THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 27


__ADS_3

Sangking asyiknya mereka mengobrol sampai tak ada yang sadar kalau ada seorang wanita yang berjalan menghampiri mereka.


"Ryu," panggil wanita tadi saat ia sudah berdiri di samping meja mereka bertiga.


Sontak ketiganya melihat karena memang mereka tidak memanggil waitress atau memiliki janji dengan siapapun untuk bertemu di sini. Tapi, Ryu mengenalinya.


"Deasy!"


***


"Sedang apa kau di sini, Ryu?" Deasy tersenyum ramah menyapa Ryu.


"Bukan urusanmu!" Ryu tak peduli.


"Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Deasy yang melihat penampilan Ryu memang biasa saja tanpa setelan jas kantornya.


"Bukan urusanmu!" Sekali lagi Ryu jengah dengan kehadiran Deasy yang sok akrab.


"Akan jadi urusanku karena sebentar lagi aku akan menjadi Ibumu." Deasy ingin merangkul pundak Ryu. Ryu segera menghindar.


Deasy mengharapkan beberapa pertanyaan keingin tahuan dari Ryu atau setidaknya mengharapkan beberapa penjelasan atas ungkapannya barusan. Namun, Ryu tak butuh apapun itu.


"I don't care." Ryu menatap Salma dan Adit untuk meminta bantuan bagaimama caranya lepas dari nenek sihir ini.


Adit dengan sengaja menyenggol mangkuk saos yang disediakan untuk cemilan mereka tadi. Dan berhasil jatuh ke lantai dengan isi mengenai lutut sampai kaki Deasy.


"Aduh," teriak Deasy panik.


"Aduh, maaf Tante. Saya tidak sengaja." Adit mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Maaf, Tante. Sini saya bantu bersihin." Adit dengan refleks menuangkan air minum ke kaki Deasy berniat untuk membersihkan saos yang mengenai kakinya. Bukannya membersihkan, air yang dituang oleh Adit malah membuat saos yang menempel semakin melebar kemana-mana dan ternyata air yang dituang Adit adalah capuccino. Kebayang deh bagaimana kotornya. "Haduh, maaf lagi Tante. Saya pikir tadi air mineral. Maaf, Tante. Saya refleks." Adit memasang wajah memelasnya agar tidak kena amukan Deasy.


Deasy mendengus sebal lalu meninggalkan mereka bertiga dengan emosi yang memuncak. Kepergian Deasy disambut tawa menggelegar dari ketiganya.


"Tuh cewek yang tadi kau ceritain kalau dia merebut Ayahmu sampai kau dipisahkan dari Ibu dan Adikmu?" tanya Adit.


"Iya. Mirip kan sama nenek sihir."


"Eh, tapi katanya tadi dia bilang calon ibu tiri. Maksudnya apa?" tanya Salma.


"Mau nikah kali mereka. Baguslah biar gak jadi selingkuhan terus. Biar ada yang ngurus dia, kasihan udah tua."


"Sayang." Salma berusaha melerai pikiran jahat dari Ryu.


"Kau tidak tahu bagaimana cara dia memperlakukan kami. Dia itu Ayah sekaligus Suami terburuk yang pernah ada." Emosi Ryu meluap begitu saja.


"Bagaimana pun, beliau adalah Ayahmu." Salma masih berusaha menenangkan calon suaminya itu.


Ryu menghembuskan napas kasar. "Ini alasan aku kenapa selalu males tiap membahas keluargaku. Maaf, emosi dan dendam sudah terlalu mendarah daging." Ryu menggenggam tangan Salma, berusaha dapat menenangkan emosinya saat ini.


Salma mengelus pundak Ryu. "Sabar, Sayang."


"Santai aja, Bro." Adit menonjok lengan Ryu pelan.

__ADS_1


"Oh iya, nanti malam aku ingin bertemu Aini. Menurutmu aku harus ke rumah atau Aini yang menemui kita di luar?" tanya Ryu.


"Ngapain?" Salma balik bertanya.


"Ada urusan. Kepo ya!" Ryu menoel ujung hidung Salma.


Kring ... kring ... kring ...


Ponsel Ryu berdering, menandakan ada panggilan masuk. Ryu segera merogoh saku celananya melihat siapa yang menelponnya.


Velly.


Ryu melirik Salma sekilas. "Dari Velly. Aku izin angkat bentar ya." Ryu menggeser tombol hijau ke kanan untuk menyambungkan panggilan dari Velly tanpa ia harus menjauh.


"Halo!"


"..."


"Dengan Mr. Ahn bukan datangnya?" tanya Ryu.


"..."


"Iya, itu Mr. Ahn. Jangan genit sama dia. Dia itu Bos mesum."


"..."


"Iya. Selesaikan saja laporan project Mr. Gerg. Saya tidak mau ada kesalahan. Saya tidak mau membuat Mr. Gerg kecewa lagi seperti pada Kogo Company."


"..."


"..."


"Iya, saya sedang ada urusan di luar. Hari ini tidak akan ke kantor. Kalau bisa laporannya kirim ke saya sore ini juga."


"..."


"Baik. Saya tunggu."


