THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 10


__ADS_3

Kogo masih bekerja seperti biasa meskipun ia tahu kalau Ryu tidak pulang ke rumah selama 2 hari.


"Danang," panggil Kogo.


Danang berlari menghampiri Kogo. "Iya, Tuan."


"Ryu tidak pulang 2 hari. Kau tahu kemana dia?" tanya Kogo.


"Tidak, Tuan. Tuan Ryu tidak bilang ke saya. Mungkin dia di tempat temannya, Tuan."


"Cari tahu dia ada di mana sekarang. Pastikan kalau dia baik-baik saja." Kogo masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggunya di depan rumah mewahnya. "Jalan!" titahnya kepada supir.


"Baik, Tuan."


***


Ryu sudah selesai dengan pakaian kantornya. Ia menunggu Salma.


"Salma, kau masih lama?" teriak Ryu.


"Iya sebentar." Balasan dari dalam kamar.


"5 menit kalau kau belum selesai, akan ku tinggal kau." Ryu tidak pernah bisa menunggu.


"Sebentar" Teriakan dari dalam kamar.


Ryu memang tipikal orang yang sangat tidak sabaran. Apapun yang ia inginkan harus bisa segera terwujud. Ryu berjalan menghampiri kamar Salma dan membuka pintunya.


"Kau ini lama sekali." Tampak Salma sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Rambutku belum kering. Tidak mungkin aku pergi dengan rambut yang masih basah."


"Mengapa tak kau keringkan saja?" tanya Ryu.


"Apa kau bilang? Kau tidak lihat ini sedari tadi aku sedang ngapain."


"Apa yang kau lakukan? Mengelap rambutmu dengan handuk?" tanya Ryu.


"Kau ini perempuan bukan sih. Kau pikir rambutmu pendek seperti aku. Seharian baru bisa kering kalau seperti itu caramu mengeringkannya." Ryu masuk ke dalam kamar dan mengambil hair dryer yang ada di laci meja nakas. "Pakai ini!" Ryu menyambungkan ke aliran listrik untuk menyalakan hair dryer.


"Itu apaan?" tanya Salma.


Ryu memegang kedua pundak Salma dan mendudukkannga di kursi. "Diam! Biar aku yang mengeringkannya." Ryu dengan lihai menggunakan hair dryer dan membantu Salma untuk mengeringkan rambutnya.


"Panas ya anginnya. Kenapa tidak pakai kipas angin saja kan dingin."


"Kau lihat di apartementku ada kipas angin?" tanya Ryu sinis.


Ryu sebenarnya sudah kesal karena Salma lama sekali. Pasalnya ia ada janji dengan klien, berhubung Salma juga belum selesai, terpaksa ia menunda jadwal meetingnya.


"Oh iya, mengapa di apartementmu ini tidak ada kipas angin?" tanya Salma dengan polosnya.


"Apa kau pernah merasa gerah sejak berada di apartementku ini?" Ryu semakin sinis kepada Salma.


"Tidak. Kan ada AC."


Ryu menoyor kepala Salma. "Kau ini terlalu lugu atau bego sih?" dumelnya.


"Aku ini pintar. Aku selalu juara kelas, hanya karena tidak memiliki biaya saja."


"Lakukan sendiri." Ryu memberikan hair dryernya kepada Salma.

__ADS_1


"Aku tidak bisa."


"Dari tadi aku mempraktekkan kau bukannya memperhatikan malah mengoceh tidak jelas. Kau ini sebenarnya tidak ada gunanya jadi asistenku."


Salma menatap tajam Ryu. "Kau ini jahat. Kau tidak tahu ucapanmu itu menyakiti hatiku."


"Keringkan sekarang juga rambutmu. Siapa yang jahat di sini? Kau tahu hanya karena menunggumu, aku menunda jadwal meeting pentingku pagi ini. Kalau sebulan seperti ini terus, bisa-bisa aku kehilangan semua rekan bisnisku dan aku akan menjadi miskin. Kau mau calon suamimu ini miskin?" Ryu menatap intens Salma.


"Enak saja." Salma mengerucutkan bibirnya.


"Kau itu matre ya."


"Enak saja kau bilang aku matre. Kau itu tidak tahu diri enak saja ngaku-ngaku calon suamiku." Salma selesai dan menarik paksa Ryu agar keluar dari kamarnya.


***


Sampailah mereka di kantor Ryu. Hampir semua mata memandang heran pada sosok wanita disebelah Ryu. Tanda tanya selalu bermunculan di pikiran mereka. Namun, memilih diam dan bungkam adalah pilihan terbaik. Ryu tidak suka ditanya seperti wartawan atau diledekin. Ia lebih suka memberitahu langsung jika memang saatnya tiba atau jika ia rasanya pantas untuk diberitahukannya.


"Ryu!" Viana memanggil dari belakang.


Ryu tahu kalau itu adalah suara Viana. Ia hanya berbalik badan dan menatap nanar pada wanita yang berjalan mendekatinya.


"Aku merindukanmu," bisik Viana.


Salma risih pada perlakuan Viana kepada Ryu. Ia mundur selangkah dari tempat asalnya berdiri.


"Don't distrub me!" Ryu menarik tangan Salma untuk mengikutinya.


