The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Selera tua Bangka?


__ADS_3

"Yo, Lo di panggil bos noh di dalem," celetuk seorang laki-laki yang berperawakan tinggi, gagah dan tubuh yang dipenuhi otot-otot tercetak jelas dibalik kemeja putih yang bisa dikatakan sedikit lebih tipis itu.


Lengan kemeja yang digulung sesiku itu menambah pesonanya di mata kaum hawa. Mario memutar bola mata malas saat melirik Aditya (teman sebelahnya) tengah mengerling mata genit pada wanita-wanita di pojokan. Hingga tak lama suara jeritan semakin jelas terdengar.


"Hoaaam ... Bos dimana emang dit?" tanya Mario dengan suara lemah dan jangan lupakan matanya yang sayu dan meronta minta diistirahatkan akibat begadang untuk nge-game semalam.


Mario menoleh ke kiri, Ia tak mendengar sahutan sama sekali. Aditya masih sibuk dengan kelakuan buayanya.


'Bener-bener ni orang, kerjaannya nge-gombal mulu. Itu juga janda-janda genit kenapa teriak-teriak coba bikin telinga buram aja,' batin Mario yang gemas melihat tingkah rekan kerjanya itu.


'Buram? mata kali yang buram. Bego kok dipelihara,' -Author mulai nge-gas.


'Diem deh Lo Thor, ini dialog gue yah jadi suka-suka gue lah,'-Mario


-back to story-


"Dit, si Boss dimana?" tanya Mario sekali lagi. Tapi sepertinya masih belum ada sahutan.


BRAK (Mario memukul meja dengan keras untuk menarik perhatian lawan bicara)


"Ayam eh ayam," celetukan refleks dari Aditya mengundang tawa dari para penghuni kantin.


Hal itu membuat muka Aditya merah padam karena malu dengan reaksi spontan dan jangan lupakan muka konyolnya barusan.


"Pffftttt .... hahaha. Kamu lucu banget si Dit," Mario memegang perutnya sambil tertawa ngakak dan disambut tawa meriah oleh yang lain. Saat itu juga Aditya ingin segera tenggelam saja ke tanah saking malunya.

__ADS_1


"Lo bikin gue malu aja sih Yo, udah tau gue latah malah dikerjain kek gitu. Kan gue lagi asik godain Mbak Sarah sama Mba Mika. Gara-gara Lo anjlok reputasi kegantengan gue," sungut Aditya kesal sambil menusuk-nusuk kasar bakso di mangkok nya.


"Iya-iya. Aku minta maaf, habisnya kamu nggak jawab sih pertanyaan aku jadinya aku khilaf deh," jawab Mario dengan wajah tak berdosa.


"Jadi, si Boss dimana?" imbuh Mario.


"Biasa, di singgasana kerajaannya. Kaya ngga tau ae Lo kalo di Boss udah kek Vampir nggak pernah keluar-keluar dari ruangannya.


Betah banget duduk dari Pagi Sampe malam di sana, makan diantar, minum disuguhin, apa yang dibutuhkan tinggal nyuruh. Mana pernah sih dia keluar kalo ngga ada jadwal meeting penting. Itupun kadang si Sekre julid itu yang gantiin.


Gue kadang heran, apa segitu cintanya dia ke kursinya sampe nggak mau jauh-jauh gitu?" sungut Aditya karena acara tebar pesonanya di rusak oleh Mario.


Yah itu memang benar adanya, Pemimpin perusahaan tempat mereka bernaung ini memang memiliki kebiasaan yang cukup aneh dan unik yaitu Ia tak bisa jauh-jauh dari kursinya.


Entah apa yang ada di kursinya itu intinya dia sangat menyayangi si kursi bahkan tak ada satupun orang yang menyentuhnya sekalipun untuk sekedar membersihkan debu.


Bahkan ia tak segan menyakiti ataupun menyiksa siapapun yang berani menyentuh Kursi kesayangannya. Kursi yang Ia rawat seperti anak sendiri.


Mario mengangguk paham kemudian memperbaiki letak kacamata tebalnya. Jangan lupakan bajunya yang sudah pastikan sangat rapi sebelum mulai melangkah meninggalkan kebisingan kantin.


"Hati-hati Lo Yo, nanti di culik baru tau rasa. Kabarnya si Boss nggak suka wanita," Aditya tersenyum jahil sebelum Mario benar-benar meninggalkan kantin. Mario tersenyum tipis dan kembali melangkah.


Sebenarnya dia juga sedikit takut dan deg-degan apalagi ini adalah kali pertama Ia akan menghadap secara langsung pada atasannya.


Ditambah lagi dengan rumor yang tengah beredar akhir-akhir ini di kalangan lambeturah kantor yang mengatakan jika pak Bryan penyuka sesama jenis. Sungguh menggelikan.

__ADS_1


Apakah populasi wanita sudah punah? entahlah.


Mario menarik nafas berkali-kali saat berdiri di depan sebuah pintu yang bertuliskan "Presiden Direktur". Mario tak menemukan seseorang pun di lantai ini, sepertinya sang sekretaris masih beristirahat di luar.


Mario menarik nafas berat sebelum mengangkat tangan untuk mengetuk pintu Cendana dengan ukiran seperti naga tepat di tengahnya. Sudah Ia bilang bukan, jika Boss nya ini memang manusia langka dan lengkap dengan keanehan dan keunikannya.


Perhatikanlah ini, bahkan di gedung megah ini tak akan ada yang menyangka jika lantai tertingginya di desain sedemikian rupa seperti suasana kerajaan kuno dengan segala te*ek-bengeknya, aksesoris dan juga tata letaknya.


Lihatlah di sudut sana bahkan tersedia taman kecil yang menyerupai hutan, namun jika diperhatikan lebih dalam desainnya terlihat sedikit sama dengan ukiran di kepala naga. Aneh memang, tapi nyata.


"Lama-lama disini, ngeri juga ternyata," gumam Mario yang masih ragu mengetuk pintu kokoh di depannya. Biasanya Mario hanya akan mengantarkan berkas ke sekretaris saja dan itupun tak sampai masuk sejauh ini. Karena memang ruangan sekretaris cukup berjarak dengan ruangan si Boss.


Setidaknya ruangan si Sekretaris masih manusiawi lah dan letaknya pun tak jauh dari lift. Tak perlu susah-susah untuk mengantar ke lingkaran menakutkan ini.


Mario masih tak habis pikir, di dunia semodern ini masih ada manusia yang menyukai suasana kuno seperti ini. Apakah si Boss ini seleranya terlalu tua? atau karena umurnya yang tua Bangka? ehhh ... nggak ding si Boss juga belum tua-tua amat.


"Mengapa kau seperti orang bodoh berdiri di depan pintu?" Suara dingin itu membekukan seluruh saraf-saraf Mario.


Aura dari Boss Bryan memang sangat kuat, tatapan mata yang tajam dan dingin mampu melumpuhkan lawan bicara.


"Ma-aa-af Bo-os," jawab Mario takut. Wajahnya pias dan pucat. Sial, udara terasa semakin dingin disini. Salahkan sajalah dirinya yang tak peka hingga tak menyadari jika itu telah terbuka dari beberapa menit sebelumnya.


-TBC-


Thanks yang udah baca guys ๐Ÿ‘€

__ADS_1


Semoga suka yah๐Ÿ˜‰


__ADS_2