THE CEO OUGH

THE CEO OUGH
Ough 22


__ADS_3

"Hari ini aku akan mewawancarai calon sekretaris baruku." Ryu menatap Salma yang masih memasak sesuatu untuk sarapannya.


"Kau mau sayurnya pedas atau biasa saja?" tanya Salma.


"Terserahmu saja. Aku suka apa saja." Ryu berpikir kalau Salma mungkin tidak mendengar ucapannya tadi. "Hari ini aku akan mewawancarai calon sekretaris baruku."


"Aku sudah dengar tadi." Salma menyajikan sepiring nasi hangat dan sayur capcai yang baru dimasaknya tadi.


"Mengapa kau mengabaikanku?" tanya Ryu.


"Aku tidak mengabaikanmu. Aku mendengarnya, hanya saja aku bingung harus menanggapi apa. Karena aku tahu pasti calon sekretarismu itu wanita cantik dan pintar." Salma memberikan orek telur dengan capcai. "Sarapan dulu saja. Jangan pikirkan itu, aku percaya kok kalau kau tidak akan mengkhianati aku." Salma membuka pintu kulkas. "Mau minum susu, teh, kopi atau jus jeruk?" tanyanya.


"Kopi saja boleh?"


Salma mengangguk.


"Yaudah buatkan aku kopi aja ya. Gulanya tidak perlu banyak."


"Siap, Bos." Salma tertawa.


"Kau nanti malam tidak usah bekerja ya."


Salma menghentikan aktivitasnya sejenak. "Kenapa?" tanyanya yang bingung pada permintaan Ryu.


"Aku ada urusan sebentar denganmu. Oh iya, soal Aini sedang aku urus. Akan aku pastikan dia dapat bersekolah dengan tenang tanla harus memikirkan ancaman dari guru atau ia tidak perlu lagi repot-repot bekerja seperti itu setiap malamnya. Kau setuju?" tanya Ryu.


Salma diam sejenak memikirkan perkataan Ryu.


"Kau tak perlu memikirkan apapun lagi. Semua sudah aku pertimbangkan dengan baik-baik. Soal orang tuamu juga sudah aku rencanakan sesuatu. Aku memang terkesan memaksamu, tapi aku akan tetap melakukan apapun atas persetujuanmu. Kau mau?" tanya Ryu.


"Aku mau. Tapi, nanti setelah kita menikah."


"Yaudah yuk kita menikah sekarang saja." Ryu tersenyum menggoda Salma.


"Tidak sekarang juga kali."


Ryu menggenggam kedua tangan Salma di atas meja. "Maksudku, aku ingin melakukan semua rencanaku itu sebelum kita menikah. Aku ingin mendapatkan restu yang tulus dari kedua orang tuamu dan juga Aini. Aku tahu mereka itu penting bagimu."


Salma hanya tersenyum menanggapi niatan serius Ryu.


"Yaudah, aku berangkat dulu. Nanti malam tidak perlu bekerja."


"Hm, Ryu ...," ucap salma.


"Apa?" tanya Ryu.


"Aku ingin meminta izin kepadamu. Nanti siang aku ingin bertemu dengan teman lamaku dan setelah itu aku ingin pulang ke rumah melihat keadaan Mama dan Ayah."


"Pergilah." Ryu merogoh saku celananya dan meraih dompetnya. "Ini pakai untuk keperluanmu. Atau belikan sesuatu yang disukai oleh keluargamu." Ryu memberikan beberapa lembar uang kepada Salma.


"Terima kasih banyak."

__ADS_1


"Kau hati-hati nanti ya." Ryu beranjak dan mengecup kening Salma yang masih sedang sarapan. "Aku berangkat dulu ya."


***


Ryu sampai di kantornya, ia sedikit terlambat karena ada kecelakaan di jalan yang menyebabkan macet parah. Ia langsung saja menuju ruangan HRD karena pasti ia sudah ditunggu sejak tadi.


"Selamat pagi." Membuka pintu ruangan HRD.


"Pagi, Bos."


Seorang wanita berambut sebahu dengan rok mini berwarna hitam, kemeja biru muda dan blazer hitam serta high heels hitam sangatlah cocok dipakai olehnya.


"Silahkan duduk, Bos." HRD yang bernama Hilman itu menarik kursi di sampingnya agar Bosnya bisa duduk.


Ryu duduk. "Terima kasih."


"Bos, ini calon karyawan kita yang bernama Velly Angelica."


"Silahkan perkenalkan dirimu." Ryu menyuruh calon karyawannya itu untuk memperkenalkan dirinya.


"Terima kasih banyak atas kesempatannya. Nama saya Velly Angelica. Saya baru berusia 23 tahun di bulan depan. Saya lulusan terbaik dari kampus kesekretarisan. Saya fresh graduated. Namun, saya bisa menjadi sekretaris terbaik di sini kelak."


Ryu tak mengedipkan matanya dari Velly. "Baiklah. Saya tidak ingin menguji Anda lebih jauh. Saya ingin melihat langsung pekerjaan Anda. Bisa mulai bekerja kapan?" tanya Ryu.