Viana terpaku melihat Ryu meninggalkannya. Ini memang bukan pertama kalinya ia dicuekin Ryu. Tapi, ini pertama kalinya ia dicuekin karena ada wanita lain. Semua perlakuan Ryu kepada Viana memang selalu menyakitkan. Saat mereka seranjang pun, Ryu tak pernah menatap intens Viana sebagai Viana. Selalu sosok wanita lain yang ada di mata Ryu meski Vianalah yang berada di bawah tubuh Ryu. Sedang dinikmati.


Ryu masuk ke ruangannya bersama Salma.


"Aku harus ngapain?" tanya Salma yang bingung.


"Segitunya kau sampai tak membolehkan aku jauh." Salma menggoda Ryu.


"Atau kau boleh memanjakan juniorku." Ryu mengerlingkan sebelah matanya menggoda Salma.


"Dasar kau mesum!"


"Buatkan aku kopi dong."


"Siap, Bos."


Salma keluar dari ruangan Ryu menuju pantry untuk membuatkan kopi pesanan Ryu. Setelah selesai kembali dengan segelas kopi.


"Silahkan diminum." Segelas kopi telah mendarat di meja kerja Ryu.


"Terima kasih."


Salma berkeliling ke setiap sudut ruangan Ryu. Menelitik setiap pajangan yang ada dan mengubah beberapa posisi yang menurutnya lebih cocok di sana.


"Kenapa kau pindahkan itu?" Ryu menatap aneh kepada Salma.


"Vas bunga ini lebih pantas ada di sana, bukan? Lihatlah!" Salma sangat antusias.


"Kau mengerti tentang design interior seperti ini?" tanya Ryu.


"Tidak. Aku hanya memindahkannya saja sesuai hati nuraniku."


"Kau tata ulang ruanganku sekarang juga. Aku bosan dengan penataan yang seperti ini terus. Aku ada meeting dengan klien sekarang. Kau boleh menatanya semua sesuai maumu. Tapi, jangan hilangkan benda-benda sekecil apapun dari sini." Ryu menenteng laptopnya. "Akan kupanggilkan office boy yang akan membantumu. Berhati-hati pada barang yang terbuat dari kaca. Guci-guci dan lukisan itu harganya sangat mahal."

__ADS_1


5 menit setelah Ryu keluar dari ruangannya. Masuklah 2 orang office boy yang akan membantu Salma.


"Permisi, Mba." Kedua office boy masuk ke dalam ruangan Ryu.


"Masuk, Pak. Tolong bantuin saya ya rapihin ulang ruangan ini." Salma menyambut kedua office boy tersebut.


"Mba cantik ini pacarnya Bos Ryu ya?" tanya seorang dari mereka yang sedikit lebih tua.


"Tidak, Pak. Saya hanya asistennya saja." Salma tersenyum. "Pak, ini mejanya tolong dipindahin ke sana ya!" titah Salma.


"Mba ini mana mungkin hanya asistennya Bos Ryu. Viana saja yang seksinya kayak gitu ditolak sama Bos Ryu." Salah seorang yang lebih muda nyeletuk.


"Hush, sudah jangan ngomongin Bos Ryu. Kau ini nanti kalau sampai ketahuan Bos Ryu bisa habis." Office Boy yang lebih tua berusaha menasehati.


"Ryu itu orangnya bagaimana sih, Pak?" tanya Salma penasaran.


"Wuh, serem banget kalau udah marah, Mba. Tegas dan sangat berwibawa."


"Suka marah ya?" tanya Salma lagi.


"Suka banget." Yang lebih muda nyeletuk.


"Hush, kau ini. Bos Ryu itu setiap marah pasti ada alasannya, tidak mungkin ia marah tanpa alasan."


"Iya juga sih. Tapi, galak banget."


"Hush, udah jangan bahas Bos Ryu. Bahaya!"


"Yaudah, jangan bahas Ryu lagi. Tolong saya saja, Pak."


"Ini cocoknya di mana ya, Mba?"


"Di sana saja, Pak."


"Perfect. Terima kasih banyak, Pak." Salma tersenyum riang begitu selesai menata ruangan Ryu.


Suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan.


Tok ... tok ... tok ...


"Bersembunyi!" Salma bersembunyi di balik pintu dan diikuti oleh dua orang lainnya.


Ryu membuka pintu dan takjub dengan ruangannya yang baru.


"Ini bagus sekali, terlihat lebih luas dari sebelumnya." Ryu berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi, kemana Salma? Mengapa ia tidak ada di sini." Ryu celingukan ke seisi ruangan. "Kosong."


"Sureprise!!!" Mereka keluar dari persembunyiannya.


Senyum Ryu tersungging otomatis begitu melihat Salma.


"Gitu dong, jangan marah-marah mulu." Salma meledek Ryu.


"Apa maksudmu?" tanya Ryu sinis.


"Kau lebih tampan kalau tersenyum."


"Memang aku tampan sejak lahir." Ryu tersenyum jahil. Bahkan ia tidak sadar sedari tadi masih ada dua karyawan yang memperhatikan mereka. "Eh kenapa kalian masih ada di sini? Sana kembali kerja!" titah Ryu.


"Jangan marah-marah mulu. Bos. Cepat tua nanti." Salma kembali meledek Ryu.


Ryu luluh oleh seorang wanita bernama Salma.

__ADS_1


Jackpot!!!


__ADS_2