Ryu memutuskan sambungan panggilannya sepihak. Padahal Velly masih ingin berbicara dengan Ryu.


"Mau ke taman tidak?" tanya Ryu.


"Ke taman?" Salma memastikan ajakan Ryu.


"Iya, taman. Kau tidak suka?" Ryu menatap Salma dan Adit penuh harap.


"Maaf, bukan begitu maksudnya. Hanya saja aku tidak yakin seorang Ryu Prakasa mengajak ke taman. Emang tidak salah ngajak?" Salma memastikan sekali lagi.


"Udah ikut aja deh yuk." Ryu beranjak dari duduknya dan menarik tangan Salma agar mau mengikutinya. "Yuk, Dit." Ryu berjalan di depan dengan Salma. Sedangkan Adit di belakang. "Kalian pasti akan suka." Ryu bersemangat.


***

__ADS_1


Hanya 10 menit saja mereka sudah sampai di taman yang dimaksud Ryu. Berhubung ini bukan jamnya macet, jadi mereka bisa cepat sampai. Dan Ryu dengan semangat turun dari mobilnya segera.


"Ini taman yang aku maksud. Kalian pasti sering lewat sini tapi belum pernah masuk, kan?" tanya Ryu.


Salma dan Adit menggangguk bersamaan.


"Kalau jam segini pasti ramai anak-anak di dalam sana." Ryu menunjuk dalam taman yang belum menampakkan apa yang dimaksud Ryu.


Ini adalah Taman Kota. Jika diperhatikan sekilas dari luar, ini hanya taman biasa yang kecil. Namun, jika masuk ke dalam suasananya sangat berbeda dengan di depan yang bising dengan suara kendaraan bermotor. Ryu menarik tangan Salma untuk masuk ke dalam taman. Melewati jalan setapak yang panjangnya kurang lebih 50 meter, langsung nampak lapangan luas di mana banyak sekali anak-anak yang sedang bermain. Ada yang bermain bola, bermain perosotan, jungkat jungkit, dan banyak lagi. Ada juga beberapa pedagang di sini, mulai dari pedagang eskrim, mainan, sampai pedagang nasi liwet juga ada karena beberapa ada juga yang datang bersama orang tua atau baby sitternya atau banyak juga anak jalanan yang sedang bermain di sini.


Tampak seorang anak perempuan dengan kisaran umur yang baru 3 tahunan berlari menghampiri Ryu.


"Om Liyu," teriak anak perempuan itu sambil menubruk kaki Ryu. Ryu menangkapnya lalu menariknya ke dalam gendongan.


"Tasya. Kalau lari-lari harus hati-ha ...." Ryu menatap Tasya untuk meminta Tasya melanjutkan kalimatnya.


"Ati-ati, Om." Tasya dengan bijak melanjutkannya.


Salma dan Adit saling pandang. Meminta kejelasan siapa anak tersebut dan bagaimana Ryu bisa tahu tempat ini.


"Tasya mau eskrim?" tanya Ryu.


Tasya mengangguk girang sambil berkata, "mau ... mau."


"Yuk, kita beli." Ryu menggendong Tasya ke tempat penjual eskrim. Ryu melewati beberapa anak-anak yang sedang bermain. Ia juga menawarkan eskrim kepada anak-anak yang lain. Otomatis anak-anak yang melihat Ryu langsung berkerumun di tempat penjual eskrim.


"Buatkan untuk mereka semua ya, Pak." Ryu menerima satu contong eskrim untuk Tasya. "Pak, tolong buatkan 2 cup dulu ya buat teman saya di sana."


Setelah selesai, Ryu menyuruh anak laki-laki yang sudah besar itu untuk mengantarkan 2 cup eskrim untuk Salma dan Adit yang sedang duduk di sebuah bangku panjang.


"Tante cantik, ini eskrimnya." Anak laki-laki itu menyodorkan 1 cup untuk Salma. Dan 1 cup lagi untuk Adit. "Ini untuk Om ganteng."


Salma dan Adit mengucapkan terima kasih banyak. Mereka menikmati eskrim sambil memperhatikan Ryu yang sedang dikerumuni anak-anak yang mengantri eskrim.


Setelah memastikan semua anak-anak kebagian dan eskrim pun sudah habis. Ryu membayarnya kepada penjual eskrim.


Ryu menghampiri Salma dan Adit dengan Tasya yang masih digendongannya.


"Ini anak siapa?" Akhirnya Adit berhasil menanyakan ini.


"Anak aku."


Salma dan Adit tersedak eskrim yang mereka makan.


"Biasa aja kali. Emangnya aku gak pantes punya anak apa?" tanya Ryu.


"Maksudnya apasih, Sayang?" Salma tak tahu kali ini Ryu sedang bercanda atau beneran.


"Tuh ibunya di sana." Ryu melambai ke arah kumpulan ibu-ibu yang sedang mengobrol. Dan hampir semua membalas lambaian Ryu dan tersenyum kepada Ryu. "Mereka semua ini anak-anak aku." Ryu menjelaskan karena Salma dan Adit memang tidak tahu pasti maksud Ryu.


Salma dan Adit hanya ber-oh ria.

__ADS_1


__ADS_2