"Hari ini juga saya siap." Velly menjawabnya dengan mantap.


"Baiklah, ikut saya ke ruangan. Sementara kau akan seruangan dengan saya. Di sana sudah ada satu meja sampai kau bisa mandiri mengerjakan pekerjaanmu, baru kau akan ku beri ruangan sendiri." Ryu beranjak dan meninggalkan ruangan HRD diikuti oleh Velly.


Ryu sesekali melirik Velly dari balik monitor laptopnya. Velly tampak belajar dengan serius. Sesekali ia merasa kesulitan, tapi ia tidak pernah segan untuk bertanya kepada Ryu yang notabenenya adalah Bos besar di perusahaan ini. Velly ternyata orang yang humble, sehingga ia bisa dengan mudah mencairkan suasana dengan Ryu. Seharusnya dikeadaan seperti ini akan menjadi moment yang mencekam, pasalnya ini pertama sekalinya untuk Velly bekerja dan ditambah lagi ia harus seruangan dengan Bosnya.


"Sudah waktunya istirahat dan makan siang. Kau boleh istirahat terlebih dahulu." Ryu membereskan pekerjaannya dan berniat untuk makan di luar.


"Bos," panggil Velly.


Ryu membalikkan badannya menatap heran Velly. "Kenapa?" tanyanya.


"Warung nasi terdekat di mana?" tanya Velly tanpa sungkan.


"Kau tidak bawa bekal?" tanya Ryu.


Velly menggeleng.


"Yaudah kau ikut denganku saja yuk. Kita makan di luar." Ryu berjalan di depan dan diikuti oleh Velly.


Mereka pergi dengan mobil Ryu, sepanjang perjalanan banyak obrolan yang tercipta. Sisi pendiam Ryu bisa dihilangkan oleh Velly. Mereka bisa tertawa lepas hanya karena sesuatu yang biasa saja terjadi di jalan.


Sampailah mereka di sebuah cafe tempat dimana dulu Ryu sering menghabiskan waktu makan siangnya di sini. Mereka langsung turun dan masuk ke dalam cafe tersebut. Namun, dengan cepatnya mata Ryu menangkap sosok yang ia kenal. Salma dengan seorang lelaki. Tanpa basa basi, Ryu langsung menghampiri calon istrinya tersebut.


"Hai, Sayang," sapa Ryu.


Baik Salma maupun lelaki itu tampak terkejut. Terkhusus Salma yang takut kalau Ryu salah paham.

__ADS_1


Salma bangkit dari duduknya. "Eh hai, Sayang. Mau makan siang?" tanya Salma.


"Iya." Ryu menarik kursi tepat di samping Salma.


"Oh iya lupa, ini teman yang tadi pagi aku bilang. Namanya Adit. Dan Adit, ini adalah Ryu."


Ryu mengulurkan tangannya. "Ryu, calon suaminya Salma."


Jabatan tangan itu disambut oleh Adit dengan tampang kurang suka. "Adit."


"Eh iya lupa. Velly, silahkan duduk." Ryu baru teringat kalau ia bersama Velly datang ke sini. "Salma, ini Velly sekretaris baruku. Dia mulai bekerja hari ini. Dan tadi dia belum tahu warung nasi di dekat kantor, dan aku mengajaknya sekalian saja."


"Velly."


"Salma."


"Velly."


"Adit."


Velly duduk di samping Adit.


"Kalian sudah memesan makanan? Kok cuman minum doang?" tanya Ryu.


"Iya."


"Sayang, pesankan makanan buatku. Aku sudah sangat lapar. Eh kalian juga pesan saja makanan. Kau juga, Vel. Jangan malu-malu. Aku mau ke toilet dulu ya." Ryu meninggalkan mereka bertiga.


Ryu kembali dari toilet namun makanan belum juga ada di meja makan. Hanya minuman yang sudah datang.


"Makanannya belum datang ya, Sayang?" tanya Ryu kepada Salma.


"Kau sudah lapar?" tanya Salma.


"Iya." Ryu menyengir kepada Salma.


Membuat Adit panas. Pasalnya Adit ini adalah mantan pacar Salma. Dan Velly juga tampak tidak menyukai kedekatan Bosnya dengan calon istrinya.


Velly dan Adit hanya sebagai obat nyamuk di antara Ryu dan Salma. Mereka makan berdua bagai tidak ada Velly dan Adit.


"Setelah makan nanti langsung pulang, kan?" tanya Ryu pada Salma.


"Iya."


"Perlu aku antar tidak?" tanya Ryu.


"Tidak perlu. Nanti aku naik saja. Kau kan harus bekerja lagi. Nanti malam saja jemput aku di rumah ya." Salma mencium pipi Ryu.


"Kabarin aku terus." Ryu mengecup kening Salma. "Aku kembali ke kantor dulu. Kau hati-hati. Banyak buaya sekarang."


Salma mendelikkan matanya tanda protes kepada ucapan Ryu.

__ADS_1


"Kau yang hati-hati ya. Sekarang banyak kelelawar." Salma menutup mulutnya menahan tawa.


__ADS_2