniku atau kalau kau tidak kuat, silahkan pulang."


Ryu melepaskan pelukan Salma dan membuka jasnya kemudian merentangkannya di rumputan untuk alas tidur Salma. Lalu ia merebahkan tubuhnya menatap langit penuh bintang. "Aku ingin tidur bersama bintang-bintang malam ini."


Salma juga ikutan tidur di samping Ryu dan memeluk tubuh Ryu dari samping.

__ADS_1


__ADS_2