
"Ikuti saja mauku. Aku akan membeli apartement baru untuk tempat tinggal kita. Jadi, kita bisa tinggal berdua."
"Aku memang bekerja denganmu tapi bukan berarti kau bisa bertindak seenaknya terhadapku." Salma menghentakkan tangannya dan meninggalkan Ryu di depan salon.
"Cewek gila!" rutuk Ryu.
Mobil Ryu berjalan perlahan di pinggir jalan berusaha mensejajari langkah Salma. "Ayo ikut! Jangan seperti orang gila yang suka jalan di pinggir jalan gitu."
Salma melirik mobil itu. "Ngapain? Saya tahu saya ini miskin tapi bukan berarti Anda bisa merendahkan saya seperti itu."
Ryu tak terima dan turun dari mobilnya. "Ayo ikut!" Ryu menarik tangan Salma dan memasukkannya ke dalam mobil. "Duduk diam dan jangan banyak protes apalagi sampai nekat kabur."
Ryu menjalankan mobilnya menuju apartement yang memang sudah dibelinya sejak 3 bulan yang lalu. Ia sengaja membelinya buat investasi atau bisa tempatnya istirahat sejenak kalau ia males berada di rumahnya.
"Ayo silahkan masuk!" Ryu menyuruh Salma masuk ke dalam apartementnya. "Masuklah! Kau tidur di kamar yang sebelah kanan dan aku yang sebelah kiri." Ryu masuk ke dalam kamarnya.
Salma mengetuk pintu kamar Ryu.
"Masuklah!" teriak Ryu dari dalam kamarnya.
Salma membuka perlahan pintu kamar Ryu, melongo terlebih dahulu ke dalam untuk memastikan isi dalam kamarnya. "Kita tidak ke kantor?" tanya Salma sambil membuang muka karena Ryu hanya mengenakan boxer tanpa baju.
"Kau lupa ini hari apa?" Ryu mengernyitkan keningnya.
"Minggu." Salma menepuk jidatnya. "Aku lupa."
Ryu memperhatikan pakaian yang Salma kenakan dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau belum mandi?" tanya Ryu.
"Belum, karena ku pikir kita akan langsung ke kantor. Lagian juga kau sudah mendandaniku seperti ini. Kalau aku mandi nanti akan hilang semua make up nya."
"Yasudah mandilah sekarang. Hari ini kau istirahat saja." Ryu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Salma gagal fokus pada isi di dalam boxer yang digunakan Ryu. Tampak tonjolan besar meski belum bangun. Namun, jelas terbentuk.
Ryu melirik sekilas Salma. Salma gelagapan lalu menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
15 menit kemudian, Ryu terbangun karena ada teriakan dari kamar di sebelahnya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar Salma dan mencari Salma yang tidak ada di kamarnya. Ia melihat bayangan Salma dari balik pintu kamar mandi. Ia segera membuka pintu kamar mandi lalu Salma refleks memeluknya dengan air yang muncrat dari kran.
"Ada apa?" tanya Ryu disela teriakan Salma.
"Airnya, air bocor." Salma berusaha menutupi kran air yang bocor.
__ADS_1
Ryu mengerti penyebab kepanikan Salma lalu berusaha menutup kran air yang bocor lalu mematikan saklar airnya. "Kenapa bisa sampai bocor?" tanya Ryu.
"Tidak tahu. Baru juga aku mau mandi." Salma memasang wajah memelasnya agar Ryu tidak marah.
"Kau ini. Lihat jadi basah semua." Ryu menunjuk badannya yang memang basah kuyub.
Salma menelan ludah begitu melihat isi celana boxer Ryu yang menepak bahkan nyaris terlihat karena boxernya basah.
Ryu mengikuti arah mata Salma yang berhenti. "Apa yang sedang kau lihat?" tanyanya.
Salma gelagapan. "Eh, em anu tidak ada apa-apa, kok. Aku juga basah kuyub karena kran airmu ini."
"Kau saja yang tidak hati-hati. Sementara kau mandi di kamarku saja. Nanti aku panggilkan tukang pijit." Ryu meninggalkan Salma karena memang ia tidak akan tahan berlama-lama dengan Salma di kamar mandi ini dengan pakaian Salma yang basah kuyub dan seluruh isi tubuhnya terjiplak jelas.
Salma melirik manja Ryu, berusaha menggodanya namun hanya iseng saja.
"Jangan menggodaku," teriak Ryu dari depan pintu kamar Salma.
"Apa kau tergoda?" teriak Salma kemudian ia tertawa.
Ryu menutup pintu kamarnya lalu segera mengganti celananya yang basah. Salma membuka pintu kamar Ryu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Ahhh ...," teriak Salma sambil menutup wajahnya dengan handuk.
"Aku tidak sengaja, lagian kau ini kenapa tidak kau pakai celanamu. Kau tergoda ya." Salma masih menggoda Ryu meski matanya ditutup.
"Kau itu yang sengaja ya." Ryu mendekati Salma dengan masih menutupi miliknya.
Salma mengintip dari sela jarinya. "Jangan mendekat! Atau aku akan teriak." Salma mengancam.
"Kau mengintip ya. Padahal aku tidak bilang kalau aku akan mendekatimu. Kau ini ternyata mesum juga ya." Ryu memakai celana boxernya di hadapan Salma. Setelah selesai ia meraih tangan Salma yang menutupi wajahnya. Dengan menggenggam kedua tangan Salma dan berkata tepat di depan wajah Salma. "Aku tidak akan kurang ajar kepadamu."
Salma membelalakkan matanya menatap Ryu intens. "Kenapa?" tanyanya.
"Karena aku sayang." Ryu melepaskan tangan Salma lalu berjalan keluar dari kamarnya. "Oh iya, sana buruan mandi. Setelah itu bikinkan aku makanan. Aku laper."
"Baik, Bos."
"Soal yang tadi aku bercanda." Ryu berteriak dari depan pintu kamarnya.
"Yang bagian mana yang bercanda?" teriak Salma.
__ADS_1
"Kau maunya yang mana?" tanya Ryu.
"Yang bagian kau tidak akan kurang ajar kepadaku atau kau sayang kepadaku?" teriak Salma.
"Keduanya," jawab Ryu lirih.
Salma tidak mendengarnya dan terus mandi saja.
Ryu melihat Salma keluar dari kamarnya. "Udah mandinya?" tanya Ryu.
"Sudah." Salma berjalan ke dapur. "Kau mau makan apa?" tanya Salma.
"Lihat saja di kulkas ada makanan apa." Ryu menyalakan televisi.
"Kau pakai baju kenapa, sih. Gak takut masuk angin seperti itu?" Salma melirik Ryu sinis.
"Aku ini bosmu, kenapa kau yang mengaturku?" Ryu membalas tatapan sini dari Salma.
"Kau ini bagai malaikat sekaligus juga iblis dalam waktu yang bersamaan." Salma ngedumel sendirian.
"I can hear you. Jangan bicara sembarang padaku. Kau lupa ini tempat siapa? Setiap sudut sudah aku pasang cctv dan peredam suara. Bersikaplah lebih sopan pada Bosmu." Ryu meninggalkan televisi yang masih menyala untuk mengambil bajunya di kamar.
"Ryu," teriak Salma.
"Apa?"
"Di kulkas hanya ada mie instan. Kau mau ku masakkan mie instan atau kau mau pesan makanan di luar saja? Atau aku harus belanja dulu keluar?" teriak Salma.
"Masak dulu apa yang ada di kulkas. Aku sudah terlanjur lapar. 5 menit harus sudah ada makanan di meja makan. Aku lapar." Ryu berteriak dari dalam kamarnya.
Salma buru-buru memasak mie instan untuk makan Ryu dan dirinya. Kalau baginya memakan mie instan seperti ini sudah biasa. Tapi, seorang Ryu yang kaya apa mungkin memakan mie instan yang seperti ini.
Salma selalu merutuki nasibnya yang harus terjebak pada Ryu. Ia harus terpaksa mengabdikan dirinya sebulan bersama Ryu. Tapi, di sisi lain ia merasa sangat beruntung. Ia bisa memiliki baju yang bagus yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Ia bisa tinggal di tempat yang bagus seperti ini. Kamar yang ada AC serta kasur yang sangat empuk. 180 derajat bedanya dengan keadaan kamarnya yang mana ia terkadang harus membuka jendela kamarnya jika udara di dalam kamar sangat membuatnya gerah dan tentunya dengan resiko nyamuk akan masuk ke dalam kamarnya. Bahkan kasur yang tidak ada besi atau hanya ada kasur lepek yang di lantai tanpa ada kain spreinya.
"Aku beruntung bisa merasakan tinggal di tempat mewah seperti ini. Tapi, aku merasa sangat sial mengapa aku harus bekerja dengan makhluk aneh seperti dia. Seandainya saja aku bisa menjadi istrinya, mungkin aku bisa merubah sikapnya yang seperti iblis ini. Sadarlah Salma!"
"Nah, sudah selesai ini. Semoga calon suamiku menyukainya." Salma cekikikan mendengar ucapannya sendiri. Ia sudah gila.
Salma mencari Ryu ke kamarnya. 3 kali ketukan namun tidak ada jawaban. Ia membuka perlahan pintu kamar Ryu. Mengintip lalu yah ... Ryu tertidur.
Salma berjalan perlahan menghampiri Ryu, ia takut sekaligus gugup saat mengetahui sesuatu telah mengeras di dalam celana boxer Ryu. "Pasti dia sedang mimpi jorok," gumam Salma.
__ADS_1
Saat Salma ingin membangunkan Ryu, tiba-tiba Ryu menarik Salma ke dalam pelukannya.